Pagi setelah rapat dewan, Daniel menunggu Evelyn di lorong dekat ruangannya. Keputusan untuk menahan penilaian kontrak masih menjadi pembicaraan, tetapi yang ingin ia tanyakan bukan lagi dokumen. Ia tidak lagi berbicara keras seperti di lobi Mile Group. Wajahnya tampak letih, tetapi sorot matanya tetap menyimpan kecemburuan.
'Dewan menahan keputusan,' katanya.
'Mereka akan meninjau kontraknya.'
'Kamu tahu maksudku. Mereka tidak langsung menyalahkanmu.'
'Aku membawa dokumen dan menjawab pertanyaan mereka.'
Daniel menyandarkan bahu ke dinding. 'Kamu selalu bisa membuat semuanya terdengar seperti keputusan perusahaan.'
'Karena memang itu urusan perusahaan.'
'Kamu tidak pernah bersikap setegas itu kepadaku.'
Evelyn menatapnya. 'Aku sudah mengatakan bahwa pernikahan kita ditunda dan aku ingin memikirkan masa depan. Itu tegas.'
'Kamu tidak pernah bilang tidak mencintaiku.'
'Aku juga tidak pernah bilang bahwa kita bisa kembali seperti dulu.'
Daniel diam. Ia terlihat ingin membantah, tetapi tidak menemukan kalimat yang tidak membuatnya terdengar seperti mengabaikan permintaan Evelyn. Ia memalingkan wajah ke jendela.
'Apa ini benar-benar karena Marcus?' tanyanya.
'Bukan. Aku menunda pernikahan karena aku perlu menilai hubungan kita tanpa tekanan.'
'Kamu terus bertemu dengannya.'
'Kami bekerja sama. Aku juga tidak menyembunyikan pertemuan itu darimu.'
'Kamu membiarkan dia menjadi orang yang kamu percaya.'
Evelyn tidak menjawab segera. Ia tak ingin mengubah pengakuannya kepada Marcus menjadi senjata dalam pertengkaran dengan Daniel. 'Siapa yang kupercaya adalah pilihanku. Kamu bisa tidak menyukainya, tapi kamu tidak bisa menentukan itu untukku.'
Daniel menatapnya kembali. 'Aku masih ingin memperbaiki hubungan kita.'
'Kamu ingin aku kembali pada hubungan yang belum siap kujalani. Itu berbeda.'
Ia melihat wajah Daniel berubah. Ada amarah di sana, tetapi juga ketakutan bahwa Evelyn tidak lagi akan mengikuti arah yang ia tentukan. Selama ini ia mengira penundaan pernikahan hanya cara Evelyn mencari perhatian atau membuatnya cemburu. Kini ia mulai memahami bahwa Evelyn sungguh-sungguh bisa pergi.
***
'Kamu akan terus memilih Marcus?' tanya Daniel.
'Aku belum membuat keputusan tentang siapa pun. Aku sedang memilih diriku sendiri.'
'Kalau begitu, kenapa kamu mau makan malam dengannya?'
'Aku tidak akan membahas semua percakapan pribadiku denganmu.'
'Kita masih bertunangan.'
'Itu tidak membuatmu berhak memeriksa setiap langkahku.'
Daniel meremas jari-jarinya sendiri. Ia tampak seperti ingin menarik kembali tuduhan di lobi, tetapi tidak meminta maaf. 'Aku hanya tidak mau kehilanganmu.'
'Kamu mengatakan itu setelah menuduhku melakukan sesuatu yang tidak kulakukan.'
Evelyn berjalan beberapa langkah ke sisi lorong yang lebih sepi. 'Aku tidak ingin percakapan ini didengar orang lain. Tapi aku juga tidak akan menutupinya kalau kamu kembali menuduhku.'
Daniel mengikutinya. 'Aku tidak bermaksud mempermalukanmu.'
'Maksudmu mungkin bukan itu. Tapi itulah yang terjadi.'
Ia terdiam sejenak, menimbang apakah harus mengatakan lebih banyak. Ia memilih tetap pada batas yang sudah disampaikan. 'Kita bisa membicarakan hubungan ini secara pribadi. Aku tidak akan membahasnya di tempat kerja setiap kali kamu merasa cemburu.'
