Keesokan harinya, Emma datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia membawa map yang dikembalikan Andrew kepadanya pagi itu setelah selesai ditinjau dan meminta Evelyn memastikan ayahnya sudah kembali bekerja.
'Ayah datang pagi ini,' jawab Evelyn. 'Tapi jadwalnya lebih ringan.'
'Apa hasil pemeriksaannya?'
'Belum ada hasil akhir. Dokter meminta Ayah menghindari tekanan dan menunggu pemeriksaan lanjutan.'
Emma mengatupkan bibir. 'Ayah cerita begitu kepadamu?'
'Aku ikut menemaninya.'
'Kamu selalu ada di dekatnya sekarang.'
Evelyn menatapnya. 'Ayah sedang menjaga kesehatannya. Itu saja.'
Emma mengambil map dari meja dan membukanya tanpa membaca. 'Aku tahu kamu ingin membantu. Tapi kadang rasanya Ayah tidak melihat orang lain selama kamu ada di ruangan.'
'Kamu bisa bicara langsung dengan Ayah.'
'Aku sudah mencoba. Dia selalu bilang nanti.'
Evelyn tidak menjawab. Emma belum tahu bahwa Andrew menunda pengakuan karena takut kehilangan kedua putrinya. Evelyn tidak akan memakai rahasia itu untuk memenangkan percakapan.
'Kalau ada yang ingin kamu katakan kepadanya, katakan tanpa membuatnya memilih antara kita,' kata Evelyn.
Emma tertawa pendek. 'Kamu bisa bilang begitu karena kamu selalu menjadi pilihan pertama.'
'Aku tidak pernah meminta Ayah memilih.'
'Mungkin kamu tidak perlu meminta.'
Emma menutup map dan berjalan ke ruang Andrew. Evelyn membiarkannya pergi. Ia tidak mengejar untuk menjelaskan atau menghibur. Ada jarak yang hanya bisa dijembatani dengan kebenaran, dan keputusan untuk membuka rahasia itu tetap berada di tangan ayahnya.
***
Siang hari, Emma menemui Daniel di ruangannya. Ia menutup pintu dan berdiri tanpa duduk. Daniel sedang memeriksa berkas; ia mengangkat kepala ketika melihat wajah Emma.
'Kamu kelihatan kesal,' katanya.
'Andrew menjalani pemeriksaan jantung dan Evelyn yang menemaninya. Sekarang semua jadwalnya diatur Evelyn. Aku bahkan tidak tahu apa-apa sampai datang ke rumah.'
Daniel menutup map. 'Mungkin Andrew hanya ingin ditemani putrinya.'
'Kamu juga mulai bicara seperti Evelyn.'
'Aku tidak sedang membela siapa pun. Aku cuma tidak mau kamu bereaksi berlebihan.'
Emma menahan napas. 'Aku sudah cukup lama menunggu Andrew mengakui bahwa aku bagian keluarga ini. Tapi setiap kali aku mencoba mendekat, Evelyn ada di sana dan dia berubah lembut kepadanya.'
Daniel bersandar di kursinya. 'Apa yang sebenarnya kamu mau?'
'Aku mau posisi yang seharusnya menjadi milikku. Kalau Andrew tidak pernah mengatakannya, aku setidaknya harus memastikan saham itu tidak seluruhnya jatuh ke Evelyn.'
Daniel memandangnya tajam. 'Kita sudah pernah membahas dokumen itu. Evelyn menolak menandatanganinya.'
'Karena kamu menyerahkan formulirnya terlalu terang-terangan. Dia sekarang memeriksa setiap lembar.'
'Aku tidak bisa memaksanya.'
'Aku tidak meminta kamu memaksanya. Aku meminta kamu menemukan cara agar pengalihan itu tercatat sebagai urusan administrasi yang sudah disetujui.'
Daniel merapatkan bibir. 'Kamu ingin aku mengirim apa?'
Emma menurunkan suara. 'Ada email dari akunku yang perlu dikirim ke bagian administrasi. Gunakan perangkatmu dan pastikan pengirimnya tetap akunku. Jangan pakai perangkat kantor bersama.'
Daniel menatapnya beberapa saat. 'Kalau ada yang memeriksa akses?'
