Menjelang makan malam, Andrew berdiri di ambang ruang makan beberapa detik sebelum duduk. Bu Rini sudah menyiapkan hidangan sederhana. Evelyn memperhatikan bahwa ayahnya tampak kelelahan setelah hari yang panjang.
'Ayah sebaiknya duduk dulu,' katanya.
'Ayah baik-baik saja.'
'Aku tidak bilang Ayah tidak baik-baik saja. Aku bilang duduk dulu.'
Andrew menarik kursi tanpa membantah. Bu Rini meletakkan sup dan menatapnya dengan cemas.
'Pak Andrew kelihatan pucat,' katanya. 'Apa perlu saya buatkan teh hangat?'
'Tidak usah, Bu Rini. Saya hanya kurang tidur.'
Evelyn bertukar pandang dengan Bu Rini. Ia tidak ingin mengungkap rahasia Emma, tetapi bisa menyampaikan bahwa ayahnya perlu lebih menjaga diri.
'Ayah akan mengatur pemeriksaan kesehatan,' kata Evelyn. 'Sementara itu, bantu aku memastikan beliau tidak melewatkan makan dan tidak bekerja sampai terlalu malam.'
Bu Rini menoleh kepada Andrew. 'Akhirnya Nona Evelyn menyuruh Bapak memeriksakan diri juga. Dari dulu saya bilang jangan hanya minum kopi.'
Andrew tersenyum kecil. 'Kalian berdua seperti sudah membuat rencana tanpa saya.'
'Karena Ayah selalu menjawab nanti,' kata Evelyn.
Bu Rini menyendokkan sup ke mangkuk Andrew. Ia tidak bertanya mengapa percakapan mereka berubah menjadi soal kesehatan. Evelyn bersyukur ia tidak memaksa menjelaskan.
Setelah makan, Andrew hendak kembali ke ruang kerja. Evelyn mengingatkannya untuk beristirahat sebentar. Ia menerima keberatan kecil dari ayahnya, lalu menyuruh Bu Rini menyimpan kopi yang biasanya disiapkan keesokan siang.
'Kamu sekarang mengatur semua hal di rumah?' tanya Andrew.
'Aku cuma mengingatkan Ayah menepati janji.'
'Ayah belum membuat janji dengan dokter.'
'Tadi Ayah bilang akan menghubungi Edwin besok.'
'Baik. Ayah ingat.'
Evelyn membiarkannya kembali ke ruang kerja setelah ia beristirahat. Ia tidak menyebut masa lalunya atau kematian yang pernah terjadi. Ia hanya mengikuti alasan yang bisa diterima: Andrew terlihat lelah, dan keluarga mereka tidak boleh mengabaikan tanda-tanda kesehatan.
***
Setelah makan malam, Emma datang ke rumah untuk menyerahkan beberapa berkas perusahaan kepada Andrew. Evelyn sedang membaca di ruang keluarga ketika Emma melewati pintu. Ia menyapa dengan senyum yang terukur.
'Kamu sudah pulang dari kantor?' tanya Emma.
'Aku menyelesaikan pekerjaan dari rumah. Ayah ada di ruang kerja.'
Emma meletakkan map di meja kecil. 'Aku akan menemuinya sebentar.'
'Silakan.'
Emma berhenti sebelum menuju lorong. 'Kalian tadi lama sekali bicara. Ada masalah?'
Evelyn menutup buku. 'Tidak ada masalah pekerjaan. Kami hanya membahas keluarga.'
'Tentang apa?'
'Hal yang perlu dibicarakan Ayah dan aku.'
Emma tersenyum tipis, tetapi matanya meneliti wajah Evelyn. 'Kalian terlihat lebih dekat akhir-akhir ini.'
'Ayah dan aku memang keluarga. Wajar kalau kami bicara.'
'Tentu. Aku hanya bertanya.'
Evelyn tidak menambahkan penjelasan. Evelyn tidak akan berbicara menggantikan Andrew. Emma sudah mengetahui hubungan darahnya; yang harus dilakukan ayah mereka ialah mengakui kebohongan yang dipertahankannya di hadapan keluarga. Ia juga tidak ingin menguji Emma atau memancing pengakuan tentang pengkhianatannya.
Emma membawa map ke ruang kerja. Pintu tertutup setelahnya. Evelyn mendengar suara mereka samar-samar, tetapi tidak mencoba mendekat. Tak lama kemudian Emma keluar dengan ekspresi yang sulit dibaca.
