Daniel meninggalkan ruangan Evelyn tanpa menyelesaikan percakapan. Sepanjang pagi ia tidak mengirim pesan lagi. Evelyn membiarkannya mengambil jarak, tetapi ia juga tidak membiarkan pembicaraan itu mengganggu pekerjaannya.
Menjelang makan siang, ia mengirim ringkasan hasil rapat kepada tim kerja sama Mile Group. Ia memastikan semua pembahasan tentang makan malam kemarin tetap terpisah dari urusan kontrak. Setelah itu ia meminta Emma mengirim catatan CSR yang sudah ditandatangani bagian operasional.
Emma datang membawa map. 'Aku sudah dapat tanda tangannya.'
'Terima kasih. Simpan salinannya di folder proyek.'
Emma meletakkan map, tetapi tidak segera pergi. 'Daniel masih kesal padaku.'
'Itu sesuatu yang perlu kamu bicarakan dengannya.'
'Kamu tidak akan membantuku menjelaskan?'
'Kamu sudah meminta maaf. Selanjutnya, beri dia ruang untuk merespons.'
Emma menunduk. 'Aku tidak ingin dia salah paham.'
'Kalau begitu, jangan melakukan sesuatu yang membuatnya punya alasan untuk salah paham.'
Emma memandang Evelyn, kali ini tanpa senyum. 'Kamu juga tidak ingin dia salah paham soal Marcus?'
'Aku sudah menjelaskan yang sebenarnya.'
'Tapi kamu masih akan bertemu dengannya lagi?'
'Aku belum tahu.'
Emma menyandarkan tangan di tepi meja. 'Kalau kamu tidak yakin, kenapa memberi harapan?'
'Aku tidak memberi harapan. Aku menerima satu ajakan makan malam dan bicara jujur. Aku tidak berjanji menjalin hubungan dengannya.'
'Kamu bicara seolah semua orang harus memahami keputusanmu.'
'Tidak. Aku hanya bertanggung jawab atas keputusanku sendiri. Kamu tidak harus menyukainya.'
Emma terdiam, kemudian mengangkat mapnya yang sudah kosong. 'Aku kembali bekerja.'
'Silakan.'
Emma meraih map itu, tetapi langkahnya tertahan di dekat pintu. 'Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.'
Evelyn menatapnya. 'Aku tidak nyaman karena kamu mengikutiku, bukan karena kamu mengetahui aku pergi makan malam.'
'Aku tidak tahu kamu akan menganggapnya serius.'
'Kamu tidak perlu menebak bagaimana aku akan bereaksi. Kamu hanya perlu bertanya sebelum mengikuti seseorang.'
Emma menunduk. 'Aku pikir kalau Daniel tahu, dia bisa menjaga hubungan kalian.'
'Hubungan kami tidak bisa dijaga dengan laporan tentang ke mana aku pergi. Kalau ada masalah, kami harus menyelesaikannya sendiri.'
'Kalau kamu berubah pikiran tentang pernikahan, apa kamu akan memberi tahu Daniel?'
'Iya.'
Emma mengangguk, kemudian keluar. Evelyn memandang pintu yang menutup perlahan. Ia tidak tahu apakah Emma benar-benar memahami batas itu atau hanya ingin meredakan suasana. Ia menyimpan dokumen CSR dan kembali bekerja.
***
Sore hari, Daniel datang lagi. Kali ini ia duduk tanpa menutup pintu.
'Aku sudah bicara dengan Emma,' katanya.
'Bagaimana?'
'Dia bilang tidak bermaksud mengikuti kamu. Katanya ia khawatir.'
'Kamu percaya?'
Daniel menggeleng. 'Aku tidak tahu. Dia mungkin memang khawatir. Tapi aku tidak suka dia menjadikan urusan kita alasan untuk mengawasi kamu.'
'Kamu sudah menyampaikan itu padanya?'
'Sudah.'
Evelyn menutup berkas di hadapannya. 'Kalau begitu, bagian itu sudah selesai.'
Daniel tampak tidak puas. 'Kamu tidak mau bicara tentang Marcus?'
'Kita sudah membicarakannya. Dia mitra Mile Group. Kami makan malam karena dia mengajak bicara pribadi. Aku sudah memberitahumu sebelum pergi.'
'Kamu tidak menyangkal bahwa dia masih punya perasaan padamu.'
'Aku tidak bisa menyangkal kata-katanya. Tapi perasaan dia bukan keputusan yang kubuat.'
