Evelyn belum menyentuh tehnya ketika ia melanjutkan cerita. Di seberang meja, Marcus tetap diam. Tatapannya tidak lepas dari wajah Evelyn, tetapi ia tidak mendesaknya untuk berbicara lebih cepat.
'Di kehidupan yang pertama, aku terlalu percaya pada Daniel,' kata Evelyn. 'Aku mengira dia mencintaiku. Aku membela dia setiap kali ada orang yang memperingatkanku. Aku bahkan membiarkan hubunganku dengan Ayah renggang karena mengira Daniel akan menjadi keluargaku.'
Marcus menunduk sebentar. 'Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu atas pilihan Daniel.'
'Aku tahu sekarang. Dulu aku tidak tahu.' Evelyn menarik napas panjang. 'Emma selalu berada di dekatku. Aku menganggapnya adik. Dia tahu apa yang kusukai, kapan aku lengah, dokumen mana yang kupercayai. Setelah Ayah meninggal, mereka mengambil alih kendali perusahaan sedikit demi sedikit.'
'Ayahmu meninggal?'
'Dalam kehidupan itu. Tiga tahun setelah titik ketika aku kembali. Saat itu aku percaya semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tahu kondisi jantungnya bisa menjadi lebih buruk, dan aku tidak cukup memperhatikannya.'
Ia berhenti. Ada rasa sesak yang naik dari dadanya, mengingat rumah sakit yang pernah didatanginya terlambat, wajah ayahnya yang tak lagi bisa menjawab, dan janji yang tak sempat ia ucapkan.
'Lalu kamu sendiri?' tanya Marcus.
Evelyn memejamkan mata sesaat. 'Aku dibawa ke laut. Daniel ada di sana. Emma juga. Aku masih ingat udara malam, suara ombak, dan bagaimana mereka melihatku seperti aku bukan siapa-siapa lagi.'
Marcus menggeser serbet ke dekat Evelyn. Ia tidak menyentuhnya, tidak pula mencoba meraih tangannya. 'Kamu bisa berhenti kalau terlalu berat.'
'Kalau aku berhenti sekarang, mungkin aku tidak akan sanggup melanjutkan lagi.' Ia mengambil serbet itu dan menekan ujungnya ke telapak. 'Aku jatuh ke air. Setelah itu semuanya gelap. Ketika sadar, aku berada di kamar yang kukenal, tetapi tanggal di ponsel menunjukkan 14 November 2022.'
'Kamu ingat tanggal itu dengan jelas?'
'Ya. Aku ingat jamnya juga. Awalnya kupikir aku hanya bermimpi. Lalu aku turun ke ruang makan dan melihat Ayah masih hidup. Suaranya sama. Bekas luka kecil di tangannya masih ada. Semuanya nyata.'
Marcus menatap keluar jendela, ke kendaraan yang melintas. 'Dan setelah itu kamu memilih mengubah semuanya.'
'Aku tidak tahu cara mengubah semuanya. Aku cuma tahu kali ini aku tidak akan menyerahkan keputusan hidupku kepada Daniel. Aku akan melindungi Ayah dan menjaga saham keluarga. Aku akan mencari tahu siapa Emma sebenarnya tanpa menuduhnya sebelum waktunya.'
'Kamu sudah tahu siapa Emma?'
Evelyn menimbang jawaban. Pengakuan ayahnya bukan miliknya untuk diumumkan begitu saja. 'Aku mulai memahami beberapa hal. Ada rahasia keluarga yang baru-baru ini diungkapkan Ayah. Tapi aku tidak ingin menceritakan sesuatu yang bukan hakku untuk dibuka.'
'Kamu tetap melindunginya meski dia menyakitimu?'
'Aku sedang mencoba membedakan apa yang dia lakukan dari siapa dia sebenarnya. Itu tidak berarti aku akan membiarkannya mengambil apa pun dariku.'
Ia bertanya apa yang paling Evelyn takutkan sekarang. Evelyn menjawab bahwa ia takut mengulang kehilangan ayahnya, tetapi juga takut membuat ayahnya merasa hidupnya sedang diatur. Ia telah belajar bahwa melindungi seseorang tidak sama dengan mengurungnya dari semua risiko. Ia ingin hadir, mengingatkan, dan mendengarkan, bukan menghapus hak Andrew untuk menentukan pilihannya sendiri.
'Kamu tidak bisa menghapus semua risiko,' kata Marcus. 'Tapi kamu bisa tetap berada di sisinya dan membiarkan orang lain membantumu.'
