Daniel tidak langsung menjalankan permintaan Emma hari sebelumnya. Pagi itu ia memanggilnya ke ruang rapat kecil dan meminta penjelasan yang lebih jelas tentang email yang ingin dikirim.
'Aku tidak akan mengirim sesuatu yang tidak kubaca,' katanya ketika Emma duduk di hadapannya.
Emma mengeluarkan satu lembar catatan dan meletakkannya di meja. 'Ini ringkasan yang harus disampaikan ke bagian administrasi. Isinya permintaan memperbarui status dokumen pengalihan saham.'
Daniel membaca lembar itu. 'Tidak ada persetujuan dari Evelyn.'
'Kita tidak sedang mengirim tanda tangan. Kita hanya meminta mereka menyiapkan kembali pencatatan yang sempat tertunda.'
'Kalimatnya membuat seolah pengalihan itu sudah disepakati.'
Emma merapatkan mapnya. 'Kamu ingin aku tetap dianggap orang luar?'
'Jangan bawa ini ke sana.'
'Aku tidak tahu harus bicara kepada siapa lagi. Andrew terus menjaga Evelyn, dan aku tidak punya posisi apa pun. Kalau aku menunggu, semuanya akan terlambat.'
Daniel meletakkan kertas itu. 'Kamu sadar kalau email ini diperiksa, mereka bisa tahu siapa yang mengakses akun?'
'Akun itu milikku.'
'Tapi kamu memintaku memakai perangkatku.'
Emma menatapnya tanpa menjawab. Daniel melihat kembali catatan itu. Ia tahu seharusnya menolak. Namun bagian lain dari dirinya ingin mempertahankan Emma di sisinya, dan ia membenci cara Evelyn kini membuat setiap rencana terasa sulit.
'Aku tidak akan mengirimnya sebelum ada dasar yang jelas,' katanya.
Emma menarik napas tajam. 'Kamu tadi bilang akan mengurusnya.'
'Aku bilang akan melihat apa yang bisa kulakukan. Aku tidak bilang akan mengambil risiko tanpa tahu akibatnya.'
'Kalau begitu, bacalah berkas lama yang kamu punya. Cari dasar yang bisa dipakai.'
Daniel mengembalikan kertas. 'Jangan tinggalkan ini di ruang rapat.'
Emma menyimpannya ke dalam map. 'Aku akan menunggu sampai sore.'
Ia pergi. Daniel kembali ke ruangannya dengan pikiran penuh. Ia membuka berkas yang sebelumnya disiapkannya untuk administrasi dan membandingkannya dengan catatan Emma. Tidak ada persetujuan baru dari Evelyn. Namun ia melihat bahwa email bisa dikirim sebagai permintaan proses, bukan perintah akhir. Itu tidak membuatnya benar, tetapi ia mulai mencari pembenaran.
***
Sore harinya, Daniel membawa laptop pribadinya ke ruang kerja Emma. Ia menutup pintu dan meletakkan laptop di meja.
'Aku tidak akan mengubah atau membuat tanda tangan siapa pun,' katanya. 'Email ini hanya akan meminta bagian administrasi menyiapkan kembali dokumen yang sudah ada.'
Emma duduk di sampingnya. 'Gunakan akun emailku. Aku akan memberi akses.'
'Kamu sendiri yang harus bertanggung jawab atas isi pesannya.'
'Aku tahu.'
Emma membuka akunnya dan mengetik isi email sesuai catatan yang mereka bahas. Daniel memeriksa naskahnya sebelum dikirim. Ia menghapus satu kalimat yang menyatakan Evelyn telah menyetujui pengalihan, tetapi membiarkan permintaan untuk mengaktifkan kembali proses administrasi tetap tertulis.
'Kalau bagian legal bertanya, kita bilang ini hanya tindak lanjut,' kata Daniel.
'Memang itu tindak lanjut.'
Daniel mengirim email tersebut dari akun Emma menggunakan laptopnya. Ia tidak mengirim tanda tangan atau lampiran baru. Setelah pesan terkirim, Emma memperlihatkan folder terkirim pada laptop Daniel. Daniel menyimpan salinan naskah pesan untuk catatan mereka. Emma tetap pada folder terkirim sampai ia selesai memeriksanya.