'Kamu pikir aku cemburu?'
'Kamu yang menyebut nama Marcus setiap kali aku menegaskan bahwa aku ingin menunda pernikahan.'
Daniel tidak menjawab. Evelyn berhenti di dekat pintu ruangannya. Ia menunggu Daniel menyelesaikan tanggapannya sebelum mengakhiri percakapan.
'Aku melihat kalian bersama dan aku tidak suka.'
'Kamu boleh tidak suka. Tapi kamu tetap harus bertanggung jawab atas kata-katamu.'
Daniel mengembuskan napas. 'Aku tidak tahu bagaimana caranya bicara denganmu sekarang. Dulu kamu akan langsung menjelaskan semuanya kepadaku.'
'Dulu aku juga sering meminta maaf hanya karena kamu marah.'
'Kamu ingin aku merasa bersalah?'
'Aku ingin kamu mendengar apa yang kukatakan.' Evelyn menjaga suaranya tetap rendah. 'Aku tidak menuntutmu menebak isi pikiranku. Aku menyampaikan batas dengan jelas. Kalau kamu ingin hubungan ini bertahan, kamu harus menghormatinya.'
Daniel melihat ke pintu ruangannya, lalu kembali menatap Evelyn. 'Kamu terdengar seperti sudah memutuskan semuanya.'
'Aku belum memutuskan semuanya. Aku hanya tidak mau berpura-pura bahwa tidak ada masalah.'
'Kalau kamu takut kehilangan aku, mulailah dengan menghormati batas yang sudah kusampaikan.'
'Aku mencoba.'
'Mencoba bukan berarti menuduhku berselingkuh saat kamu melihatku keluar dari rapat resmi.'
Daniel menunduk. 'Aku marah waktu melihat kalian.'
'Kemarahanmu tidak menjadikan tuduhan itu benar.'
Ia tidak melanjutkan. Evelyn pun tidak memaksa Daniel mengakui hal lain. Hubungan mereka belum selesai hari itu, tetapi percakapan tersebut membuat satu hal semakin jelas: ia tidak lagi merasa wajib menenangkan Daniel setiap kali laki-laki itu kehilangan kendali.
'Aku harus kembali bekerja,' katanya.
Daniel tidak menghalangi. Ia bergeser dari pintu, memberi Evelyn jalan. 'Kita belum selesai bicara.'
'Aku tahu. Kita bisa membicarakannya saat kamu siap mendengarkan, bukan hanya menuduh.'
Evelyn masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan tenang. Di atas meja ada draf kontrak yang belum disetujui dan catatan rapat yang telah ia serahkan kepada Kennedi. Tidak ada gosip yang mengubah fakta itu. Ia kembali bekerja, tetapi kali ini ia tidak merasa harus memberi Daniel laporan tentang setiap percakapan yang ia lakukan.
Di lorong, Daniel tetap berdiri beberapa saat. Ia menyadari bahwa Evelyn tidak sedang berusaha membuatnya cemburu. Perempuan itu benar-benar mengambil jarak, dan Marcus berada di sisi yang selama ini Daniel kira akan selalu kosong. Ia meninggalkan lorong tanpa mendapatkan janji bahwa Evelyn akan kembali kepadanya.
Di tempat parkir, Daniel duduk di dalam mobil sebelum menyalakan mesin. Ia teringat cara Evelyn bicara di ruang makan dekat kantor, di lobi Mile Group, lalu di lorong kantor hari ini. Perempuan itu tidak lagi berusaha meredakan setiap kemarahannya. Ia tidak juga meminta Marcus menjawab untuknya. Justru ketegasan itu membuat Daniel sadar bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan kebiasaan lama Evelyn untuk mempertahankan hubungan mereka.
Ia membuka ponsel dan mulai mengetik pesan, tetapi menghapusnya sebelum dikirim. Ia ingin bertanya apakah Evelyn masih mencintainya, namun tahu pertanyaan itu tidak akan memperbaiki apa yang baru saja terjadi. Untuk pertama kalinya ia merasa jarak di antara mereka bukan sekadar jeda sebelum pernikahan. Evelyn mungkin benar-benar sedang belajar hidup tanpa menjadikan Daniel pusat semua pilihannya.