Daniel menunggu sampai Evelyn selesai rapat sebelum menghampirinya. Ia menutup pintu ruang kerja Evelyn, lalu berdiri dekat meja tanpa duduk. Wajahnya sulit dibaca, tetapi Evelyn melihat ketegangan pada rahangnya.
'Kamu makan malam dengan Marcus kemarin,' katanya.
Evelyn tidak tampak terkejut. 'Iya. Aku sudah memberitahumu.'
'Kamu bilang kalian akan membicarakan kerja sama perusahaan dan hal pribadi. Apa maksudnya?'
'Kami membicarakan perjodohan yang dulu sempat diusulkan Ayah. Kami juga bicara tentang pekerjaanku dan rencana London.'
Daniel mengerutkan kening. 'Kamu membahas perjodohan kalian saat masih menjadi tunanganku?'
'Aku menjelaskan bahwa aku belum membuat keputusan soal masa depan. Marcus bertanya, dan aku menjawab jujur.'
'Apa dia masih menyukaimu?'
'Dia mengatakan perasaannya belum sepenuhnya hilang. Aku tidak memberinya janji.'
Daniel tertawa kecil. 'Dan kamu tetap menerima ajakannya.'
'Aku menerima ajakan makan malam. Aku juga memberitahumu sebelum pergi.'
'Kamu pikir itu cukup?'
'Aku pikir kejujuran lebih baik daripada menyembunyikan sesuatu.'
Daniel berjalan ke sisi meja. 'Kamu tunanganku, Eve. Apa kamu tidak melihat bagaimana ini terlihat?'
'Aku melihatnya. Tapi aku tidak akan menganggap diriku milik seseorang hanya karena kami bertunangan. Kalau kamu ingin hubungan ini berjalan, kita harus bisa bicara tentang rasa takut dan batas. Bukan saling mengatur.'
'Aku tidak mengaturmu. Aku bertanya kenapa kamu begitu nyaman bertemu pria yang jelas-jelas menginginkanmu.'
'Aku tidak bilang aku nyaman dengan semua situasinya. Aku bilang aku bisa memutuskan sendiri apakah akan pergi.'
Daniel mengusap tengkuk. 'Kamu tidak pernah bicara seperti ini dulu.'
'Mungkin dulu aku terlalu takut membuatmu kecewa.'
'Kamu membuatku merasa hubungan ini sudah selesai.'
'Aku tidak mengatakan itu. Aku mengatakan tanggal pernikahan ditunda.'
Daniel menatapnya tajam. 'Dan kamu ingin pergi ke London.'
'Aku masih mempertimbangkannya.'
'Lalu sekarang Marcus. Apa yang harus kupikirkan?'
'Pikirkan apa yang benar-benar terjadi, bukan dugaan orang lain.'
Daniel seketika diam. Evelyn melihat perubahan di wajahnya. Ia tidak perlu menyebut nama Emma, tetapi Daniel tahu siapa yang melaporkan makan malam itu.
'Emma melihat kalian,' katanya.
'Dia membuntutiku?'
Daniel mengalihkan pandangan. 'Dia bilang sedang lewat.'
'Kamu percaya begitu saja?'
'Aku tidak tahu.'
'Kalau dia mengikutiku, itu tidak pantas. Tapi aku tidak akan menjadikan itu alasan untuk menghindari pertanyaanmu. Marcus mengajakku makan malam. Aku menerimanya dan tidak menyembunyikannya. Tidak ada yang lain.'
Daniel menatapnya lama. 'Aku ingin percaya padamu.'
'Kalau begitu, tanyakan langsung padaku. Jangan biarkan orang lain menyusun cerita untukmu.'
'Kalau aku bertanya, apa kamu akan menjawab semuanya?'
'Aku akan menjawab hal yang memang bisa kujawab. Aku tidak akan menceritakan sesuatu yang belum kupahami, tapi aku juga tidak akan sengaja menyembunyikan keputusan penting darimu.'
Daniel mendesah. 'Aku tidak tahu apakah itu cukup untuk hubungan kita.'
'Aku juga belum tahu. Kita bisa mencari tahu tanpa saling mengancam.'
'Aku tidak mengancammu.'
