Daniel tidak menghubungi Evelyn sepanjang pagi. Ia datang ke kantor lebih awal, melewati ruangannya tanpa menyapa, lalu langsung menuju ruang Emma. Pintu mereka tertutup selama hampir setengah jam.
Evelyn melihat semuanya dari balik kaca ruangannya. Ia tidak berdiri untuk menguping, tidak pula mengirim pesan menanyakan apa yang mereka bicarakan. Ia kembali ke layar komputer dan menyelesaikan laporan yang harus ditandatangani hari itu.
Setelah pintu ruang Emma terbuka, Daniel keluar sambil membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkan satu di meja Emma.
'Kamu belum sarapan,' katanya.
Emma mengangkat wajah. 'Kamu tidak perlu repot-repot.'
'Aku kebetulan lewat kafe. Minumlah sebelum dingin.'
'Terima kasih, Dan.'
Evelyn menurunkan pandangannya ke dokumen. Ia mencatat waktu dan apa yang dilihatnya, bukan karena dua cangkir kopi membuktikan sesuatu, melainkan karena hubungan mereka tampak semakin nyaman. Ia tak akan menjadikan hal biasa sebagai tuduhan. Namun ia juga tidak akan memaksa dirinya untuk tidak melihat.
***
Saat rapat bagian keuangan dimulai, Daniel duduk di sisi Emma. Mereka bertukar catatan beberapa kali ketika pembahasan menyentuh anggaran CSR. Evelyn memimpin pembahasan tanpa menyebut apa pun soal kopi pagi tadi.
'Untuk perubahan jadwal kegiatan, siapa yang menyetujui pemindahan biaya?' tanyanya.
Emma membuka lampiran. 'Bagian operasional sudah menyetujui perubahannya. Aku sudah mencantumkan email persetujuan.'
Daniel menyela, 'Aku juga sudah mengecek angka itu. Perubahannya tidak memengaruhi total anggaran.'
Evelyn menoleh kepadanya. 'Aku ingin Emma menjelaskan dokumen yang ia susun. Kalau kamu punya koreksi, sampaikan setelah ia selesai.'
Daniel bersandar di kursi. 'Silakan.'
Emma melanjutkan penjelasan, memperlihatkan tabel dan sumbernya. Ia menjawab pertanyaan Kennedi dengan cukup baik. Ketika rapat berakhir, Kennedi meminta satu tanda tangan tambahan dari bagian operasional sebelum anggaran disetujui.
'Aku akan mengurus tanda tangan itu,' kata Emma.
'Pastikan salinannya masuk ke folder proyek,' ujar Evelyn. 'Jangan hanya disimpan di email pribadi.'
'Baik.'
Daniel menunggu sampai peserta lain keluar. 'Kamu sengaja mengoreksiku di depan mereka?'
'Aku hanya mengatur alur rapat. Emma yang menyiapkan dokumennya, jadi dia yang menjelaskan.'
'Aku membantunya.'
'Aku tahu. Aku tidak melarangmu membantu. Aku hanya tidak ingin perannya kabur.'
Daniel menghela napas. 'Kamu berubah jadi sangat formal.'
'Kita sedang bekerja.'
'Apa kamu akan bersikap begini selama dua bulan?'
Evelyn menutup laptop. 'Aku tidak tahu. Tapi aku akan berusaha bersikap adil, baik padamu maupun pada Emma.'
Daniel menggeleng kecil. 'Kadang aku tidak tahu harus bicara apa denganmu.'
'Kamu bisa mulai dengan mengatakan apa yang benar-benar kamu pikirkan.'
Ia tidak menjawab. Emma muncul di pintu membawa map dan melihat mereka berdua. Daniel segera mengalihkan pembicaraan.
'Kita makan siang?' katanya kepada Emma.
Emma melirik Evelyn. 'Aku masih perlu mengambil tanda tangan bagian operasional. Mungkin nanti.'
'Aku bisa ikut.'
'Tidak usah, aku bisa sendiri.'
Emma berjalan pergi. Daniel menatap Evelyn dengan kesal, seolah ia mengira Evelyn telah membuat Emma menolak. Evelyn tidak berkata apa-apa. Ia mengambil berkas yang perlu dikirim dan meninggalkan ruangan dari arah lain.
