Rapat dewan dimulai pada sore hari berikutnya. Evelyn datang membawa map kontrak dan riwayat revisi. Kennedi mempersilakannya duduk di sisi meja yang sama dengan anggota dewan lain, tidak di kursi khusus atau di ujung meja. Tidak ada yang menyambutnya dengan sikap berlebihan.
'Kita akan membahas kerja sama dengan Mile Group terlebih dahulu,' kata Kennedi. 'Setelah itu, saya akan menyampaikan pertanyaan yang muncul mengenai pertemuan Evelyn dan Marcus.'
Evelyn membuka mapnya. 'Saya sudah menyiapkan agenda, catatan rapat, dan versi kontrak yang belum ditandatangani. Semua perubahan ditandai.'
Salah seorang anggota dewan meminta penjelasan tentang klausul evaluasi. Evelyn menerangkan bahwa kedua perusahaan harus memiliki hak yang sama untuk meminta peninjauan, dan perubahan baru berlaku setelah disetujui tertulis.
'Mengapa pasal itu perlu diubah?'
'Naskah awal memberi hak evaluasi hanya kepada satu pihak. Itu bisa menimbulkan ketimpangan setelah kontrak berjalan. Saya meminta agar mekanismenya berlaku bagi kedua belah pihak.'
'Apakah Marcus menyetujui?'
'Ia menyetujui usulan untuk memasukkan perubahan tersebut ke dalam draf. Persetujuan final tetap menunggu tinjauan masing-masing perusahaan.'
Kennedi mengedarkan dokumen. 'Tidak ada yang ditandatangani sebelum rapat ini selesai. Kita akan menilai rancangan berdasarkan kepentingan Celeste Corporation.'
Evelyn tidak menambahkan komentar pribadi tentang Marcus. Ia menjawab pertanyaan yang diajukan, menunjukkan catatan perubahan, dan menyebut siapa yang hadir di ruang rapat Mile Group. Beberapa anggota dewan saling pandang, tetapi tak seorang pun menyela dengan tuduhan.
Salah satu anggota dewan meminta Evelyn menjelaskan apakah kontrak itu memberi Marcus akses pada keputusan internal Celeste. Evelyn menunjukkan bagian tentang kerahasiaan dan batas pertukaran informasi. 'Tidak ada akses yang diberikan kepada pihak luar. Data yang dibagikan hanya yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek, setelah disetujui.'
'Dan siapa yang mengawasi pelaksanaannya?'
'Kedua tim kerja sama. Laporan akan disampaikan pada jadwal yang disepakati dan dapat ditinjau oleh masing-masing perusahaan.'
Kennedi mencatat jawaban itu. 'Jadi tidak ada keputusan yang bisa kamu buat sendiri atas nama Celeste?'
'Betul. Persetujuan akhir mengikuti kewenangan perusahaan dan keputusan dewan.'
Evelyn melihat beberapa orang mengangguk kecil. Ia tidak mencari dukungan lewat tatapan; ia hanya menunjukkan bahwa kontrak itu memiliki perlindungan yang sama untuk kedua pihak.
Setelah pembahasan kontrak, Kennedi membuka agenda kedua. 'Saya menerima pertanyaan mengenai dugaan hubungan pribadi yang dapat memengaruhi kerja sama ini. Apakah ada informasi lain yang perlu disampaikan?'
Evelyn menautkan jemarinya di atas meja. 'Saya dan Marcus memiliki hubungan profesional sebagai perwakilan perusahaan. Saya memang mengenalnya secara pribadi, tetapi tidak ada keputusan kontrak yang dibuat di luar prosedur. Dokumen yang saya bawa menunjukkan prosesnya.'
'Apakah kamu bersedia tidak menangani kontrak ini selama pemeriksaan?' tanya seorang anggota dewan.
'Jika dewan menilai itu perlu, saya akan mengikuti keputusan. Namun saya berharap keputusan dibuat berdasarkan konflik yang nyata, bukan karena seseorang melihat kami keluar dari gedung yang sama.'
Kennedi mengangkat tangan sedikit agar percakapan tetap tertib. 'Kita belum memiliki dasar untuk menetapkan adanya konflik kepentingan. Kontrak akan ditinjau oleh bagian terkait. Untuk sementara, penilaian pribadi tidak akan dimasukkan ke dalam notulen sebagai kesimpulan.'
