Keesokan paginya, Evelyn kembali menemui Andrew di ruang kerja. Ayahnya menyimpan amplop ke laci, lalu menguncinya. Pelukan sehari sebelumnya tidak menghapus rasa kecewa Evelyn, tetapi ia tidak ingin membiarkan rahasia itu menjadi beban baru.
'Ayah takut aku akan membenci Emma?' tanyanya.
Andrew mengunci laci. 'Ayah takut kamu akan merasa bahwa semua yang Ayah bangun bersama ibumu tidak berarti.'
'Aku memang terluka karena Ayah menyembunyikannya. Tapi aku tidak menganggap Emma bersalah karena dilahirkan.'
'Ayah seharusnya memberitahumu sejak awal.'
'Iya. Dan seharusnya Ayah juga mengakui Emma di hadapan kami tanpa memakai cerita anak yayasan lagi.'
Andrew kembali ke kursinya. 'Ayah tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan itu sekarang. Dia sudah dewasa dan punya ambisinya sendiri. Ayah takut pengakuan ini hanya membuatnya menganggap haknya atas perusahaan lebih besar.'
'Kalau itu yang dia pikirkan, kita akan menghadapinya sebagai keluarga dan sebagai perusahaan. Tapi kita tidak bisa terus menyembunyikan kenyataan karena takut pada reaksinya.'
Andrew menatapnya. 'Kamu masih yakin mau menerimanya sebagai adik?'
'Aku tidak sedang memutuskan apakah semua perbuatannya bisa dimaafkan. Aku hanya mengatakan bahwa hubungan darahnya tidak membuatku membencinya. Kalau dia melakukan kesalahan, dia tetap harus bertanggung jawab. Kalau dia ingin menjadi bagian keluarga, dia juga berhak mendengar Ayah mengakui hubungan kalian secara terbuka di hadapanku.'
'Ayah tidak ingin kamu terluka lagi.'
'Melindungiku dengan kebohongan justru membuatku lebih terluka.'
Andrew menghela napas. 'Ayah mengerti sekarang.'
Evelyn mencondongkan tubuh ke depan. 'Aku juga ingin Ayah memeriksakan jantung.'
Andrew mengernyit. 'Ayah tidak bilang ada masalah jantung.'
'Ayah bilang sering lelah dan kemarin kembali menekan dada. Pemeriksaan pertama tidak berarti tindak lanjut boleh dilupakan. Aku melihatnya.'
'Itu mungkin hanya karena duduk terlalu lama.'
'Mungkin. Tapi kita tidak tahu sampai diperiksa.'
'Aku tidak suka membuat semua orang panik.'
'Tidak ada yang perlu panik. Pemeriksaan rutin bukan berarti kita sedang menganggap yang terburuk.'
Andrew diam. Evelyn menunggu, tidak mengisi jeda dengan desakan. Ia tahu ayahnya terbiasa memikul semua urusan sendiri dan menganggap tubuhnya bisa menunggu.
'Aku akan mempertimbangkannya,' kata Andrew.
'Aku ingin Ayah membuat janji. Bukan untuk menyenangkan aku, tapi karena kesehatan Ayah penting.'
Andrew menatap anaknya cukup lama. 'Kamu terdengar seperti ibumu kalau sedang keras kepala.'
'Kalau itu yang membuat Ayah mendengarkan, aku tidak keberatan.'
Andrew tersenyum samar, tetapi kemudian wajahnya kembali serius. 'Apa ada hal lain yang membuatmu mendesak soal kesehatan Ayah?'
Evelyn mengalihkan pandangan sejenak. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia pernah kehilangan Andrew dan masih mengingat kesedihan itu setiap kali melihatnya kelelahan.
'Aku cuma tidak mau menunggu sampai ada sesuatu yang tidak bisa diperbaiki,' katanya. 'Kita sudah terlalu lama menunda percakapan penting di keluarga ini.'
Andrew memahami jawabannya sebagai akibat pengakuan tadi. Ia meraih tangan Evelyn dan mengusap punggungnya dengan ibu jari.
'Ayah akan membuat janji pemeriksaan.'
'Kapan?'
'Besok aku bicara dengan Edwin untuk memastikan jadwal pemeriksaan lanjutan yang diberikan.'
'Terima kasih.'
'Tapi jangan beri tahu Emma dulu. Ayah ingin berbicara dengannya sendiri setelah tahu apa yang akan dikatakan.'