Emma memeriksa folder terkirim. 'Sudah.'
'Jangan lakukan apa pun lagi sampai ada balasan.'
'Aku tidak berniat melakukannya.'
Daniel menatapnya. 'Kamu yakin?'
Sesudah pemeriksaan folder terkirim selesai, Emma keluar dari akunnya dan menutup layar laptop Daniel. 'Aku hanya ingin memastikan hakku tidak dihapus begitu saja.'
Daniel tidak membantah. Ketika keluar dari ruangannya, ia membawa laptopnya sendiri dan menyimpannya di tas. Ia menganggap langkah itu tidak akan terlihat karena email terkirim atas nama Emma, tetapi ia tahu permintaan Evelyn agar akses dokumen diperiksa masih berjalan.
Malam itu, setelah kembali dari ruang Emma, Daniel tetap di ruang kerjanya sendiri. Ia memeriksa ulang salinan naskah pesan yang disimpannya sebelum Emma keluar dari akun dan membaca setiap kalimat sebelum menutup laptop. Tidak ada tanda tangan baru atau lampiran yang ditambahkan, tetapi ia sadar permintaan itu bisa dianggap sebagai upaya menghidupkan kembali berkas yang Evelyn tolak.
Ia mengirim pesan kepada Emma agar tidak menghubungi bagian administrasi lagi sampai ada jawaban. Emma membalas bahwa ia memahami, lalu menambahkan bahwa ia tidak ingin Andrew terus memilih Evelyn setiap kali ada keputusan keluarga.
Daniel membaca pesan itu beberapa kali. Ia tahu soal saham tidak akan menyelesaikan rasa tersisih Emma, tetapi ia juga tidak mengatakan hal itu kepadanya. Ia menjawab singkat bahwa mereka harus menunggu.
Sebelum pulang, Daniel menyimpan laptop ke tas dan mematikan lampu ruangannya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa tindakannya sekadar permintaan administrasi. Namun ia tahu email itu ditulis agar proses bergerak tanpa persetujuan baru dari Evelyn. Ia meninggalkan kantor dengan perasaan bahwa batas yang seharusnya ia jaga telah bergeser.
Di area parkir, Emma menunggunya dekat mobil. 'Sudah terkirim?'
'Sudah. Jangan kirim apa pun lagi sampai ada jawaban.'
'Aku hanya mengirim satu permintaan.'
'Dan aku sudah bilang kita menunggu. Kalau bagian administrasi membalas, kita lihat dulu apa yang mereka minta.'
Emma menatap wajahnya. 'Kamu menyesal?'
Daniel membuka pintu mobil, tetapi tidak langsung masuk. 'Aku tidak tahu. Aku tahu kamu ingin mendapat tempat di keluarga itu, tapi email ini tidak akan membuat Andrew tiba-tiba mengakuimu.'
'Aku tidak berharap satu email menyelesaikan semuanya. Aku hanya tidak mau kehilangan hak atas sesuatu yang seharusnya juga menjadi bagian hidupku.'
'Kamu belum tahu apa yang akan dilakukan Andrew.'
'Aku tahu apa yang dia lakukan setiap hari. Dia memilih Evelyn.'
Daniel mengalihkan pandangan. 'Jangan campur semua hal ke dalam satu keputusan.'
Emma tertawa kecil tanpa kegembiraan. 'Kamu sendiri yang mencampurnya ketika membawa formulir itu kepada Evelyn.'
Ia masuk ke mobil tanpa menunggu jawaban. Daniel berdiri beberapa saat, lalu duduk di kursi pengemudi. Ia tidak membantah karena Emma benar tentang satu hal: sejak awal ia membiarkan masalah saham bercampur dengan ketakutan kehilangan dirinya.
Di perjalanan, tak satu pun dari mereka membicarakan lagi email itu. Pesan tersebut sudah terkirim, dan kini mereka harus menunggu apakah ada orang yang akan melihat jejak di baliknya.