Pagi setelah mengucapkan janji di depan Café Lune, Marcus mengirim pesan kepada Evelyn tentang pertemuan kerja sama yang telah dijadwalkan tim mereka. Mereka akan meninjau rancangan kontrak di kantor Mile Group bersama tim kedua perusahaan; hasilnya kemudian dibawa masing-masing tim untuk diperiksa lagi. Evelyn membalas bahwa ia akan hadir sebagai wakil perusahaan dan membawa dokumen yang telah disetujui Kennedi.
Di ruang rapat Mile Group, pembahasan berjalan sesuai agenda. Marcus duduk di sisi meja yang berseberangan dengannya, sementara seorang staf kerja sama memaparkan jadwal dan pasal pelaksanaan. Evelyn memeriksa setiap halaman. Ia memastikan tanggung jawab masing-masing perusahaan tertulis jelas dan masa berlaku kontrak tidak membuka ruang untuk perubahan sepihak.
'Bagian tentang evaluasi kuartal ini perlu menyebut kedua pihak,' ujar Evelyn. 'Kalau hanya Mile Group yang bisa meninjau, Celeste tidak punya kesempatan mengajukan koreksi.'
Marcus membaca pasal yang ditunjuknya. 'Benar. Kita ubah menjadi peninjauan bersama. Perubahan harus disetujui tertulis oleh kedua perusahaan.'
Evelyn menandai bagian itu. 'Dengan begitu, tidak ada yang bisa memakai dokumen ini di luar persetujuan kita.'
'Setuju,' kata Marcus. 'Kirimkan versi revisinya setelah timmu memeriksa lagi.'
Pertemuan berakhir menjelang siang. Evelyn merapikan mapnya dan turun bersama Marcus menuju lobi, sementara para anggota tim kembali ke pekerjaan masing-masing.
Sepanjang perjalanan turun, Marcus membahas perubahan kecil pada jadwal peninjauan. Evelyn mendengarkan sambil memeriksa kembali halaman terakhir. Mereka tidak membicarakan rahasia yang ia ceritakan di Café Lune; keduanya sepakat menjaga urusan pribadi tetap terpisah dari pertemuan bisnis. Namun ketenangan itu membuat langkah mereka tampak akrab bagi orang yang hanya melihat dari luar.
'Timku akan mengirim draf revisi sebelum pukul tiga,' kata Marcus di depan lift.
'Aku akan memeriksanya bersama bagian kerja sama. Jangan kirim langsung ke Daniel.'
'Aku akan kirim ke alamat resmi yang tercantum.'
'Bagus. Aku ingin semua orang tahu ini proses perusahaan, bukan pertolongan pribadi.'
Marcus menatapnya sebentar. 'Aku paham. Aku tidak akan mencampuradukkan keduanya.'
Pintu lift terbuka. Mereka keluar ke lobi yang ramai, lalu berjalan ke pintu utama. Evelyn tidak menyentuh Marcus dan tidak menurunkan suaranya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Ia hanya memegang map dan melanjutkan percakapan kerja sampai mereka berpisah.
'Eve.'
Ia berbalik. Daniel berdiri beberapa meter dari mereka. Wajahnya tegang, matanya berpindah dari Marcus ke Evelyn.
'Kamu menungguku?' tanya Evelyn.
'Aku datang untuk menemui seseorang di sini.' Daniel tidak menjawab pertanyaan itu. 'Tapi ternyata aku malah melihat kalian keluar bersama.'
Marcus menahan langkah. 'Kami baru selesai membahas kerja sama perusahaan.'
'Aku tidak bertanya kepadamu.' Daniel menatap Evelyn. 'Kalian sudah sedekat itu sampai harus bertemu di sini berdua?'
'Pertemuan berlangsung di ruang rapat dan membahas kontrak. Tim kerja sama juga hadir.'
'Lalu kenapa kalian keluar bersama?'
'Karena rapatnya selesai pada waktu yang sama. Itu tidak mengubah isi pertemuan.'
Daniel tertawa pendek. 'Kamu sudah menunda pernikahan, lalu sekarang menghabiskan waktu dengan Marcus. Kamu pikir aku tidak melihat apa yang sedang kamu lakukan?'
