Pagi berikutnya, Evelyn memeriksa ponselnya sebelum berangkat. Daniel belum membalas jawaban yang ia kirim tentang pesan semalam. Di kantor, Emma akhirnya menyampaikan pemaparan CSR pada forum yang dijadwalkan pekan ini. Materinya diterima untuk diproses, tetapi persetujuan anggaran masih menunggu tanda tangan operasional yang lengkap dan bertanggal. Evelyn tidak menjawab menggantikannya. Sesudah tugas itu selesai, Evelyn melihat Daniel dan Emma kembali menghabiskan banyak waktu bersama. Mereka membahas laporan CSR di ruang Emma, lalu makan siang di kantin kantor. Dari tempat duduknya dekat jendela, Evelyn bisa melihat mereka berbicara dengan akrab. Ia menghabiskan makan siangnya sambil membaca laporan, tanpa mendekati meja mereka.
Bu Rini menelepon ketika Evelyn sedang menyelesaikan supnya.
'Nona Evelyn, Tuan Andrew bertanya apakah Anda pulang untuk makan malam nanti.'
'Aku akan pulang, Bu Rini. Ada yang perlu dibicarakan?'
'Beliau bilang hanya ingin makan bersama. Katanya ia ingin makan bersamamu tanpa tergesa-gesa.'
'Baik. Tolong sampaikan aku akan pulang sebelum jam tujuh.'
Evelyn menutup telepon dan kembali ke laporan. Saat ia berdiri membawa nampan, Daniel memanggilnya.
'Eve, kamu tidak makan bersama kami?'
'Aku sudah selesai. Ada pekerjaan yang harus kukirim sebelum rapat sore.'
Emma tersenyum. 'Kamu bisa duduk sebentar. Kami baru membahas cara memperbaiki jadwal kegiatan.'
'Kalian bisa lanjutkan. Aku tidak ingin mengganggu.'
Daniel mengerutkan kening. 'Kamu tidak mengganggu.'
'Aku tahu. Tapi pekerjaanku memang menunggu. Selamat makan.'
Ia membuang sisa makanan lalu kembali ke lantai eksekutif. Tidak ada rasa marah yang muncul; hanya kesadaran bahwa peristiwa lama mulai terulang dalam bentuk kecil. Dulu ia akan duduk dan menghibur dirinya sendiri bahwa kedekatan Daniel dengan Emma adalah hal wajar. Kini ia memilih tidak menafsirkan, tetapi juga tidak memaksa dirinya ikut berbaur.
***
Sore itu Emma datang ke ruang Evelyn membawa lembar persetujuan bagian operasional. Evelyn memeriksa nama, tanggal, dan lampiran sebelum menerimanya.
'Lengkap,' katanya. 'Terima kasih sudah mengurus ini.'
'Sama-sama. Daniel banyak membantuku mengatur waktu bertemu bagian operasional.'
'Bagus kalau koordinasinya lancar.'
Emma tampak menunggu pertanyaan atau komentar lebih lanjut, tetapi Evelyn hanya menyimpan dokumen di map proyek.
'Kamu tidak ingin tahu kami makan siang di mana?' tanya Emma.
Evelyn menatapnya. 'Kenapa aku harus tahu?'
'Tidak tahu. Biasanya kamu suka bertanya.'
'Aku tidak mau ikut campur waktu istirahatmu.'
Emma menggeser berat badan. 'Kamu benar-benar tidak keberatan aku sering bersama Daniel?'
'Dia tunanganku. Aku tentu memperhatikan apa yang terjadi. Tapi aku tidak akan membuat tuduhan hanya karena kalian bekerja bersama.'
Emma menunduk sejenak. 'Aku senang kamu percaya padaku.'
'Kepercayaan bukan berarti aku berhenti melihat.'
Wajah Emma berubah, tetapi senyumnya segera kembali. 'Aku paham.'
'Kalau ada hal lain yang ingin kamu bicarakan, katakan langsung. Kalau tidak, kita kembali ke pekerjaan.'
Emma mengangguk dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. 'Aku harap kamu tidak menyesal menunda pernikahan.'
'Aku juga berharap keputusan itu memberi kami waktu untuk berpikir.'
Emma pergi tanpa menanggapi. Evelyn merapikan dokumen dan membuka email dewan. Di antara pesan baru, ada undangan rapat dari Kennedi tentang peninjauan standar pengelolaan data. Ia meneruskan undangan itu kepada Edwin, meminta pria itu menyiapkan daftar kebijakan yang sebelumnya sedang diperiksa.
