Edwin menemui Evelyn setelah rapat pagi. Ia membawa tablet, tetapi tidak membuka dokumen di lorong. Mereka masuk ke ruang kerja Evelyn dan menutup pintu.
'Permintaan pemeriksaan log sudah diterima,' katanya. 'Bagian teknologi informasi sedang menyiapkan salinan riwayat akses yang relevan. Mereka belum memberi hasil.'
'Apakah mereka tahu dokumen ini menyangkut sahamku?'
'Mereka tahu nomor dan kategori dokumennya. Saya tidak menyebut nama orang yang menyerahkan berkas kepada Anda.'
Evelyn mengangguk. 'Bagus. Aku tidak ingin pemeriksaan ini tampak seperti serangan kepada Daniel.'
'Saya juga menyimpan salinan foto dalam folder terlindungi. Berkas asli tetap berada dalam map yang sama.'
'Apakah ada yang melihat Bapak memotretnya?'
'Tidak. Saya datang sebelum sebagian besar staf tiba. Saya tidak membawa dokumen keluar dari tempat pemeriksaan, dan hanya Evelyn yang hadir bersama saya.'
Evelyn memandang map di laci. 'Kalau ada pertanyaan tentang berkas itu, kita jawab bahwa aku meminta pemeriksaan sebelum tanda tangan. Itu benar.'
'Saya akan mencatat instruksi tersebut.'
***
Beberapa jam kemudian, Daniel menelepon dari ruangannya. Evelyn menjawab setelah menutup dokumen yang sedang dibacanya.
'Kamu sudah mengirim formulir itu ke tim legal?' tanyanya.
'Aku mengajukan pemeriksaan sebelum menandatangani.'
'Kenapa kamu harus melibatkan mereka? Aku sudah bilang ini hanya rancangan.'
'Karena lembar itu mencantumkan pengalihan saham. Aku tidak akan menandatangani sesuatu yang belum kupahami.'
'Kamu bisa bicara denganku dulu.'
'Aku sudah bicara. Kamu tidak menjelaskan dasar dokumennya.'
Daniel terdiam. 'Aku tidak punya semua detailnya. Bagian administrasi yang menyiapkannya.'
'Kalau begitu, pemeriksaan akan membantu kita memahami.'
'Kamu terdengar seolah tidak percaya padaku.'
'Aku percaya pada proses yang melindungi kedua pihak.'
'Ini membuatku terlihat seperti sedang mengambil sesuatu darimu.'
'Aku tidak mengatakan itu. Aku bahkan belum tahu kenapa formulir itu dibuat.'
Daniel menghela napas keras. 'Kamu bisa saja memberi tahu aku sebelum mengirim permintaan.'
'Aku tidak menuduhmu. Aku hanya meminta penjelasan resmi tentang dokumen yang memindahkan saham.'
'Baik. Kalau itu yang kamu mau.'
Ia memutus panggilan tanpa menunggu jawaban. Evelyn menaruh ponsel dan menulis waktu percakapan di buku catatannya. Ia tidak mencatat bahwa Daniel tampak bersalah; ia hanya menulis bahwa ia menyatakan bagian administrasi yang menyiapkan formulir dan belum memberi penjelasan rinci.
Menjelang sore, ia bertemu Emma di dekat ruang arsip. Emma membawa beberapa map CSR dan berhenti ketika melihat Evelyn.
'Kamu belum pulang?' tanya Emma.
'Sebentar lagi.'
'Daniel kelihatan kesal sejak pagi. Kalian bertengkar lagi?'
'Kami membicarakan dokumen pekerjaan.'
Emma mengerutkan kening. 'Apa aku perlu tahu sesuatu?'
'Tidak. Kalau ada pekerjaan yang berkaitan denganmu, aku akan memberi tahu lewat jalur resmi.'
Emma mengangguk, tetapi tetap memandang Evelyn. 'Aku cuma ingin membantu.'
'Terima kasih. Untuk sekarang, fokus pada laporan CSR-mu.'
Evelyn melewati Emma tanpa menambah penjelasan. Ia tidak mau membawa Emma masuk ke pemeriksaan dokumen sebelum ada alasan. Semua yang ia lakukan harus bisa dipertanggungjawabkan.
