Daniel masih berdiri di ambang pintu setelah bertanya apakah Evelyn sedang mencari alasan untuk membatalkan pernikahan. Evelyn tidak segera menjawab. Ia menunggu sampai raut wajah pria itu berubah dari berharap menjadi kesal.
'Aku tidak sedang mencari alasan, Dan,' katanya akhirnya. 'Aku sedang mencoba memastikan bahwa keputusan sebesar ini benar-benar keputusan kita berdua.'
'Kita sudah membicarakannya berkali-kali. Kamu setuju menikah denganku.'
'Aku setuju. Tapi rencana bisa dibicarakan ulang kalau keadaan berubah.'
Daniel tertawa pendek tanpa kegembiraan. 'Keadaan apa yang berubah? Kamu sendiri yang bilang belum memutuskan soal London.'
'Pekerjaan sedang padat. Ayah juga butuh banyak bantuan. Aku perlu memikirkan semuanya sebelum menetapkan tanggal dan rencana yang terlalu rapat.'
'Kamu membuatnya terdengar seolah pernikahan kita beban.'
'Aku tidak mengatakan itu.'
'Tapi kamu tidak bisa bilang kamu masih menginginkannya.'
Evelyn menatap Daniel. Ia bisa saja mengatakan bahwa perasaannya berubah, tetapi itu akan membuka pertanyaan yang belum siap ia jawab. Ia juga tidak ingin berbohong dengan janji besar.
'Aku ingin kita membicarakan ini dengan tenang,' ujarnya. 'Bukan di kantor, dan bukan di tengah pekerjaan. Setelah ini aku akan bicara dengan Ayah tentang beberapa hal. Setelah itu, kita bisa duduk bersama.'
'Kenapa Ayahmu harus tahu lebih dulu daripada aku?'
'Karena beliau yang membantu mengatur pernikahan dan urusan keluarga. Aku ingin tahu apakah jadwalnya masih masuk akal. Itu bukan keputusan diam-diam.'
Daniel melipat tangan di dada. 'Kamu memang selalu punya alasan yang terdengar masuk akal.'
'Dan kamu selalu menganggap pertanyaan sebagai penolakan.'
Ia terdiam. Evelyn merapikan berkas di meja, memberi tanda bahwa percakapan mereka perlu berhenti sebelum berubah menjadi pertengkaran. Daniel akhirnya mundur.
'Kita bicarakan besok,' katanya.
'Baik.'
Daniel pergi tanpa menutup pintu dengan keras. Namun langkahnya di lorong terdengar berat, cukup untuk menunjukkan bahwa ia kecewa.
***
Evelyn menunggu sampai suasana kantor kembali sepi sebelum berjalan menuju ruang kerja Andrew. Ia mengetuk dua kali dan mendengar suara ayahnya menyuruhnya masuk. Andrew sedang membaca laporan, kacamata bertengger di ujung hidung.
'Kamu belum pulang, Eve?' tanyanya.
'Aku ingin bicara sebentar, Yah.'
Andrew menutup mapnya. 'Duduklah. Ada masalah di kantor?'
'Bukan. Ini tentang pernikahanku dengan Daniel.'
Andrew mengangkat alis. 'Kalian bertengkar?'
'Kami belum bertengkar. Aku hanya merasa jadwalnya terlalu dekat dengan banyak hal yang sedang berjalan. Pekerjaan, tanggung jawabku di perusahaan, dan rencana S2 ke London yang belum jelas.'
'Kamu masih mempertimbangkan kuliah itu?'
'Iya. Aku belum tahu apakah akan berangkat, tapi aku tidak ingin mengambil keputusan dengan terburu-buru.'
Andrew menatap putrinya dengan perhatian yang membuat Evelyn sulit menyembunyikan kegugupannya. 'Lalu apa yang kamu minta dariku?'
'Bisakah pernikahan ditunda sekitar dua bulan? Bukan dibatalkan. Aku hanya ingin ada waktu untuk menyelesaikan urusan perusahaan dan bicara baik-baik dengan Daniel.'
Andrew tidak langsung menjawab. Ia melepas kacamata dan meletakkannya di meja. 'Dua bulan cukup lama untuk mengubah banyak rencana. Apa kamu yakin tidak sedang memakai pekerjaan sebagai alasan karena ada hal lain yang mengganggumu?'
