Evelyn membawa kembali map dari laci terkunci di rumah, menaruhnya dalam tas kerjanya selama perjalanan, lalu tiba lebih awal di kantor. Ia langsung menuju ruang kerja kecil tempat Edwin sudah menyiapkan pemeriksaan. Edwin sudah menunggu di lorong, membawa perangkat pemindai portabel dan sarung tangan tipis untuk menangani dokumen.
'Berkasnya masih seperti kemarin?' tanyanya.
'Aku tidak membukanya lagi.'
Evelyn membuka kunci dan mengeluarkan map. Edwin memeriksa sampul, urutan halaman, dan kondisi fisiknya sebelum mulai memotret setiap lembar. Ia tidak menyentuh bagian tanda tangan lebih dari yang diperlukan.
'Kita perlu menyimpan salinan persis seperti kondisi saat diterima,' katanya. 'Saya juga akan mencatat waktu dan siapa yang hadir saat pemotretan.'
'Silakan. Aku ingin semua prosedurnya bisa dijelaskan kalau nanti ditanya.'
Edwin memotret halaman demi halaman, termasuk sampul map dan lembar pengalihan saham. Ia memastikan setiap gambar terbaca, lalu menyimpan salinan pada perangkat yang hanya ia gunakan untuk pekerjaan ini.
'Apakah tanda tangan digitalnya bisa diperiksa dari gambar?' tanya Evelyn.
'Belum. Gambar hanya menunjukkan tampilan di halaman. Untuk memeriksa sumber tanda tangan, kita perlu berkas digital asli dan log aksesnya.'
'Jadi untuk sekarang kita hanya tahu ada formulir yang mencantumkan namaku.'
'Betul. Kita belum tahu siapa yang membuatnya atau apakah dokumen ini pernah diproses.'
Evelyn menarik napas. 'Aku tidak ingin menuduh Daniel sebelum ada bukti.'
'Kita tidak perlu menuduh siapa pun. Kita cukup mengamankan salinan dan meminta pemeriksaan sesuai prosedur.'
Setelah pemotretan selesai, Edwin mengembalikan semua halaman ke posisi semula. Ia membandingkan urutannya dengan catatan yang dibuat Evelyn, lalu menutup map.
'Saya akan mengirim permintaan tambahan untuk melihat log dokumen ini secara khusus,' katanya. 'Tetap melalui jalur resmi.'
'Apakah nama Daniel akan terlihat dalam permohonan?'
'Permohonan akan menyebut nomor dokumen, bukan menuduh pengguna tertentu. Bagian teknologi informasi yang akan memeriksa riwayatnya.'
'Baik. Jangan hubungi Daniel tentang ini.'
Edwin mengangguk. 'Saya tidak akan.'
***
Evelyn kembali ke ruangannya dengan map itu. Ia membuka halaman lain, membaca istilah dan jumlah saham yang tercantum. Ia tidak mengerti seluruh konsekuensi hukumnya, tetapi jumlah yang disebutkan jauh lebih besar daripada yang bisa disebut perubahan administratif biasa.
Daniel muncul saat ia sedang mencatat nomor dokumen.
'Kamu sudah selesai membacanya?' tanyanya.
Evelyn menutup map. 'Belum.'
'Aku butuh kepastian hari ini.'
'Aku sudah bilang akan memeriksanya.'
'Tidak ada alasan untuk menahan semua berkas. Kamu bisa tanda tangan bagian lain dan membiarkan formulir itu untuk nanti.'
'Aku tidak akan menandatangani dokumen apa pun sebelum memahami semuanya.'
Daniel memandang map di meja. 'Kamu memang sedang punya masalah denganku?'
'Ini bukan soal masalah pribadi. Ini dokumen saham.'
'Kita sudah membahas pengaturan setelah menikah.'
'Kita pernah membahas kemungkinan, bukan menyetujui formulir ini.'
Daniel merapatkan bibir. 'Aku pikir kamu percaya padaku.'
'Aku juga percaya bahwa kamu mengerti kenapa aku perlu membaca dokumen yang memindahkan saham atas namaku.'
'Aku tidak sedang memindahkan apa pun.'
'Kalau begitu, tidak masalah kalau aku menunggu penjelasan legal.'
Daniel menatapnya beberapa saat. 'Baik. Tapi jangan membuat semuanya jadi rumit.'