Malamnya, Andrew sudah menunggu di ruang makan rumah. Bu Rini meletakkan hidangan sederhana, lalu meninggalkan mereka berdua. Andrew tidak membuka pembicaraan tentang pernikahan lebih dulu.
'Bagaimana pekerjaanmu?' tanyanya.
'Baik. Emma sudah menyelesaikan lampiran CSR. Kennedi masih meninjau anggarannya.'
'Kamu tidak kesulitan bekerja dengannya?'
'Tidak, selama pembagian tugas jelas.'
Andrew mengangguk. 'Dan Daniel?'
Evelyn berhenti menyendok nasi. 'Dia kecewa soal penundaan. Kami masih perlu membicarakannya.'
'Apa kamu ingin Ayah ikut bicara dengannya?'
'Belum. Aku ingin menyelesaikannya sendiri.'
'Kalau begitu, Ayah akan menunggu. Tapi jangan biarkan diam menjadi cara untuk menghindari keputusan.'
'Aku tidak akan begitu.'
Andrew menatapnya dengan lembut. 'Kamu terlihat lebih tenang daripada yang Ayah kira.'
'Aku sedang belajar membedakan hal yang bisa kukendalikan dan yang tidak.'
Setelah makan malam, Evelyn membantu Bu Rini membawa piring ke dapur. Bu Rini bertanya apakah ia ingin teh, dan Evelyn mengiyakan. Dari ruang keluarga, terdengar Andrew mengangkat telepon. Ia berbicara sebentar, lalu menyebut nama Daniel. Evelyn tidak mendengar kalimat lainnya, tetapi ia tahu ayahnya sedang mencoba memastikan Daniel tidak merasa disingkirkan. Ia tidak meminta Andrew melakukannya, namun ia juga tidak akan melarangnya menenangkan suasana.
Ponsel Evelyn bergetar. Daniel menulis: 'Aku ingin bertemu besok. Kali ini jangan hanya bicara soal pekerjaan.' Evelyn menjawab, 'Baik. Kita bertemu setelah jam kerja.' Ia meletakkan ponsel dan menghabiskan tehnya. Besok, ia akan mendengarkan apa yang belum berani Daniel ucapkan.
Sebelum tidur, Evelyn menyiapkan agenda besok dan memastikan tidak ada rapat yang tumpang tindih dengan waktu yang ia janjikan kepada Daniel. Ia ingin hadir sepenuhnya dalam percakapan itu, sekalipun belum tahu jawaban apa yang akan diterimanya. Ia tidak akan datang membawa tuduhan, tetapi juga tidak akan menghapus kebutuhannya sendiri demi menjaga suasana tetap tenang.
Andrew bertanya apakah ia perlu mengatur ulang makan malam keluarga. Evelyn mengatakan tidak perlu, ia akan berusaha pulang sebelum terlambat. Ayahnya tidak bertanya lebih jauh. Sikap itu membuat Evelyn sadar bahwa Andrew sedang berusaha memberi ruang, sesuatu yang dulu sering ia anggap sebagai bentuk ketidakpedulian.
Paginya, Evelyn bertemu Andrew sebentar sebelum berangkat. Ayahnya tidak menanyakan isi percakapan yang akan ia lakukan dengan Daniel, hanya memastikan ia sudah sarapan.
'Aku mungkin pulang terlambat,' kata Evelyn.
'Karena bertemu Daniel?'
'Iya. Kami akan bicara setelah jam kerja.'
'Jangan menunda makan malam terlalu lama. Apa pun hasilnya, kamu tetap perlu makan.'
Evelyn tertawa pelan. 'Ayah selalu menemukan cara mengingatkan soal makan.'
'Karena kalian semua sering menganggap tubuh bisa menunggu sampai urusan hati selesai.'
Bu Rini yang sedang menuangkan teh tersenyum. 'Saya sudah menyiapkan makanan untuk Nona kalau pulang malam. Tinggal dihangatkan.'
'Terima kasih, Bu Rini.'
Di kantor, jadwal Evelyn penuh rapat. Ia tidak membatalkan satu pun hanya untuk meredakan kecemasan Daniel. Saat asistennya mengirim perubahan agenda, ia menyetujui satu rapat tambahan dengan Kennedi dan menandai jam pertemuan pribadi dengan Daniel sesudahnya.
Ia ingin datang ke percakapan itu tanpa tergesa-gesa dan tanpa membawa dokumen. Yang akan dibicarakan bukan angka atau jadwal proyek, melainkan keputusan yang menyangkut hidup mereka. Ia menyiapkan beberapa kalimat di kepalanya, lalu membiarkannya pergi. Ia tidak ingin berbicara seperti membaca pernyataan resmi.