Pukul tiga sore, Evelyn menerima pesan singkat dari Edwin bahwa pemeriksaan awal hak akses sudah selesai. Ia membaca pesan itu dua kali, lalu meminta Edwin datang ke ruangannya tanpa membawa berkas yang mencolok.
Edwin tiba beberapa menit kemudian dengan tablet dan buku catatan kecil. Ia menutup pintu sebelum duduk.
'Saya belum membuka dokumen sahamnya,' katanya. 'Saya hanya memeriksa daftar pengguna yang memiliki izin akses dan catatan administrasi yang tersedia.'
'Siapa saja yang memiliki izin?'
'Anda, Pak Daniel, beberapa orang bagian legal, dan dua administrator sistem. Akses Bapak Andrew tercatat sebagai pemilik lama, tetapi tidak dipakai sejak beliau menyerahkan sebagian urusan operasional kepada Anda.'
Evelyn menyandarkan punggung. 'Apakah itu wajar?'
'Untuk dokumen perusahaan, ya. Namun izin beberapa pengguna terlalu luas. Mereka bisa membuka berkas yang tidak berkaitan dengan pekerjaan hariannya. Saya belum tahu apakah itu kebijakan lama atau perubahan baru.'
'Bisa diperiksa tanpa memberi tahu mereka?'
'Saya bisa meminta daftar kebijakan akses sebagai pemeriksaan rutin. Untuk mengetahui siapa yang pernah membuka dokumen tertentu, saya perlu persetujuan bagian teknologi informasi. Saya tidak ingin melanggar prosedur atau mengubah catatan yang ada.'
'Jangan lakukan apa pun yang membuat jejaknya berubah. Kita ikuti jalur resmi, tapi cari alasan pemeriksaan yang masuk akal.'
Edwin mencatat instruksi itu. 'Saya akan mengajukan peninjauan hak akses untuk seluruh dokumen kepemilikan, bukan hanya dokumen Anda. Dengan begitu, pemeriksaannya tidak terlihat mengarah kepada seseorang.'
'Bagus. Apakah ada tanda bahwa dokumen saya pernah diubah?'
'Saya belum bisa menyimpulkan. Daftar yang saya lihat hanya menunjukkan izin, bukan isi atau riwayat perubahan. Saya tidak akan menebak sebelum ada catatan yang bisa diverifikasi.'
Evelyn mengangguk. Sikap Edwin membuatnya lega. Ia tidak membutuhkan dugaan yang dibungkus sebagai kepastian; ia membutuhkan sesuatu yang dapat diperiksa kembali.
'Tolong simpan catatan pekerjaan ini di tempat yang hanya Bapak akses. Gunakan penyimpanan terbatas yang ditetapkan dalam mandat pemeriksaan; jangan kirim ke folder umum.'
'Baik.'
'Dan satu hal lagi. Kalau ada yang bertanya, pemeriksaan ini bagian dari peninjauan rutin setelah presentasi CSR. Kita memastikan tata kelola seluruh berkas perusahaan.'
'Saya mengerti.'
***
Saat Edwin keluar, Evelyn berdiri dan memandang ke arah ruang kerja Daniel. Pintu ruangannya terbuka sedikit. Dari tempatnya, ia dapat melihat Daniel berbicara dengan Emma di dekat meja kerja perempuan itu. Emma menyerahkan sebuah amplop tipis, lalu Daniel menyelipkannya ke dalam mapnya.
Evelyn tidak bisa mendengar percakapan mereka. Ia juga tidak berhak menganggap setiap bisikan sebagai bukti. Namun kebiasaan lama membuatnya mengenali cara Daniel menurunkan suara setiap kali ia ingin merahasiakan sesuatu.
Ia kembali ke meja dan memanggil Emma melalui interkom.
'Emma, lampiran CSR sudah dikirim ke Kennedi?'
'Sudah, Eve. Tadi aku juga mengirim salinannya ke bagian keuangan.'
'Bagus. Bisa kamu bawa bukti pengiriman dan versi finalnya ke ruanganku?'
Beberapa menit kemudian Emma datang membawa laptop. 'Ada yang salah?'
'Aku hanya ingin memastikan berkas yang dikirim sama dengan versi yang kita periksa.'
