Hari berikutnya, Evelyn membaca kembali pesan Marcus sebelum berangkat ke kantor. Ia sudah tahu tempat dan waktu makan malam mereka, tetapi pesan itu tetap membuatnya berpikir tentang batas yang ingin ia jaga. Ia tidak akan menyembunyikan pertemuan itu dari Daniel, namun ia juga tidak ingin membatalkan sesuatu hanya karena Daniel merasa terancam.
Di ruang makan, Andrew memperhatikan putrinya yang hanya menyentuh roti panggang.
'Kamu gugup?' tanyanya.
'Sedikit.'
'Karena Marcus?'
'Karena aku belum tahu bagaimana harus bersikap. Aku tidak mau memberi kesan bahwa aku sudah membuat pilihan yang belum kubuat.'
Andrew meletakkan korannya. 'Kalau begitu, katakan apa yang kamu tahu dan jangan menjanjikan lebih dari itu.'
'Aku akan begitu.'
'Dan jangan merasa bersalah hanya karena pergi makan malam. Kamu sudah jujur kepada Daniel.'
Evelyn mengangguk. Ia tidak menceritakan semua keraguannya kepada ayahnya, tetapi nasihat sederhana itu membantunya menata pikiran.
***
Pukul tujuh malam, Evelyn tiba di Café Lune. Restoran itu tidak terlalu ramai. Cahaya lampu berwarna keemasan jatuh di atas meja-meja kayu, sementara suara musik pelan terdengar dari sudut ruangan. Marcus sudah menunggu dekat jendela. Ia berdiri ketika Evelyn datang.
'Terima kasih sudah datang,' katanya.
'Aku sudah berjanji.'
Marcus menarik kursi untuknya, lalu duduk berhadapan. 'Aku sempat berpikir kamu akan membatalkan setelah memberitahu Daniel.'
'Aku tidak ingin membuat keputusan berdasarkan rasa takut pada reaksi orang lain.'
'Termasuk reaksiku?'
'Terutama reaksimu. Aku tidak mau kamu mengira makan malam ini berarti aku sudah memilihmu.'
Marcus mengangguk. 'Aku mengerti. Aku mengajakmu karena ingin bicara tanpa meja rapat di antara kita. Aku tidak meminta jawaban malam ini.'
'Bagus. Aku juga ingin bicara jujur.'
Pelayan datang mencatat pesanan. Setelah ia pergi, Marcus menatap Evelyn dengan cara yang tidak membuatnya merasa sedang diteliti. 'Aku ingin menanyakan satu hal sejak pertemuan kita di kantor. Kamu masih ingat perjodohan yang dulu diusulkan ayahmu?'
Evelyn mengangkat gelas airnya, memberi dirinya waktu sebelum menjawab. 'Aku ingat. Waktu itu aku menolak.'
'Kamu bahkan tidak memberi kesempatan untuk mengenalku lebih jauh.'
'Aku tahu. Aku terlalu yakin bahwa aku sudah tahu apa yang terbaik untuk diriku.'
Marcus tersenyum tipis. 'Apa yang membuatmu berpikir begitu?'
Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia mengingat hidup yang telah berakhir, pengkhianatan Daniel, atau laut yang menelan tubuhnya. Ia menahan rahasia itu seperti yang telah ia lakukan sejak terbangun pada masa lalu.
'Aku sedang belajar bahwa keyakinan tidak selalu sama dengan pemahaman,' jawabnya. 'Ada hal-hal yang dulu kuanggap pasti, ternyata tidak sesederhana itu.'
'Kamu bicara seolah sudah menjalani hidup yang sangat panjang.'
Evelyn menatapnya, nyaris kehilangan kendali. Namun ia mengubah jawabannya menjadi senyum kecil. 'Mungkin aku hanya terlalu banyak bekerja.'
'Kalau begitu, aku tidak akan memaksamu bercerita.'
'Terima kasih.'
Makanan tiba, dan percakapan bergeser ke kerja sama perusahaan. Marcus menanyakan perkembangan dokumen, sementara Evelyn menjelaskan bahwa mereka masih menyelaraskan jadwal. Ia menjaga pembicaraan tetap wajar, tidak menjadikan malam itu sebagai pertemuan bisnis, tetapi juga tidak berpura-pura tidak ada urusan kerja di antara mereka.
