Senin pagi, empat hari setelah Evelyn mulai bercerita, Marcus sudah berada di Café Lune ketika Evelyn tiba. Ia menutup laptop begitu melihatnya, lalu memesan teh untuk Evelyn tanpa bertanya. Ia ingat perempuan itu tidak menyukai kopi yang terlalu pahit.
'Kamu ingat pesananku,' kata Evelyn.
'Aku mencoba mengingat hal-hal yang penting.'
Evelyn duduk. 'Aku akan menyelesaikan ceritanya hari ini.'
Marcus tidak buru-buru menjawab. 'Aku siap mendengarkan.'
'Bagian terakhirnya tentang foto yang kamu ambil saat gala.'
'Kamu ingin membicarakan foto itu?'
'Aku ingin menjelaskan kenapa ketika melihatnya, aku merasa seperti sedang melihat kejadian yang pernah kulalui.'
***
Evelyn menceritakan kehidupan lamanya dari hari-hari terakhir sebelum semuanya runtuh. Ia mengingat bagaimana Daniel mulai menyembunyikan percakapan, bagaimana Emma menemaninya dalam pertemuan keluarga, dan bagaimana ia menepis rasa curiga karena tidak ingin merusak hubungan mereka.
'Aku tidak ingat setiap tanggal,' katanya. 'Tapi aku ingat bahwa sebelum aku mati, aku sudah kehilangan kendali atas banyak hal. Aku ingat wajah Daniel ketika ia menyadari aku tidak punya jalan keluar. Aku ingat Emma berdiri di dekatnya. Aku ingat laut.'
Marcus menunduk. 'Kamu tidak perlu menggambarkan lebih jauh.'
'Aku tidak akan.' Evelyn mengatupkan jemarinya. 'Ketika kembali, aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengubah hasil akhirnya. Bukan dengan menjadi seperti mereka, tetapi dengan menjaga bukti, bertanya ketika ada yang janggal, dan tidak menyerahkan kendali karena takut dianggap sulit.'
'Itu sebabnya kamu menyimpan foto dari gala.'
'Ya. Foto itu menunjukkan Daniel dan Emma berada di pintu kamar yang sama, sesuai keteranganmu tentang kejadian sesudahnya. Itu fakta yang bisa kulihat. Foto itu tidak menjelaskan apa yang mereka lakukan setelahnya. Aku tidak akan mengatakan lebih dari itu.'
Evelyn membuka sendiri foto yang diterimanya pada hari Senin setelah gala. Marcus tidak memiliki salinan lain untuk diperlihatkan; sesuai permintaan Evelyn saat itu, ia sudah menghapus salinan pada perangkatnya. Gambar di hadapan mereka berasal dari folder pribadi Evelyn.
'Ini tetap foto yang sama,' kata Evelyn. 'Tidak ada rekaman dari dalam kamar dan tidak ada gambar lain.'
Marcus mengangguk. 'Aku dapat menjelaskan apa yang kulihat dengan mata sendiri, termasuk batasnya. Tetapi aku tidak dapat menjadikan satu foto sebagai jawaban atas seluruh kejadian.'
Evelyn meminta ia menulis keterangan singkat tentang urutan pengambilan foto, agar kelak ia tidak keliru mengingat. Marcus menuliskannya di kertas yang dibawa Evelyn: posisi di ujung koridor, Daniel dan Emma di ambang pintu, satu pengambilan gambar, kemudian ia turun. Ia tidak menambahkan dugaan tentang isi kamar. Evelyn membaca keterangannya di hadapannya.
'Terima kasih. Inilah yang ingin kujaga,' ujarnya. 'Aku tidak ingin ketakutanku membuat satu gambar tampak mengatakan lebih banyak daripada yang dapat dibuktikan.'
Marcus menyerahkan kertas itu. Tidak ada foto yang dipindahkan lagi. Evelyn menaruh catatan di map miliknya, lalu mengunci kembali ponselnya. Ia sendiri yang menentukan penyimpanan gambar tersebut.
'Aku juga perlu meluruskan sesuatu tentang ceritaku,' kata Evelyn. 'Aku mengetahui langkahmu di koridor karena kamu sudah menerangkannya saat menyerahkan foto. Itu bukan sesuatu yang kuramalkan dari kehidupan lama.'
'Aku ingat mengatakannya,' jawab Marcus. 'Aku tidak meminta kejadian itu dijadikan pembuktian bahwa kau pernah kembali ke masa lalu.'
'Kamu masih punya pertanyaan tentang itu?'
'Tentu. Aku tidak memahami bagaimana pengalaman itu mungkin terjadi. Tetapi aku bisa mendengarkan tanpa berpura-pura bahwa aku sudah memiliki penjelasannya.'