Evelyn menggenggam jemarinya. 'Aku hanya ingin waktu, Yah. Aku tidak mau mengecewakan siapa pun dengan memaksakan diri menjalani sesuatu yang belum kupikirkan matang-matang.'
'Kamu mencintai Daniel?'
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada yang Evelyn perkirakan. Ia menunduk sesaat sebelum menjawab, 'Aku pernah yakin dengan jawaban itu. Sekarang aku ingin memastikan aku tidak mengucapkannya hanya karena semua orang sudah mengatur masa depan kami.'
Andrew menghela napas. 'Ayah tidak akan memaksamu menikah. Tapi Daniel berhak mendengar alasanmu langsung. Jangan biarkan dia mengetahuinya dari orang lain.'
'Aku akan bicara dengannya besok.'
'Kalau begitu, Ayah setuju menunda jadwalnya. Dua bulan. Kita sampaikan sebagai keputusan bersama setelah kamu dan Daniel bicara.'
Evelyn terkejut oleh mudahnya persetujuan itu. 'Ayah tidak marah?'
'Ayah lebih suka kamu jujur sekarang daripada tersenyum di hari pernikahan sambil merasa terjebak. Tapi jangan pakai waktu ini untuk menghindari semua pertanyaan. Gunakan untuk mencari jawaban.'
Evelyn berdiri dan memeluk ayahnya. 'Terima kasih, Yah.'
Andrew mengusap punggungnya. 'Kamu tetap putri Ayah, apa pun keputusanmu.'
Evelyn melepas pelukannya, tetapi tetap berdiri di sisi kursi ayahnya. 'Kalau jadwalnya ditunda, para tamu undangan mungkin bertanya kenapa. Aku tidak mau Ayah harus memberi alasan yang tidak benar.'
'Ayah akan mengatakan kalian perlu menata kembali jadwal karena urusan pekerjaan dan pendidikan. Itu memang benar.'
'Kalau Daniel bilang alasan itu hanya menutupi masalah kami?'
'Maka dia harus mendengar langsung darimu bahwa ada hal yang perlu dibicarakan. Ayah tidak akan menjadi juru bicara untuk perasaanmu.'
Evelyn menarik kursi kecil dan duduk. 'Aku takut kalau aku menjelaskan terlalu banyak, dia akan mengira aku sudah memutuskan untuk pergi. Kalau aku bicara terlalu sedikit, dia mengira aku menghindar.'
'Kamu tidak bisa mengatur tafsirnya. Kamu hanya bisa memastikan kata-katamu jujur.'
'Aku ingin bilang bahwa aku masih memberi kesempatan pada hubungan kami. Tapi aku tidak tahu apakah itu cukup.'
Andrew menatapnya lama. 'Kesempatan bukan janji bahwa akhirnya akan selalu seperti yang kalian rencanakan. Itu hanya ruang untuk melihat apakah kalian masih memilih satu sama lain.'
Evelyn mengangguk. Kalimat itu memberinya cara untuk menjelaskan penundaan tanpa membuat keputusan akhir malam ini.
'Ayah akan menyiapkan kabar bagi penyelenggara dan tamu undangan setelah kalian bicara,' lanjut Andrew. 'Tidak perlu menyebut tanggal baru dulu. Kita cukup mengatakan jadwal lama ditinjau kembali.'
'Aku berterima kasih, Yah.'
'Jangan berterima kasih sebelum kamu melakukan bagianmu. Besok, temui Daniel. Dengarkan juga apa yang ia takutkan, bukan hanya apa yang membuatmu kesal.'
'Aku akan mencoba.'
Andrew meraih kacamata dan kembali mengenakannya. 'Dan jangan lupa pulang untuk makan. Belakangan kita lebih banyak bertemu di kantor daripada di rumah.'
Evelyn tersenyum. 'Besok aku akan pulang lebih awal.'
'Ayah akan menagih janji itu.'
Saat ia keluar dari ruang kerja, ponselnya menyala. Pesan Daniel muncul: 'Besok kita bicara. Jangan ubah tanggal pernikahan tanpa aku.' Evelyn membaca kalimat itu dua kali. Andrew sudah setuju menunda, tetapi pembicaraan paling sulit masih menunggunya.