Pagi berikutnya, Evelyn membuka surel dari Edwin sebelum rapat pertama dimulai. Permohonan pemeriksaan hak akses sudah diterima melalui jalur resmi, tetapi belum ada hasil. Ia membalas singkat agar Edwin menunggu prosesnya dan tidak menarik kesimpulan dari daftar izin saja.
Belum lama ia menyimpan ponsel, Daniel datang ke ruangannya membawa tumpukan map.
'Aku perlu tanda tanganmu di beberapa berkas rutin,' katanya. 'Sebagian untuk administrasi triwulan, sebagian lagi pembaruan data pemegang saham.'
Evelyn menatap map paling atas. 'Kenapa berkas pemegang saham masuk ke meja kerjaku sekarang?'
'Bagian legal meminta dokumen lama dirapikan. Ini hanya pembaruan administrasi. Tidak ada perubahan besar.'
'Kalau begitu, aku akan membacanya dulu.'
Daniel tersenyum kecil. 'Tentu. Tapi semuanya sudah diperiksa. Kamu tinggal menandatangani halaman yang ditandai.'
'Aku tetap perlu memeriksa isi setiap halaman.'
Ia menarik kursi dan mulai membuka map satu per satu. Daniel berdiri di samping meja, sesekali menjelaskan bagian yang menurutnya penting. Ada formulir pembaruan alamat korespondensi, laporan ringkas kepemilikan, dan surat konfirmasi untuk arsip perusahaan. Semua tampak wajar sampai Evelyn membuka map terakhir.
Di tengah dokumen rutin itu terselip selembar formulir pengalihan saham. Namanya tercetak pada kolom pemilik saham saat ini, sementara kolom penerima mencantumkan Daniel Lewis. Di bagian bawah ada ruang tanda tangan atas namanya.
Jantung Evelyn berdetak lebih cepat. Ia menahan wajahnya agar tetap tenang.
'Ini apa?' tanyanya.
Daniel melihat halaman yang ditunjuknya. 'Oh, itu formulir lama yang perlu diperbarui. Bagian administrasi menyatukannya dengan dokumen lain supaya lebih praktis.'
'Kenapa ada pengalihan saham?'
'Itu bukan pengalihan final. Hanya rancangan untuk menyesuaikan pencatatan setelah kita menikah. Nanti tim legal akan menjelaskan detailnya.'
'Aku belum pernah menyetujui rancangan ini.'
Daniel mengangkat kedua tangan. 'Kamu tidak perlu khawatir. Tidak ada yang bisa berlaku tanpa tanda tanganmu. Aku hanya meminta kamu meninjau semua berkas hari ini.'
Evelyn membaca judul dan nomor dokumen. Ada kolom yang menyebut pemindahan sebagian besar saham kepada Daniel. Itu bukan sekadar pembaruan alamat atau pencatatan setelah pernikahan.
'Aku tidak akan menandatangani ini hari ini,' katanya.
Senyum Daniel memudar. 'Kenapa?'
'Karena aku belum tahu dasar dan akibatnya. Aku perlu membaca berkasnya dengan teliti.'
'Aku sudah bilang ini belum final.'
'Justru karena belum final, seharusnya tidak ada alasan untuk mendesakku menandatangani.'
Daniel menghela napas, lalu merapikan map yang terbuka. 'Baik. Baca dulu. Tapi jangan terlalu lama. Bagian administrasi membutuhkan jawaban.'
'Aku akan mengembalikannya setelah pemeriksaan.'
Ia tidak menyebut Edwin atau pemeriksaan akses. Daniel mengumpulkan map lain, namun Evelyn menahan map terakhir di tangannya.
'Yang ini tetap bersamaku sampai besok,' katanya. 'Aku perlu membandingkannya dengan dokumen sebelumnya.'
Daniel tampak hendak membantah, tetapi akhirnya mengangguk. 'Jangan sampai hilang.'
'Aku tahu cara menjaga dokumen perusahaan.'
Daniel keluar. Evelyn menunggu sampai langkahnya menjauh, lalu memeriksa kembali lembar pengalihan itu. Pada lampirannya ada gambar tanda tangan menyerupai miliknya, sedangkan kolom persetujuan pada formulir utama masih kosong. Evelyn tidak pernah menyetujui penempatan gambar itu. Ia perlu membedakan tampilan pada cetakan dari persetujuan elektronik yang benar-benar dapat diperiksa.
