Hari gala tiba. Evelyn datang ke hotel bersama Andrew menjelang sore. Aula utama dihiasi lampu kristal dan rangkaian bunga putih, sementara meja-meja sudah disusun sesuai denah yang disetujui Kennedi. Emma bergerak dari satu sisi ke sisi lain, memastikan materi CSR tersedia. Daniel berbicara dengan pihak hotel dekat pintu masuk.
'Kamu sudah makan?' tanya Andrew ketika mereka berdiri di dekat meja utama.
'Belum. Nanti setelah tamu mulai datang.'
'Jangan menunggu sampai terlalu lelah.'
'Aku ingat.'
Marcus tiba beberapa menit kemudian. Ia menyapa Andrew lebih dulu, lalu menjabat tangan Evelyn.
'Terima kasih sudah datang,' kata Evelyn.
'Aku tidak akan melewatkan acara penting mitra kami.'
'Tim sudah menyiapkan materi yang akan dibahas sebelum pembukaan.'
'Bagus. Kita bicarakan sebelum pembukaan, bersama tim yang hadir.'
Daniel datang mendekat. 'Marcus, senang kamu bisa hadir.'
'Terima kasih, Daniel. Acara kalian tampak tertata baik.'
'Evelyn dan Emma yang banyak mengurusnya,' kata Daniel.
Emma tersenyum. 'Banyak orang membantu. Aku hanya memastikan daftar meja dan materi CSR siap.'
Evelyn mengamati cara mereka berdiri. Daniel berada dekat Emma, terlalu dekat untuk sekadar menerima laporan, tetapi ia tidak menunjukkan reaksi. Ia menyapa tamu lain dan membantu Andrew menyambut dewan.
Sepanjang satu jam berikutnya, Evelyn berkeliling di antara para undangan. Ia menyapa pimpinan divisi, berbicara dengan perwakilan mitra, dan memastikan setiap tamu mengetahui jadwal makan malam. Beberapa orang mengajaknya berfoto di depan logo perusahaan. Ia memenuhi permintaan itu dengan senyum tenang, meski lampu kamera membuat pelipisnya berdenyut semakin kuat.
Marcus menemuinya dekat meja pameran setelah menyelesaikan pembicaraan dengan tim keuangan. Ia tidak menarik Evelyn ke samping atau meminta waktu khusus. Mereka bertiga bersama Kennedi membahas satu angka dalam rencana kerja sama, lalu sepakat menindaklanjutinya pada rapat resmi pekan berikutnya.
'Kamu yakin tidak perlu duduk sebentar?' tanya Kennedi setelah Marcus kembali ke mejanya.
'Aku akan duduk setelah tamu selesai menyapa.'
'Kamu bisa meminta orang lain menggantikanmu.'
'Aku masih sanggup. Kalau semakin pusing, aku akan pulang.'
Kennedi mengangguk dan menawarkan untuk mengambil alih sambutan tamu. Evelyn berterima kasih, tetapi meminta Kennedi menunggu sampai makan malam dimulai. Ia tidak ingin meninggalkan acara sebelum memastikan Andrew tidak membutuhkan bantuannya.
***
Acara pembukaan berlangsung lancar. Andrew menyampaikan sambutan singkat, lalu Kennedi memberikan penghargaan kepada beberapa tim perusahaan. Evelyn menjalankan tugasnya sebagai tuan rumah, berbicara dengan para tamu dan memastikan kerja sama Mile Group dibicarakan pada waktu yang tepat.
Menjelang makan malam, ia merasakan tekanan di pelipis. Ia sudah lama berdiri dan ruangan mulai terasa panas. Ia mengusap dahi sebelum duduk.
'Kamu sakit?' tanya Daniel.
'Kepalaku sedikit pusing. Mungkin karena lampu dan suara ramai.'
Ia mencoba menyesap air perlahan. Rasa dingin itu membantu sebentar, tetapi bunyi percakapan dan musik dari panggung tetap membuat kepalanya terasa berat. Evelyn memandang ke arah meja utama. Andrew sedang berbicara dengan dua anggota dewan, sementara Kennedi memeriksa susunan penghargaan. Semua berjalan sesuai rencana; kehadirannya di sana bukan lagi hal yang menentukan acara.
'Kamu mau ke kamar sebentar?'
'Tidak. Aku akan minum air dan istirahat sebentar.'
Emma meletakkan segelas air di dekatnya. 'Minum dulu, Eve. Kamu dari tadi belum berhenti bergerak.'
'Terima kasih.'
Daniel berdiri di samping meja. 'Aku bisa menemanimu ke kamar kalau kamu mau berbaring.'
'Tidak perlu. Aku hanya ingin duduk sebentar.'
Marcus yang baru selesai menyapa beberapa tamu mendekat. 'Apa kamu baik-baik saja?'
'Aku agak pusing. Tidak apa-apa, hanya butuh istirahat.'
'Kalau kamu ingin pulang, jangan memaksakan diri.'
Evelyn menatapnya. Ia belum memutuskan, tetapi ia tahu momen yang ia tunggu telah tiba. Ia berdiri dan mengambil tasnya.
