Pagi setelah menerima catatan akses dari Edwin, Evelyn duduk di ruang makannya tanpa membawa salinan kerja yang tetap tersimpan di laci kantor. Ia sudah memeriksa isinya dua kali. Akun Emma, perangkat Daniel, waktu pengiriman, dan permintaan agar proses administrasi dilanjutkan. Belum ada bukti tentang siapa yang mengetik atau apa niat mereka, tetapi catatan itu tetap membuat dadanya terasa berat.
Bu Rini meletakkan secangkir teh di dekat tangannya. 'Kamu belum tidur nyenyak, Nona?'
'Aku tidur, Bu. Cuma banyak yang kupikirkan.'
'Kalau terus dipikirkan sendirian, kepala bisa makin penuh.'
Evelyn menatap cangkirnya. Biasanya ia akan menjawab bahwa semuanya baik-baik saja. Kali ini, kalimat itu tertahan. Ia ingin berbicara dengan seseorang, tetapi bukan Edwin, bukan ayahnya, dan bukan siapa pun dari perusahaan. Ada rahasia yang terlalu lama ia simpan bahkan dari dirinya sendiri.
Ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Marcus. Pesannya singkat: 'Apa kamu punya waktu hari ini? Aku ingin bicara di Café Lune. Bukan soal kerja sama.'
Balasan Marcus datang beberapa menit kemudian. 'Aku bisa pukul empat. Aku akan menunggu di meja dekat jendela.'
Evelyn menaruh ponsel. Ia memandang Bu Rini yang masih berdiri di dekat meja.
'Aku mau keluar sebentar sore ini.'
'Dengan Pak Marcus?'
Evelyn terdiam sesaat, lalu mengangguk. 'Aku perlu bicara dengannya.'
'Kalau begitu, jangan lupa makan siang dulu.' Bu Rini menyentuh bahunya ringan. 'Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan dengan tenang. Tidak perlu memaksa diri menyelesaikannya sekaligus.'
Nasihat sederhana itu mengikuti Evelyn sepanjang hari. Ia mencoba bekerja seperti biasa, menandatangani laporan yang sudah diperiksa, menjawab pertanyaan bagian keuangan, dan memastikan dokumen pengalihan saham tetap ditahan sesuai prosedur. Namun pikirannya kembali pada satu percakapan yang belum terjadi. Jika Marcus tidak percaya, ia tidak tahu apakah sanggup mengulang kisah itu kepada orang lain.
***
Pukul empat kurang lima, Evelyn memasuki Café Lune. Aroma kopi dan roti hangat menyambutnya. Tempat itu tidak ramai; beberapa pengunjung duduk terpencar, masing-masing tenggelam dalam urusan sendiri. Marcus sudah berada di meja dekat jendela. Ia berdiri ketika melihat Evelyn, lalu menarikkan kursi untuknya.
'Terima kasih sudah datang,' kata Evelyn.
'Kamu terdengar serius dalam pesanmu.' Marcus duduk setelah ia duduk. 'Apa ada masalah di perusahaan?'
'Ada. Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan hari ini.'
Marcus memperhatikan wajahnya. 'Kamu ingin aku mendengarkan sesuatu yang pribadi?'
'Ya. Dan aku minta kamu tidak memotongku sampai aku selesai.'
'Aku akan mendengarkan.'
Pelayan datang. Mereka memesan kopi dan teh, lalu menunggu sampai cangkir diletakkan di meja. Evelyn mengusap sisi cangkirnya, mencoba menemukan keberanian dalam kehangatan porselen itu.
'Aku pernah mati,' katanya akhirnya.
Marcus tidak langsung menjawab. Ia memandang Evelyn lekat-lekat, bukan dengan ejekan, melainkan dengan kekhawatiran yang membuat perempuan itu ingin menarik kembali kata-katanya.
'Maksudmu, kamu pernah berada di ambang kematian?'
'Bukan. Aku meninggal. Aku dibuang ke laut oleh orang-orang yang kupercaya.'
Suara alat penggiling kopi terdengar dari balik meja kasir. Evelyn menunggu Marcus menganggapnya sedang bercanda. Namun laki-laki itu tetap diam.
