Pagi itu, Edwin mengirim pesan kepada Evelyn bahwa jadwal pemeriksaan jantung Andrew telah dikonfirmasi. Evelyn meneruskan kabar itu kepada ayahnya sebelum rapat dimulai.
'Pemeriksaannya siang ini,' katanya di ruang kerja Andrew. 'Edwin sudah mencatat waktunya.'
Andrew melihat pesan di ponselnya. 'Ayah pikir pemeriksaannya minggu depan.'
'Jadwal lanjutan yang dikonfirmasi tersedia siang ini. Ayah bilang akan menjalani pemeriksaan, jadi sebaiknya kita tidak menundanya lagi.'
'Ayah tidak menolak. Hanya saja pekerjaan sedang padat.'
'Edwin sudah memindahkan rapat pagi. Aku juga akan ikut menemani.'
Andrew memandangnya. 'Kamu tidak perlu mengambil cuti untuk ini.'
'Aku tidak akan meninggalkan pekerjaan. Aku hanya menggeser beberapa jam.'
'Kamu membuat semuanya terdengar seperti sudah diputuskan.'
'Karena Ayah sudah setuju kemarin. Aku hanya membantu menjalankannya.'
Andrew terdiam, lalu mengangguk kecil. 'Baik. Siang ini kita pergi. Tapi jangan membuat Bu Rini khawatir sebelum ada hasil.'
'Aku akan memberi tahu dia bahwa Ayah punya pemeriksaan rutin. Itu benar.'
Evelyn tidak menyinggung rahasia Emma. Ia ingin menjaga kedua persoalan itu terpisah. Andrew pun tidak membicarakan pengakuannya lagi. Ia menyimpan telepon, mengambil map rapat, lalu bertanya apakah Evelyn sudah menerima laporan keuangan yang diminta Kennedi.
'Belum. Tim sedang menyelesaikannya.'
'Kalau begitu, jangan habiskan pagi untuk mengurus Ayah. Kerjakan dulu yang harus kamu selesaikan.'
'Aku bisa melakukan keduanya.'
Andrew tersenyum tipis. 'Keras kepala.'
'Aku belajar dari Ayah.'
***
Siang itu, Evelyn menjemput Andrew di rumah. Bu Rini sudah menyiapkan air minum dan bekal ringan untuk setelah pemeriksaan. Andrew keluar dengan jas dan membawa map kerja, seolah masih bisa menyelipkan rapat di antara perjalanan mereka.
'Ayah tidak perlu membawa map itu,' kata Evelyn.
'Ada beberapa hal yang harus ditinjau.'
'Kita akan fokus pada pemeriksaan dulu. Nanti setelah selesai, Ayah bisa kembali bekerja.'
Bu Rini berdiri di dekat pintu. 'Pak Andrew, tolong jangan langsung minum kopi setelah pemeriksaan. Saya sudah siapkan makanan yang lebih ringan.'
Andrew memandang putrinya. 'Kalian berdua sudah bersekongkol.'
'Kami hanya ingin Ayah mendengarkan dokter,' jawab Evelyn.
Perjalanan berlangsung tenang. Andrew beberapa kali membuka mapnya, tetapi Evelyn mengingatkannya bahwa ia bisa membaca berkas itu setelah kembali. Andrew akhirnya menyimpannya di samping kursi.
Di klinik, mereka bertemu dokter jantung yang telah dijadwalkan Edwin. Dokter itu memeriksa Andrew dan menanyakan keluhan yang pernah ia rasakan. Andrew mencoba menjawab singkat, tetapi Evelyn meminta ayahnya menjelaskan apa yang ia ceritakan sebelumnya: rasa berat di dada setelah hari panjang dan mudah lelah.
'Saya hanya merasa lelah sesekali,' kata Andrew.
Dokter menatapnya. 'Justru keluhan seperti itu perlu disampaikan dengan jelas. Pemeriksaan hari ini membantu kami menilai kondisinya. Sementara menunggu hasil lengkap, Bapak sebaiknya menghindari tekanan berlebihan dan memberi waktu untuk istirahat.'
Andrew melirik Evelyn. 'Saya masih punya banyak pekerjaan.'
'Pekerjaan bisa diatur. Kondisi tubuh Bapak perlu dijaga,' jawab dokter. 'Jangan memaksakan jadwal yang terlalu padat. Ikuti saran yang kami berikan setelah hasil pemeriksaan ditinjau.'
Evelyn bertanya apakah Andrew perlu mengubah aktivitasnya segera. Dokter menjelaskan bahwa untuk sementara ia perlu beristirahat cukup, mengurangi tekanan, dan kembali sesuai jadwal pemeriksaan lanjutan yang akan diinformasikan. Tidak ada kesimpulan akhir yang diberikan hari itu.
Sebelum mereka meninggalkan klinik, dokter meninjau hasil yang sudah tersedia, menjelaskan apa yang perlu ditindaklanjuti, dan menyerahkan arahan tertulis untuk Andrew sendiri. Obat yang diberikan dicatat pada daftar, bukan dipilih Evelyn atau Bu Rini. Pemeriksaan berikutnya tetap dijadwalkan; bila keluhan kembali, Andrew diminta menghubungi bantuan kesehatan sesuai arahan yang diterimanya. Untuk pertama kalinya, kebiasaan menyembunyikan keluhan diganti dengan keputusan yang dibuat dan disampaikan oleh Andrew sendiri.
