Senin pagi, empat hari setelah makan malam di Café Lune, Evelyn tiba di kantor dengan daftar agenda yang harus diselesaikan sebelum rapat sore. Ia menaruh tas, membuka surel, dan menemukan undangan pertemuan dari Marcus mengenai kerja sama perusahaan. Isinya formal, tanpa menyebut makan malam mereka. Evelyn meneruskan undangan itu ke bagian terkait agar jadwalnya tercatat secara resmi.
Daniel muncul tidak lama kemudian. Ia berhenti di depan meja Evelyn, matanya sempat tertuju pada undangan tersebut.
'Marcus mengirim jadwal?' tanyanya.
'Pertemuan kerja sama. Aku sudah meneruskannya ke tim.'
'Kamu akan bertemu dia lagi?'
'Dalam rapat kerja, iya.'
'Aku tidak bertanya soal rapat.'
Evelyn menutup layar laptop. 'Kalau kamu ingin tahu apakah kami sudah membuat rencana lain, jawabannya tidak. Kami makan malam sekali. Tidak ada janji lanjutan.'
Daniel menatapnya. 'Kamu bisa saja mengatakan kamu senang bersamanya.'
'Aku senang percakapan kami berjalan jujur. Itu berbeda dari membuat janji.'
'Kamu selalu punya perbedaan untuk menjelaskan semuanya sekarang.'
'Karena keadaan memang tidak sesederhana yang dulu kupikirkan.'
Daniel menarik kursi dan duduk tanpa diminta. 'Aku tidak ingin bersaing dengan Marcus.'
'Kalau begitu jangan jadikan hubungan kami pertandingan. Aku tidak sedang memilih pemenang hari ini.'
'Kamu tahu itu membuatku tidak tenang.'
'Aku tahu. Tapi rasa tidak tenangmu tidak bisa menjadi satu-satunya dasar keputusanku.'
Daniel menunduk, memainkan ujung lengan kemejanya. 'Apa kamu masih ingin mencoba memperbaiki hubungan ini?'
'Aku bersedia berbicara dan melihat apakah kita masih bisa saling percaya. Tapi aku tidak akan berpura-pura semuanya baik-baik saja.'
'Kamu akan memberi tahu kalau ada perubahan perasaan?'
'Iya. Aku juga berharap kamu melakukan hal yang sama.'
Daniel mengangguk, tetapi wajahnya belum tenang. 'Baik. Aku akan berusaha tidak menekanmu.'
'Itu akan membantu.'
Ia berdiri ketika ponselnya berdering. Sebelum pergi, Daniel berkata, 'Aku ada rapat dengan Emma.'
'Silakan.'
Daniel berjalan menuju ruang Emma. Evelyn melihatnya sampai pintu tertutup. Ia tidak mengejar, tidak mengirim pesan, dan tidak bertanya apa yang mereka bicarakan. Ia hanya menandai waktu rapat itu di kalender karena berkaitan dengan laporan CSR yang akan dibahas dewan.
***
Menjelang siang, Emma datang membawa catatan perubahan jadwal. Ia menjelaskan bahwa bagian operasional meminta penyesuaian tanggal pelaksanaan. Evelyn memeriksa dokumen dan memastikan permintaan itu memiliki persetujuan tertulis.
'Semua sudah ada di sini,' kata Emma. 'Aku juga mencatat siapa yang meminta perubahan.'
'Bagus. Kirimkan versi ini kepada Kennedi.'
Emma ragu sebentar. 'Daniel bilang kamu menjelaskan bahwa Marcus hanya mitra Mile Group.'
'Itu benar.'
'Apa kamu masih tertarik padanya?'
Evelyn mengembuskan napas. 'Aku tidak akan membicarakan perasaan yang belum kupahami sebagai fakta.'
'Daniel jadi makin bingung.'
'Dia harus bertanya kepadaku, bukan meminta kamu menerjemahkan sikapku.'
Emma mengangguk kecil. 'Aku tidak bermaksud membuat keadaan lebih buruk.'
'Kalau begitu, jangan lagi mengikuti aku. Dan jangan menyampaikan dugaan seolah kamu tahu apa yang terjadi di antara aku dan Marcus.'
Wajah Emma memerah. 'Aku sudah minta maaf.'
'Aku menerima permintaan maafmu. Tapi kepercayaan dibangun dari tindakan berikutnya.'
Emma menyimpan mapnya. 'Aku akan ingat.'
