Keesokan paginya, setelah pemeriksaan jantung hari sebelumnya, Andrew turun ke ruang makan untuk sarapan dan beristirahat sebelum menentukan apakah ia akan masuk kantor. Bu Rini telah menyiapkan hidangan yang lebih sederhana dan menaruh kopi di lemari, bukan di meja.
Andrew berhenti ketika melihat meja makan. 'Kopi Ayah mana?'
'Saya tidak buatkan dulu, Pak,' jawab Bu Rini. 'Menurut pesan dokter kemarin yang diteruskan Evelyn, Bapak disarankan mengurangi tekanan. Lebih baik makan dulu dan istirahat.'
Andrew menarik kursi. 'Dokter tidak melarang kopi.'
Evelyn duduk di seberangnya. 'Bu Rini tidak mengatakan dokter melarang. Dia hanya mengatur makanan.'
'Ayah bisa mengurus diri sendiri.'
'Kami tahu. Tapi kalau Ayah lupa makan karena sibuk, tidak ada salahnya kami mengingatkan.'
Bu Rini meletakkan semangkuk sup dan lauk di depan Andrew. Ia menjelaskan bahwa ia akan menyiapkan porsi lebih teratur dan memastikan Andrew tidak melewatkan waktu makan. Andrew tampak hendak menolak, tetapi mencicipi supnya lebih dulu.
'Ini tidak buruk,' katanya.
'Tentu tidak, Pak. Saya hanya mengurangi yang terlalu berat dan menambah sayur.'
Evelyn tersenyum. 'Ayah tidak harus mengubah semuanya dalam sehari. Yang penting jangan kembali bekerja tanpa istirahat.'
Andrew menunjuk map yang diletakkan di kursi sebelah. 'Aku masih perlu melihat laporan sebelum rapat sore.'
'Edwin mengonfirmasi bahwa jadwal kerja akhir pekan ini sudah diringankan sesuai permintaan Ayah. Ayah bisa membacanya besok.'
'Kamu ikut mengatur jadwalku juga sekarang?'
'Aku menyampaikan jadwal yang sudah Ayah setujui.'
Bu Rini menyela dengan lembut, 'Kalau Bapak ingin bekerja, setidaknya tunggu sampai selesai makan. Nanti saya buatkan teh hangat.'
Andrew akhirnya meletakkan garpu. 'Baik. Aku akan makan dulu.'
Evelyn tidak menganggap percakapan itu sebagai kemenangan. Ia hanya ingin kebiasaan lama Andrew berubah sedikit demi sedikit. Setelah makan, ayahnya beristirahat di ruang keluarga sementara Bu Rini membereskan meja.
Sebelum berbaring, Andrew sempat bertanya apakah dokter sudah mengirimkan catatan pemeriksaan. Evelyn menjawab bahwa Edwin akan meminta salinan resmi dan mereka tidak perlu menafsirkan apa pun sebelum dokter meninjaunya.
'Ayah tidak ingin semua orang memperlakukanku seperti orang sakit,' katanya.
'Tidak ada yang memperlakukan Ayah begitu. Bu Rini hanya memastikan Ayah makan, dan aku memastikan Ayah mengikuti saran yang diberikan.'
'Kalau begitu, Ayah akan beristirahat. Tapi jangan membatalkan rapat besok tanpa bicara denganku.'
'Kita lihat dulu bagaimana kondisi Ayah besok pagi.'
Ia membiarkan Andrew tidur, lalu merapikan map yang tertinggal di meja. Tidak ada berkas medis di dalamnya, hanya agenda rapat. Evelyn mengembalikannya ke ruang kerja agar tidak tercampur dengan catatan perusahaan.
***
Menjelang sore, Emma datang ke rumah untuk menyerahkan dokumen yang perlu ditinjau Andrew. Ia berhenti di ruang keluarga ketika melihat ayahnya berbaring dengan selimut tipis, sementara Evelyn duduk membaca berkas di kursi dekat jendela.
'Ayah sakit?' tanya Emma.
Andrew membuka mata. 'Tidak. Ayah hanya baru selesai pemeriksaan rutin. Dokter menyarankan istirahat sebentar.'
Emma menatap Evelyn. 'Kamu ikut?'
'Aku menemani Ayah.'
'Sejak kapan Ayah perlu ditemani untuk pemeriksaan?'
