Keesokan harinya, Evelyn menyusun ulang berkas rutin yang dibawa Daniel. Ia memisahkan salinan kerja formulir pengalihan dari catatan pribadinya. Urutan lembar asli dalam map terakhir yang ditahannya sejak Selasa tetap utuh; map-map rutin lain sudah dibawa Daniel pada hari penyerahan. Salinan foto Edwin sudah tersimpan, sementara log akses masih menunggu.
Daniel datang menjelang siang.
'Aku mau mengambil berkas yang kemarin,' katanya.
Evelyn menunjuk map yang sudah disiapkan. 'Map terakhir ini masih menunggu pemeriksaan tim legal. Dokumen rutin lain sudah kaubawa ketika menyerahkannya.'
Daniel tidak mengambil map itu. 'Kamu sudah memutuskan tidak akan menandatanganinya?'
'Aku belum memutuskan apa pun. Aku menunggu penjelasan.'
'Berapa lama lagi?'
'Aku tidak tahu. Tim legal perlu memeriksa isi dan dasar dokumennya.'
'Kamu bisa membaca sendiri.'
'Aku sudah membaca. Aku tetap perlu memahami akibatnya sebelum menandatangani.'
Daniel menggeser map sedikit ke arahnya. 'Kita sudah bertunangan. Aku pikir kita bisa saling percaya.'
'Kepercayaan tidak mengharuskan salah satu dari kita menandatangani dokumen tanpa pemeriksaan.'
'Kamu pikir aku akan mengambil saham keluargamu?'
Evelyn menatapnya. 'Aku tidak bilang begitu. Aku bilang dokumen ini menyebut pengalihan saham, dan aku belum pernah menyetujuinya.'
Daniel menarik tangannya dari map. 'Kamu selalu kembali ke kalimat itu.'
'Karena itulah faktanya.'
Evelyn menatap map terakhir di meja. 'Aku akan mengabarkan waktu pengembaliannya. Salinan untuk pemeriksaan harus dipastikan lengkap lebih dahulu.'
Daniel tampak tidak puas, tetapi tidak mengambil map itu. 'Jangan lupa memberi kabar kalau legal sudah menjawab.'
'Aku akan memberi tahu.'
Ia pergi tanpa membawa map terakhir. Evelyn menunggu sampai pintu tertutup, lalu mengembalikan formulir saham ke map semula dan mengunci laci.
***
Evelyn menemui Andrew di ruang makan saat istirahat. Ia belum siap membuka semua hal, tetapi ia tidak ingin menyembunyikan bahwa ada dokumen saham yang perlu diperiksa.
'Ada masalah dengan berkas perusahaan?' tanya Andrew ketika melihat raut wajahnya.
'Ada formulir pengalihan saham di antara dokumen rutin. Aku belum menandatanganinya.'
Andrew meletakkan cangkirnya. 'Kamu tahu siapa yang menyiapkannya?'
'Daniel yang membawanya, tapi dia bilang bagian administrasi yang menyiapkan. Aku belum punya bukti lain.'
'Bagus kamu tidak langsung menuduh. Apa kamu sudah meminta pemeriksaan?'
'Sudah. Edwin memotret berkas dan meminta log akses lewat prosedur resmi. Hasilnya belum ada.'
Andrew memandangnya dengan serius. 'Jangan tanda tangani apa pun sampai kamu memahami akibatnya. Dan jangan biarkan hubungan pribadi membuatmu mengabaikan aturan perusahaan.'
'Aku juga tidak mau Ayah ikut campur sebelum kita tahu faktanya.'
'Ayah tidak akan menghubungi Daniel. Tapi kalau kamu memerlukan bantuan, katakan.'
'Terima kasih. Untuk sekarang aku hanya ingin menunggu hasil pemeriksaan.'
Andrew mengangguk. 'Kamu melakukan hal yang benar.'
Evelyn menghela napas. Dukungan ayahnya membuatnya merasa tidak sendirian, tetapi juga mengingatkannya bahwa masalah ini bisa berdampak lebih besar daripada pertengkaran antara dirinya dan Daniel.
Sore hari, Edwin mengabari bahwa permintaan log sedang diproses. Ia tidak memberikan tanggal pasti, hanya mengatakan pihak terkait akan mengirimkan catatan setelah pemeriksaan selesai.
'Aku tidak mau menekan mereka,' kata Evelyn. 'Pastikan saja permintaan kita tercatat.'
'Sudah. Saya akan menyimpan nomor tiket pemeriksaan.'