Andrew mengucapkan terima kasih. Di lorong klinik, ia menghela napas panjang.
'Dokter hanya menyuruh Ayah mengurangi tekanan. Bukan berhenti bekerja.'
'Aku tidak meminta Ayah berhenti. Aku meminta Ayah mengikuti sarannya.'
'Ayah akan mencoba mengatur jadwal.'
'Jangan hanya mencoba. Mulai dari rapat yang bisa dipindahkan.'
Andrew menggeleng, tetapi tidak membantah. Saat mereka kembali ke mobil, Evelyn mengabari Bu Rini bahwa pemeriksaan selesai dan dokter meminta Andrew menghindari tekanan. Ia tidak menyampaikan dugaan atau hasil yang belum ada.
Bu Rini membalas bahwa makan siang sudah siap dan ia akan memastikan Andrew beristirahat sebelum kembali ke kantor. Evelyn menyimpan ponsel. Untuk hari ini, ia sudah mendapatkan satu hal yang ia butuhkan: ayahnya bersedia diperiksa dan kini mendengar peringatan langsung dari dokter.
Andrew tidak langsung masuk ke mobil. Ia berdiri di dekat pintu klinik sambil membaca kembali catatan jadwal yang diberikan staf. Evelyn menunggu tanpa mendesaknya.
'Dokter tidak bilang ada sesuatu yang buruk,' katanya akhirnya.
'Dokter juga belum menyelesaikan semua pemeriksaan. Kita tunggu hasilnya sesuai jadwal.'
'Kamu selalu mengingatkan Ayah pada bagian yang belum selesai.'
'Karena Ayah biasanya berhenti begitu mendengar kalimat yang ingin didengar.'
Andrew menatapnya dengan senyum tipis. 'Kamu pikir Ayah begitu?'
'Aku tahu Ayah suka menganggap masalah selesai kalau sudah tidak terasa.'
Ia tidak membantah. Andrew memasukkan catatan dokter ke dalam mapnya, kali ini tidak membuka berkas rapat. Di dalam mobil, Evelyn meminta izin mengatur ulang jadwal sore agar ia bisa pulang lebih awal.
'Aku masih bisa bekerja,' kata Andrew.
'Aku tidak melarang. Aku hanya menyarankan Ayah memulai lagi besok, setelah beristirahat hari ini.'
'Kalau Ayah pulang sekarang, semua orang di kantor akan mengira ada masalah.'
'Edwin bisa memberi tahu mereka bahwa jadwal Ayah berubah. Tidak perlu membicarakan pemeriksaannya.'
Andrew memikirkan sebentar lalu setuju. Ia mengirim pesan singkat kepada Edwin untuk memindahkan rapat. Evelyn tidak bertanya isi pesannya. Yang penting, ayahnya benar-benar memberi dirinya waktu istirahat.
Sebelum mereka pulang, Andrew berkata bahwa ia belum pernah meminta Evelyn menemaninya ke pemeriksaan sebelumnya.
'Karena Ayah belum pernah memberitahuku kalau Ayah punya keluhan,' jawab Evelyn.
'Ayah kira bisa mengurusnya sendiri.'
'Ayah tidak harus menghadapi semuanya sendiri.'
Andrew menunduk sejenak. 'Kamu benar.'
Mobil mulai bergerak. Evelyn tidak menganggap satu pemeriksaan sebagai jaminan bahwa masa depan akan berubah, tetapi setidaknya ayahnya kini bersedia mengikuti saran dan tidak menyembunyikan keluhannya.
Di rumah, Andrew menyerahkan daftar obat dari dokter kepada Bu Rini untuk membantu pengingat dan meminta Evelyn menyimpan salinannya. Ia lalu meletakkan map kerjanya di meja dan duduk di ruang keluarga. Bu Rini menyajikan makan siang, lalu memastikan ia minum air sebelum menyentuh kopi.
'Aku sudah makan di klinik,' kata Andrew.
'Tadi Nona Evelyn mengabari bahwa Bapak baru minum air dan makan biskuit,' jawab Bu Rini. 'Itu belum bisa disebut makan siang.'
Evelyn duduk di seberangnya. 'Dokter meminta Ayah istirahat. Makan dulu, lalu Ayah bisa tidur sebentar.'
Andrew memandang keduanya bergantian. 'Kalau Ayah tidak menurut, kalian akan terus duduk di sini?'
'Ya,' kata Evelyn.
Bu Rini menaruh piring di depannya. 'Saya bisa menunggu sampai Bapak selesai.'
Andrew mengalah dan mulai makan. Ia tidak mengeluh soal menu, meski sempat bertanya apakah boleh kembali membaca laporan setelahnya.
'Besok saja,' kata Evelyn. 'Hari ini Ayah sudah menjalani pemeriksaan. Beri tubuh Ayah waktu untuk beristirahat.'
'Baik. Ayah akan tidur sebentar.'
Bu Rini mengantar Andrew ke ruang keluarga dan menutup tirai agar cahaya tidak mengganggunya. Evelyn membantu membereskan meja. Ia lega ayahnya tidak menolak saran dokter, tetapi ia tetap menunggu hasil pemeriksaan lanjutan. Ia tidak akan menganggap satu janji sebagai akhir dari perhatian yang dibutuhkan.