'Aku senang timmu tidak meminta Celeste menerima semua usulan kami begitu saja,' kata Marcus. 'Kalian meminta waktu untuk memeriksa syaratnya.'
'Itu bagian dari tugasku. Kerja sama akan berlangsung lama, jadi kami perlu memahami risikonya sebelum menyetujui apa pun.'
'Kamu memang selalu berhati-hati?'
Evelyn tersenyum tipis. 'Tidak selalu. Aku pernah mengira percaya pada seseorang berarti tidak perlu memeriksa apa pun.'
Marcus tidak mengalihkan pandangan. 'Dan sekarang?'
'Sekarang aku belajar bahwa kepercayaan dan kehati-hatian bisa berjalan bersamaan.'
'Aku setuju. Aku juga lebih suka kerja sama yang dibangun dengan pertanyaan sulit daripada janji manis.'
Evelyn mengangguk. 'Kalau begitu, kita sepakat soal itu.'
Marcus mengangkat gelasnya. 'Untuk pertanyaan yang sulit.'
Evelyn membalas dengan mengangkat gelas air. 'Dan jawaban yang jujur.'
Setelah beberapa menit, Marcus bertanya, 'Kamu benar-benar masih akan menikah dengan Daniel?'
Evelyn menghela napas. 'Tanggalnya ditunda dua bulan. Aku belum memutuskan apa yang akan kulakukan setelah itu.'
'Apa kamu menunda karena ingin memberi hubungan itu kesempatan, atau karena sulit mengakhirinya?'
Pertanyaan itu terasa terlalu tepat. Evelyn meletakkan garpunya. 'Aku belum punya jawaban yang jujur. Itu sebabnya aku meminta waktu.'
Marcus tidak mendesaknya. 'Aku menghargai kamu tidak berpura-pura.'
'Aku sedang mencoba berhenti berpura-pura pada diriku sendiri.'
Marcus menyandarkan punggung ke kursinya. 'Kamu ingin aku berhenti menanyakan hal-hal pribadi?'
'Tidak. Aku hanya ingin kamu bertanya langsung dan menerima kalau ada yang belum bisa kujawab.'
'Aku bisa melakukan itu.'
'Kalau nanti aku memutuskan tetap menikah dengan Daniel, aku juga akan mengatakannya kepadamu. Aku tidak mau membuatmu menunggu karena salah paham.'
Marcus mengangguk. 'Aku tidak berharap kamu memilihku hanya karena aku menunggu. Aku ingin kamu memilih jalanmu sendiri, meski jalan itu tidak mengarah kepadaku.'
Evelyn memandangnya beberapa saat. 'Kamu selalu bisa mengatakan hal yang sulit dengan tenang.'
'Aku sudah belajar bahwa memaksa seseorang tidak membuatnya tinggal.'
Ia tidak bertanya siapa yang pernah pergi dari hidup Marcus. Evelyn menghargai bahwa ia pun tidak diminta membuka seluruh luka yang belum sanggup ia ceritakan. Mereka melanjutkan makan tanpa membicarakan masa lalu itu lagi.
Makan malam berakhir tanpa janji atau sentuhan. Marcus mengantarnya sampai pintu restoran, lalu membiarkan Evelyn memilih sendiri cara pulang.
'Aku senang kita bicara malam ini,' katanya.
'Aku juga.'
'Kalau kamu masih bersedia, kita bisa melanjutkan obrolan lain kali.'
'Kita lihat nanti.'
Marcus menerima jawaban itu dengan anggukan. Saat mobil Evelyn meninggalkan tepi jalan, ia melihat Marcus masih berdiri di bawah cahaya restoran. Di seberang jalan, sebuah mobil lain menyalakan lampu depan dan mulai bergerak mengikuti arahnya.
Evelyn tidak sempat menyadari bahwa lampu mobil itu baru menyala setelah ia masuk ke kendaraannya. Sopirnya mulai melaju, sementara bayangan restoran mengecil di kaca belakang. Ia masih memikirkan percakapan mereka, belum tahu ada orang lain yang memperhatikan pertemuan itu.