Selasa pagi, sehari setelah Marcus menyerahkan foto, Evelyn tak langsung membuka foto yang tersimpan di folder pribadinya. Ia sudah tahu apa yang tampak di sana. Daniel dan Emma memasuki kamar yang sama, lalu Daniel tidak menjelaskan kedatangan mereka ke kamar ketika ditanya tentang akhir acara. Namun foto itu bukan hal pertama yang harus ia hadapi hari ini. Sejak malam tadi, ada pertanyaan lain yang terus mengganggu pikirannya: mengapa Andrew selalu menahan sesuatu tentang Emma?
Ia menunggu sampai ayahnya selesai menerima panggilan kantor, lalu berdiri di pintu ruang kerjanya.
'Ayah ada waktu? Aku ingin bicara tanpa diganggu.'
Andrew menutup map di meja. 'Tentu. Ada apa?'
Evelyn masuk dan menutup pintu. Ia tidak duduk dulu. 'Aku ingin membahas Emma.'
Wajah Andrew berubah sedikit. Tangannya berhenti di atas map. 'Ada masalah di kantor?'
'Bukan soal pekerjaan. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.'
Andrew mengembuskan napas pelan. 'Ayah sudah menjelaskan sejak dulu. Emma anak yang kehilangan ibunya dan kita membantunya melalui yayasan. Setelah itu, Ayah membawanya tinggal di rumah karena ia tidak punya keluarga yang bisa merawatnya.'
'Itu cerita yang Ayah berikan waktu aku masih kecil. Tapi makin lama, ada hal-hal yang tidak cocok.'
'Hal apa?'
Evelyn menarik kursi dan duduk di seberang meja. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. Ia tidak akan menyebut kehidupan yang pernah ia jalani, apalagi bahwa ia telah melihat sendiri bagaimana kebohongan ini menghancurkan keluarga mereka.
'Emma selalu diperlakukan seperti keluarga, tapi Ayah tidak pernah bisa menjelaskan dengan jelas hubungan awalnya dengan yayasan. Setiap aku bertanya, jawabannya berubah sedikit. Kadang Ayah bilang dia anak yang dititipkan. Kadang Ayah bilang dia anak dari keluarga yang pernah dibantu perusahaan.'
Andrew menunduk. 'Ayah mungkin tidak mengingat setiap kata yang pernah diucapkan.'
'Aku juga melihat Ayah bersikap berbeda kepadanya. Ada rasa bersalah setiap kali Emma merasa tersisih. Itu bukan hanya kebaikan kepada anak yayasan.'
'Evelyn—'
'Ayah, aku tidak datang untuk menuduh. Aku hanya ingin tahu apakah Emma benar-benar orang asing yang Ayah bantu. Apa dia punya hubungan darah dengan keluarga kita?'
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Andrew menatap jendela, bukan putrinya. Evelyn menunggu, meski dadanya menegang. Ia sudah kembali ke masa lalu untuk mengubah akhir, tetapi rahasia yang sama masih berdiri di antara mereka.
'Kenapa kamu menanyakan ini sekarang?' suara Andrew terdengar berat.
'Karena aku tidak mau ada kebohongan di rumah ini. Aku sudah cukup dewasa untuk mendengar kebenarannya.'
Andrew mengusap wajahnya. 'Kalau Ayah menjawab, kamu harus mendengarkan sampai selesai. Jangan mengambil kesimpulan sebelum Ayah menjelaskan semuanya.'
'Aku akan mendengarkan.'
Andrew berdiri, berjalan ke lemari kecil di belakang meja, lalu membuka laci yang terkunci. Ia mengeluarkan sebuah amplop kusam. Evelyn mengenal benda itu dari ingatan samar masa kecilnya: amplop yang pernah ia lihat di meja ayahnya, tetapi tak pernah diizinkan untuk dibuka.
Andrew meletakkannya di antara mereka. 'Emma bukan anak yayasan. Ibunya bekerja di rumah kita dulu, jauh sebelum kamu cukup besar untuk mengingatnya. Dia meninggal setelah melahirkan Emma.'
Evelyn membeku. 'Ibunya pembantu di rumah kita?'
Andrew mengangguk pelan. 'Ya. Dan Emma adalah anak Ayah.'
