Pagi berikutnya, Evelyn kembali ke ruang kerja Andrew. Ia telah berjanji akan mendengarkan penjelasan ayahnya setelah sempat menenangkan diri. Amplop kusam itu terbuka di meja, berisi beberapa catatan lama yang tak pernah ia baca. Ia tidak meminta ayahnya menunjukkan semua kertas. Yang ia butuhkan sekarang adalah memahami keputusan yang membuat Emma tumbuh dengan identitas yang setengah benar.
'Ibu Emma tahu Ayah sudah menikah?' tanya Evelyn.
Andrew menarik napas berat. 'Dia tahu. Hubungan itu terjadi saat Ayah dan ibumu sedang berada dalam masa yang buruk. Ayah tidak membanggakannya. Ibunya Emma memilih pergi setelah tahu ia hamil. Ayah berusaha membantu, tapi dia tidak mau kembali ke rumah ini.'
'Lalu dia meninggal saat melahirkan?'
'Ya. Ayah menerima kabar itu setelah Emma lahir. Ayah mengurus pemakamannya dan menitipkan Emma pada pengasuh terpisah, dengan biaya yang Ayah tanggung. Bertahun-tahun kemudian, setelah Shopia meninggal dan kamu berusia lima belas tahun, Ayah membawanya ke rumah ini. Ia sudah remaja ketika kalian mulai tinggal bersama.'
'Tapi Ayah menyebutnya anak yayasan.'
'Ayah takut kalau orang tahu Emma anak Ayah, semua orang akan menilai ibumu dan kamu. Ayah juga takut kamu menganggap Emma sebagai bukti bahwa Ayah mengkhianati keluarga. Ayah memilih cerita yang menurutnya paling mudah diterima.'
Evelyn menahan napas. 'Cerita itu membuat Emma tumbuh tanpa pengakuan yang semestinya di hadapan keluarganya.'
'Ayah tahu. Ayah sudah memberitahunya secara pribadi sejak ia dibawa ke rumah bahwa ia putri Ayah. Tetapi di hadapanmu dan orang lain, Ayah tetap memakai cerita anak yayasan. Ia mengenal ayah kandungnya, namun harus mendengar dirinya diperkenalkan seolah-olah bukan putri Ayah. Selalu ada alasan untuk menunda pengakuan terbuka.'
'Dan saat dia mulai merasa seperti orang luar, Ayah memberinya perhatian ekstra karena rasa bersalah.'
Andrew tidak membantah. 'Mungkin. Ayah ingin menebus sesuatu, tapi cara Ayah justru membuat kamu merasa disisihkan dan Emma merasa harus membuktikan dirinya.'
Evelyn meletakkan kedua tangannya di pangkuan. Ia ingat Emma remaja yang memandang foto keluarga, Emma dewasa yang tersenyum di hadapan dewan, dan Emma dalam kehidupan sebelumnya yang berdiri di sisi Daniel ketika semuanya direnggut. Rahasia ini menjelaskan banyak hal, tetapi tidak menghapus pilihan-pilihan Emma.
'Aku marah karena Ayah berbohong,' katanya jujur. 'Tapi aku juga tahu Emma bukan penyebab Ayah menyembunyikan kebenaran.'
Andrew menunduk. 'Ayah paham.'
'Aku tetap menganggap dia adikku. Itu tidak berarti aku harus menyetujui semua yang dia lakukan.'
Andrew mengangkat wajah. 'Ayah tidak akan meminta kamu menutup mata terhadap kesalahannya.'
Evelyn berdiri dan berjalan memutari meja. Ia berhenti di depan ayahnya, lalu memeluknya. Andrew kaku sesaat sebelum membalas pelukan itu. Bahunya bergetar, meski ia berusaha menyembunyikannya.
'Aku masih menerima Emma sebagai adikku,' bisik Evelyn. 'Tapi mulai sekarang, jangan ada lagi rahasia yang Ayah putuskan sendiri atas nama melindungi aku.'
'Ayah janji.'
'Jangan berjanji hanya supaya aku tenang. Kalau ada hal yang menyangkut keluarga kita, katakan yang sebenarnya.'
Andrew menarik diri sedikit dan menatapnya. 'Kamu benar. Ayah tidak akan menyembunyikan hal seperti ini lagi.'
Evelyn kembali duduk. Ia merasa sedikit lebih ringan setelah memeluk ayahnya, tetapi masih ada kekhawatiran yang tak berhubungan dengan rahasia Emma. Andrew tampak lebih pucat dari biasanya. Ia beberapa kali menekan dadanya, seolah mengira Evelyn tidak melihat.
'Ayah merasa tidak enak badan?'
Andrew segera menurunkan tangannya. 'Tidak. Hanya lelah.'
'Ayah sering mengatakan begitu.'
'Pekerjaan sedang banyak. Itu saja.'
Evelyn menatap wajahnya. Ia teringat bagaimana Andrew dalam hidup sebelumnya semakin kurus dan mudah lelah sebelum kematiannya. Ia tak boleh membiarkan sejarah mengulang tanpa mencoba mengubah sesuatu. Namun ia juga tidak bisa menceritakan masa depan yang diketahuinya.
