Sehari sebelum gala, Evelyn meninjau ulang sambutan Andrew dan jadwal acara. Ia memastikan nama-nama tamu utama dieja dengan benar, lalu memeriksa bahwa Marcus tercatat sebagai perwakilan Mile Group. Tidak ada perubahan lain dari susunan yang telah disetujui Kennedi.
Daniel datang saat ia baru selesai mencetak jadwal.
'Besok jadwal kendaraan tetap seperti kemarin?' tanyanya.
'Ya. Aku ikut mobil pertama bersama Ayah, dan kau sudah memilih membawa mobil sendiri.'
'Aku ingin duduk bersamamu selama acara.'
'Kita duduk di meja utama sesuai susunan.'
'Maksudku, setelah acara resmi. Kita bisa bicara sebentar.'
Evelyn meletakkan kertas. 'Kita bisa bicara kapan saja. Tapi jangan berharap gala membuat semua masalah hilang.'
Daniel menatapnya lelah. 'Aku tidak berharap begitu. Aku cuma ingin satu malam berjalan normal.'
'Aku juga.'
'Kamu akan pulang lebih awal?'
'Aku belum tahu. Kalau aku merasa tidak enak badan, aku akan pulang.'
'Kamu tidak sakit, kan?'
'Tidak. Tapi acara panjang dan aku punya banyak pekerjaan. Aku tidak mau menjanjikan akan bertahan sampai akhir.'
Daniel mengangguk, meski wajahnya masih menunjukkan keberatan. 'Aku berharap kamu tetap di sana sampai acara selesai.'
'Aku akan hadir selama yang kubisa.'
Ia tidak mengatakan bahwa ia sudah mempertimbangkan untuk pergi sebelum gala berakhir. Itu bukan kebohongan; ia hanya belum menentukan kapan akan melakukannya. Ia ingin melihat bagaimana Daniel dan Emma bersikap lebih dulu.
***
Menjelang sore, Marcus mengirim konfirmasi bahwa ia akan tiba tepat waktu. Evelyn membalas melalui email kerja sama dengan mengirim agenda pertemuan singkat sebelum acara dibuka.
Tak lama kemudian, Daniel muncul lagi bersama Emma. Mereka sedang memeriksa daftar barang yang harus dibawa ke hotel.
'Emma akan membawa materi CSR dan daftar meja,' kata Daniel. 'Aku akan memastikan kamar panitia siap.'
Evelyn memeriksa daftar. 'Materi CSR sudah ada di folder digital. Bawa satu salinan cetak saja. Kamar panitia diurus koordinator hotel. Kita tidak perlu membawa daftar penggunaan kamar pribadi.'
Daniel mengerutkan kening. 'Aku hanya memastikan semua siap.'
'Aku tahu. Tapi urusan kamar bukan bagian dari materi acara yang perlu kita bawa.'
Emma memandang mereka bergantian. 'Aku bisa menghubungi koordinator hotel untuk memastikan kamar panitia sudah dibuka.'
'Silakan, tapi cukup konfirmasi jumlah kamar dan aksesnya,' kata Evelyn. 'Tidak perlu mengatur siapa yang akan masuk ke kamar tertentu.'
Emma mengangguk. 'Aku paham.'
Daniel menyilangkan tangan. 'Kamu bicara seolah kami berencana melakukan sesuatu.'
'Aku sedang menjelaskan tugas masing-masing. Besok ada banyak tamu. Aku ingin semua urusan tercatat rapi.'
'Baik. Aku akan mengurus transportasi.'
Daniel pergi ke ruangannya. Emma tertahan sebentar.
'Kamu tidak perlu khawatir soal aku,' katanya pelan.
Evelyn menatapnya. 'Aku tidak sedang mengkhawatirkanmu. Aku hanya memastikan semua orang bekerja sesuai peran.'
Emma memegang map di dadanya. 'Kamu tahu aku menyayangi Daniel.'
'Kamu bisa menyayanginya sebagai teman kerja. Tapi kalau ada hal lain, jangan minta aku berpura-pura tidak melihat.'