'Aku hanya membaca sebelum menandatangani. Itu bukan membuat rumit.'
Ia berdiri, membawa map tanpa membuka halaman saham lagi. Daniel tidak memaksanya, tetapi wajahnya menunjukkan ketidaksabaran. Evelyn menyimpan berkas dalam laci terkunci.
Siang itu, ia mengirim permintaan resmi agar dokumen saham diperiksa oleh bagian legal sebelum ada tanda tangan. Ia tidak menambahkan dugaan atau tuduhan. Ia hanya menulis bahwa formulir tersebut belum pernah ia tinjau secara menyeluruh.
Ketika konfirmasi permintaan diterima, Evelyn meneruskannya kepada Edwin. Ia belum mendapatkan jawaban tentang log akses, tetapi setidaknya kini ada jejak resmi bahwa ia menahan proses penandatanganan karena ingin memahami dokumen.
Edwin kembali menemuinya siang itu dengan catatan pemotretan. Ia menambahkan keterangannya: jam dokumen diterima, kondisi map, urutan halaman, dan waktu setiap foto diambil. Evelyn memeriksa keterangannya.
'Apa perlu aku menandatangani catatan penerimaan ini?' tanyanya.
'Tidak perlu. Saya akan menandatangani catatan teknis sebagai orang yang mengambil gambar. Anda bisa menyimpan salinannya untuk arsip perusahaan.'
'Pastikan salinannya tidak masuk ke folder umum.'
'Saya simpan di folder terbatas sesuai kebijakan. Aksesnya hanya untuk saya dan pihak yang nanti ditunjuk secara resmi.'
'Jangan cantumkan dugaan apa pun.'
'Saya hanya menuliskan apa yang terlihat.'
Evelyn membaca ulang baris catatan tersebut. Tidak ada kata yang menyebut pemalsuan, pengkhianatan, atau nama Daniel sebagai pelaku. Hanya dokumen yang diterima, kondisinya, dan langkah pemeriksaan yang dilakukan.
'Begini sudah cukup,' katanya.
Edwin merapikan perangkatnya, tetapi tetap tinggal sampai nomor formulir dan permohonan tambahan dicocokkan. 'Kalau tim meminta alasan pemeriksaan, saya akan merujuk ke permohonan resmi peninjauan akses.'
'Bagus. Aku tidak ingin berkas ini dibicarakan di luar jalur yang tepat.'
Ia menyalin nomor formulir dan tanggal yang tercetak pada bagian atas ke catatan pribadinya. Setelah itu ia memeriksa apakah ada kolom yang terisi dengan tulisan tangan. Tidak ada. Semua bagian tampak diketik, termasuk namanya pada ruang persetujuan.
'Kamu mencari apa?' tanya Edwin dari pintu.
'Tanggal pembuatan dan nomor dokumen. Aku ingin memastikan permohonan log mencakup berkas yang tepat.'
Edwin mencatat nomor itu. 'Saya kirim pembaruan ke pihak yang memeriksa.'
'Jangan menyampaikan bahwa aku mencurigai tanda tangan. Katakan saja ada pertanyaan tentang dasar dan riwayat dokumen.'
'Saya akan memakai kalimat itu.'
Evelyn menutup map. Ia tahu pertanyaan yang diajukan dengan cara netral lebih sulit dipelintir menjadi serangan pribadi. Ia tidak ingin Daniel bisa mengalihkan pembicaraan dari isi dokumen kepada sikapnya.
Edwin mengulang nomor formulir itu untuk memastikan mereka mencatat nomor yang sama. Evelyn memeriksanya pada halaman depan dan mengangguk. Ia tidak ingin satu angka yang keliru membuat permohonan log mengarah ke dokumen lain.
Ia menyimpan catatan nomor dokumen di laci, terpisah dari berkas asli. Saat Edwin pergi, Evelyn memeriksa kembali kunci ruangannya dan memastikan map tidak tertinggal di meja. Tidak ada yang boleh mengaksesnya tanpa sepengetahuannya.
Ia mengirim pesan kepada Edwin bahwa lemari sudah dikunci dan berkas tidak akan dipindahkan sampai ada arahan berikutnya. Edwin membalas bahwa ia menerima catatan itu dan akan menunggu hasil permohonan resmi.