'Terima kasih.'
Ketika ia menutup panggilan, Daniel mengirim pesan: 'Aku tidak suka kamu membuat masalah kecil jadi urusan legal.' Evelyn membaca pesan itu dan mengetik, 'Aku hanya menunggu pemeriksaan dokumen yang menyangkut saham. Aku belum menuduh siapa pun.' Ia mengirimnya tanpa tambahan kata-kata.
Daniel tidak membalas. Evelyn menaruh ponsel dan menyadari bahwa ia akan segera harus mengembalikan berkas itu. Ia tidak bisa menahannya terus-menerus tanpa alasan resmi.
Evelyn menyalin nomor permohonan dan menyimpan balasan dari tim legal di folder yang sama. Ia tidak membagikan salinannya kepada siapa pun yang tidak terlibat dalam pemeriksaan. Baginya, keteraturan ini penting agar tidak ada orang yang mengubah pertanyaan sederhana menjadi rumor.
Saat keluar dari ruangannya, ia berpapasan dengan Emma. Emma membawa map CSR. Ia mengatakan Daniel telah bercerita tentang formulir yang ditahan, lalu menanyakan apakah pemeriksaannya selesai.
'Belum,' jawab Evelyn. 'Aku masih menunggu penjelasan legal.'
'Apa Daniel yang meminta kamu menandatanganinya?'
'Dia menyerahkan berkas rutin. Aku menemukan formulir itu di dalamnya.'
Emma memperlambat langkah. 'Kamu pikir Daniel sengaja menyelipkannya?'
'Aku tidak sedang menyimpulkan apa pun. Aku hanya tahu dokumen itu perlu dijelaskan.'
'Kalau kamu menuduhnya, hubungan kalian bisa benar-benar rusak.'
'Aku belum menuduhnya. Aku meminta pemeriksaan. Itu berbeda.'
Emma menunduk. 'Aku cuma tidak ingin kalian saling menyakiti.'
'Kalau begitu, jangan menambah dugaan. Biarkan pemeriksaan berjalan.'
Emma mengangguk pelan dan kembali ke ruangannya. Evelyn menyadari bahwa kabar tentang formulir itu mungkin akan sampai ke telinga banyak orang, tetapi ia tidak akan memperluas percakapan. Ia tidak memberi Emma salinan, nomor dokumen, atau detail lainnya.
Sore itu Daniel menghampirinya lagi di lorong. 'Aku sudah menanyakan ke bagian administrasi,' katanya. 'Mereka bilang formulir itu dimasukkan karena pembaruan data setelah rencana pernikahan.'
'Siapa yang meminta mereka menyiapkannya?'
Daniel berhenti sejenak. 'Mereka belum menjawab. Katanya perlu memeriksa arsip permintaan.'
'Kalau begitu, kita tunggu jawaban tertulisnya.'
'Kamu benar-benar tidak bisa menerima penjelasan lisan?'
'Aku menerima bahwa kamu menyampaikan apa yang mereka katakan. Tapi untuk dokumen saham, aku tetap membutuhkan dasar tertulis.'
Daniel mengusap pelipis. 'Aku merasa kamu sengaja membuatku menunggu.'
'Aku tidak punya kuasa mempercepat pemeriksaan mereka. Aku juga tidak menahan berkas untuk menghukummu.'
'Aku tidak bilang begitu.'
'Bagus. Karena itulah yang sedang kulakukan: menunggu pemeriksaan, bukan menuduh.'
Daniel menatapnya, lalu akhirnya mengangguk. 'Aku akan minta mereka mengirim penjelasan.'
'Terima kasih.'
Ia berjalan pergi dengan bahu kaku. Evelyn tidak mengejarnya. Ia sudah menyampaikan apa yang perlu dilakukan dan tidak akan mengulanginya sampai menjadi pertengkaran.
Ia mengirimkan rencana waktu pengembalian kepada Edwin untuk disimpan bersama dokumentasi foto. Edwin mengonfirmasi bahwa salinan sudah diterima. Tidak ada komentar tentang Daniel, hanya tanda terima dan waktu penyimpanan. Evelyn merasa lega karena pembicaraan mereka tetap berada di jalur yang seharusnya.
Ia tidak mengirim pesan lain kepada Daniel malam itu. Penjelasan tertulis dari bagian administrasi belum datang, dan ia tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan mengulang alasan yang sama. Besok, jika ada pembaruan, ia akan menyampaikannya berdasarkan fakta.