Di lorong, ia bertemu Kennedi yang sedang menuju ruang rapat berikutnya. Kennedi melirik Daniel yang masih berdiri di balik pintu.
'Ada masalah?' tanyanya.
'Tidak ada masalah pekerjaan.'
'Kalau begitu, jaga agar urusan pribadi tidak mengganggu penilaianmu.'
'Saya akan melakukannya.'
Kennedi mengangguk lalu melanjutkan langkah. Evelyn tahu seluruh dewan memperhatikan dinamika keluarga mereka. Ia harus tetap profesional, bahkan saat melihat Daniel semakin sering mencari Emma.
Menjelang sore, ia menerima pesan dari Daniel: 'Kamu sengaja membiarkanku sendirian hari ini.' Evelyn membaca pesan itu, tetapi tidak membalas saat itu juga. Ia baru menjawab setelah menyelesaikan dokumen: 'Aku tidak membiarkan siapa pun sendirian. Aku sedang bekerja.' Balasan Daniel tidak datang lagi.
Ia menyimpan ponsel, lalu membuka kembali berkas rapat. Angka CSR sudah cocok, tetapi satu tanda tangan masih belum masuk. Evelyn mencatatnya di daftar tindak lanjut dan mengirimkan pengingat kepada Emma melalui kanal resmi. Ia tidak ingin urusan pribadi Daniel membuatnya lalai pada tanggung jawabnya sendiri.
Sesaat sebelum pulang, Emma mengetuk pintu ruang Evelyn. Ia membawa catatan kecil tentang perubahan jadwal CSR dan tampak hendak menyampaikan hal lain.
'Kamu butuh apa?' tanya Evelyn.
'Aku hanya mau bilang Daniel terlihat tidak baik-baik saja sejak kemarin. Dia bahkan lupa makan siang.'
Evelyn menutup berkas. 'Dia bisa memilih sendiri kapan mau makan.'
'Kamu tidak ingin menanyakan keadaannya?'
'Aku akan bicara dengannya kalau dia mau membicarakan hal yang sebenarnya. Aku tidak akan menebak dari apa yang kamu lihat.'
Emma memainkan catatannya. 'Aku hanya khawatir.'
'Kalau begitu, kamu bisa mengingatkannya makan. Kalian bekerja berdekatan.'
Emma tampak terkejut mendengar izin yang diberikan tanpa kecemburuan. 'Kamu tidak keberatan?'
'Aku tidak akan melarang kalian berbicara. Aku hanya meminta semua orang tetap profesional.'
'Kamu benar-benar tidak peduli?'
'Aku tidak bilang begitu. Aku bilang aku tidak akan mengendalikan kalian.'
Emma terdiam. 'Aku mengerti.'
'Bagus. Sekarang kirimkan catatan perubahan jadwal itu melalui folder proyek, bukan lewat pesan pribadi.'
Emma mengangguk lalu pergi. Evelyn sadar sikap tidak peduli yang ia tunjukkan bisa disalahartikan sebagai kelemahan. Ia tidak perlu membuktikan bahwa ia cemburu atau marah. Batas yang jelas dan bukti yang tersimpan akan lebih kuat daripada adegan pertengkaran.
Di rumah, Bu Rini menyambutnya di pintu. 'Nona Evelyn, Tuan Daniel tadi menelepon. Beliau bertanya apakah Anda sudah pulang.'
'Apa Bu Rini bilang aku masih di kantor?'
'Saya bilang begitu. Beliau tidak menitipkan pesan.'
Evelyn menggantung tasnya. 'Terima kasih sudah tidak menjawab lebih dari yang ditanyakan.'
Bu Rini tersenyum samar. 'Saya tidak ingin ikut campur urusan Nona.'
'Aku menghargai itu.'
Malam itu Evelyn makan bersama Andrew seperti yang ia janjikan. Ia tidak menyebut Emma lagi, tetapi pikiran tentang Daniel tetap mengikuti sampai ia naik ke kamar. Belum ada balasan baru dari Daniel setelah jawaban yang dikirim Evelyn sore tadi. Ia memutuskan menunggu sampai mereka bertemu langsung.