Pagi berikutnya, Evelyn menemui Andrew di ruang kerja sebelum berangkat ke kantor. Ayahnya sudah menyiapkan catatan kecil berisi jadwal yang hendak disampaikan kepada Edwin. Evelyn melihat bahwa ia masih belum menghubungi siapa pun.
'Ayah belum menelepon Edwin?' tanyanya.
Andrew mengangkat wajah dari kertas. 'Ayah sedang menyusun jadwal rapat hari ini.'
'Pemeriksaan kesehatan tidak perlu menunggu semua rapat selesai.'
'Ayah tidak sedang menunda. Ayah akan menghubunginya setelah ini.'
Evelyn duduk di kursi seberang. 'Aku tidak mau memaksa Ayah. Tapi aku perlu tahu bahwa ini sungguh akan dilakukan.'
Andrew meletakkan pena. 'Ayah mengerti. Ayah hanya belum siap mendengar sesuatu yang mungkin buruk.'
'Aku juga takut. Tapi tidak tahu bukan berarti keadaan tubuh Ayah baik-baik saja.'
Andrew menghela napas panjang. 'Ayah akan meminta Edwin mengatur pemeriksaan. Kalau perlu, Ayah akan menemui dokter yang biasa menangani keluarga.'
'Terima kasih.'
'Kamu tidak harus ikut.'
'Aku tidak akan memutuskan sebelum Ayah mendapat jadwal. Tapi kalau Ayah ingin aku menemani, aku akan ikut.'
Andrew mengangguk. Ia menelepon Edwin saat itu juga dan meminta bantuan mengatur pemeriksaan jantung. Evelyn tidak menyebut nama dokter tertentu atau menambahkan dugaan medis. Ia hanya memastikan ayahnya menyampaikan keluhan lelah dan tekanan di dada yang sempat ia rasakan.
Setelah panggilan ditutup, Evelyn bertanya, 'Kapan Edwin memberi kabar?'
'Dia akan memeriksa jadwal dan mengirimkan waktu yang tersedia.'
'Baik. Ayah sudah melakukan bagian pertama.'
'Kamu terdengar seperti sedang memberi nilai.'
'Aku sedang memastikan Ayah tidak berubah pikiran sebelum jadwalnya dibuat.'
Andrew tersenyum tipis. 'Kamu semakin mirip ibumu.'
'Aku akan menerima itu sebagai pujian.'
Setelah pembicaraan mereka selesai, Evelyn berdiri untuk berangkat. Ia meraih tasnya dari kursi.
'Aku berangkat ke kantor dulu,' katanya. 'Ayah kabari aku kalau jadwal pemeriksaan sudah pasti.'
'Ayah akan mengabari.'
Andrew mengantar Evelyn sampai ke pintu depan. Mereka berpisah setelah sepakat membicarakan hasil jadwal nanti, tanpa membuatnya menjadi pengumuman keluarga sebelum waktunya.
***
Menjelang siang, Evelyn kembali ke ruang kerja Andrew di kantor untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Andrew baru saja selesai menelepon Edwin, dan Emma telah datang membawa map laporan.
Emma berdiri di ambang pintu dengan map di tangan. Tatapannya sempat berpindah dari Andrew ke Evelyn.
'Aku mengganggu?' tanyanya.
'Tidak,' jawab Andrew. 'Kami baru selesai membicarakan jadwalku. Ada apa?'
Emma masuk dan meletakkan map di meja. 'Aku ingin memastikan Ayah baik-baik saja. Kemarin Evelyn bilang Ayah mau memeriksakan kesehatan.'
Andrew melirik Evelyn. Ia mengingat janji untuk tidak membuka rahasia Emma sebelum siap.
'Aku hanya ingin melakukan pemeriksaan rutin,' katanya. 'Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebelum hasilnya ada.'
Emma mendekat. 'Kalau Ayah merasa tidak sehat, seharusnya aku tahu. Aku juga bagian dari keluarga ini.'
Evelyn menahan diri untuk tidak memandang ayahnya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi membawa luka yang lebih dalam daripada yang mau Andrew akui di hadapan kedua putrinya. Andrew tak langsung menjawab.
'Kamu benar bahwa kamu bagian dari keluarga ini,' kata Andrew akhirnya. 'Tapi soal kesehatan, belum ada kabar apa pun. Setelah jadwal pemeriksaan ditetapkan, Ayah akan memberi tahu kalian.'
Emma menyipitkan mata sedikit. 'Kalian?'
'Kamu dan Evelyn,' jawab Andrew. 'Ayah tidak bermaksud mengecualikanmu.'
