Siang hari yang sama, Evelyn masih berada di Café Lune. Ia menyimpan mapnya sambil memandang jalan di luar jendela. Tidak ada lagi tanggal yang perlu ia susun. Ia telah menceritakan kematiannya, kembalinya ke tahun 2022, dan alasan ia berusaha mencegah kehancuran keluarga Celeste.
Marcus tetap duduk di seberangnya, dekat jendela. 'Bagaimana keadaanmu setelah bercerita pagi ini?'
'Lebih tenang daripada kemarin.'
'Kamu yakin ingin bicara lagi?'
'Ada satu bagian yang belum kukatakan dengan jelas. Aku takut kehilangan Ayah untuk kedua kalinya. Di kehidupan sebelumnya, aku tidak sempat memperbaiki hubungan kami. Sekarang aku berusaha menjaganya, tapi kadang rasa takut membuatku ingin mengatur semuanya sendiri.'
Marcus merapatkan kedua tangannya di atas meja. 'Kamu tidak bisa menghapus semua risiko. Tapi kamu bisa tetap berada di sisinya dan membiarkan orang lain membantumu.'
'Aku sedang belajar menerima bantuan.'
'Dan kamu ingin aku menjadi salah satu orang itu?'
Evelyn menatapnya. 'Ya. Bukan untuk mengambil keputusan dariku. Aku hanya ingin ada seseorang yang tahu seluruh ceritaku dan tidak langsung pergi.'
Marcus menunduk sejenak. Ketika ia kembali menatap Evelyn, wajahnya tegas. 'Aku tidak akan menjanjikan bahwa aku selalu tahu jawaban yang benar. Tapi aku bisa berjanji untuk mendengarkan, mendampingimu, dan mengatakan kalau menurutku kamu mulai mengambil risiko yang tidak perlu.'
'Kamu tidak akan menganggapku gila?'
'Aku percaya kamu mengalami sesuatu yang sangat nyata bagimu. Aku belum memahami bagaimana itu mungkin terjadi. Tapi aku percaya bahwa kamu sedang mengatakan yang sebenarnya.'
Evelyn mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Ia tidak menyadari betapa kuat ia menggenggam tali tas sampai jemarinya terasa nyeri.
'Terima kasih.'
'Aku juga ingin memastikan kamu tahu bahwa aku tidak akan menggunakan rahasia ini untuk memaksamu melakukan sesuatu.'
'Aku tahu.'
***
Evelyn memeriksa map sebelum menyimpannya ke tas. Di dalamnya ada catatan waktu yang baru ditulis Marcus. Gambar koridor tetap hanya pada penyimpanan pribadinya, seperti yang ia pilih sejak penyerahan pertama. Mereka tidak perlu mencetak atau memindahkan foto lagi untuk membuat percakapan ini terasa selesai.
'Kalau nanti diperlukan keteranganmu, aku akan memintanya melalui jalur yang benar,' kata Evelyn.
'Aku akan menjawab apa yang kulihat. Kalau tidak tahu, aku akan mengatakan tidak tahu.'
Evelyn mengangguk. Janji sederhana itu lebih berguna daripada keyakinan bahwa Marcus selalu dapat menyelamatkannya. Ia menutup tas, lalu kembali menghadapkan tubuh kepadanya. Untuk siang itu, ia ingin mengakhiri cerita tanpa membawa pulang kesepakatan yang dibuat karena sedang lemah.
'Ada satu hal lagi yang harus kukatakan,' ujar Marcus. 'Sebelum kau bercerita, aku pernah mengira sikap tenangmu berarti kau tidak memerlukan siapa pun. Aku menyesali anggapan itu.'
'Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.'
'Mungkin. Tapi sekarang aku tahu kamu tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.'
Evelyn menatapnya dalam diam. Ia tidak ingin menyamakan kesetiaan Marcus dengan janji bahwa semua luka akan pulih. Ia juga tidak mau menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk menolaknya sebelum ia sempat memilih.
