Dua hari kemudian, dua hari sebelum gala, Evelyn mengikuti rapat persiapan bersama Andrew dan Kennedi. Mereka membahas jadwal pembukaan, susunan meja, dan pembagian sambutan. Emma mempresentasikan rencana tata ruang dengan beberapa revisi yang diminta Kennedi.
'Meja mitra perusahaan jangan terlalu jauh dari panggung,' kata Kennedi. 'Mereka perlu terlihat sebagai bagian dari acara, bukan sekadar tamu tambahan.'
Emma membuka denah. 'Saya sudah pindahkan meja Mile Group ke sisi kanan meja utama.'
'Bagus. Pastikan jalur menuju panggung tidak terhalang.'
'Baik, Pak Kennedi.'
Evelyn memeriksa denah. 'Kursi Marcus tetap di meja mitra, bukan meja keluarga. Itu lebih tepat untuk acara perusahaan.'
Kennedi mengangguk. 'Setuju. Jangan sampai tata meja menimbulkan kesan bahwa kerja sama bisnis adalah urusan keluarga.'
Daniel yang sejak tadi membaca susunan tamu mengangkat kepala. 'Apa masalahnya kalau dia duduk dekat meja utama?'
'Tidak ada masalah,' jawab Kennedi. 'Tapi setiap posisi punya fungsi. Marcus hadir sebagai mitra. Kita tidak perlu mengubahnya menjadi simbol hubungan pribadi siapa pun.'
Evelyn menahan senyum tipis. Ia tidak ingin percakapan itu menjadi sindiran kepada Daniel. Kennedi telah menyampaikan alasan yang cukup.
'Aku setuju dengan susunan itu,' kata Evelyn. 'Emma, kirim versi final setelah rapat.'
Emma menutup denah. 'Aku akan kirim sebelum siang.'
Daniel menatap Evelyn. 'Kamu kelihatan senang sekali Marcus datang.'
'Aku senang mitra perusahaan hadir. Itu baik untuk Celeste.'
'Kamu tahu maksudku.'
'Kalau maksudmu urusan pribadi, kita sudah membicarakannya. Aku tidak akan menjadikan acara ini kesempatan untuk mengubah batas.'
Daniel tidak membalas. Kennedi mengalihkan rapat ke jadwal sambutan agar suasana tidak berubah menjadi pertengkaran.
***
Setelah rapat, Emma mengirim denah final. Evelyn memeriksa posisi kursi, lalu meminta satu perubahan kecil agar Andrew tidak perlu melewati jalur pelayanan saat menuju panggung. Emma menyetujui dan segera memperbaikinya.
'Kamu cepat menangkap masukan Kennedi,' kata Evelyn.
Emma tersenyum. 'Aku ingin acara ini berjalan baik.'
'Kerjamu sudah rapi. Pastikan semua versi lama tidak tertukar dengan yang final.'
'Aku akan menghapus salinan sementara dari folder acara.'
'Simpan satu arsip perubahan, tapi beri label jelas.'
Emma mengangguk. 'Baik.'
Daniel datang membawa dua undangan cetak. Ia meletakkan satu di meja Evelyn dan satu di meja Emma.
'Aku dapat konfirmasi dari pihak hotel,' katanya. 'Kamar untuk tamu yang perlu beristirahat sudah disiapkan di lantai atas.'
Evelyn membaca kartu kecil yang menyertai undangan. 'Kamar untuk panitia juga?'
'Beberapa kamar disediakan untuk kebutuhan acara. Kalau ada yang kelelahan, bisa dipakai sebentar.'
Emma menunduk memeriksa undangannya. 'Aku belum tahu apakah akan menggunakan kamar. Aku mungkin pulang setelah acara selesai.'
Daniel mengangkat bahu. 'Kita lihat nanti.'
Evelyn tidak bertanya lebih jauh. Ia ingat pola lama: Daniel dan Emma pernah menjauh dari keramaian setelah gala, sementara ia tidak tahu ke mana mereka pergi. Kali ini ia tidak akan menebak atau membuat keributan sebelum melihat sendiri.
'Siapa yang memegang daftar penggunaan kamar?' tanyanya.
'Pihak hotel dan koordinator acara,' jawab Daniel. 'Kenapa?'
