Keesokan paginya, Evelyn tiba lebih awal dan menemukan Emma sudah berada di ruang kerja. Di layar komputer Emma, laporan CSR terbuka bersama daftar catatan dari Kennedi. Daniel berdiri di samping meja sambil menunjuk satu paragraf.
'Bagian ini terlalu panjang,' kata Daniel. 'Kalau diringkas, dewan akan lebih cepat memahami hasilnya.'
Emma menggeser kursinya. 'Tapi Kennedi minta dasar untuk setiap angka. Kalau aku hapus penjelasannya, mereka mungkin meminta revisi lagi.'
'Kita bisa menyimpan rinciannya di lampiran. Laporan utama cukup menunjukkan hasil.'
Evelyn masuk sebelum Emma menjawab. 'Rincian biaya tetap harus ada di lampiran dan diberi nomor yang sama dengan tabel utama. Jangan menghapusnya.'
Daniel menoleh. 'Aku hanya menyarankan supaya laporannya mudah dibaca.'
'Mudah dibaca tidak berarti kurang lengkap. Emma bisa mempersingkat kalimat tanpa menghilangkan sumber angka.'
Emma mengangguk. 'Aku akan menyusun ulang bagian itu.'
'Bagus. Daniel, terima kasih sudah membantu. Setelah ini, biarkan Emma menyelesaikan drafnya sendiri.'
Daniel tersenyum samar. 'Kamu benar-benar ingin memastikan dia tidak mendapat bantuan lebih dari yang seharusnya.'
'Aku ingin memastikan namanya tercantum pada pekerjaan yang memang dia kerjakan. Itu melindunginya dan perusahaan.'
Emma menatap Evelyn. 'Aku bisa menyelesaikannya.'
'Aku tahu.' Evelyn meletakkan map di meja kosong. 'Kalau sudah selesai, kirimkan kepadaku untuk pemeriksaan akhir.'
Daniel menarik kursi dan duduk di hadapan Emma. 'Baik. Aku tidak akan ikut campur lagi.'
Nada suaranya terdengar ringan, tetapi Evelyn melihat rahangnya menegang. Ia tidak membalas. Menangkap reaksi Daniel bukan berarti ia perlu menunjukkannya.
***
Menjelang siang, Kennedi meminta Evelyn dan Emma datang ke ruang rapat. Ia sudah membaca lampiran revisi dan menandai beberapa pertanyaan dengan pena merah.
'Emma, jelaskan kenapa jadwal pelaporan kegiatan pertama berubah dua minggu,' ujar Kennedi.
Emma membuka catatannya. 'Lokasi kegiatan meminta penyesuaian jadwal karena persiapan tempat belum selesai. Perubahan itu disetujui oleh bagian operasional. Saya sertakan email persetujuannya di lampiran.'
Kennedi membaca dokumen yang ditunjukkan. 'Kamu mencatat perubahan ini kemarin?'
'Ya. Saya mempertahankan versi awal dan membuat catatan perubahan agar perbandingannya jelas.'
Kennedi mengangguk tipis. 'Itu lebih baik. Anggaran masih perlu ditinjau bagian keuangan, tetapi laporan kegiatan bisa dilanjutkan.'
Emma terlihat lega, tetapi ia tidak tersenyum berlebihan. 'Terima kasih, Pak Kennedi. Saya akan menunggu hasil pemeriksaan anggarannya.'
Kennedi mengalihkan pandangan kepada Evelyn. 'Kamu memberi arahan langsung?'
'Saya mengingatkan standar dokumentasi. Emma yang memperbaiki laporan dan melengkapi lampirannya.'
'Bagus. Saya tidak ingin dewan mengira proyek ini hanya menjadi tempat latihan tanpa pertanggungjawaban.'
'Saya juga tidak ingin itu terjadi,' jawab Evelyn.
Setelah rapat, Emma berjalan bersama Evelyn di lorong. 'Aku kira Kennedi akan menolak semuanya.'
'Dia belum menyetujui anggaran. Tapi kamu sudah menjawab pertanyaannya dengan bukti. Itu kemajuan.'
'Kamu bisa saja menjawab untukku tadi.'
'Bisa. Tapi itu tidak akan membantu kamu belajar mempertahankan pekerjaanmu sendiri.'
Emma meliriknya. 'Kamu selalu bicara tentang tanggung jawab sekarang.'