'Aku rasa aku pulang lebih awal saja. Aku tidak ingin sakit kepalaku semakin parah.'
Daniel tampak kecewa. 'Acara belum selesai.'
'Aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai tuan rumah. Andrew dan Kennedi masih di sini.'
Daniel merendahkan suara. 'Setidaknya tunggu sampai makan malam selesai. Banyak tamu yang ingin bicara denganmu.'
'Aku sudah menyapa mereka. Kennedi bisa melanjutkan jika ada yang perlu dibicarakan.'
'Kamu bisa istirahat di kamar hotel. Tidak perlu pulang.'
Evelyn menatapnya sejenak. 'Aku lebih nyaman pulang dan beristirahat di rumah.'
Daniel tampak hendak membantah, tetapi Andrew datang dan menanyakan apakah Evelyn perlu bantuan. Ia menjawab bahwa mobil sudah menunggu dan ia akan menghubungi ayahnya saat tiba di rumah. Andrew memastikan ia membawa tas dan obatnya, lalu membiarkannya pergi tanpa membuat perpisahan itu menjadi perhatian semua orang.
Andrew menawarkan mengantar. 'Ayah boleh menemanimu sampai ke mobil?'
'Tidak usah, Yah. Mobil menunggu di depan. Aku bisa sendiri. Ayah tetaplah di sini.'
Emma menyentuh lengan Evelyn. 'Istirahat, ya. Nanti aku kabari kalau acara selesai.'
'Terima kasih.'
Evelyn berpamitan kepada Kennedi dan beberapa tamu, lalu berjalan menuju pintu utama. Ia tidak menoleh ke belakang. Ketika keluar dari aula, suara musik dan percakapan mengecil di balik pintu. Ia tahu alasan sakit kepala itu cukup masuk akal dan tidak mengundang pertanyaan lebih jauh.
Di lobi, ia menyerahkan kartu parkir kepada petugas dan menunggu mobilnya dibawa ke depan. Udara malam terasa sejuk. Ia mengirim pesan singkat kepada Andrew bahwa dirinya sudah turun dan akan pulang. Andrew membalas agar ia beristirahat dan tidak perlu memikirkan acara.
Ia menyimpannya. Ia memang merasa pusing, tetapi keputusannya pergi juga memberinya kesempatan untuk melihat apakah Daniel akan tetap berada di acara setelah ia tak lagi ada di sana. Ia tidak menyukai dirinya sendiri karena memikirkan hal itu, namun ia tidak berbohong kepada siapa pun tentang kondisinya.
Sebelum mobil berangkat, ia melihat pantulan pintu hotel di kaca. Tidak ada yang menyusul. Ia menyandarkan kepala dan memejamkan mata, mencoba membiarkan malam berjalan tanpa mengatur apa pun dari kejauhan.
Marcus melihat Evelyn benar-benar keluar dari aula dan kembali ke ruang acara. Namun ia tetap di dekat lorong terbuka menuju elevator, menyelesaikan pesan singkat tentang agenda kemitraan. Beberapa menit kemudian Daniel keluar dari ballroom. Ia tidak segera menuju lobi. Ia berhenti dekat meja konsol di lorong dan memandang ke dalam aula. Tak lama, Emma menyusul, membawa tas kecilnya.
'Kupikir kamu masih harus membantu Kennedi,' kata Daniel.
'Dia sudah punya tim lain. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak pergi sebelum kita bicara.'
Daniel melirik pintu ballroom. 'Jangan di sini.'
Emma mengangguk. Mereka berjalan menuju elevator. Marcus yang berdiri beberapa meter di belakang pilar dekoratif melihat mereka dari sisi lorong. Ia tidak menyusul ke elevator yang sama. Ketika pintu elevator terbuka, Daniel menyerahkan kartu akses kamar kepada Emma, lalu mereka naik bersama.
Marcus merasa ada yang janggal. Ia tahu Evelyn sedang menghadapi masalah kepercayaan, tetapi ia juga tahu satu pemandangan belum menjelaskan seluruh kebenaran. Ia menunggu elevator berikutnya dan naik ke lantai yang sama hanya setelah memastikan mereka telah jauh di depan. Ia tidak mendekati kamar; ia berhenti di ujung koridor, dekat area duduk tamu.
Dari sana, ia melihat Daniel dan Emma berdiri di depan salah satu kamar yang disediakan pihak hotel untuk kebutuhan acara. Daniel menempelkan kartu akses. Lampu kunci berubah hijau. Sebelum masuk, Emma menoleh kepada Daniel dan mengatakan sesuatu yang tak terdengar. Daniel menjawab pendek. Mereka bersiap masuk; Emma masih di samping Daniel pada ambang pintu.
Ketika Daniel dan Emma masih berdiri di ambang pintu, Marcus mengambil satu foto dari ujung koridor. Ia tidak mengintip ke dalam atau mendekati kamar. Setelah pintu menutup, ia menyimpan ponselnya dan turun. Gambar itu hanya memperlihatkan dua orang di pintu kamar, bukan kejadian di dalamnya. Ia belum memutuskan apa yang akan dilakukan dengan foto itu; yang jelas, ia tidak ingin mengubah dugaan menjadi tuduhan.