'Untuk memastikan kamar tersedia kalau Andrew atau anggota dewan perlu beristirahat.'
'Aku bisa mengurusnya.'
'Tidak perlu. Aku akan memastikan melalui koordinator acara.'
Daniel menatapnya seolah ingin bertanya, tetapi akhirnya diam. Emma juga tidak menambahkan apa-apa. Evelyn menyimpan undangannya di laci dan kembali bekerja.
Menjelang siang, ia mendapat pesan dari Marcus yang menanyakan apakah ia bisa hadir lebih awal pada hari gala untuk meninjau materi kerja sama. Evelyn menjawab bahwa tim akan siap pada waktu yang tercantum di agenda. Ia tidak menambahkan percakapan pribadi.
Pada siang hari yang sama, Evelyn menemui koordinator acara untuk menyelaraskan tugas akhir. Ia memastikan jadwal kedatangan, jalur tamu, serta penempatan materi kerja sama dengan Mile Group. Tidak ada perubahan pada susunan meja dan tidak ada permintaan khusus untuk kamar hotel.
'Kalau ada tamu yang perlu beristirahat, siapa yang mengantar?' tanyanya.
Koordinator menunjukkan prosedur: tamu menghubungi meja layanan, lalu petugas hotel mencatat kartu akses yang digunakan. Evelyn meminta agar panitia tidak menyimpan salinan kartu dan semua penggunaan mengikuti aturan hotel.
'Baik, Bu. Saya akan jelaskan kepada tim saat pengarahan.'
Evelyn tidak menyebut Daniel atau Emma. Ia tidak ingin membuat aturan khusus karena kecurigaan pribadi. Aturan yang sama berlaku untuk seluruh tamu dan staf.
Di kantor, Emma menyerahkan berkas final. Evelyn memeriksa angka pada daftar meja dengan denah yang telah disetujui, lalu menandatangani halaman persetujuan.
'Terima kasih sudah menuntaskan revisinya,' kata Evelyn.
'Aku ingin saat acara nanti tidak ada masalah teknis.'
'Kita sudah menyiapkan cadangan untuk materi presentasi. Kalau ada perubahan, laporkan ke Kennedi, jangan mengubah susunan sendiri.'
Emma mengangguk. 'Aku mengerti.'
Saat Emma hendak pergi, Daniel muncul dan bertanya apakah mereka bisa membahas perjalanan ke hotel. Evelyn menyerahkan jadwal resmi.
'Kendaraan perusahaan berangkat pukul empat. Aku dan Ayah ikut mobil pertama. Kamu bisa ikut mobil kedua bersama tim acara.'
'Kita biasanya berangkat bersama.'
'Kali ini Ayah perlu tiba lebih dulu untuk menyambut dewan. Kalau kamu punya urusan lain, jadwal kendaraan tetap ada di sini.'
Daniel melirik Emma, lalu berkata bahwa ia akan memakai mobil sendiri. Evelyn tidak menahannya. Ia hanya mengingatkan agar bagian keamanan mendapat nomor kendaraan untuk akses parkir.
Sepanjang sore, persiapan berjalan tanpa hambatan besar. Kennedi memeriksa panggung, Emma memastikan daftar tamu tercetak, dan Andrew meminta Evelyn mengirimkan kembali sambutan pembukaan. Ketika semua pekerjaan selesai, Evelyn pulang membawa satu salinan agenda, bukan map perusahaan.
Di rumah, ia membaca ulang rencana malam itu. Ia memberi tahu Andrew bahwa ia mungkin pulang sebelum acara selesai jika kondisi tubuhnya menurun.
'Kamu tidak perlu mencari alasan untuk pulang,' kata Andrew. 'Kalau lelah, katakan saja.'
'Aku tahu. Aku hanya berharap tidak ada yang menafsirkan kepergianku sebagai sikap tidak sopan.'
'Orang yang memahami acara akan tahu kamu sudah menjalankan tugasmu. Yang lain bukan tanggung jawabmu.'
Evelyn mengangguk. Ia meletakkan ponsel di meja dan mencoba tidur lebih awal. Gala masih dua hari lagi. Ia ingin datang dengan pikiran jernih dan memperhatikan apa yang terjadi tanpa menyusun kesimpulan lebih dulu.