Pagi berikutnya, Evelyn membaca lagi pesan Daniel yang meminta agar tanggal pernikahan tidak diubah tanpa persetujuannya. Ia membalas singkat bahwa mereka akan membicarakan semuanya sebelum ada pengumuman atau perubahan resmi. Setelah itu, ia menemukan Andrew di ruang makan. Ayahnya sudah mengenakan kemeja putih dan membaca jadwal pertemuan hari itu. Secangkir kopi masih utuh di sisi koran. Evelyn duduk di seberangnya, tetapi beberapa detik berlalu tanpa ada yang bicara.
'Kamu tidur nyenyak?' tanya Andrew.
'Lumayan. Ayah?'
'Ayah juga. Tapi kamu kelihatan seperti tidak tidur sama sekali.'
Evelyn tersenyum tipis. 'Aku memikirkan percakapan kita semalam. Aku tahu Daniel akan kecewa.'
'Dia mungkin kecewa, tapi bukan berarti kamu harus menarik kembali permintaanmu.'
'Aku tidak mau membuat Ayah berada di tengah-tengah kami.'
'Ayah tidak berada di tengah. Ayah hanya memastikan kamu tidak merasa harus menjalani rencana orang lain.' Andrew menutup koran. 'Kamu akan bicara langsung dengannya hari ini?'
'Iya. Setelah pekerjaan selesai. Aku ingin menjelaskan bahwa penundaan ini untuk memberi kita waktu, bukan untuk menghukum dia.'
Andrew mengangguk. 'Bagus. Jangan menjanjikan sesuatu yang belum kamu yakini.'
Evelyn memandang wajah ayahnya. Di kehidupan sebelumnya, ia membiarkan jarak di antara mereka tumbuh karena percaya semua hal bisa dibicarakan nanti. Ia berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi itu.
'Ayah, aku juga ingin meminta maaf kalau selama ini aku terlalu sibuk sampai jarang mengobrol dengan Ayah.'
Andrew tersenyum samar. 'Kamu tidak perlu meminta maaf untuk menjadi dewasa. Tapi kamu boleh mampir ke ruang kerja lebih sering. Ayah senang kalau kamu datang bukan hanya membawa berkas.'
'Aku akan berusaha.'
'Dan soal London, pikirkan baik-baik. Kalau kamu berangkat, pastikan itu karena kamu memang ingin belajar, bukan karena ingin lari dari masalah.'
'Aku tahu.'
Bu Rini datang membawa sepiring buah, lalu meletakkannya di meja. 'Nona Evelyn, mobil sudah siap kalau mau berangkat sekarang.'
'Terima kasih, Bu Rini.'
Andrew melipat korannya. 'Berangkatlah. Jangan biarkan Daniel menunggu jawaban sampai malam.'
'Aku akan menghubunginya begitu jadwalku selesai.'
***
Menjelang sore, Evelyn menutup laporan terakhir dan meminta sekretarisnya mengatur pertemuan dengan Daniel di ruang makan kecil dekat kantor. Ia tidak mau membicarakan keputusan itu lewat pesan. Daniel datang hampir tepat waktu, membawa wajah yang sejak awal sudah tegang.
'Kamu sudah bicara dengan Ayahmu,' katanya sebelum duduk.
'Iya. Aku meminta pernikahan ditunda sekitar dua bulan. Ayah setuju, tapi aku ingin membicarakannya denganmu sebelum jadwal apa pun diubah.'
Daniel menatapnya tajam. 'Kamu sudah meminta persetujuan dulu, baru datang memberitahuku.'
'Aku meminta Ayah menyiapkan kemungkinan penundaan. Belum ada pengumuman ke siapa pun. Keputusan ini harus kita bicarakan bersama.'
'Kamu tahu bagaimana itu terdengar? Seolah-olah pendapatku tidak penting.'
'Pendapatmu penting. Karena itu aku duduk di sini dan menjelaskan langsung.'
'Kenapa dua bulan?'
'Aku perlu waktu untuk mengatur tanggung jawab di perusahaan dan mempertimbangkan London. Kita juga perlu membahas rencana hidup setelah menikah.'
'Kita sudah tahu rencananya. Kita menikah, lalu kamu kuliah.'
'Kita pernah membicarakan itu. Tapi aku belum benar-benar memutuskan akan pergi. Aku tidak mau menjadikan pernikahan sebagai tanggal keberangkatan yang harus dikejar.'
Daniel menggeser cangkirnya tanpa meminumnya. 'Apa ini karena Marcus?'
