Pagi berikutnya, Evelyn masuk kantor dan melihat map pengalihan saham sudah tidak ada di tangan Daniel. Ia sempat berhenti di depan ruangannya, menunggu Edwin mengabari apakah ada perkembangan log. Belum ada pesan baru. Pemeriksaan masih berjalan, dan Evelyn tidak akan memaksanya selesai hanya karena ia ingin tahu.
Di meja, undangan gala tahunan Celeste Corporation menunggu untuk diperiksa. Acara itu akan digelar empat hari lagi di hotel tempat perusahaan biasanya mengadakan pertemuan besar. Evelyn membaca daftar tamu, memastikan nama Marcus tercantum sebagai perwakilan Mile Group, lalu membubuhkan paraf pada lembar persetujuan anggaran acara.
Daniel masuk beberapa menit kemudian.
'Kamu sudah melihat daftar tamu?' tanyanya.
'Sudah. Marcus datang sebagai tamu perusahaan.'
'Kamu sendiri yang memastikan dia diundang?'
'Tim kerja sama mengusulkan perwakilan Mile Group. Aku hanya menyetujui daftar yang diajukan.'
Daniel menarik kursi. 'Kamu bisa saja meminta orang lain datang.'
'Kenapa aku harus menolak mitra kerja yang memang perlu hadir?'
Daniel menatap lembar anggaran di tangannya. 'Aku cuma bertanya.'
'Dan aku menjawab.'
Ia mengembalikan daftar itu ke meja. Evelyn tidak menunjukkan bahwa pertanyaan Daniel mengganggunya. Gala adalah acara perusahaan, bukan kesempatan untuk menguji siapa yang lebih berhak berada di sampingnya.
Emma datang membawa rancangan susunan acara dan berhenti ketika melihat Daniel. 'Aku sudah mengirim revisi daftar meja. Kennedi meminta beberapa nama dipindahkan dekat panggung.'
Evelyn mengambil kertas dari tangan Emma. 'Tunjukkan perubahan yang diminta.'
Emma menunjuk baris-barisnya. Ia menempatkan Andrew di meja utama, Daniel di sisi kanan, dan Evelyn di sisi kiri. Nama Marcus tercantum di meja yang sama dengan perwakilan mitra perusahaan lain.
'Susunan ini masuk akal,' kata Evelyn. 'Kirimkan versi final setelah Kennedi menyetujuinya.'
Daniel memeriksa daftar. 'Kenapa meja Marcus di dekat meja utama?'
'Karena Mile Group mitra strategis dan Marcus CEO-nya,' jawab Emma. 'Kennedi yang meminta posisi meja mitra di sana, bukan di meja keluarga.'
Daniel meletakkan kertas. 'Aku tidak bilang dia tidak boleh duduk di sana.'
'Kalau begitu, tidak ada yang perlu diubah,' kata Evelyn. 'Acara ini tentang perusahaan. Kita tidak perlu membuat kursi menjadi persoalan pribadi.'
Emma mengangguk dan membawa salinan itu kembali ke mejanya. Daniel mengikuti dengan pandangan, lalu kembali menatap Evelyn.
'Kamu akan datang bersamaku?' tanyanya.
'Kita bisa berangkat dari kantor bersama kalau jadwalnya cocok.'
'Aku tidak mau kamu pergi lebih awal seperti kemarin.'
'Kemarin aku pulang setelah jam kerja. Gala masih empat hari lagi.'
Daniel tersenyum kaku. 'Maksudku, aku ingin kita terlihat seperti pasangan yang baik di depan tamu.'
'Kita bisa bersikap sopan dan profesional. Itu tidak perlu dibuat-buat.'
Daniel menghela napas. 'Kamu membuat hal sederhana jadi sulit.'
'Aku hanya tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum kupastikan.'
***
Siang itu, Andrew meminta Evelyn datang ke ruang kerjanya untuk memeriksa sambutan pembukaan. Ia membaca naskah yang sudah disiapkan tim komunikasi, lalu mencoret satu kalimat yang menurutnya terlalu panjang.
'Ayah ingin menyebut seluruh jajaran dewan?' tanya Evelyn.
