Seusai bekerja pada Jumat sore, sesuai janji yang mereka sepakati melalui pesan, Evelyn membawa map tipis ke Café Lune. Ia tidak berniat memperlihatkan catatan pribadi atau dokumen perusahaan kepada Marcus. Map itu hanya berisi beberapa tanggal yang ia tulis untuk membantu menyusun urutan kejadian yang sulit ia ucapkan tanpa kehilangan arah.
Marcus tiba lebih dulu. 'Kamu ingin melanjutkan?'
'Ya. Semalam aku berpikir, kalau aku tidak menyelesaikannya, aku akan terus merasa seperti sedang menyembunyikan sesuatu darimu.'
'Kamu tidak berutang penjelasan kepadaku.'
'Mungkin tidak. Tapi aku ingin memilih untuk jujur.'
Ia membuka map dan tidak mendorongnya ke seberang meja. 'Di kehidupan sebelumnya, setelah Ayah meninggal, Daniel mulai berbicara tentang kestabilan perusahaan. Katanya aku tidak perlu mengurus semuanya sendiri. Emma mendukungnya. Saat itu aku mengira mereka membantuku.'
'Kamu tidak ingat kapan semuanya berubah?'
'Aku ingat tanda-tandanya, tapi dulu aku mengabaikannya. Akses ke dokumen berkurang. Keputusan dibuat tanpa bertanya kepadaku. Setiap kali aku keberatan, Daniel bilang aku terlalu emosional dan tidak memahami tekanan bisnis.'
'Dan kamu percaya?'
'Aku ingin percaya. Itu berbeda.'
Ia mengusap tepi kertas. 'Pada akhirnya, aku kehilangan hak menentukan nasib saham Celeste. Mereka bilang prosesnya sah. Aku berusaha melawan, menemukan rekaman dan meminta penelusuran dokumen, tetapi mereka menghalangi langkahku. Setelah itu, aku dibawa pergi. Malam di laut itu menjadi akhir hidupku yang pertama.'
Marcus menggenggam cangkirnya, tetapi tidak minum. 'Apa yang kamu ingat tentang saat kamu kembali?'
'Aku langsung memeriksa tanggal. Setelah itu aku turun menemui Ayah. Aku melihatnya hidup dan masih bisa tertawa. Aku merasa diberi waktu untuk memperbaiki sesuatu, tapi juga takut kalau aku gagal lagi.'
'Kamu tidak bisa mengendalikan semua pilihan orang lain.'
'Aku tahu. Tapi aku bisa memilih untuk tidak menutup mata.'
***
Percakapan sore itu berlanjut setelah Marcus menyelesaikan panggilan singkat dengan kantornya. Evelyn mengingat malam gala dan foto yang Marcus berikan. Ia telah menceritakan pengkhianatan Daniel dan Emma, tetapi belum menjelaskan mengapa ia tahu foto itu akan menjadi bagian dari rangkaian kejadian yang terasa akrab.
'Ada satu hal yang mungkin akan terdengar lebih aneh daripada bagian lain,' ucapnya.
'Aku masih di sini.'
'Ada dua peristiwa yang harus kubedakan. Saat pernikahanku dengan Daniel pada akhir 2022, kamu berada di Singapura dan mengirim buket melalui sekretarismu. Tetapi gala yang kuingat berlangsung tiga tahun kemudian. Saat itu kami sudah menikah tiga tahun, dan kamu berada di Jakarta.'
Marcus menyipitkan mata. 'Kapan aku pernah mengirim buket?'
'Pada hari pernikahanku. Kamu menulis ucapan selamat, singkat saja. Aku tidak tahu kamu masih mengingatnya.'
'Aku tidak ingat pernah mengirimkannya.'
'Tentu saja. Kamu belum melakukannya di kehidupan ini.' Evelyn menarik napas. 'Tapi aku menerimanya di kehidupan yang sudah berakhir.'
Marcus menatapnya lama. 'Apa lagi yang terjadi malam gala itu?'
'Daniel dan Emma masuk ke kamar hotel yang sama. Aku mengetahuinya setelah semuanya terlambat. Aku pernah melihat foto serupa dari masa lalu—mereka di mobil, di restoran, dan akhirnya masuk kamar bersama. Ketika kamu memberiku foto dari lorong, aku menyadari kejadian itu kembali terulang.'