'Kamu tadi bertanya apa aku masih mau menikah, lalu menganggap makan malam itu bukti bahwa aku sudah memilih orang lain. Aku mengerti kamu takut, tapi ketakutanmu bukan fakta.'
Daniel menunduk. 'Aku tidak suka membayangkan kamu bersama Marcus.'
'Aku tidak sedang bersamanya. Kami makan malam dan berbicara. Aku tidak tahu akan menjadi apa hubungan itu, dan aku tidak akan menjanjikan lebih dari yang terjadi.'
'Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kamu tahu.'
'Jangan hanya menunggu. Pikirkan juga apa yang kamu inginkan dari hubungan ini dan apa yang bersedia kamu lakukan untuk menjaganya.'
Daniel mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia duduk di kursi seberang meja. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, terdengar langkah mendekat di lorong.
***
Beberapa menit kemudian, Emma mengetuk pintu dan masuk membawa map. Ketika melihat Daniel duduk berhadapan dengan Evelyn, ia berhenti.
'Aku mengganggu?' tanyanya.
'Kami sedang bicara,' jawab Evelyn.
Emma melirik Daniel. 'Aku bisa kembali nanti.'
'Tidak perlu,' kata Evelyn. 'Letakkan mapnya di meja.'
Emma menurut, tetapi tetap berdiri. 'Aku cuma ingin menyerahkan catatan kegiatan.'
Daniel menghadapnya. 'Kamu bilang melihat Evelyn dan Marcus. Kamu mengikuti mereka?'
Emma tampak terkejut. 'Aku sudah bilang aku kebetulan melihat mereka.'
'Kamu bilang kamu mengikuti dari seberang jalan.'
'Aku tidak mengikuti mobilnya. Aku hanya ingin memastikan apa yang kulihat.'
Evelyn menyilangkan tangan. 'Kamu melihatku, lalu memutuskan bahwa kamu berhak mengikutiku?'
Emma merapatkan kedua tangannya di depan tubuhnya; map itu tetap di meja. 'Aku tidak bermaksud membuat masalah. Aku hanya khawatir Daniel dibohongi.'
'Kamu tidak perlu menggunakan Daniel sebagai alasan untuk mengawasi aku. Kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan, tanyakan langsung.'
Emma menunduk. 'Maaf. Aku tidak akan mengulanginya.'
Daniel mengembuskan napas. Ia tampak tidak tahu harus membela siapa. Evelyn kembali duduk dan membuka map yang dibawa Emma.
'Catatan ini perlu tanda tangan bagian operasional,' katanya. 'Kirimkan versi lengkap setelah diterima.'
Emma mengangguk lalu pergi. Daniel tetap berada di ruangan.
'Kamu tidak marah padanya?' tanyanya.
'Aku marah karena dia mengikutiku. Tapi aku tidak perlu berteriak untuk menjelaskan batas.'
Daniel menatap pintu yang tertutup. 'Dia bilang dia melakukannya demi aku.'
'Itu tidak membuat tindakannya benar.'
Daniel tidak membantah. Namun matanya berubah, seolah kini ia melihat Emma dengan pertanyaan baru. Kecurigaan yang tadi ia arahkan kepada Evelyn mulai bergeser, tetapi belum cukup untuk menghapus rasa cemburunya.
Evelyn membuka map CSR dan membaca lembar pertama. Ia tidak ingin membiarkan pembicaraan tentang pertunangan menguasai seluruh harinya. Di bawah jadwal kegiatan terdapat tanda tangan yang belum jelas tanggalnya. Ia menandainya untuk ditanyakan kepada bagian operasional.
'Kamu tidak perlu menyelesaikannya sekarang,' kata Daniel dari dekat pintu.
'Aku tahu. Tapi ini pekerjaan yang harus dibereskan.'
'Kita belum selesai bicara.'
'Aku tidak menolak melanjutkan. Aku hanya perlu menyelesaikan ini dulu.'
Daniel menerima jawaban itu dengan diam. Ia akhirnya keluar, tetapi kali ini tidak menutup pintu dengan keras. Evelyn kembali membaca dokumen, menyadari bahwa ia mulai mampu memisahkan percakapan pribadi dari tanggung jawabnya di perusahaan.