Pengakuan itu jatuh tanpa suara keras, tetapi Evelyn merasa seluruh ruangan berubah. Ia menatap ayahnya, berusaha menyatukan lelaki yang selama ini ia cintai dengan rahasia yang baru saja dibukanya.
'Jadi Emma adikku.'
'Secara darah, iya. Ayah seharusnya mengatakan itu sejak awal. Ayah takut kamu akan merasa ibumu dikhianati, takut kamu membenci Emma, dan takut kehilanganmu. Ayah memilih diam. Itu keputusan yang salah.'
Evelyn tak langsung menjawab. Di luar jendela, halaman tampak sama seperti biasanya. Di dalam dirinya, kenangan lama tentang Emma yang tersisih dan Andrew yang selalu merasa bersalah mulai tersusun dengan bentuk baru.
'Aku perlu waktu memahami semuanya,' katanya akhirnya. 'Tapi aku tidak akan menghukum Emma atas keputusan Ayah.'
Andrew memejamkan mata sesaat. 'Ayah tidak mengharapkan kamu langsung memaafkan.'
Evelyn menatap amplop itu. 'Aku akan tetap mendengarkan. Ceritakan dari awal.'
***
Andrew membuka amplop dan mengeluarkan beberapa lembar kertas lama. Ia hendak mulai menjelaskan lebih jauh, tetapi Evelyn mengangkat tangan.
'Aku perlu waktu memahami pengakuan ini,' katanya. 'Aku tidak mau langsung mendengar semua detail lalu menjawab hanya karena sedang terkejut.'
Andrew menutup kembali amplop itu. 'Ayah mengerti. Ayah tidak akan memaksamu.'
'Kita akan lanjut bicara. Aku hanya ingin Ayah tahu bahwa aku tidak membenci Emma karena dia lahir dari hubungan itu. Tapi aku juga belum tahu apa yang harus kulakukan dengan semua perasaanku sekarang.'
'Kamu boleh marah kepada Ayah.'
'Aku memang marah. Tapi aku tidak ingin percakapan ini berakhir dengan Ayah meminta maaf lalu kita berpura-pura tidak pernah membahasnya.'
Andrew mengangguk. 'Ayah tidak akan mengulanginya. Kita bicarakan lagi saat kamu siap.'
Evelyn berdiri. Ia tidak memeluk ayahnya dan tidak juga meninggalkan ruangan dengan membanting pintu. Ia hanya meminta Andrew menyimpan kembali amplop itu sampai mereka melanjutkan pembicaraan. Andrew mengunci laci, lalu menyimpan kuncinya di tempat semula.
'Jangan berangkat kerja sebelum makan,' kata Evelyn. 'Ayah juga terlihat lelah.'
'Ayah akan makan. Kamu jangan khawatir.'
Evelyn keluar dari ruang kerja dengan perasaan yang sulit diberi nama. Ia tak bisa menyebut Andrew tidak mencintai keluarganya, tetapi ia juga tak bisa mengabaikan pilihan yang telah dibuat ayahnya. Rahasia tentang Emma menjelaskan mengapa Andrew selalu menahan diri, namun tidak menjadikan kebohongan itu benar.
Siang itu, ia menyelesaikan pekerjaannya tanpa membuka foto gala. Beberapa kali pikirannya kembali kepada pengakuan ayahnya, tetapi ia memaksa diri menyelesaikan laporan yang menunggu persetujuan. Ia tidak akan mengirim pesan kepada Emma atau bertanya tentang masa kecilnya. Ia ingin mendengar cerita ayahnya lebih dulu, bukan menyusun kesimpulan berdasarkan potongan ingatan.
Menjelang malam, Evelyn pulang ke rumah dan menemukan Andrew masih berada di ruang kerja. Ia mengetuk pintu yang terbuka.
'Ayah sudah makan?' tanyanya.
'Sudah. Bu Rini memastikan.'
'Bagus. Besok kita lanjutkan pembicaraan tadi, kalau Ayah siap.'
Andrew menatapnya dengan rasa terima kasih yang bercampur cemas. 'Ayah siap. Kamu juga tidak perlu memaafkan semuanya dalam satu hari.'
'Aku tidak akan. Tapi aku akan mendengarkan.'
Evelyn meninggalkannya tanpa meminta jawaban lain. Kebenaran itu sudah keluar, dan kini ia perlu memutuskan bagaimana menerimanya tanpa membiarkannya menghapus luka-luka lain yang belum selesai.