'Foto yang kuberikan menunjukkan mereka di ambang pintu bersama. Aku melihat mereka masuk sesudah mengambil gambar itu. Aku tidak pernah melihat apa yang terjadi di dalam.'
'Aku tahu. Aku juga tidak meminta foto itu membuktikan lebih dari yang terlihat.'
Marcus memperhatikan wajahnya. 'Kamu pernah menyaksikan mereka masuk ke kamar dalam kehidupan sebelumnya?'
'Tidak. Aku menemukan bukti itu belakangan, setelah mereka mengira aku tidak akan bisa melawan. Ada foto-foto yang menunjukkan mereka bersama, tetapi kamu yang menyerahkan foto-foto itu kepadaku di Café Lune. Aku tidak mengetahui siapa yang menekan tombol kameranya, tetapi aku ingat jelas dari siapa aku menerimanya. Yang kuingat adalah perasaan saat akhirnya memahami betapa banyak hal yang selama ini disembunyikan dariku.'
'Kamu tidak bisa memastikan foto-foto itu ada di garis waktu ini.'
'Benar. Aku juga tidak akan menggunakannya sebagai bukti sekarang. Yang kumiliki di kehidupan ini hanya gambar yang kamu ambil dan catatan waktunya.'
'Jadi ingatanmu membantumu waspada, tetapi kamu tetap memeriksa keadaan yang sebenarnya.'
'Itulah yang sedang kucoba lakukan. Kalau aku menganggap semua yang kuingat pasti akan terulang persis sama, aku bisa membuat kesalahan baru.'
Marcus terdiam, menyerap penjelasan itu. Ia tidak lagi bertanya apakah Evelyn mengada-ada. Ia justru bertanya apa yang ia harapkan darinya ketika mereka selesai bicara.
'Aku belum tahu,' jawab Evelyn. 'Mungkin cukup jangan menutup percakapan ini dengan menganggapku tidak waras.'
'Aku tidak akan melakukan itu.'
Ia menutup mapnya. 'Di hidup yang pertama, aku tidak paham apa arti semua tanda itu. Di kehidupan ini, aku tahu aku harus tetap memisahkan bukti dari dugaan.'
Marcus memandangnya dengan sikap yang berbeda dari kemarin. 'Kamu menceritakan hal ini kepadaku karena kamu ingin aku percaya?'
'Aku ingin kamu tahu kenapa aku tidak bisa memperlakukan semua ini seperti kejadian biasa. Aku juga ingin kamu mengerti bahwa aku tidak akan menggunakan fotomu untuk menyerang mereka tanpa alasan yang jelas.'
'Aku mengerti.'
'Belum tentu kamu percaya.'
Marcus bersandar, lalu mengembuskan napas. 'Aku percaya bahwa kamu sungguh-sungguh menceritakan pengalaman yang kamu yakini pernah terjadi. Aku belum tahu bagaimana menjelaskan bagian tentang kembali ke masa lalu.'
'Itu jawaban yang jujur.'
'Aku tidak akan berpura-pura mengerti sesuatu yang tidak masuk akal bagiku. Tapi aku juga tidak melihatmu sebagai orang yang sedang berbohong.'
Evelyn menatapnya, mencoba menemukan keraguan yang lebih dalam. 'Apa kamu takut aku akan membuat keputusan berdasarkan ingatan yang tidak bisa diperiksa?'
'Aku khawatir kamu menanggung terlalu banyak sendirian. Soal keputusan, aku akan tetap bertanya dan mengingatkanmu untuk memeriksa fakta.'
'Aku justru membutuhkan itu.'
Marcus mengangguk. 'Kalau begitu, kita bisa mulai dari sana.'
Untuk sesaat Evelyn ingin mengatakan bahwa kata 'kita' membuatnya lega. Namun ia menyimpan kalimat itu. Hubungan mereka tidak perlu diberi nama sebelum keduanya siap. Yang penting, ia tidak lagi harus berpura-pura bahwa rahasia itu tidak pernah ada.
'Pada Senin sesudah akhir pekan ini, aku ingin melanjutkan bagian terakhir,' katanya.
'Senin, kalau kamu sudah siap.'
Evelyn memasukkan mapnya kembali ke tas. 'Aku akan siap.'