Emma terdiam. 'Tidak ada hal lain.'
'Kalau begitu, kita tidak perlu membahasnya sekarang.'
Emma membawa daftar itu pergi. Evelyn menyimpan jadwal dan mengirim salinan final kepada Andrew serta Kennedi. Setelah semua selesai, ia pulang dan beristirahat. Besok malam ia tidak ingin kelelahan membuatnya salah membaca situasi.
Di rumah, Andrew bertanya apakah ia siap menghadapi gala.
'Aku siap bekerja,' jawab Evelyn. 'Untuk yang lain, aku akan melihat nanti.'
'Itu cukup. Jangan paksa dirimu bertahan kalau kamu sudah lelah.'
'Aku tidak akan.'
Andrew menutup buku yang dibacanya. 'Apa pun yang terjadi besok, jangan biarkan acara itu menentukan seluruh keputusanmu tentang Daniel.'
'Aku tahu. Aku hanya ingin melihat bagaimana ia bertindak ketika tidak merasa sedang diuji.'
Andrew mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Evelyn naik ke kamar dengan jadwal gala tersimpan di ponsel. Ia tidak tahu apakah Daniel dan Emma akan mengulang kesalahan lama. Ia hanya tahu kali ini dirinya tidak akan pulang tanpa mengetahui apa yang terjadi.
Sebelum tidur, Evelyn mengirim pesan kepada Kennedi untuk memastikan ia akan memegang daftar kontak panitia jika ada perubahan mendadak. Kennedi membalas bahwa semua nomor sudah tersimpan dan ia bisa mengambil alih tugas tuan rumah kapan saja.
Evelyn menulis pengingat singkat di ponselnya: makan sebelum acara, minum air, dan pulang bila pusing. Ia tidak menulis nama Daniel atau Emma. Daftar itu untuk menjaga dirinya tetap tenang, bukan untuk mengawasi siapa pun.
Ponselnya bergetar lagi. Daniel mengirim pesan bahwa ia berharap mereka bisa tersenyum bersama di depan para tamu. Evelyn membalas bahwa ia akan bersikap sopan dan menjalankan tugasnya. Ia tidak menjanjikan kedekatan yang belum dirasakannya.
Setelah itu, ia meletakkan ponsel di meja dan mematikan lampu. Ia ingin menghadapi gala dengan pikiran jernih, apa pun yang akan ia lihat di sana.
Pagi sebelum acara, Evelyn membuka surel sebelum meninggalkan rumah. Koordinator hotel mengonfirmasi bahwa aula dan ruang istirahat sudah disiapkan. Ia meneruskan pesan itu kepada Kennedi tanpa menambahkan catatan pribadi. Lalu ia memeriksa obat sakit kepala yang biasa dibawanya dan memasukkannya ke tas.
Di kantor, ia menyelesaikan satu panggilan dengan tim keuangan dan menyerahkan tanggung jawab dokumen kepada rekannya sebelum berangkat. Andrew memastikan sambutannya tersimpan dalam dua salinan.
'Jangan sampai kamu pulang dengan membawa semua pekerjaan orang lain,' katanya.
'Aku sudah menyerahkan semuanya. Hari ini aku hanya perlu menjadi tuan rumah.'
'Kalau begitu, nikmati acaranya sebisamu.'
Evelyn menutup tas dan memeriksa kembali daftar tamu. Nama Daniel dan Emma berdampingan pada daftar panitia, sementara Marcus berada di daftar mitra. Susunan itu tidak memberitahunya apa pun tentang niat mereka. Ia mengingatkan diri sendiri bahwa kehadiran seseorang di satu baris kertas bukan bukti.
Mobil perusahaan berangkat sesuai jadwal. Dalam perjalanan ke hotel, Kennedi mengirim pesan bahwa beberapa tamu sudah tiba. Evelyn menjawab bahwa mereka akan sampai sebentar lagi. Ia menatap jalanan dari jendela dan mencoba menenangkan pikirannya. Malam itu ia ingin mencatat apa yang benar-benar terjadi, bukan apa yang ia takutkan akan terjadi.