Andrew berusaha duduk. 'Emma, jangan salah paham. Evelyn hanya mengatur waktunya supaya aku tidak datang sendiri.'
Emma meletakkan map di meja. 'Aku tidak salah paham. Aku hanya merasa aneh karena selalu mendengar semuanya belakangan.'
Evelyn menutup berkas. 'Belum ada hasil yang perlu diumumkan. Ayah hanya diminta menghindari tekanan dan cukup beristirahat.'
'Kalau begitu, aku bisa membantu mengurus pekerjaannya.'
Andrew tersenyum. 'Terima kasih. Edwin sudah mengatur ulang jadwalku. Kamu tidak perlu mengambil alih apa pun.'
Emma terdiam. Perhatian Andrew kepada Evelyn terlihat sederhana, tetapi baginya terasa seperti pintu yang semakin tertutup. Evelyn tidak ingin mengusik perasaan itu dengan mengatakan bahwa Emma berhak atas penjelasan yang belum diberikan ayahnya.
'Aku bisa meninjau dokumen ini sekarang,' kata Emma, mengangkat mapnya.
Andrew menggeleng. 'Besok saja. Hari ini Ayah ingin beristirahat.'
Emma mengalihkan pandangan kepada Evelyn. 'Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu.'
Ia berpamitan dan pergi. Andrew melihat pintu yang tertutup, lalu menghela napas.
'Dia merasa disisihkan,' katanya.
'Aku tahu.'
'Ayah ingin bicara dengannya, tapi belum tahu bagaimana memulainya.'
'Aku tidak akan membukakan rahasia itu untuk Ayah. Tapi jangan biarkan rasa takut membuat Ayah kembali diam.'
Andrew memejamkan mata. 'Ayah akan memikirkannya.'
Evelyn mengambil map Emma dari meja dan meletakkannya di tempat yang aman untuk ditinjau besok. Ia tidak membaca isinya. Setelah memastikan Andrew beristirahat, ia beralih ke ruang kerja di rumah untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda pada hari Minggu itu. Emma pergi dengan rasa tersisih yang belum terucap, dan Evelyn tahu ketegangan itu tidak akan berhenti hanya dengan satu pemeriksaan.
Ketika Evelyn keluar dari ruang kerja menjelang malam, Bu Rini sedang menyusun daftar belanja baru. Ia menulis beberapa bahan yang lebih ringan dan mengatur waktu makan Andrew agar tidak berubah-ubah.
'Bu Rini tidak perlu mengubah seluruh menu rumah hanya karena satu pemeriksaan,' kata Evelyn.
'Saya tidak mengubah semuanya, Nona. Saya hanya mau memastikan Pak Andrew makan teratur. Beliau sering lupa kalau sedang membaca laporan.'
Andrew, yang baru keluar dari ruang kerjanya, mendengar kalimat itu. 'Saya tidak sesering itu lupa makan.'
Bu Rini mengangkat alis. 'Minggu lalu Bapak baru makan setelah sore.'
Andrew melihat Evelyn. 'Apa kamu juga akan ikut mencatat jadwal makan Ayah?'
'Tidak. Bu Rini sudah melakukannya lebih baik dariku.'
Bu Rini menahan senyum. 'Saya akan buatkan jadwal sederhana saja. Bapak bisa memilih makanannya, asal jangan hanya minum kopi.'
Andrew menyerah. 'Baik. Tapi jangan memasak sesuatu yang hambar.'
'Saya tidak pernah memasak makanan hambar, Pak.'
Evelyn membantu Bu Rini menaruh daftar itu di sisi lemari, lalu duduk bersama Andrew untuk makan. Mereka berbicara tentang laporan perusahaan dan jadwal rapat, tetapi Andrew tidak membawa pekerjaannya ke meja. Setelah makan, ia sendiri meletakkan mapnya kembali di ruang kerja tanpa membukanya.
'Aku akan istirahat dulu,' katanya.
Evelyn mengangguk. Ia melihat Andrew menuju ruang keluarga dan merasa lega, namun tatapan Emma saat meninggalkan rumah tadi masih tertinggal di benaknya. Ia berharap ayahnya segera menemukan keberanian untuk bicara. Selama rahasia itu disimpan, setiap perhatian kepada Evelyn mungkin akan terasa bagi Emma seperti bukti bahwa dirinya kembali disisihkan.