'Lalu kamu selamat?'
'Aku tidak selamat dari kematian itu. Aku membuka mata di masa lalu, pada 14 November 2022. Tiga tahun sebelum semuanya terjadi.'
'Evelyn...'
'Aku tahu kedengarannya tidak masuk akal.' Ia menunduk, kemudian memaksa dirinya menatap Marcus kembali. 'Aku tidak meminta kamu langsung percaya. Aku hanya tidak mau terus menyimpan ini sendirian.'
Marcus meletakkan sendoknya. 'Apa yang terjadi setelah kamu membuka mata?'
'Aku berada di tubuhku sendiri, saat usiaku lebih muda dan Ayah masih hidup. Aku ingat semua yang terjadi sebelumnya, termasuk hal-hal yang belum terjadi lagi di kehidupan ini.'
'Dan Daniel?'
Evelyn menarik napas. 'Dia orang yang menikah denganku, lalu mengkhianatiku. Emma membantunya. Mereka mengambil saham keluarga dan memastikan aku tidak bisa kembali. Mereka mengira aku sudah hilang di laut.'
Tangannya mulai bergetar. Ia menggenggam cangkir supaya Marcus tidak melihatnya, tetapi Marcus sudah melihat.
'Aku tidak tahu bagaimana membuktikan bahwa itu benar,' lanjutnya. 'Aku cuma bisa mengatakan bahwa sejak aku kembali, aku berusaha mencegah hal yang sama terjadi lagi.'
Marcus menyandarkan punggung, wajahnya berubah serius. 'Kamu yakin ini bukan mimpi buruk yang terasa nyata?'
'Aku berharap itu mimpi.'
'Apa yang kamu butuhkan dariku sekarang?'
Evelyn menahan napas. Pertanyaan itu lebih lembut daripada penyangkalan, tetapi ia belum tahu apakah itu berarti Marcus percaya.
'Aku ingin kamu mendengar semuanya. Kalau setelah itu kamu memilih menjaga jarak, aku akan mengerti.'
Marcus menatapnya lama. 'Kita tidak harus menyelesaikannya hari ini.'
'Aku tahu.'
'Ceritakan sejauh yang kamu sanggup. Aku akan tetap di sini.'
Evelyn mengangguk kecil. Setelah lama menyimpan rahasia itu, ia mulai menceritakan hidupnya dari awal.
Marcus memandangnya tanpa mengalihkan mata. 'Kamu yakin hanya ingin didengarkan? Kalau ada bagian yang membuatmu perlu berhenti, kita berhenti. Kalau ada yang ingin kamu tanyakan tentang reaksiku, tanyakan saja. Aku tidak akan membuatmu menebak-nebak.'
Evelyn mengusap jemarinya di atas cangkir. 'Aku tidak ingin kamu menganggapku mencari simpati. Selama ini aku selalu memilih kata-kata yang aman. Aku bilang aku lelah, aku bilang aku takut membuat kesalahan. Padahal kenyataannya jauh lebih buruk.'
'Kamu tidak perlu membuktikan bahwa rasa takutmu layak didengar.'
Ia mengangkat wajah. 'Kalau kamu menyesal sudah datang, masih ada waktu untuk pergi.'
'Aku datang karena kamu memintaku. Aku akan tetap duduk di sini sampai kamu selesai atau memutuskan cukup.'
Kata-kata itu tidak menghapus masa lalu. Namun Evelyn merasakan bahunya turun sedikit, seolah tubuhnya mengerti bahwa ia tidak harus menjaga pintu keluar untuk Marcus. Ia bisa mulai berbicara tanpa menyiapkan pembelaan untuk setiap kalimat.
'Kita mulai dari awal,' katanya.
'Aku akan mencoba mengerti,' ujar Marcus. 'Kalau ada yang terdengar tidak masuk akal, aku akan bertanya, bukan langsung menuduhmu.'
'Itu saja yang kuminta.' Evelyn menarik napas lebih dalam. 'Aku akan mulai dari hari ketika semuanya diambil dariku.'