Mobil itu tetap berada beberapa kendaraan di belakang Evelyn sepanjang perjalanan pulang. Ia tidak menyadarinya sampai mereka berhenti di lampu merah. Dari kaca spion, ia melihat siluet perempuan di balik kemudi. Kaca mobil terlalu gelap untuk memastikan siapa pengemudinya.
Lampu berubah hijau. Mobil di belakangnya berbelok ke arah lain, sementara Evelyn melanjutkan perjalanan. Ia tidak meminta sopir mengejarnya. Bisa saja itu hanya kebetulan, dan ia tidak ingin mengubah kecurigaan menjadi tuduhan tanpa dasar.
Sesampainya di rumah, Andrew masih menunggu di ruang keluarga. Bu Rini sudah menyiapkan teh.
'Makan malamnya bagaimana?' tanya Andrew.
Evelyn melepas mantel dan duduk. 'Tenang. Marcus mengajak bicara tentang perjodohan dulu.'
'Apa kamu nyaman?'
'Iya. Dia tidak menekan atau meminta jawaban.'
Andrew mengangguk. 'Itu hal baik. Tapi kamu tetap harus memutuskan sendiri apa yang kamu inginkan.'
'Aku tahu.'
Ia mengaduk teh yang sudah tidak terlalu panas. 'Kalau Daniel bertanya, aku akan mengatakan makan malam ini berlangsung baik. Aku tidak akan mengubah ceritanya supaya terdengar lebih buruk atau lebih baik.'
'Itu adil,' kata Andrew. 'Tapi kamu tidak wajib memberi laporan setiap menit kepadanya. Kejujuran bukan berarti kamu harus menyerahkan seluruh ruang pribadimu.'
Evelyn mengangguk pelan. 'Aku ingin menjaga hubungan kami, tapi aku juga tidak mau kembali merasa harus meminta izin untuk setiap hal.'
'Kamu bisa menyampaikan batas tanpa menghina atau merendahkan siapa pun.'
'Aku sedang belajar.'
Andrew melipat korannya. 'Jangan jadikan malam ini ujian untuk Marcus. Beri dia kesempatan menjadi dirinya sendiri.'
'Aku tidak akan memutuskan apa pun malam ini.'
'Bagus. Kadang orang terlalu sibuk menamai hubungan sampai lupa mengenal orang di depannya.'
Evelyn tersenyum kecil. 'Ayah terdengar seperti sedang memberi nasihat kepada orang yang jauh lebih muda.'
'Ayah sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa keputusan yang tergesa biasanya meminta bayaran mahal.'
Kalimat itu membuat Evelyn terdiam. Ia tahu keputusan tergesa bukan satu-satunya hal yang menghancurkan hidupnya dulu, tetapi ia tidak bisa menjelaskan itu. Ia hanya menepuk tangan ayahnya sebentar sebelum berdiri.
'Aku akan beristirahat setelah tehnya habis.'
'Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, katakan kepada Ayah.'
'Pasti.'
Bu Rini menuangkan teh. 'Nona mau saya siapkan makan malam?'
'Tidak perlu, Bu Rini. Aku sudah makan. Terima kasih.'
Evelyn tidak menyebut mobil yang mengikutinya. Ia belum yakin apa yang ia lihat. Sebelum tidur, ia mengirim pesan kepada Daniel bahwa ia sudah pulang dengan selamat, sesuai kebiasaannya menjaga komunikasi.
Daniel membalas singkat: 'Bagus.'
***
Pagi harinya, Emma datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tas di meja, tetapi tidak langsung membuka komputer. Sebaliknya, ia menghampiri Daniel yang sedang membaca email.
'Kamu ada waktu sebentar?' tanyanya.
Daniel mengangkat kepala. 'Ada apa?'
Emma melirik ke lorong, lalu mendekat. 'Aku melihat Evelyn tadi malam.'
Daniel menutup laptopnya. 'Di mana?'
'Di Café Lune. Dia makan malam dengan Marcus.'
'Kamu yakin itu Evelyn?'
'Aku tahu wajah kakakku sendiri, Dan. Mereka duduk berhadapan hampir sepanjang malam. Aku tidak mendengar percakapan mereka, tapi suasananya jelas bukan rapat biasa.'
Daniel mengeraskan rahang. 'Kenapa kamu tidak memberitahuku tadi malam?'