'Karena perusahaan ini dibangun dari kepercayaan. Kalau seseorang ingin punya tempat di dalamnya, dia harus menunjukkan bahwa dirinya bisa dipercaya.'
Emma berhenti berjalan. 'Apa kamu sedang membicarakan aku?'
Evelyn ikut berhenti. 'Aku sedang bicara tentang semua orang di Celeste. Termasuk diriku sendiri.'
'Kamu tidak menjawab.'
'Aku tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan yang belum kamu ucapkan dengan jelas.'
Emma tertawa kecil tanpa kegembiraan. 'Kadang aku tidak tahu apakah kamu sedang menguji aku atau benar-benar ingin aku berhasil.'
'Keduanya tidak saling bertentangan. Aku bisa ingin kamu berhasil dan tetap tidak menutup mata kalau kamu melakukan kesalahan.'
Emma memandangnya lama. 'Kalau begitu, aku akan membuktikan bahwa aku pantas berada di sini.'
'Tunjukkan lewat pekerjaanmu.'
Emma kembali berjalan menuju ruangannya. Evelyn menunggu beberapa detik sebelum menyusul. Ia tidak ingin Emma melihat bahwa kata-kata itu menyentuh bagian dirinya yang masih berharap bisa menyelamatkan hubungan mereka. Namun harapan bukan alasan untuk mengabaikan kenyataan.
***
Sore hari Edwin menemui Evelyn dan memberi kabar bahwa peninjauan hak akses telah diajukan melalui prosedur rutin. Ia belum menerima riwayat aktivitas, tetapi bagian teknologi informasi akan memeriksa kebijakan lama dan daftar pengguna.
'Tidak ada tanda yang bisa dipastikan sejauh ini,' kata Edwin. 'Saya akan memberi tahu Anda kalau ada hasil resmi.'
'Terima kasih. Jangan terburu-buru. Kita tidak boleh merusak catatan hanya karena ingin cepat tahu.'
Edwin mengangguk. 'Saya juga ingin memastikan semuanya tercatat sesuai prosedur.'
Ketika Edwin pergi, Daniel muncul di ambang pintu. 'Kamu sering bicara dengan Pak Edwin akhir-akhir ini.'
Evelyn menyimpan buku catatannya. 'Dia membantu memastikan administrasi berjalan baik.'
'Soal apa?'
'Peninjauan akses dokumen perusahaan.'
Daniel diam sebentar. 'Dokumen apa saja?'
'Dokumen yang dipakai berbagai bagian. Ini pemeriksaan rutin, Dan.'
'Kamu tidak perlu menghindariku.'
'Aku tidak menghindarimu. Kalau kamu ingin tahu hal lain, tanyakan langsung.'
Daniel memandangnya, lalu tersenyum tipis. 'Tidak ada. Aku cuma ingin memastikan semuanya baik-baik saja.'
'Semuanya berjalan sesuai prosedur.'
Ia mengucapkan kalimat itu tanpa nada menuduh. Daniel mengangguk, tetapi sebelum berbalik, matanya sempat jatuh pada buku catatan yang Evelyn tutup.
'Eve,' katanya, 'kamu tidak sedang mencari-cari alasan untuk membatalkan pernikahan kita, kan?'
Evelyn menatapnya tenang. 'Aku tidak sedang mengambil keputusan itu hari ini.'
Wajah Daniel kembali menegang. 'Itu bukan jawaban yang membuatku tenang.'
'Aku tahu.'
Evelyn tidak menjawab lebih jauh saat itu. Daniel masih di ambang pintu, menunggu penjelasan yang dapat membuatnya tenang. Percakapan mereka belum selesai.
Belum ada bukti pengkhianatan baru. Tetapi Daniel mulai menyadari bahwa Evelyn tidak lagi memberinya jawaban yang ia inginkan.
Evelyn menutup catatannya. Ia tidak bisa memakai pekerjaan sebagai alasan untuk menghindari keputusan pribadi selamanya. Di hadapannya, Daniel belum beranjak; kali ini ia harus mengatakan dengan jelas waktu yang dibutuhkannya, bukan memberikan jawaban samar lagi.
Ia mengirim permintaan waktu bicara kepada Andrew. Balasan ayahnya datang: Evelyn boleh menemuinya setelah ia selesai membaca satu laporan terakhir.