***
Evelyn mengunci pintu ruangannya dan menelepon Edwin.
'Pak Edwin, Daniel baru saja membawa berkas rutin. Ada satu formulir pengalihan saham yang mencantumkan saya sebagai pihak yang menyerahkan saham kepadanya.'
'Apakah Anda menandatanganinya?'
'Tidak. Saya juga tidak ingat pernah menyetujui dokumen itu.'
Edwin terdiam sejenak. 'Jangan menulis apa pun di formulir itu dan jangan mengubah susunannya. Saya akan datang setelah jam kerja untuk memotret seluruh berkas.'
'Tolong siapkan cara yang tidak merusak dokumen asli. Saya akan menahannya semalam dengan alasan pemeriksaan biasa.'
'Saya mengerti. Saya juga akan meminta bagian teknologi informasi menelusuri log akses melalui permohonan resmi yang sudah diajukan.'
'Jangan mengambil kesimpulan sebelum lognya tersedia.'
'Tentu. Saya hanya akan mencatat apa yang bisa dibuktikan.'
Evelyn meletakkan telepon. Ia menyimpan map itu di laci berkunci, terpisah dari dokumen lain. Ia tidak pernah memberikan persetujuan atas formulir itu dan memastikan tidak menambahkan coretan pada cetakannya. Berkas itu bisa menjadi bukti penting, tetapi hanya jika ditangani dengan benar.
Sore harinya, ia membawa map tersebut pulang dalam tas kerja yang terkunci. Ia belum memberi tahu Andrew. Ia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa yang ia lihat memang lembar pengalihan dan bukan halaman yang salah ditempatkan.
Di rumah, Bu Rini menyambutnya dan menawarkan makan malam. Evelyn menjawab bahwa ia akan makan setelah menyelesaikan satu dokumen. Ia membawa tas ke ruang kerja kecil, menyimpan map dalam laci terkunci, lalu mengirim pesan kepada Edwin bahwa berkas sudah aman.
Balasan Edwin datang: 'Jadwal saya sore ini berubah. Besok pagi kita periksa bersama di kantor, sebelum staf lain tiba. Tolong bawa kembali map dalam keadaan yang sama. Jangan membuka atau menandatangani apa pun malam ini.' Evelyn membaca pesan itu dan menaruh ponsel. Sebelum pulang tadi ia telah memotret formulir dan lampiran bergambar tanda tangan itu tanpa mengubah urutan halaman. Kini ia membuka gambar itu, tanpa menyentuh formulir fisik.
Dalam foto-foto itu terlihat nama Daniel, jumlah saham, dan gambar tanda tangan yang menyerupai miliknya. Evelyn mematikan layar. Ia belum tahu siapa yang membuat dokumen itu, tetapi kini ia tahu bahwa berkas tersebut tidak boleh kembali begitu saja ke meja Daniel.
Ia duduk diam beberapa menit, mencoba mengingat apakah pernah menyetujui perubahan kepemilikan apa pun. Tidak ada. Mereka memang pernah membicarakan masa depan setelah menikah, tetapi tidak pernah membahas pemindahan saham dengan jumlah sebesar itu.
Bu Rini mengetuk pintu. 'Nona, makan malamnya sudah siap. Apa perlu saya bawakan ke sini?'
Evelyn mengunci laci. 'Tidak usah, Bu Rini. Aku akan makan di ruang makan.'
'Anda kelihatan lelah.'
'Aku hanya banyak membaca berkas.'
Bu Rini melihat tas kerja yang diletakkan dekat kursi. 'Ada dokumen penting?'
'Ada. Tapi semuanya aman.'
'Kalau begitu, jangan lupa makan dulu. Berkasnya bisa menunggu sampai besok.'
Evelyn tersenyum kecil. 'Kamu benar. Aku akan datang sebentar lagi.'
Ia mematikan komputer, mengunci ruang kerja, lalu ikut makan malam bersama Andrew dan Bu Rini. Ia tidak membawa map itu ke meja makan. Ketika Andrew bertanya tentang harinya, Evelyn hanya berkata ada satu dokumen yang perlu ditinjau lebih teliti. Ia belum ingin membuat ayahnya khawatir sebelum mengetahui apa yang sebenarnya ia pegang.