'Aku juga belum akan memberitahunya bahwa Ayah telah mengaku kepadaku; aku menunggu pembicaraan kita bertiga. Tapi kita jangan menundanya terlalu lama.'
Andrew mengangguk. 'Ayah tidak akan mengulang kesalahan yang sama.'
Evelyn berdiri, lalu sekali lagi memeluk ayahnya. Kali ini Andrew membalas tanpa ragu. Ia menyadari pelukan itu bukan janji bahwa semuanya akan kembali seperti semula. Itu hanya tanda bahwa mereka masih mau berusaha saling jujur.
Ketukan terdengar di pintu. Keduanya terlepas dari pelukan. Andrew memanggil orang di luar untuk masuk, tetapi pintu hanya terbuka sedikit. Bu Rini menyampaikan bahwa makan siang sudah siap.
'Kami segera turun,' jawab Andrew.
Evelyn merapikan lengan bajunya. Bu Rini sempat melihat mata Andrew yang merah, tetapi tidak bertanya. Ia hanya tersenyum lembut dan menutup pintu.
***
Mereka duduk di meja makan bersama Bu Rini. Evelyn memilih tidak membawa amplop atau catatan apa pun. Percakapan tentang asal-usul Emma tetap di ruang kerja, tetapi ia masih ingin memastikan ayahnya memahami bahwa kesehatan bukan hal yang bisa ditunda.
Evelyn memandang ayahnya dengan seksama. 'Apa Ayah pernah merasa sesak atau nyeri akhir-akhir ini?'
Andrew tidak segera menjawab. 'Kadang terasa berat setelah hari yang panjang. Biasanya hilang kalau Ayah duduk sebentar.'
'Sejak kapan?'
'Beberapa minggu. Ayah tidak menganggapnya penting.'
'Ayah seharusnya memberi tahu seseorang.'
'Ayah tidak ingin semua orang khawatir untuk sesuatu yang mungkin hanya kelelahan.'
'Kalau hasil pemeriksaan baik, semua orang akan lega. Kalau ada sesuatu yang perlu ditangani, lebih baik kita tahu lebih awal.'
Andrew menatapnya. 'Kamu bicara seperti sudah takut kehilangan Ayah.'
Evelyn tak sanggup menjawab terus terang. Ia memang pernah kehilangan ayahnya, tetapi dalam kehidupan yang kini hanya ia sendiri ingat. Ia meraih tangannya dan menggenggam erat.
'Aku tidak ingin kehilangan Ayah karena kita menganggap tanda-tanda kecil tidak penting.'
Andrew membalas genggamannya. 'Ayah mengerti. Ayah akan menjalani pemeriksaan.'
'Dan kalau dokter meminta Ayah mengurangi pekerjaan, Ayah harus mendengarkannya.'
'Kita belum tahu apa yang akan disampaikan dokter.'
'Benar. Kita tunggu hasilnya dulu.'
Percakapan itu membuat Andrew akhirnya setuju bahwa ia tidak akan menyembunyikan keluhan yang dirasakan. Evelyn pun tidak memaksanya berjanji akan berhenti bekerja sebelum ada saran yang jelas. Ia hanya meminta satu hal: jangan menganggap kesehatan sebagai urusan yang bisa selalu ditunda.
Andrew teringat amplop yang tetap terkunci di laci ruang kerja di lantai atas. 'Ayah ingin memperbaiki banyak hal sekaligus, tapi Ayah tidak tahu harus mulai dari mana.'
'Mulai dari satu langkah yang sudah Ayah janjikan. Hubungi Edwin untuk jadwal pemeriksaan. Setelah itu, pikirkan cara bicara dengan Emma.'
Andrew mengangguk pelan. Evelyn melihat kelegaan sekaligus malu di wajahnya. Ia tidak menghiburnya dengan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ia hanya duduk di sampingnya sampai napas ayahnya kembali teratur.
Setelah makan, Andrew kembali ke ruang kerja. Evelyn berjalan di sampingnya sampai ke pintu.
'Aku akan memberi Ayah waktu,' katanya. 'Tapi aku juga akan menanyakan jadwal pemeriksaan lagi besok.'
'Ayah tahu.'
'Dan aku ingin Ayah menghubungiku kalau rasa berat itu muncul lagi.'
Andrew berhenti. 'Ayah berjanji tidak akan menyembunyikannya.'
Evelyn menerima jawaban itu tanpa meminta sumpah lain. Ia kembali ke ruang keluarga, sementara ayahnya menutup pintu ruang kerja. Untuk hari itu, mereka sudah menyepakati langkah pertama.