Daniel tiba di Celeste Corporation pada pagi berikutnya dengan wajah yang masih menyimpan kemarahan dari lobi Mile Group. Ia tidak langsung menemui Evelyn. Sebaliknya, ia berbicara dengan Emma di ruang kerja yang mereka gunakan bersama untuk menyiapkan beberapa dokumen.
Ia melewati meja resepsionis tanpa menyapa siapa pun. Dalam perjalanan ke ruang kerja, ia sempat melihat Evelyn dari balik kaca sedang membaca dokumen bersama timnya. Perempuan itu tidak menoleh, dan Daniel tidak memanggilnya. Rasa kesal yang dibawanya dari hari sebelumnya berubah menjadi malu karena ia tahu tidak punya bukti untuk tuduhannya. Ia tidak ingin mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri.
Emma menangkap perubahan itu ketika ia masuk. 'Kamu belum bicara dengan Evelyn?'
'Belum. Dia sedang bekerja.'
'Mungkin lebih baik kamu bicara sebelum orang lain membuat kesimpulan.'
Daniel mengerutkan kening. 'Jangan membuat ini jadi lebih besar.'
'Aku hanya bilang orang bisa salah paham. Kita perlu menjaga nama perusahaan dan keluarga.'
Ia menggunakan kata 'kita' seolah sedang melindungi semua orang, padahal pikirannya sudah memilih arah yang akan ia dorong.
'Kamu melihat Evelyn dan Marcus di Mile Group?' tanya Emma sambil mengangkat mata dari layar.
Daniel meletakkan ponselnya. 'Aku melihat mereka keluar bersama. Evelyn bilang rapat kerja sama.'
'Dan kamu percaya begitu saja?'
'Ada tim yang ikut rapat. Tapi mereka terlihat akrab.'
Emma menutup laptop. 'Evelyn memang punya kebiasaan membungkus sesuatu dengan alasan profesional. Kalau orang hanya mendengar versinya, mereka akan mengira semua tindakannya wajar.'
'Kamu mau bilang apa?'
'Aku tidak mau menuduh tanpa bukti. Tapi orang-orang perlu tahu bahwa mereka sering terlihat bersama.'
'Jangan buat masalah baru di perusahaan.'
'Aku hanya akan mengatakan apa yang kulihat.' Emma mengambil tasnya. 'Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, tidak ada alasan untuk khawatir.'
Daniel memandangnya beberapa saat. Ia tahu Emma bisa menyampaikan kalimat dengan cara yang terdengar seperti kepedulian, bukan tuduhan. 'Jangan bawa-bawa nama keluargaku.'
'Tentu. Aku hanya tidak ingin Evelyn merusak reputasinya sendiri.'
Emma keluar dari ruangan dengan langkah tenang. Di lorong, ia menyapa dua orang dari bagian administrasi yang sedang membawa berkas. Ia berkata Evelyn dan Marcus terlihat pergi bersama dari Mile Group, lalu menyebut bahwa keduanya belakangan sering bekerja berdua. Ia tidak mengatakan mereka berselingkuh. Ia cukup membiarkan orang lain mengisi bagian yang tidak ia ucapkan.
'Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,' katanya dengan senyum tipis. 'Mungkin cuma urusan kontrak. Tapi kalau aku jadi Daniel, tentu aku akan merasa tidak nyaman.'
Salah seorang staf bertanya apakah Evelyn dan Marcus memang memiliki hubungan pribadi.
Emma mengangkat bahu. 'Aku tidak punya bukti. Aku hanya menyampaikan apa yang terlihat.'
Ia sengaja menggunakan kalimat yang sama ketika bercakap dengan orang lain. Kepada satu staf ia berkata Evelyn dan Marcus sering bekerja sama; kepada yang lain ia menyebut Daniel sempat melihat mereka keluar gedung. Ia tidak mengatakan mereka berkencan. Ia tahu sebuah cerita tidak selalu perlu diucapkan lengkap untuk membuat orang menyimpulkan sendiri.
Seorang pegawai bertanya, 'Apa Daniel marah?'
'Aku tidak tahu. Aku tidak ingin ikut campur urusan mereka.' Emma tersenyum kecil. 'Aku cuma kasihan kalau Evelyn nanti disalahpahami.'
Kata-kata itu terdengar seperti pembelaan, tetapi justru membuat orang merasa ada sesuatu yang perlu dicurigai. Emma lalu kembali ke mejanya dan membuka dokumen acara, seolah percakapan tadi tidak penting.
Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada penjelasan lengkap. Saat makan siang, beberapa orang telah membicarakan pertemuan tersebut. Ada yang mengatakan Marcus menunggu Evelyn, ada yang menyebut mereka pergi dengan mobil yang sama, padahal mereka berpisah di pintu gedung. Emma tidak perlu mengulang cerita itu. Ia hanya memastikan dirinya tidak tampak sebagai sumber gosip.