'Aku belum tahu bagaimana masa depan kita,' katanya jujur.
Marcus tidak segera menjawab. Ia memandang jalan di luar kaca, lalu kembali menghadap Evelyn. 'Aku juga tidak tahu. Tapi aku tidak ingin kedekatan kita tumbuh dari rasa kasihan atau dari ketakutanmu. Aku ingin kamu tetap punya ruang untuk memilih, bahkan kalau pilihanmu nanti bukan aku.'
Evelyn tidak menyangka kalimat itu akan membuatnya lebih tenang. 'Aku tidak mau menjadikanmu tempat bersembunyi dari Daniel.'
'Dan aku tidak mau menjadi orang yang memintamu melupakan apa yang terjadi.'
Marcus menatapnya. 'Kalau kita berjalan bersama, aku ingin hubungan ini dibangun dari hal yang terjadi sekarang. Bukan dari rasa bersalahmu karena pernah menolakku, dan bukan dari bayangan tentang siapa yang mungkin akan menyakitimu.'
'Aku juga menginginkan itu.'
Marcus menautkan jemari. 'Kita tidak harus memberi nama pada hubungan ini hari ini. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku bersedia berada di sisimu saat kamu menghadapi masalah, selama kamu memang menginginkannya.'
'Aku menginginkannya,' jawab Evelyn setelah jeda singkat. 'Aku tidak tahu bagaimana semuanya akan berkembang. Tapi hari ini aku ingin berhenti menyembunyikan kebenaran darimu.'
Ia tidak menjanjikan bahwa setelah pengakuan ini ia akan selalu terbuka. Ada luka yang mungkin tetap membuatnya mundur. Namun ia telah memilih untuk memberi Marcus kesempatan melihat dirinya tanpa topeng.
Marcus tersenyum tipis. 'Aku tidak meminta jawaban hari ini.'
'Aku juga belum tahu bagaimana cara mempercayai orang lagi.'
'Kamu bisa mulai sedikit demi sedikit. Kalau suatu saat aku melakukan sesuatu yang membuatmu ragu, tanyakan langsung kepadaku.'
'Dan kalau aku kembali menutup diri?'
'Aku akan mengingatkanmu bahwa kamu sudah memilih untuk bicara hari ini.'
Evelyn menahan senyum. 'Kamu terdengar yakin aku akan mengingatnya.'
'Aku akan mengingatkannya kalau kamu lupa.'
Mereka duduk beberapa menit tanpa membicarakan perusahaan atau Daniel. Tidak ada keputusan besar yang dibuat di meja itu. Namun sesuatu yang selama ini hanya ditanggung Evelyn kini telah diketahui orang lain, dan Marcus tidak memalingkan wajah.
Sebelum pulang, Evelyn menghubungi Bu Rini untuk menanyakan jadwal Andrew, bukan untuk mengatur semua kegiatannya. Ayahnya sedang bersiap pulang dari kantor. Evelyn berkata ia akan makan di rumah dan berbicara dengannya jika ia menginginkannya. Setelah pesan terkirim, barulah ia menaruh ponsel dan meninggalkan kafe bersama Marcus sampai ke pintu.
Sebelum berpisah, Marcus berdiri bersama Evelyn di dekat pintu Café Lune. 'Aku akan menemanimu menghadapi mereka,' katanya. 'Kita lakukan dengan bukti dan dengan caramu. Aku tidak akan mengambil alih langkahmu.'
Evelyn memandangnya. 'Aku ingin mencoba mempercayaimu.'
'Itu sudah cukup untuk hari ini.'
Ia berjalan menuju mobil dengan map berisi catatan di tangannya; foto tetap tersimpan pada ponselnya. Rahasia masa lalunya belum mengubah apa yang terjadi di luar sana. Daniel masih bebas berbohong, Emma masih bisa menyusun rencana, dan urusan saham belum selesai. Tetapi kini Evelyn tidak lagi menyimpan kebenaran itu sendirian.