Evelyn memperhatikan cara Emma menerima jawaban itu. Wajahnya melunak, tetapi rasa tidak puas tetap tertinggal. Emma mengambil map dan kembali membahas agenda perusahaan. Ia tidak menyebut percakapan ruang kerja kemarin lagi.
Setelah Emma pergi, Andrew menutup pintu. 'Ayah hampir mengatakan semuanya.'
'Tapi Ayah belum siap. Kita sudah sepakat tidak membuka rahasia itu sebelum Ayah bisa menjelaskan tanpa menyalahkan keadaan.'
'Apa kamu masih mau merahasiakannya?'
'Untuk sekarang. Tapi jangan gunakan kesehatan Ayah sebagai alasan untuk menundanya terus.'
Andrew memandang kursi Emma yang kosong. 'Ayah ingin dia mendengar kebenarannya langsung dari Ayah.'
'Itu memang seharusnya begitu. Dan aku akan tetap menerima dia sebagai adikku. Tapi Ayah harus siap menerima reaksinya juga.'
Andrew berdiri dan berjalan mendekati jendela. 'Ayah takut dia akan membenci Ayah.'
'Mungkin dia akan marah. Itu haknya. Kejujuran tidak menjamin semua orang langsung memaafkan, tapi setidaknya dia bisa memilih berdasarkan kenyataan.'
Andrew berbalik. 'Kamu tidak akan berubah pikiran soal menerimanya?'
Evelyn bangkit dan memeluk ayahnya. 'Aku tidak akan menolak Emma hanya karena dia lahir dari hubungan Ayah yang salah. Tapi aku juga tidak akan pura-pura semua perbuatannya benar. Dua hal itu bisa sama-sama benar.'
Andrew membalas pelukannya. 'Terima kasih, Eve.'
'Yang perlu Ayah lakukan sekarang adalah menjaga kesehatan dan berhenti menyembunyikan hal-hal penting.'
'Ayah akan mencoba.'
'Jangan mencoba. Lakukan.'
Andrew tertawa pendek, lalu mengusap bahu putrinya. Edwin mengirim pesan bahwa ia sedang mencari jadwal pemeriksaan yang tersedia. Andrew menunjukkan pesan itu kepada Evelyn.
'Setidaknya sekarang sudah ada langkah nyata,' katanya.
Evelyn mengangguk. Ia tidak menanyakan kapan Andrew akan berbicara kepada Emma. Ia tahu keputusan itu harus datang dari ayahnya, tetapi ia tidak akan membiarkan rahasia tersebut terkubur lagi.
Andrew membaca pesan Edwin sekali lagi, lalu menyimpan ponselnya di saku. 'Ayah tidak ingin pemeriksaan ini membuat Emma berpikir ada sesuatu yang disembunyikan darinya.'
'Kita tidak perlu berbohong. Kalau dia bertanya, Ayah bisa bilang sedang memeriksakan kesehatan. Itu memang benar.'
'Dan soal asal-usulnya?'
'Itu percakapan terpisah. Ayah yang harus memulai saat siap, bukan karena kami terdesak oleh pertanyaan lain.'
Andrew setuju. Evelyn berharap ia benar-benar menepati itu. Ia tidak ingin Emma mendengar pengakuan dalam keadaan ayahnya sakit atau di tengah konflik perusahaan. Kebenaran pantas disampaikan dengan jernih, dan Emma pantas diberi ruang untuk bereaksi tanpa tekanan.
'Aku akan menghubungimu setelah jadwalnya pasti,' kata Andrew.
'Baik. Aku tidak akan mendesak sebelum itu.'
Ia merapikan map di meja ayahnya dan memastikan tidak ada dokumen pribadi tertinggal. Andrew memperhatikannya dengan senyum kecil.
'Kamu selalu merapikan semuanya kalau sedang cemas,' katanya.
'Kalau tanganku sibuk, pikiranku tidak terlalu berisik.'
'Ayah mengerti.'
Saat Evelyn berjalan keluar dari ruang kerja, Emma masih menunggu di lorong. Ia melihat pintu tertutup di belakang Evelyn, lalu bertanya dengan nada ringan, 'Kalian sudah selesai bicara?'
'Untuk sekarang,' jawab Evelyn.
Emma memandangnya, seolah mencari jawaban yang tidak ia dapatkan. 'Ayah selalu terlihat tenang kalau kamu yang bicara dengannya.'
Evelyn tidak membalas dengan penjelasan. Ia hanya berkata bahwa Andrew akan melanjutkan pekerjaan dengan jadwal yang telah diringankan, lalu kembali ke ruangannya di kantor. Di belakangnya, Emma tetap berdiri di lorong, memperhatikan pintu ruang kerja yang kembali tertutup.