***
Siang itu, Evelyn menerima pesan dari seorang rekan kerja bahwa ada percakapan tidak nyaman di bagian administrasi. Ia tidak langsung bertanya siapa yang memulai. Ia sedang meninjau versi revisi kontrak bersama tim keuangan ketika sekretariat mengabari bahwa Kennedi ingin berbicara dengannya.
Ia meminta rekan kerjanya mengirimkan salinan notulen rapat kerja sama, lalu mencocokkan waktu pertemuan dengan agenda. Semuanya sesuai. Ia tidak menghubungi Emma untuk bertanya apakah perempuan itu menyebarkan cerita. Pertanyaan semacam itu hanya akan memberi Emma kesempatan menyangkal tanpa menjelaskan apa pun.
Ketika panggilan Kennedi masuk, Evelyn menarik napas dan merapikan map. Ia tahu isu itu bisa berkembang, tetapi ia tidak akan masuk ke ruang Kennedi dengan sikap menyerang. Yang bisa ia bawa hanyalah fakta dan kesediaan menjelaskan.
'Evelyn, bisa datang ke ruang rapat kecil?' tanya Kennedi. 'Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.'
'Tentu, Pak Kennedi. Apakah ini mengenai kontrak Mile Group?'
'Termasuk itu. Bawa dokumen yang relevan.'
Evelyn mencetak salinan agenda dan rancangan kontrak. Ia meminta bagian kerja sama mengirim catatan rapat resmi, lalu membawa semuanya ke ruang Kennedi. Ia tidak menambahkan penjelasan di luar dokumen.
Kennedi menutup pintu setelah Evelyn masuk. 'Ada kabar bahwa kamu dan Marcus terlihat keluar bersama dari Mile Group. Beberapa orang menganggap hubungan kalian lebih dari sekadar pekerjaan.'
Evelyn meletakkan mapnya di meja. 'Kami menghadiri rapat resmi untuk membahas kerja sama. Tim mereka hadir. Saya membawa agenda dan catatan perubahan kontrak.'
'Saya tidak sedang menuduhmu. Saya perlu memastikan perusahaan tidak menghadapi konflik kepentingan.'
'Saya mengerti. Karena itu saya ingin menjawab berdasarkan dokumen, bukan berdasarkan kesan orang.'
Kennedi membuka agenda. 'Siapa saja yang hadir?'
Evelyn menyodorkan daftar peserta. 'Nama-nama ini tercatat di agenda. Rapat berlangsung di ruang konferensi dan membahas pasal kerja sama. Setelah selesai, Marcus mengantar saya sampai lobi karena kami keluar pada waktu yang sama.'
'Apakah kalian pergi dengan kendaraan yang sama?'
'Tidak. Kami berpisah di pintu utama. Saya pulang ke kantor sendiri.'
Kennedi memeriksa lembar agenda. 'Saya ingin memastikan tidak ada fasilitas perusahaan yang dipakai untuk kepentingan pribadi.'
'Tidak ada. Kendaraan dan biaya rapat mengikuti prosedur masing-masing perusahaan.'
'Baik. Saya akan mencatat jawabanmu bersama dokumen.'
Evelyn tidak merasa sedang diadili, tetapi ia tahu setiap jawaban akan memengaruhi cara dewan melihatnya. Ia memilih menjawab tanpa membesar-besarkan kedekatannya dengan Marcus dan tanpa berpura-pura mereka tidak saling mengenal.
Evelyn menyebutkan pihak yang tercatat dan menjelaskan bagian kontrak yang dibahas. Ia tidak menyebut percakapan dengan Marcus di Café Lune atau janji pribadi mereka. Itu bukan materi rapat dan tidak ada kaitannya dengan persetujuan perusahaan.
'Apakah kontrak sudah ditandatangani?'
'Belum. Kami masih meninjau perubahan. Saya tidak menandatangani apa pun sebelum tim Celeste menyetujui naskah akhirnya.'
Kennedi memeriksa halaman pertama. 'Baik. Saya akan meminta dewan menilai dokumen dan prosesnya, bukan rumor.'
Evelyn merapatkan map. 'Saya bersedia menjawab pertanyaan tentang kerja sama. Saya hanya berharap urusan pribadi tidak dijadikan dasar untuk menilai profesionalisme saya.'
'Itu juga yang saya harapkan. Untuk saat ini, jangan membalas gosip dengan gosip. Serahkan dokumen yang diperlukan.'
Evelyn mengangguk. Ia meninggalkan ruangan dengan langkah tenang, tetapi ia tahu persoalan tersebut belum selesai. Emma telah melemparkan kabar tanpa menyebut tuduhan secara langsung, dan kini Kennedi harus mempertimbangkan apakah hal itu akan memengaruhi penilaian dewan.