Evelyn terkejut mendengar nama itu. 'Apa hubungannya Marcus dengan penundaan ini?'
'Kamu bertemu dengannya beberapa kali. Dia mantan calon pasangan pilihan Ayahmu, dan sekarang tiba-tiba muncul lagi.'
'Pertemuan kami urusan kerja.'
'Kamu bahkan tidak membantah bahwa dia masih tertarik padamu.'
'Aku tidak bisa mengatur perasaan orang lain. Yang bisa kuatur adalah keputusanku sendiri.'
Daniel menatapnya lama, lalu berdiri. 'Aku perlu waktu untuk memikirkan ini.'
'Aku mengerti.'
'Jangan harap aku akan bersikap seolah tidak ada yang berubah.'
'Aku tidak memintamu begitu.'
Daniel pergi tanpa menyentuh makanannya. Evelyn tetap duduk, menahan dorongan untuk mengejarnya dan menarik kembali kata-katanya. Ia tahu keputusan itu akan mengubah hubungan mereka. Justru karena itu, ia tidak boleh mengucapkannya tanpa kesadaran.
Ponselnya bergetar beberapa menit kemudian. Pesan dari Andrew masuk: 'Sudah kalian bicarakan?' Evelyn mengetik, 'Sudah. Dia butuh waktu.' Ia tidak menambahkan bahwa Daniel menyebut Marcus. Ada bagian yang harus ia selesaikan sendiri.
Andrew membalas, 'Baik. Ayah tidak akan menghubungi Daniel lagi malam ini.' Evelyn merasa lega. Ia tidak ingin ayahnya membuat Daniel merasa dikepung. Ia mengetik, 'Terima kasih. Besok aku akan mengurus pembicaraan kami sendiri.' Setelah mengirimnya, ia mematikan layar dan meletakkan ponsel di meja sejenak sebelum menyimpannya kembali ke tas. Keputusan itu sudah disampaikan; sekarang ia harus memberi Daniel kesempatan untuk memikirkan jawabannya.
Evelyn kembali ke kantor untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum pulang. Saat lampu-lampu mulai menyala, ia mengirim laporan terakhir dan menutup laptop, mengingatkan dirinya bahwa dua bulan itu bukan sekadar jeda di kalender. Itu adalah waktu untuk mencari jawaban yang selama ini ia hindari.
Di rumah, sesudah makan malam bersama Andrew seperti janjinya, ia meletakkan cangkir teh di meja dan membuka pesan dari Daniel lagi. Tidak ada pesan baru. Ia mulai mengetik penjelasan tentang pembicaraan dengan Andrew, lalu menghapusnya. Daniel sudah tahu alasan penundaan dan berhak memikirkan reaksinya sendiri. Mengirim pesan bertubi-tubi hanya akan mengubah permintaan itu menjadi negosiasi yang ia menangkan dengan rasa bersalah.
Andrew masuk ke ruang makan setelah mengakhiri panggilannya. 'Apa Daniel sudah menjawab pembicaraan kalian?'
'Belum. Dia meminta waktu.'
'Apa kamu ingin Ayah menjelaskan bahwa keputusan soal tanggal bukan hanya berasal dari Ayah?'
'Tidak. Aku akan menjelaskannya sendiri.'
Andrew mengangguk. 'Bagus. Ayah tidak mau menjadi alasan kalian saling menyalahkan.'
'Aku juga tidak ingin begitu. Aku yang meminta waktu. Aku harus berani mengatakan itu tanpa menyembunyikan diriku di belakang Ayah.'
'Kamu boleh meminta bantuan, Eve. Tapi jangan menyerahkan tanggung jawabmu kepada orang lain.'
'Aku tahu.'
'Kalau dua bulan ini membuatmu menyadari kamu masih ingin menikah dengannya, katakan. Kalau membuatmu sadar sebaliknya, katakan juga. Jangan bertahan hanya karena takut melukai orang.'
'Aku tidak mau melukai Daniel.'
'Kamu tidak bisa memastikan tidak ada yang terluka. Kamu hanya bisa memastikan tidak sengaja memberi harapan palsu.'
Evelyn menunduk. Ia teringat dirinya yang dahulu terus percaya pada kata-kata Daniel, bahkan ketika tindakannya membuktikan sebaliknya. Kali ini ia ingin memisahkan rasa kasihan dari kepercayaan.
'Besok aku akan bicara sejujurnya,' katanya.
'Itu saja yang Ayah minta.'