Evelyn mengangguk. Ia tidak merasa isu itu telah berakhir. Namun setidaknya tidak ada keputusan yang dibuat hanya karena rumor.
***
Rapat berlangsung hingga beberapa pertanyaan selesai dijawab. Kennedi akhirnya menyatakan bahwa dewan akan menahan penilaian atas kerja sama sampai semua anggota membaca naskah final. Tidak ada kontrak yang ditandatangani hari itu, dan tidak ada keputusan untuk menyingkirkan Evelyn dari pembahasan.
'Kami akan meninjau ulang setelah dokumennya lengkap,' kata Kennedi. 'Sampai saat itu, jangan ada pihak yang menyebut kerja sama ini sudah disetujui.'
'Saya mengerti,' jawab Evelyn.
Seorang anggota dewan menutup mapnya. 'Dan mengenai kabar yang beredar, kami tidak akan menjatuhkan penilaian pribadi tanpa bukti yang jelas.'
'Terima kasih,' kata Evelyn. 'Saya tidak meminta perlakuan khusus. Saya hanya ingin standar yang sama diterapkan kepada semua orang.'
Kennedi meminta Evelyn menyerahkan salinan terakhir. Ia melakukannya lalu mengumpulkan catatan pribadinya. Ketika berdiri, ia melihat beberapa orang masih berbicara pelan. Ia tidak mencoba mendengar isi percakapan mereka.
Di lorong, Kennedi berjalan bersamanya sampai ke pintu ruang rapat. 'Kamu menjawab dengan baik. Jangan terpancing untuk menyerang Emma.'
'Aku tidak akan menuduhnya tanpa dasar. Tapi kalau dia bicara lagi, aku akan tetap menyebut bahwa kabar itu bukan bukti.'
'Itu cukup untuk sekarang.'
Evelyn kembali ke ruangannya. Ia merasa lelah, tetapi tidak menyesal mempertahankan sikapnya. Dokumen itu merupakan draf resmi yang masih ditinjau, bukan kontrak yang sudah berlaku. Gosip tidak mengubah isi dokumen atau menjadikannya perselingkuhan.
Ia meminta tim kerja sama menahan pengiriman draf final sampai catatan dewan diterima. Tidak ada alasan untuk mempercepat penandatanganan demi membuktikan dirinya tidak bersalah. Proses yang tertib akan berbicara lebih baik daripada penjelasan yang berulang.
Beberapa menit kemudian Emma melewati ruangannya. Perempuan itu berhenti di ambang pintu, tersenyum sopan. 'Rapatnya berjalan lancar?'
'Dewan akan meninjau kontrak.'
Evelyn mengatur kembali map di tangannya. Ia tidak mau terlihat seolah sedang mencari persetujuan Emma atau menganggap percakapan itu sebagai kemenangan. 'Aku sudah menjawab pertanyaan Kennedi. Kalau ada yang ingin kamu tanyakan tentang isi kontrak, kamu bisa menyampaikannya kepada tim kerja sama. Salinan diberikan sesuai kewenangan, bukan karena kita keluarga.'
Emma mengangkat bahu. 'Aku tidak mengerti kenapa kamu selalu bersikap formal denganku.'
'Karena ini dokumen perusahaan.'
'Tentu. Semoga semuanya berjalan sesuai keinginanmu.'
'Yang kuinginkan adalah proses yang jelas.'
Emma menahan jawabannya di ambang pintu. Evelyn menyadari bahwa perempuan itu ingin memancing jawaban yang emosional, tetapi tidak memberikan apa yang diharapkan.
'Semoga tidak ada yang salah paham lagi.' Emma mengucapkannya seolah ikut prihatin.
Evelyn memandangnya. 'Kalau ada pertanyaan tentang kerja sama, jawabannya ada di dokumen. Aku tidak akan membahas rumor.'
Senyum Emma menegang sesaat. 'Aku juga tidak menyebarkan rumor.'
'Aku tidak menyebut namamu.'
Emma menahan tatapan Evelyn sebentar, lalu pergi. Evelyn tidak mengejarnya. Ia kembali ke pekerjaannya, membiarkan batas itu berdiri tanpa perlu memperpanjang pertengkaran.