'Aku tidak mau mengganggu kalian kalau kamu sedang bersamanya. Aku pikir kamu sudah tahu, karena Evelyn bilang akan bertemu Marcus.'
'Dia bilang akan membicarakan kerja sama perusahaan dan hal pribadi.'
Emma mengangkat bahu. 'Mungkin itu memang benar. Tapi kamu tidak bisa bilang mereka hanya membahas kontrak.'
Daniel berdiri dan berjalan ke jendela. 'Kamu mengikuti mereka?'
Emma terdiam sesaat. 'Aku tidak merencanakan itu. Aku sedang lewat setelah membeli sesuatu. Aku melihat mereka keluar bersama, lalu ingin memastikan.'
'Kamu membuntuti Evelyn?'
'Aku hanya melihat dari seberang jalan. Aku tidak melakukan apa-apa.'
Daniel menoleh kepadanya. 'Kamu seharusnya tidak mengikuti orang.'
Emma menunduk, tampak tersinggung. 'Aku cuma khawatir kamu akan dibohongi. Evelyn berubah dan sekarang dia dekat dengan Marcus. Aku pikir kamu perlu tahu.'
Daniel kembali duduk. 'Apa yang mereka lakukan saat keluar?'
'Marcus mengantarnya sampai pintu. Mereka bicara sebentar. Evelyn lalu pergi, dan Marcus tetap berdiri di sana sampai mobilnya menjauh.'
'Kamu mendengar apa yang mereka bicarakan?' tanya Daniel.
Emma menggeleng. 'Tidak. Jaraknya terlalu jauh.'
'Jadi kamu tidak tahu apakah mereka membahas pekerjaan atau hal lain.'
'Aku hanya melihat cara mereka bicara. Mereka tampak nyaman. Marcus bahkan menunggu sampai mobil Evelyn pergi.'
Daniel mengetuk meja dengan jarinya. 'Itu tidak membuktikan apa-apa.'
'Aku tahu. Aku tidak bilang mereka melakukan sesuatu. Aku bilang kamu perlu tahu mereka bertemu.'
'Kamu membuatnya terdengar seolah ada sesuatu yang disembunyikan.'
Emma terdiam. 'Mungkin karena aku takut kamu baru tahu setelah semuanya terlambat.'
'Apa maksudmu, terlambat?'
'Kalau Evelyn berubah pikiran tentang pernikahan dan memilih Marcus, kamu mungkin baru menyadarinya saat dia mengatakannya.'
Daniel menggeleng. 'Dia sudah bilang pernikahan ditunda. Dia tidak bilang memilih Marcus.'
'Belum.'
Emma menunduk, lalu mengusap tepi map. Ia sadar kata-katanya terdengar lebih seperti dugaan daripada fakta. Namun ia tidak menariknya kembali. Ia ingin Daniel tetap waspada.
Daniel menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca. 'Dia sudah mengatakan pertemuan itu juga membahas hal pribadi. Aku tidak suka, tetapi ia memang memberitahuku sebelum pergi.'
'Bisa jadi. Tapi kamu sendiri tahu ada sejarah di antara mereka. Ayah Evelyn pernah mengusulkan perjodohan itu.'
'Itu sudah lama. Evelyn menolaknya.'
'Orang bisa berubah pikiran. Kamu sendiri yang bilang Evelyn berubah.'
Daniel tidak menjawab. Emma menyentuh lengannya singkat, lalu menarik tangan sebelum sentuhan itu menjadi terlalu akrab.
'Aku tidak ingin ikut campur urusan kalian,' katanya pelan. 'Aku hanya tidak mau kamu terluka.'
Daniel mengangkat mata. 'Terima kasih sudah memberi tahu. Tapi jangan ikuti Evelyn lagi. Kalau kamu khawatir, bicara padaku, jangan membuntutinya.'
Emma mengangguk. 'Aku mengerti.'
Ia kembali ke mejanya, meninggalkan Daniel dengan bayangan makan malam yang tidak ia saksikan sendiri. Di ruang kerja Evelyn, dari balik kaca, Daniel melihatnya berbicara dengan salah seorang staf. Ia mulai bertanya-tanya bagian mana dari perubahan Evelyn yang benar-benar berkaitan dengan pekerjaan, dan bagian mana yang tidak ia ketahui.