Di lift, ponselnya bergetar. Edwin mengirim kabar bahwa log belum tersedia, tetapi ia akan memberi tahu segera setelah pemeriksaan selesai. Evelyn membalas agar ia tidak mempercepat proses dengan cara yang tidak resmi.
Ia membaca kembali pesan itu sebelum menyimpan ponsel. Belum ada hasil berarti belum ada jawaban. Evelyn tidak akan mengisi kekosongan itu dengan dugaan. Saat lift terbuka, ia melihat Daniel berdiri di lorong. Ia menyapanya dengan anggukan, dan Daniel membalas singkat.
'Kamu masih memegang formulir itu?' tanyanya.
'Iya. Aku sedang menunggu pemeriksaan.'
'Kamu seharusnya tidak membuat seluruh kantor sibuk hanya karena satu berkas.'
'Aku tidak meminta siapa pun menghentikan pekerjaan. Aku hanya mengajukan pemeriksaan dokumen yang menyangkut saham.'
Daniel menatapnya, lalu melirik Edwin yang berjalan beberapa langkah di belakang. 'Kamu bahkan melibatkan Pak Edwin.'
'Beliau membantu urusan administrasi dan pencatatan.'
Edwin tidak ikut menyela. Ia hanya mengangguk sopan kepada Daniel dan melanjutkan langkah. Evelyn tahu Daniel memperhatikan kehadiran Edwin, tetapi ia tidak akan menjelaskan lebih jauh di lorong kantor.
'Kita bicara nanti,' kata Daniel.
'Kalau ada hal yang perlu dibicarakan, kita bisa bertemu di ruanganku.'
Daniel pergi ke arah ruang Emma. Evelyn menunggu hingga ia masuk, lalu naik ke lantainya sendiri. Ia tidak mengirim pesan untuk meminta maaf. Ia hanya berpegang pada alasan yang benar.
Evelyn kembali ke ruangannya hanya untuk mengambil tas dan memastikan laci terkunci. Ia tidak membuka percakapan baru dengan Daniel. Penjelasan tertulis dari administrasi harus ditunggu, bukan digantikan perdebatan yang berulang di lorong.
Ia menyimpan catatan panggilan bersama nomor permohonan, bukan di dalam map asli. Setiap langkah memiliki tempatnya sendiri. Dengan begitu, jika ada yang bertanya nanti, ia bisa menunjukkan kapan dokumen diterima, kapan diperiksa, dan kapan permintaan log diajukan.
Ia memeriksa nomor formulir sekali lagi sebelum mengunci laci. Angkanya sama dengan yang dikirim Edwin kepada bagian terkait. Sekarang ia hanya perlu menunggu hasilnya tanpa mencoba mempercepat proses dengan cara yang kelak sulit dipertanggungjawabkan.
Ia menandai tanggal hari itu pada kalendernya, lalu bersiap meninggalkan kantor setelah memastikan semua dokumen tersimpan.
Sebelum benar-benar meninggalkan kantor, Evelyn menerima konfirmasi tindak lanjut dari Edwin. Pihak teknologi informasi akan mempertahankan file yang menjadi asal cetakan, bukan hanya daftar orang yang mempunyai izin membuka folder. Mereka belum memberi kesimpulan tentang tanda tangan atau pembuatnya. Evelyn membaca batas pekerjaan itu sebelum membalas setuju.
Ia meminta satu hal dicatat: dokumen yang sedang ditinjau tidak boleh diganti dengan versi baru tanpa menyimpan versi yang diterima. Jika administrasi hendak memperbaiki kesalahan penempatan lampiran, perbaikannya harus bisa dibedakan dari naskah sebelumnya. Permintaan itu tidak menghalangi mereka bekerja; ia hanya menolak kehilangan asal pertanyaannya. Edwin mengonfirmasi penerimaan, dan Evelyn menyimpan jawaban tersebut bersama nomor permohonan. Kemudian ia pulang, membawa tasnya sambil membiarkan berkas asli tetap terkunci di kantor. Untuk malam itu, ia sudah mempunyai langkah lanjutan yang dapat ditunggu, bukan alasan untuk terus berdebat dengan Daniel.