Sore harinya, sesuai janji yang dibuat kemarin, Daniel datang ke ruang Evelyn tepat setelah jam kerja berakhir. Ia tidak membawa berkas atau tablet. Hanya ada dua gelas kopi yang ia beli dari kafe bawah, satu diletakkannya di sisi meja Evelyn.
'Aku tahu kamu tidak suka kopi manis, jadi aku pesan yang biasa,' katanya.
Evelyn memandang gelas itu. 'Terima kasih.'
Daniel menarik kursi. 'Aku tidak mau kita bertengkar lagi.'
'Aku juga tidak.'
'Tapi aku masih tidak mengerti kenapa kamu perlu menunda pernikahan.'
'Aku sudah menjelaskannya. Aku ingin waktu untuk menyelesaikan urusan perusahaan dan memikirkan London. Aku juga ingin kita membahas masa depan tanpa merasa semua sudah diputuskan.'
'Kamu bisa membicarakan itu tanpa menunda tanggal.'
'Bisa. Tapi aku tidak ingin berpura-pura bahwa tanggal itu tidak memberi tekanan.'
Daniel memegang gelasnya, tetapi tidak minum. 'Kamu tahu betapa pentingnya pernikahan ini bagiku. Banyak tamu sudah menerima kabar dan penyelenggara sudah menyiapkan banyak hal.'
'Aku tahu. Aku tidak bermaksud mempermalukan siapa pun. Kita akan menjelaskan bahwa jadwal perlu disesuaikan karena pekerjaan dan pendidikan.'
'Kamu sudah bilang pada orang lain?'
'Belum. Ayah tahu karena aku meminta bantuannya menyiapkan kemungkinan. Aku tidak mengumumkan apa pun.'
Daniel menghela napas. 'Aku merasa semua orang tahu lebih dulu daripada aku.'
'Kamu orang pertama yang kuajak bicara setelah Ayah.'
'Itu tidak membuatku merasa lebih baik.'
Evelyn menatapnya dengan jujur. 'Aku mengerti kamu kecewa. Tapi aku tidak akan mengubah keputusan hanya supaya kamu berhenti kecewa.'
Daniel terdiam lama. 'Aku tidak mau kehilanganmu.'
'Kalau begitu, bicaralah denganku tanpa memaksaku memberi jawaban yang belum kupunya.'
'Apa masih ada kesempatan untuk pernikahan ini?'
'Ada. Tapi aku ingin kesempatan itu dibangun dari kejujuran, bukan ketakutan bahwa kita sudah terlalu jauh untuk mundur.'
Daniel mengusap wajahnya. 'Aku akan mencoba memahami. Tapi aku tidak bisa menjanjikan akan nyaman dengan ini.'
'Aku tidak meminta kamu nyaman. Aku meminta kamu bicara jujur.'
Ia berdiri. 'Aku harus pergi.'
'Baik. Hati-hati.'
Daniel membawa pergi kopinya yang belum disentuh. Evelyn tidak mengejarnya. Ia merapikan mejanya dan memasukkan laptop ke tas. Baru saat keluar dari ruangan, ia melihat Marcus menunggu di ujung lorong, berbicara dengan staf bagian kerja sama yang telah mengantarkan dokumen ke kantor.
***
Marcus menutup map saat melihat Evelyn. 'Aku menunggu kabar dari tim kerja sama, tapi sepertinya aku datang di waktu yang tepat.'
'Ada yang bisa kubantu?' tanya Evelyn.
'Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu yang bukan urusan kerja.'
Evelyn menatapnya, waspada sekaligus penasaran. 'Silakan.'
'Maukah kamu makan malam denganku besok? Di Café Lune. Kita bisa membicarakan hal-hal yang tidak masuk dalam kontrak.'
Evelyn teringat pertemuan mereka beberapa hari lalu dan kunci apartemen yang Marcus tawarkan untuk London. Ia tahu ajakan itu bukan sekadar makan malam antar rekan kerja. Namun ia juga tahu dirinya tidak perlu menolak sesuatu hanya karena takut akan perasaan yang belum ia mengerti.
'Kamu mengajakku sebagai mitra bisnis atau sebagai Marcus?' tanyanya.
Marcus tersenyum tipis. 'Sebagai Marcus. Kalau kamu tidak nyaman, kita bisa mengubahnya menjadi makan malam bisnis. Tapi aku lebih suka jujur.'
'Aku menghargai itu.'
'Jadi?'
Evelyn berpikir sebentar. Daniel dan dirinya belum membatalkan pertunangan, tetapi ia juga tidak menganggap menerima makan malam sebagai pengkhianatan. Ia akan menjaga batas dan berbicara apa adanya.