'Ayah bilang beliau akan mengatur jadwal pemeriksaan kesehatan,' katanya. 'Apa beliau sakit?'
Evelyn berdiri. 'Belum ada yang tahu. Karena itu beliau akan memeriksakan diri.'
'Kamu yang meminta?'
'Aku dan Ayah membicarakannya.'
Emma merapikan tali tasnya. 'Ayah seharusnya memberitahuku kalau ada masalah.'
'Kalau ada hasil yang perlu disampaikan, Ayah sendiri yang akan bicara. Untuk sekarang, jangan membuat dugaan.'
Emma menatapnya lebih lama. 'Aku tidak membuat dugaan. Aku hanya peduli.'
'Aku tahu.'
Jawaban Evelyn terdengar netral. Emma akhirnya mengangguk dan berpamitan. Setelah pintu depan tertutup, Evelyn masuk ke ruang kerja ayahnya.
'Dia bertanya soal pemeriksaan,' katanya.
Andrew meletakkan berkas. 'Ayah bilang belum ada hasil dan Ayah hanya ingin memastikan kondisi tubuh.'
'Bagus. Kita tidak perlu melibatkan rahasia lain dalam urusan kesehatan.'
Andrew menatap Evelyn, menyadari bahwa ia sedang berusaha menjaga kedua hal tetap terpisah. 'Ayah belum tahu kapan akan bicara dengan Emma.'
'Jangan menunggu sampai ketakutan Ayah menjadi alasan untuk berbohong lagi. Kita bisa memilih waktu yang tepat, tapi harus ada langkah nyata.'
Andrew meraih telepon mejanya. 'Besok Ayah menghubungi Edwin dan mengatur pemeriksaan. Setelah itu kita pikirkan cara bicara dengan Emma.'
Evelyn mengangguk. Ia tidak mendorong lebih jauh. Namun sebelum keluar, ia menatap ayahnya dengan serius.
'Kali ini, kalau Ayah berubah pikiran, katakan kepadaku. Jangan biarkan aku mendengar kebenaran dari orang lain.'
'Ayah berjanji akan bicara langsung.'
Evelyn menutup pintu dengan perlahan. Ia mempertahankan rahasia itu bukan untuk melindungi kebohongan Andrew selamanya, melainkan memberi ayahnya kesempatan untuk bertanggung jawab sendiri. Ia berharap ia tidak salah menilai berapa lama kesempatan itu seharusnya diberikan.
Malam itu, Andrew mengetuk pintu ruang keluarga sebelum Evelyn pulang ke kamarnya. Ia membawa secangkir teh yang belum sempat diminum.
'Ayah memikirkan pertanyaanmu tentang Emma,' katanya.
Evelyn menggeser buku ke samping. 'Apa yang Ayah pikirkan?'
'Kalau Ayah mengaku, dia akan punya banyak alasan untuk marah. Ayah menyembunyikan kedudukannya dari keluarga meskipun ia sendiri sudah mengetahui siapa ayahnya.'
'Dia berhak marah. Tapi Ayah masih bisa memilih untuk tidak membuatnya menunggu lebih lama.'
'Ayah akan bicara dengannya saat Ayah sudah tahu cara menjelaskan tanpa memintanya memahami semuanya sekaligus.'
'Kebenaran tidak harus disampaikan dengan pidato. Ayah bisa mengakui bahwa cerita anak yayasan itu kebohongan, lalu mendengarkan akibatnya bagi Emma.'
Andrew duduk di kursi dekatnya. 'Kamu akan tetap berada di sana?'
'Kalau Ayah menginginkanku, aku akan mendampingi. Tapi aku tidak akan bicara menggantikan Ayah.'
Andrew mengangguk. 'Itu yang Ayah butuhkan.'
Evelyn menutup bukunya. Ia tidak meminta ayahnya menentukan hari itu juga. Ia hanya memastikan keputusan tersebut tidak kembali disimpan di laci bersama amplop lama.
'Besok Ayah akan menanyakan jadwal pemeriksaan kepada Edwin,' katanya.
'Ayah akan menghubunginya pagi-pagi.'
'Aku akan menunggu kabarnya.'
Andrew tersenyum kecil. 'Ayah tahu kamu akan menagih janji itu.'
'Tentu.'
Ia mengantar Andrew sampai ke pintu ruang keluarga. Mereka berpisah dengan lebih tenang daripada saat percakapan pertama dimulai. Evelyn merasa rahasia itu masih berat, tetapi sekarang ayahnya setidaknya bersedia memikulnya dengan sadar.