'Cukup sebut perusahaan dan para tamu. Ayah tidak ingin sambutan menjadi daftar nama.'
Evelyn tersenyum. 'Kennedi mungkin setuju. Dia tidak suka pidato yang berputar-putar.'
Andrew meletakkan pena. 'Kamu sudah siap untuk gala?'
'Aku sedang menyiapkan.'
'Maksud Ayah, kamu siap bertemu Daniel dan Marcus di ruangan yang sama?'
Evelyn diam sebentar. 'Aku bisa menghadapinya. Aku tidak akan menghindari salah satu dari mereka.'
'Kamu tidak harus memilih sekarang.'
'Aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin pura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.'
Andrew menatap putrinya dengan lembut. 'Bersikaplah sesuai yang kamu rasa benar. Kalau kamu lelah, pulanglah. Jangan bertahan hanya demi foto atau penilaian orang.'
Evelyn menyentuh naskah sambutan. 'Aku akan mengingatnya.'
Sebelum keluar, ia memeriksa lagi daftar tamu yang diletakkan Andrew di meja. Marcus akan hadir karena kerja sama, Daniel sebagai tunangannya, dan Emma sebagai bagian dari tim penyelenggara. Empat hari lagi, mereka akan berada di tempat yang sama. Evelyn tidak perlu mengubah susunan acara. Ia hanya perlu memperhatikan apa yang mereka lakukan ketika mengira ia tidak melihat.
Dalam perjalanan kembali ke ruangannya, Evelyn berpapasan dengan Kennedi yang sedang memeriksa daftar kebutuhan acara. Kennedi menyerahkan satu lembar anggaran tambahan.
'Hotel meminta kepastian jumlah kamar untuk tamu perusahaan,' katanya. 'Mereka menyediakan beberapa ruang istirahat di lantai atas.'
Evelyn membaca rincian itu. 'Pastikan pemesanan tercatat atas nama panitia. Kita tidak perlu mencantumkan tamu tertentu sebelum ada permintaan.'
'Aku juga berpikir begitu. Emma bertanya tadi apakah kamar bisa diakses tanpa melewati ballroom.'
Evelyn mengangkat pandangan. 'Apa jawabmu?'
'Aku bilang aksesnya memakai kartu hotel dan koordinator akan menyimpan daftar pengguna. Mungkin dia hanya memastikan keperluan teknis.'
'Mungkin. Tetap gunakan prosedur yang sama untuk semua orang.'
Kennedi mengangguk. Ia tidak menambahkan dugaan tentang pertanyaan Emma. Evelyn pun tidak ingin menjadikan satu pertanyaan sebagai bukti apa pun. Ia meminta Kennedi mengirim jadwal akses kepada tim acara dan menutup salinan untuk umum.
Di ruangannya, Evelyn membuka kalender dan memblokir waktu sebelum gala untuk meninjau materi kerja sama dengan Marcus. Ia sengaja menempatkannya sebagai agenda resmi, bersama Kennedi dan satu anggota tim keuangan. Pertemuan itu harus transparan, agar tidak ada percakapan yang kelak dipelintir Daniel sebagai pertemuan rahasia.
Tak lama kemudian, Daniel mengirim pesan bahwa ia ingin membahas posisi tempat duduk lagi. Evelyn membalas bahwa susunan telah disetujui Kennedi dan tidak ada alasan operasional untuk mengubahnya. Ia tidak menambahkan komentar pribadi.
Sore menjelang, Edwin menelepon. Hasil pemeriksaan log masih belum tersedia, dan ia belum menemukan alasan untuk mempercepat permohonan.
'Baik. Jangan kaitkan permintaan itu dengan gala,' kata Evelyn. 'Kita tunggu sampai ada jawaban resmi.'
Setelah panggilan berakhir, ia memeriksa ulang agenda gala dan memastikan setiap pekerjaan memiliki penanggung jawab. Ia menyadari dirinya mulai menghubungkan banyak hal dengan kamar hotel dan perilaku Daniel. Ia memaksa diri kembali pada fakta: ada agenda, ada ruang istirahat, dan ada pertanyaan yang belum terjawab. Empat hari lagi, ia akan berada di sana. Sampai saat itu, ia tidak akan membuat keputusan berdasarkan kecemasan.