'Baik. Aku bersedia makan malam denganmu.'
Raut wajah Marcus melunak. 'Terima kasih sudah mau. Besok pukul tujuh?'
'Pukul tujuh cocok.'
'Aku kirim alamatnya.'
Marcus tidak mendekat atau menyentuhnya. Ia hanya mengangguk dan mengucapkan selamat malam sebelum pergi. Cara itu membuat Evelyn merasa dihormati, bukan didesak.
Ketika ia masuk ke lift, ponselnya berbunyi. Pesan Daniel: 'Kamu sudah pulang? Aku ingin tahu apakah kamu sudah berubah pikiran soal dua bulan itu.' Evelyn membaca pesan itu, lalu memandang bayangannya sendiri di dinding lift.
Ia tidak berubah pikiran. Ia juga tidak ingin menyembunyikan makan malam itu.
***
Evelyn membalas setelah keluar dari gedung. 'Aku tetap ingin menunda pernikahan. Besok aku ada makan malam dengan Marcus. Kami akan membicarakan kerja sama perusahaan dan hal pribadi. Aku memberitahumu supaya tidak ada yang disembunyikan.'
Balasan Daniel muncul tak lama kemudian. 'Kamu serius? Setelah semua yang baru kita bicarakan?'
Evelyn mengetik, lalu berhenti. Ia menghapus kalimat panjang yang menjelaskan dirinya. Pada akhirnya, ia menulis, 'Aku serius soal kejujuran. Aku tidak akan mengubah keputusan hanya karena kamu tidak suka, tapi aku juga tidak akan berbohong kepadamu.' Pesan itu terkirim. Evelyn kemudian memberi tahu Marcus bahwa pertunangannya belum berakhir dan Daniel sudah diberi tahu tentang makan malam itu. Marcus membalas bahwa ia memahami batas tersebut; tidak ada jawaban mengenai hubungan yang dituntut dari Evelyn.
Daniel tidak membalas lagi. Evelyn memasukkan ponsel ke tas dan menghubungi Andrew untuk memberi tahu bahwa ia pulang sebentar lagi. Ayahnya berkata makan malam masih disimpan, tetapi tidak akan menunggunya terlalu lama.
Di parkiran, Evelyn berhenti sejenak sebelum masuk mobil. Ia tahu keputusan menerima ajakan Marcus akan menambah ketegangan. Namun ia tidak ingin membangun hidup barunya dengan kebohongan yang sama seperti kehidupan sebelumnya.
Ponselnya bergetar sekali lagi. Kali ini pesan Marcus: 'Terima kasih sudah jujur. Sampai besok, Eve.' Evelyn membalas singkat, 'Sampai besok.' Lalu ia berangkat pulang, menyadari bahwa esok malam akan menjadi langkah pertama yang tidak lagi ia ambil demi menyenangkan Daniel.
Di rumah, Evelyn duduk sebentar di ruang keluarga sebelum naik ke kamar. Andrew membaca buku di kursi dekat jendela. Ia mengangkat pandangan ketika putrinya masuk.
'Kamu kelihatan lelah,' katanya.
'Hari ini panjang.'
'Percakapan dengan Daniel berjalan baik?'
'Kami belum menyelesaikan semuanya. Dia kecewa, tapi setidaknya kami bicara tanpa berteriak.'
Andrew menutup bukunya. 'Itu awal. Jangan anggap satu percakapan bisa menjawab semua hal.'
'Aku tahu. Aku juga bilang besok makan malam dengan Marcus.'
Andrew mengamati wajah Evelyn. 'Bagaimana reaksinya?'
'Dia marah. Tapi aku tidak menyembunyikannya.'
'Kamu yakin makan malam itu bukan cara untuk membuat Daniel cemburu?'
Evelyn menggeleng. 'Aku menerima karena ingin mengenal Marcus dengan jujur. Aku tidak ingin menjadikan siapa pun alat untuk menghukum orang lain.'
Andrew mengangguk pelan. 'Kalau begitu, jaga batas dan dengarkan dirimu sendiri. Marcus juga berhak tahu keadaanmu.'
'Aku akan melakukannya.'
Bu Rini datang membawa teh hangat. 'Nona, saya taruh di meja. Jangan lupa diminum sebelum tidur.'
'Terima kasih, Bu Rini.'
Evelyn duduk di sofa. Untuk pertama kalinya sejak memutuskan menerima ajakan itu, ia merasa tidak harus membela diri. Ayahnya tidak mendukungnya karena ingin menggantikan Daniel; ia hanya ingin Evelyn memilih dengan sadar. Besok ia akan pergi ke Café Lune tanpa membawa janji apa pun selain kejujuran.