Evelyn mengencangkan pegangan pada tasnya. 'Aku tidak berselingkuh.'
'Kamu selalu punya jawaban.'
'Aku tidak perlu berbohong tentang rapat kerja.'
Daniel memandang Marcus lagi. 'Kamu tahu kami masih bertunangan.'
Marcus tetap tenang. 'Aku tahu Evelyn sudah menjelaskan bahwa pernikahannya ditunda. Pembicaraan hari ini punya agenda dan catatan resmi. Kalau kamu punya pertanyaan tentang kontrak, sampaikan lewat jalur perusahaan.'
'Jangan berpura-pura ini cuma soal kontrak.'
'Dan jangan mengubah rapat resmi menjadi tuduhan pribadi tanpa dasar,' balas Marcus.
Evelyn mengangkat satu tangan sedikit, menghentikan mereka sebelum percakapan semakin panas. 'Dan, aku sudah mengatakan bahwa aku menunda pernikahan. Aku tidak menyembunyikan pertemuan ini. Kamu tahu aku datang ke Mile Group untuk membahas kerja sama.'
'Kamu tidak pernah bilang akan pulang bersamanya.'
'Kami keluar dari gedung yang sama. Itu bukan rahasia.'
Daniel menatapnya seolah menunggu Evelyn mengalah. Ia tidak melakukannya. Beberapa orang melintas di lobi, tetapi tak seorang pun berhenti. Evelyn tidak ingin mengubah persoalan kerja menjadi tontonan.
'Aku akan kembali ke kantor,' katanya. 'Kalau kamu ingin membahas hubungan kita, lakukan tanpa menuduhku melakukan sesuatu yang tidak terjadi.'
***
Marcus tetap di dekat pintu sementara Evelyn melangkah menuju mobil. Daniel menyusulnya sampai ke trotoar.
Evelyn berhenti sebelum membuka pintu mobil dan menatap Daniel. 'Aku tidak meminta kamu setuju dengan semua keputusanku. Aku hanya meminta kamu tidak mengubah pekerjaan resmi menjadi tuduhan.'
'Aku dengar,' jawab Daniel, tetapi suaranya masih dingin.
'Kalau begitu, tunjukkan dengan sikapmu.'
'Kamu bahkan tidak mencoba menenangkanku,' katanya.
'Aku tidak bisa menenangkanmu dengan mengakui sesuatu yang tidak benar.'
'Kamu berubah sejak dekat dengan Marcus.'
'Aku berubah karena aku mulai menentukan batas untuk diriku sendiri.'
'Kamu masih tunanganku.'
'Dan aku masih berhak meminta pernikahan itu ditunda. Aku sudah memberitahumu alasannya.'
Daniel terdiam. Evelyn melihat rahangnya mengeras. Ia tahu laki-laki itu ingin menempatkan semua kesalahan pada Marcus, sebab itu lebih mudah daripada mengakui jarak yang ia bangun sendiri.
'Jangan menjadikan orang lain alasan untuk menghindari pembicaraan kita,' ujar Daniel.
'Aku tidak menghindar. Aku hanya tidak akan membahasnya di trotoar sambil dituduh berselingkuh.'
Ia naik ke mobil tanpa membanting pintu. Dari kaca, ia melihat Daniel masih berdiri di tempat yang sama. Marcus belum pergi; ia berbicara sebentar dengan staf yang keluar dari gedung, lalu kembali masuk. Evelyn mengirim pesan singkat kepadanya: 'Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menjaga percakapan tadi tetap profesional.'
Marcus membalas, 'Aku tidak akan memperkeruh keadaan. Kalau Daniel menghubungimu lagi, kamu yang menentukan cara menjawabnya.'
Evelyn menyimpan ponselnya. Ia tidak merasa menang. Tuduhan Daniel menegaskan bahwa laki-laki itu lebih sibuk mengawasi siapa yang berada di samping Evelyn daripada melihat apa yang telah ia lakukan sendiri. Namun kejadian di lobi belum menjadi urusan dewan. Selama kontrak tetap jelas dan ia menjaga batas, ia tidak akan membiarkan kecemburuan Daniel mengubah pekerjaannya.