'Dan kalau kamu juga mulai menyukainya?'
Evelyn berhenti sejenak. Ia tak ingin memberi Daniel jawaban yang menenangkan tetapi palsu. 'Aku belum sampai pada kesimpulan itu. Aku sedang mencoba memahami diriku sendiri.'
Daniel mengalihkan pandangan ke jendela. 'Kamu membuatku merasa seperti orang asing.'
'Kamu masih bisa mengenalku lagi, Dan. Tapi kamu harus berhenti menganggap aku akan selalu mengatakan apa yang membuatmu tenang.'
'Aku tidak tahu bagaimana menghadapi kamu yang sekarang.'
'Kita bisa mulai dengan berbicara tanpa menyuruh satu sama lain memilih saat itu juga.'
Daniel menatapnya kembali. 'Aku tidak mau kehilanganmu karena Marcus.'
'Kalau hubungan kita berakhir, penyebabnya tidak akan sesederhana nama orang lain. Dan kalau hubungan kita bertahan, itu karena kita membangunnya dengan benar.'
Daniel berdiri, tetapi kali ini tidak pergi dengan tergesa. 'Aku perlu waktu.'
'Ambil waktu yang kamu butuhkan.'
Ia melangkah keluar. Evelyn tidak mengejarnya. Ia tahu jawaban tenangnya tidak membuat Daniel lega, tetapi setidaknya ia tidak mengarang kepastian demi mempertahankan hubungan yang belum ia pahami.
Menjelang pulang, Marcus mengirim pesan singkat menanyakan apakah Evelyn merasa nyaman setelah makan malam mereka. Evelyn menjawab, 'Aku nyaman. Terima kasih karena tidak memaksaku memberi jawaban.' Balasannya datang tak lama kemudian: 'Aku akan menghormati waktumu.' Evelyn meletakkan ponsel dengan napas lebih ringan.
Ia membaca ulang pesan itu. Marcus tidak memintanya merahasiakan percakapan mereka, tidak pula menyuruhnya segera memutuskan soal Daniel. Sikap itu seharusnya terasa sederhana, tetapi bagi Evelyn justru berbeda dari cara ia pernah diperlakukan. Ia tidak ingin mengidealkan Marcus hanya karena ia bersikap baik. Ia harus tetap mengenalnya dari tindakan nyata, bukan dari bayangan yang ia bangun sendiri.
Evelyn menulis, 'Aku juga ingin kita tetap jelas soal urusan kerja. Kalau ada rapat, mari kita bahas di kantor. Aku tidak mau tim mengira keputusan profesional dipengaruhi perasaan pribadi.'
Marcus membalas, 'Setuju. Kerja sama perusahaan tetap dibahas secara resmi. Makan malam kemarin urusan pribadi, dan aku tidak akan mencampuradukkannya.'
Evelyn tersenyum tipis. Ia menyimpan percakapan itu tanpa menghapusnya. Ia tidak perlu menyembunyikan apa pun, tetapi ia juga tidak perlu menunjukkan pesan itu kepada Daniel sebagai bukti. Kejujuran bukan alat untuk memenangkan pertengkaran.
Namun dari kaca ruangannya, ia melihat Daniel berdiri dekat meja Emma lagi. Mereka berbicara pelan, dan kali ini Daniel yang lebih dulu mendekat. Evelyn kembali ke pekerjaannya, menahan diri untuk tidak menebak apa yang terjadi. Ia sudah cukup tahu bahwa rasa cemburu tidak memberinya kebenaran.
Ia mengecek jam dan melihat hari kerja hampir selesai. Tidak ada alasan untuk tinggal lebih lama. Evelyn menyimpan laptop, mematikan lampu meja, lalu keluar. Daniel masih berbicara dengan Emma. Ia hanya memberi salam singkat kepada keduanya.
'Kamu pulang sekarang?' tanya Daniel.
'Iya. Ada yang perlu diselesaikan di rumah.'
Emma menatapnya. 'Hati-hati, Eve.'
'Terima kasih. Kalian juga jangan terlalu malam.'
Evelyn melangkah ke lift. Ia tidak bermaksud menyindir, tetapi ia tahu kalimat itu bisa terdengar berbeda bagi mereka. Ia tetap tidak menoleh. Di perjalanan pulang, ia memikirkan bahwa Daniel belum bertanya apakah dirinya masih ingin menikah karena cinta atau karena takut kehilangan. Pertanyaan itu akan lebih sulit daripada soal Marcus.