Evelyn merasakan malu yang singkat, kemudian lega. Ia tidak perlu menguatkan kisahnya dengan keajaiban tambahan. Cerita yang dialaminya sendiri sudah cukup berat; menata ulang kenyataan hanya agar Marcus percaya akan merusak hal yang justru ingin dibangunnya.
Marcus membiarkan Evelyn menyimpan map itu sebelum melanjutkan. 'Apa yang kauinginkan setelah semua urusan ini selesai?'
Pertanyaan itu tidak menyerupai permintaan agar Evelyn memilihnya. Ia bertanya tentang pekerjaan, tentang rumah, dan tentang rencana yang masih ingin Evelyn pertahankan meskipun Daniel tak lagi menjadi pusatnya. Untuk beberapa saat Evelyn hanya memandang tangan sendiri. Selama ini ia menyiapkan langkah untuk mencegah kehilangan, tetapi jarang membayangkan apa yang akan dilakukan jika berhasil bertahan.
'Aku ingin bisa mengambil keputusan tanpa lebih dahulu membayangkan siapa yang akan marah,' katanya. 'Aku masih ingin belajar. Aku ingin Ayah mendapat kesempatan memperbaiki kesalahannya, tanpa menjadikan diriku orang yang harus menyerahkan semua hal untuk itu.'
Marcus mendengarkannya sampai selesai. Mereka tidak memutuskan tujuan studi atau jabatan hari itu. Namun Evelyn telah menyebut keinginan yang berasal dari dirinya sendiri, bukan dari ketakutan akan akhir yang pernah dialaminya. Ia merapikan tepi kertas catatan, kemudian membiarkannya tetap tertutup. Untuk pertama kalinya pagi itu, pembicaraan mereka bukan tentang siapa yang perlu dijatuhkan.
Evelyn merapatkan kedua tangannya di sekitar cangkir. 'Aku tahu ini belum bisa menjelaskan bagaimana aku kembali. Aku bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada diriku sendiri. Tapi aku tahu apa yang kulihat saat aku mati dan apa yang kuingat ketika terbangun lagi.'
'Apa kamu pernah mengira kamu sedang kehilangan akal?'
'Setiap hari selama minggu pertama. Aku mencoba menyangkalnya, lalu menemukan hal-hal kecil yang hanya bisa kukenal karena aku pernah hidup melewatinya. Ayah masih hidup. Tanggalnya sama. Daniel mengatakan kalimat yang persis sama dengan yang kuingat.'
'Lalu kamu mulai mengubah keputusanmu.'
'Ya. Aku tidak tahu apakah semua yang kuingat akan terjadi persis sama. Aku hanya tahu pola-pola yang dulu tidak kupahami. Karena itu aku memeriksa satu per satu.'
Marcus memandang Evelyn setelah ia menyimpan ponselnya sendiri. 'Aku tidak akan mengatakan foto itu membuktikan kamu pernah mati. Kau tidak perlu menciptakan kepastian yang tidak kita miliki. Aku tetap dapat menghormati pengalaman yang kucoba pahami.'
Evelyn merasa lega sekaligus takut. 'Jadi kamu percaya?'
'Aku percaya padamu, Eve. Aku tetap ingin memahami semuanya, tetapi aku tidak akan menunggu penjelasan yang sempurna sebelum memperlakukanmu dengan hormat.'
Kali ini Evelyn tidak membalas dengan membela diri. Ia hanya mengangguk, merasakan bahwa kepercayaannya tidak harus datang sebagai satu keputusan besar. Marcus masih punya pertanyaan, tetapi ia bersedia berdiri di sisi Evelyn sementara pertanyaan itu belum terjawab.
'Aku tidak meminta bukti itu menghapus semua pertanyaanmu.'
'Aku tidak ingin kamu menelan ceritaku begitu saja,' kata Evelyn. 'Aku ingin kamu tahu bahwa ingatan itu nyata bagiku, sekalipun aku tidak punya cara untuk membawanya sebagai bukti.'
Marcus memandangnya dengan serius. 'Kamu tidak perlu memaksaku menyebutnya bukti. Aku bisa percaya pada kejujuranmu sambil tetap memeriksa hal-hal yang perlu diperiksa.'
'Pertanyaanku masih ada. Kepercayaanku juga mulai tumbuh,' lanjut Marcus.
Evelyn menunduk pada cangkirnya. Pengakuannya tidak lagi hanya berputar di dalam kepalanya. Seseorang telah mendengarnya tanpa meremehkan rasa takut yang menyertainya.