'Ayah harus lebih memperhatikan kesehatan. Kita bisa minta dokter memeriksa kondisi Ayah.'
Andrew tersenyum tipis. 'Kamu baru saja menerima rahasia besar, lalu sekarang menyuruh Ayah ke dokter?'
'Justru karena aku tidak mau ada rahasia lain yang terlambat diketahui.'
Andrew melihat ke arah amplop. 'Kita bicarakan lagi setelah Ayah menyelesaikan beberapa urusan.'
'Tidak. Kita bisa mengatur pemeriksaan tanpa membuatnya jadi masalah besar. Ayah tidak perlu menunggu sampai benar-benar sakit.'
Andrew tidak langsung menjawab. Evelyn memperhatikan keraguan itu. Ia tidak ingin memaksanya, tetapi kali ini ia juga tidak akan membiarkan ayahnya mengabaikan gejala hanya untuk menjaga harga diri.
'Aku akan pikirkan,' kata Andrew akhirnya.
Evelyn menyentuh tangannya. 'Tolong jangan menunda terlalu lama.'
Andrew menggenggam tangannya sebentar. 'Baik. Ayah akan mendengarkanmu.'
Di meja, amplop itu masih terbuka. Kebenaran tentang Emma akhirnya berada di antara mereka, tetapi belum pernah diakui Andrew dengan terang di hadapan kedua putrinya. Evelyn meminta ayahnya menyimpan kembali dokumen itu. Ia belum ingin keputusan tentang pengakuan Andrew di hadapan Emma dan Evelyn bersama dibuat dalam keadaan emosi.
'Kita tidak akan mengatakan apa pun kepadanya hari ini,' kata Evelyn.
'Ayah setuju.'
'Aku ingin memahami dulu bagaimana kita bisa bicara tanpa membuatnya merasa identitasnya hanya alat untuk mendapatkan pengakuan.'
Andrew mengangguk pelan. 'Kali ini, Ayah akan mengikuti keputusanmu.'
Evelyn menatap amplop yang kembali ditutup. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengubah pengakuan ayahnya menjadi senjata. Namun ia juga tidak akan membiarkan kebenaran itu menutupi pengkhianatan yang masih berlangsung.
***
Menjelang sore, Evelyn kembali ke ruang kerja Andrew. Ayahnya telah menyimpan amplop itu di laci, tetapi belum mengunci laci tersebut. Ia tampak masih memikirkan pengakuannya.
Sebelum mereka meninggalkan ruang kerja, Andrew bertanya apakah Evelyn masih menganggapnya ayah yang baik. Pertanyaan itu membuat Evelyn berhenti di ambang pintu.
'Aku menganggap Ayah ayahku,' jawabnya. 'Itu tidak sama dengan mengatakan semua keputusan Ayah benar.'
Andrew menerima jawaban itu tanpa membela diri. 'Ayah pantas mendengarnya.'
'Aku tidak mau kasih sayang kita bergantung pada apakah Ayah selalu benar. Tapi aku juga tidak mau kasih sayang dipakai untuk meminta aku diam.'
'Ayah tidak akan meminta itu lagi.'
Evelyn kembali duduk sebentar. Ia ingin memastikan ayahnya memahami bahwa ia tetap menerima Emma, tetapi tidak akan membenarkan semua tindakannya. Ia menjelaskan bahwa keluarga bukan alasan untuk membiarkan siapa pun mengambil hak orang lain.
'Kalau Ayah mengakui semuanya di hadapan kami, Emma mungkin marah karena selama ini diminta menjalani cerita sebagai anak angkat,' katanya. 'Jangan balas kemarahannya dengan menyalahkan dia.'
'Ayah akan mencoba mendengarkan lebih dulu.'
'Dan kalau dia bertanya kenapa aku tetap menerimanya, aku akan menjawab sendiri. Aku tidak ingin Ayah menjanjikan atas namaku.'
Andrew menatap putrinya dengan mata basah. 'Kamu selalu lebih bijak daripada Ayah.'
'Aku hanya tidak ingin mengulang luka yang sama.'
Mereka akhirnya keluar bersama. Ketika melewati lorong, Andrew berjalan lebih lambat dari biasanya. Evelyn memperhatikan, tetapi tidak langsung menanyainya lagi. Ia akan membicarakan kesehatannya setelah mereka memiliki waktu tenang.
Evelyn belum meninggalkan rumah ketika ia melihat Andrew kembali memegang dadanya. Kali ini ia tidak menerima jawaban bahwa semuanya hanya kelelahan. Dengan persetujuan Andrew, ia menghubungi layanan kesehatan yang biasa dihubungi keluarga dan menyampaikan keluhan sebenarnya. Percakapan tentang Emma dihentikan. Andrew menjalani penilaian langsung pada hari itu; setelah diperiksa, ia menerima arahan individual dan jadwal pemeriksaan lanjutan. Evelyn menyimpan catatan kunjungannya, tanpa menyebut pemeriksaan itu sebagai jaminan bahwa tak akan terjadi apa-apa. Ia berjanji akan meminta bantuan lagi bila keluhan kembali, bukan menganggap satu kunjungan telah menyelesaikan seluruh persoalan.