Evelyn menatapnya sebentar, kemudian kembali ke dokumen. Ia tidak ingin memutus hubungan mereka sepenuhnya. Namun ia juga tidak akan membiarkan kata 'saudara' menjadi alasan untuk melanggar batas.
Siang itu, Kennedi memanggil Evelyn untuk meninjau hasil proyek CSR. Ia menyampaikan bahwa lampiran Emma sudah lebih tertata dan meminta Evelyn memastikan laporan bulanan berikutnya mengikuti format yang sama. Evelyn menyetujui, lalu meminta agar seluruh permintaan perubahan disimpan dengan tanggal dan persetujuan yang jelas.
'Kamu semakin memperketat pencatatan,' kata Kennedi.
'Aku ingin setiap keputusan bisa ditelusuri.'
'Itu kebiasaan yang baik untuk perusahaan. Terutama saat banyak orang mulai mencampur urusan pribadi dengan kantor.'
Evelyn tidak bertanya siapa yang dimaksud. 'Saya akan menjaga agar pekerjaan saya tetap profesional.'
'Pastikan yang lain juga begitu.'
Kennedi menutup mapnya. 'Saya tidak menanyakan urusan pribadi Anda. Tapi bila ada hubungan yang bisa memengaruhi keputusan perusahaan, Anda harus memastikan proses persetujuannya transparan.'
'Saya mengerti. Pertemuan dengan Marcus akan tercatat sebagai pembahasan kerja sama, dan keputusan kontrak tetap melalui tim.'
'Bagus. Saya ingin memastikan dewan menilai dokumen, bukan kabar yang beredar di lorong.'
'Saya juga.'
Kennedi memberi anggukan pendek. 'Kalau begitu, kita tidak perlu membahasnya lagi. Kirimkan pembaruan jadwal sebelum rapat berikutnya.'
Evelyn mencatat pengingat itu. Ia tahu Kennedi tidak sedang mencampuri kehidupan cintanya. Ketua dewan itu hanya ingin memastikan perusahaan tidak menjadi bagian dari pertengkaran mereka. Evelyn menyetujui batas tersebut dan berjanji mengirimkan pembaruan hari itu juga.
***
Sore itu Daniel datang ke ruang Evelyn sekali lagi, kali ini membawa map kerja sama. 'Aku sudah memikirkan pembicaraan kita,' katanya.
'Apa kesimpulanmu?'
'Aku tidak akan memaksamu menjauhi Marcus, baik dalam urusan kerja maupun pribadi. Tapi aku ingin kamu ingat bahwa kita masih bertunangan.'
'Aku tahu.'
'Kalau kamu mulai menyukainya, aku ingin kamu memberitahuku sebelum semuanya terlambat.'
Evelyn menatapnya. 'Aku sudah bilang akan jujur. Tapi kamu juga harus menerima bahwa aku belum punya jawaban sekarang.'
Daniel menarik napas panjang. 'Aku akan mencoba.'
'Terima kasih.'
Ia meletakkan map di meja dan keluar. Evelyn membuka dokumen itu, memeriksa bahwa isinya hanya materi kerja sama, lalu menyimpan salinannya di folder resmi. Tidak ada yang mencurigakan di dalamnya. Ia tidak akan menjadikan nama Marcus sebagai tabir untuk menutupi urusan lain.
Saat kantor mulai sepi, Evelyn berdiri di dekat jendela. Empat hari terakhir telah mengubah cara mereka berbicara. Daniel mulai goyah, tetapi belum menunjukkan apakah ia akan memilih kejujuran atau kembali pada kebiasaan lamanya. Emma tampak lebih berhati-hati setelah ditegur. Marcus menghormati batas yang ia tetapkan.
Ia tidak tahu siapa yang akan membuat kesalahan berikutnya. Namun ketika pesan dari Edwin muncul bahwa peninjauan administrasi masih berjalan sesuai prosedur, Evelyn merasa sedikit lebih siap. Untuk sementara, ia menutup semua urusan di hari itu dan pulang tanpa mencari Daniel.
Pada akhir hari, persetujuan anggaran CSR yang telah dilengkapi Emma sejak Jumat dikirim melalui kanal resmi. Evelyn mencocokkan nomor versi dan menyimpan pemberitahuan itu. Persoalan lampiran tidak lagi dibiarkan menggantung; pekerjaan berikutnya adalah menjalankan kegiatan sesuai anggaran yang benar-benar disetujui.