Emma membuka emailnya dan menunjukkan lampiran. Evelyn mencocokkan angka serta waktu pengiriman. Semuanya sesuai. Ia hanya dapat memastikan bahwa lampiran yang dikirim cocok dengan versi yang diperiksanya. Pemeriksaan itu tidak menjelaskan isi amplop yang berpindah tangan atau apakah Daniel menyimpan salinan lain.
'Semuanya cocok,' kata Evelyn. 'Terima kasih sudah menyimpan versi final.'
Emma menutup laptop. 'Kamu memeriksa semua dokumen seperti ini?'
'Untuk sekarang, iya. Aku sedang memastikan alur administrasi berjalan rapi.'
'Aku merasa kamu sedang mengawasi kami.'
Evelyn menatapnya tanpa tersenyum. 'Kalau kamu tidak melakukan apa pun yang melanggar aturan, pemeriksaan seperti ini tidak perlu membuatmu takut.'
Emma tersentak kecil. 'Aku tidak takut. Aku cuma ingin tahu kenapa kamu begitu berbeda.'
'Mungkin karena aku mulai memperhatikan hal-hal yang dulu kuabaikan.'
'Hal-hal apa?'
'Cara orang mengelola tanggung jawabnya. Cara mereka menjaga kepercayaan. Cara mereka memilih untuk jujur ketika tidak ada yang bertanya.'
Emma menahan napas, lalu mengalihkan pandangan ke layar laptopnya. 'Aku harus kembali bekerja.'
'Silakan.'
Saat Emma pergi, Evelyn menuliskan waktu pertemuan dan hal yang dilihatnya: amplop tipis berpindah dari Emma ke Daniel. Ia tidak menambahkan tafsir. Jika kelak ia membutuhkan bukti, catatan yang jujur lebih berguna daripada kecurigaan yang dibesar-besarkan.
Sore mulai berakhir ketika Edwin mengirim pesan kedua. Ia menemukan bahwa hak akses Daniel mencakup folder dokumen saham, tetapi belum ada bukti bahwa Daniel pernah membuka atau mengubah berkas tertentu. Evelyn membalas agar pemeriksaan resmi dilanjutkan.
Setidaknya kini ia tahu pintu mana yang harus diawasi. Ia belum tahu siapa yang akan melewatinya.
Sebelum pulang, Edwin mengirimkan draf permohonan pemeriksaan kebijakan akses. Evelyn membaca setiap barisnya, memastikan tidak ada nama yang disorot secara khusus. Ia mengubah satu kalimat agar permintaan itu mencakup seluruh berkas kepemilikan dan dokumen dewan.
'Kalau permohonannya sudah sesuai, saya kirim lewat jalur resmi besok pagi,' kata Edwin melalui telepon.
'Kirim setelah bagian legal memastikan tidak ada aturan yang terlewat. Kita tidak perlu terburu-buru sampai mengabaikan prosedur.'
'Saya akan minta pemeriksaan sebelum dikirim.'
'Terima kasih, Pak Edwin.'
Setelah menutup panggilan, Evelyn membuka kembali catatan tentang amplop yang ia lihat berpindah tangan. Ia menambahkan keterangan bahwa isi amplop tidak diketahui dan ia belum menanyakan kepada Emma. Ia tidak ingin ingatannya berubah menjadi tuduhan hanya karena rasa takut.
Ponselnya kembali bergetar. Daniel mengirim pesan: 'Aku tunggu di parkiran. Kita pulang bersama?'
Evelyn membalas, 'Aku masih harus menyelesaikan beberapa hal. Pulanglah dulu.'
Ia tidak tahu apakah Daniel akan membaca itu sebagai penolakan atau sekadar kesibukan. Namun malam ini ia memilih untuk tidak berada dalam mobil yang sama dengannya. Ia perlu ruang untuk memikirkan pernikahan yang tinggal sebulan lagi, dan keputusan yang tidak bisa terus ditunda.
Di luar jendela, lampu-lampu kantor mulai padam satu per satu. Evelyn tetap duduk sampai lorong sepi, lalu menyimpan berkasnya di laci berkunci. Ketika ia berdiri, ia melihat bayangan seseorang berhenti sejenak di balik kaca buram pintu ruangannya, kemudian menjauh. Evelyn membuka pintu, tetapi lorong sudah kosong.