'Mereka akan melihat akunku. Kamu yang mengirimnya, bukan aku.'
'Itu tetap meninggalkan catatan.'
'Kalau kamu tidak mau membantu, katakan saja.'
Daniel berdiri dan berjalan ke jendela. Ia tahu permintaan Emma berisiko, terutama setelah Evelyn mengembalikan berkas tanpa tanda tangan. Namun ia juga tidak ingin Emma menjauh darinya atau menganggapnya gagal.
'Aku akan melihat apa yang bisa kulakukan,' katanya.
Emma tidak tersenyum. 'Jangan terlalu lama. Evelyn dan Edwin bisa membuat semuanya semakin sulit.'
Daniel menatapnya kembali. 'Aku akan mengurusnya.'
Emma keluar dari ruangan. Daniel tetap berdiri di dekat jendela, memikirkan kata-katanya. Ia belum melakukan apa pun, tetapi permintaan itu sudah mengubah hubungan mereka dari sekadar rahasia pribadi menjadi risiko yang melibatkan saham perusahaan.
***
Emma menunggunya dekat pintu lift. 'Kamu terus bilang akan memikirkannya. Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Dan.'
'Aku sedang mencoba memastikan tidak ada yang membuatmu terkena masalah.'
'Aku sudah hidup bertahun-tahun tanpa tahu apakah Andrew menganggapku anaknya. Aku tidak bisa terus menunggu Evelyn memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh terjadi.'
'Evelyn tidak mengatur hidupmu.'
'Tapi semua orang menunggu reaksinya sebelum melakukan apa pun. Ayah juga begitu.'
Daniel menatapnya lama. Ia ingin membantah, tetapi ia sendiri tahu ia lebih sering memikirkan bagaimana Evelyn akan menilai tindakannya daripada apa yang adil bagi Emma.
'Aku tidak mau kamu melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali,' katanya.
'Aku juga tidak. Aku hanya mau ada permintaan resmi atas dokumen yang sudah dibuat.'
'Kamu yakin itu saja?'
Emma mengalihkan pandangan ke pintu lift yang terbuka. 'Untuk sekarang, iya.'
Mereka masuk tanpa bicara lagi. Daniel menekan tombol lobi, sementara Emma memegang map erat-erat. Ia tidak meminta Daniel mengambil keputusan saat itu juga. Ia tahu rasa bersalah dan takut kehilangan masih bisa membuatnya menurut.
Ketika pintu lift terbuka, Emma berjalan lebih dulu. Daniel tetap beberapa langkah di belakang, sadar bahwa diamnya tidak lagi membuatnya netral. Jika ia terus membiarkan Emma mendorongnya, ia akan ikut bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi setelah itu.
Di lobi, Emma berhenti dan menatapnya. 'Aku tidak ingin kamu melakukan ini hanya karena takut aku pergi.'
'Aku tidak takut kamu pergi. Aku hanya ingin tahu bahwa kita sepakat tentang apa yang diminta.'
'Aku ingin pengalihan itu tercatat. Aku tidak meminta kamu mengubah apa pun sendiri.'
'Tapi email dari akunmu lewat perangkatku akan membuat namaku muncul di catatan akses.'
Emma diam sebentar. 'Kamu bisa memakai komputer pribadi. Tidak ada yang akan melihatnya selain sistem.'
'Itu tidak menjawab kekhawatiranku.'
'Kalau kamu tidak mau, aku tidak bisa memaksamu.' Emma menurunkan suara. 'Tapi jangan bilang kamu berada di pihakku kalau saat aku meminta bantuan, kamu selalu mundur.'
Daniel menerima tekanan itu tanpa menjawab. Emma lalu pergi menuju pintu keluar. Ia tidak mengejarnya. Ia tahu permintaan tersebut melibatkan risiko dan harus memutuskan sendiri apakah akan membantu.
Dalam perjalanan kembali ke ruang kerja, ia melihat pesan Emma masuk: 'Aku menunggu sampai sore.' Daniel tidak langsung membalas. Ia menyimpan ponsel dan kembali membuka dokumen, tetapi angka-angka di layar tidak lagi menarik perhatiannya.