'Aku sedang belajar menerima bantuan.'
'Kalau begitu, jangan menyebut dirimu gagal hanya karena kamu tidak bisa mengendalikan semuanya.'
Evelyn memandang ke jendela. Orang-orang berlalu di trotoar dengan urusan masing-masing. Ia pernah menjalani hari-hari seperti itu sambil yakin masa depannya sudah ditentukan orang lain. Sekarang ia tidak tahu bagaimana akhir cerita ini, tetapi setidaknya ia dapat memilih langkah berikutnya.
'Aku masih merasa seperti orang asing di hidupku sendiri,' ujarnya. 'Aku mengingat rumah ini, pekerjaanku, Ayah. Tapi kadang aku merasa sedang mengunjungi tempat yang sudah pernah hilang.'
Marcus tidak menghiburnya dengan janji kosong. 'Mungkin kamu perlu waktu untuk merasa pulang lagi.'
'Mungkin.'
Ia menyelesaikan tehnya perlahan. Ceritanya belum membuat beban itu hilang, tetapi kini ia tidak perlu berpura-pura bahwa tidak ada beban sama sekali.
Marcus mengangguk perlahan. 'Kedengarannya kamu sudah jauh lebih kuat daripada yang kamu kira.'
Evelyn tertawa kecil tanpa kegembiraan. 'Aku takut setiap hari. Aku hanya tidak membiarkan rasa takut memilihkan langkahku.'
***
Pelayan mengisi ulang air minum mereka. Suasana di meja terasa lebih tenang, tetapi rahasia yang terbuka membuat jarak antara keduanya berubah. Evelyn tidak tahu apakah ia baru saja merusak kepercayaan Marcus atau memberinya kesempatan melihat dirinya yang sesungguhnya.
'Apa bagian yang paling sulit kamu ceritakan?' tanya Marcus.
'Bahwa aku pernah mencintai Daniel sampai aku tidak mengenali diriku sendiri.'
'Dan sekarang?'
'Sekarang aku tidak tahu apakah aku masih mencintai siapa pun. Aku berusaha memastikan aku tidak kembali menjadi orang yang mudah dibohongi.'
Marcus menatapnya penuh kesungguhan. 'Kamu tidak harus memutuskan perasaanmu hari ini.'
'Aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin kamu mengira aku mendekatimu hanya karena takut pada Daniel.'
'Aku tidak mengira begitu.'
Evelyn menatapnya. 'Kamu tidak harus menjawab sekarang. Aku cuma ingin kamu memahami kenapa kadang-kadang aku terlihat seperti sudah tahu sesuatu sebelum terjadi.'
'Seperti ketika kamu memutuskan menunda tanda tangan dokumen saham?'
'Sebagian. Aku pernah melihat dokumen yang sama digunakan untuk mengambil kendali. Kali ini aku mengenalinya lebih awal.'
'Apa ada sesuatu yang benar-benar tercatat dalam kehidupan ini, di luar ingatanmu?'
Evelyn terkejut. 'Ada catatan baru, tetapi aku belum menceritakannya kepadamu.'
'Aku tidak tahu isinya. Aku bertanya karena kamu tadi menyebut pemeriksaan dokumen.' Marcus menegaskan, 'Aku tidak mencari tahu. Kamu yang memilih apa yang ingin diceritakan.'
'Edwin memberiku catatan aktivitas akun Emma dari perangkat Daniel. Itu belum membuktikan siapa yang menulis pesan, tapi cukup membuatku waspada.'
'Kamu tidak perlu membawa semua beban itu sendirian.'
'Itulah yang sedang kucoba pelajari.'
Marcus membiarkan keheningan hadir tanpa menutupinya dengan nasihat. Evelyn mulai merasa bisa bernapas lebih dalam. Ia melihat cangkirnya yang kini hampir dingin.
'Aku belum menceritakan semuanya,' katanya. 'Ada hal-hal yang harus kuingat dengan tepat sebelum mengatakannya. Tapi aku akan menyelesaikan ceritaku.'
'Aku tidak akan memaksamu.'
Evelyn menatap mata Marcus. 'Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak sedang mengarang alasan untuk menjauhi orang-orang. Aku benar-benar pernah kehilangan semuanya.'
Marcus terdiam sejenak. 'Aku mendengarmu, Eve.'
Mendengar namanya diucapkan begitu lembut membuat tenggorokannya kembali terasa sesak. Namun kali ini ia tidak menunduk. Ia tinggal di sana, di hadapan Marcus, dan membiarkan ceritanya menjadi nyata di antara mereka.