Menjelang tengah hari, Emma datang ke ruang Evelyn membawa lampiran anggaran yang sudah diperbaiki. Mapnya lebih tebal daripada pagi tadi, dengan tabel lokasi, biaya distribusi, dan jadwal pelaporan.
'Aku sudah melengkapi semua rinciannya,' kata Emma. 'Daniel membantu mengecek rumus, tapi semua angka ini berdasarkan dokumen proyek.'
Evelyn membuka halaman pertama. 'Kamu mencantumkan sumber untuk setiap biaya?'
'Ada di kolom terakhir. Kalau kamu mau, aku bisa menjelaskan satu per satu.'
'Tidak perlu sekarang. Aku akan memeriksanya sebelum dikirim ke Kennedi.'
Emma duduk tanpa diminta. 'Kamu selalu teliti begini?'
'Untuk dokumen yang dibawa ke dewan, iya.'
'Aku pikir kamu tidak suka aku bekerja di proyek ini.'
Evelyn mengangkat mata dari kertas. 'Kenapa kamu berpikir begitu?'
'Entahlah. Mungkin karena kamu sekarang menjaga jarak. Kamu bicara padaku seperti atasan, bukan seperti saudara.'
'Kita memang sedang di kantor. Aku tidak ingin membuatmu terlihat mendapat perlakuan khusus.'
'Tapi kita keluarga.'
'Keluarga tidak berarti kamu tidak perlu bertanggung jawab. Aku bisa menyayangimu dan tetap meminta pekerjaanmu benar.'
Emma memainkan ujung map. 'Kamu masih menyayangiku?'
'Aku tidak pernah mengatakan sebaliknya.'
Jawaban itu membuat Emma diam. Evelyn kembali memeriksa tabel. Ia menemukan satu jumlah yang tidak sama dengan catatan awal, tetapi bukan kesalahan besar. Ia menunjukkannya dengan ujung pena.
'Di sini biaya distribusi berbeda dari lampiran sebelumnya. Apa ada perubahan?'
Emma mendekat untuk melihat. 'Oh, itu karena lokasi kedua ternyata memakai kendaraan perusahaan. Biayanya dipindahkan ke pos operasional. Aku sudah minta bagian administrasi mengoreksinya.'
'Ada bukti persetujuannya?'
'Ada. Aku lampirkan emailnya di halaman terakhir.'
Evelyn memeriksa halaman itu, lalu mengangguk. 'Baik. Kirim versi ini ke Kennedi dan salin ke bagian keuangan. Jangan kirim versi sebelumnya.'
'Aku akan mengirimnya sekarang.'
'Kerjamu hari ini lebih rapi daripada draf pagi. Aku menghargai itu.'
Emma tersenyum, kali ini lebih tulus. 'Terima kasih. Aku memang ingin membuktikan bahwa aku bisa berguna di perusahaan.'
'Kalau kamu terus bekerja seperti ini, orang akan menilai dari hasilmu.'
Emma berdiri sambil membawa map. 'Aku akan kembali ke ruanganku.'
'Emma.'
Ia menoleh. 'Ya?'
'Jangan biarkan siapa pun mengubah angka dalam laporan tanpa jejak tertulis. Termasuk Daniel. Kalau ada koreksi, simpan versi sebelumnya dan catat siapa yang meminta perubahan.'
Emma mengernyit. 'Kamu curiga pada Daniel?'
'Aku meminta prosedur yang sama untuk semua orang. Kalau dokumennya bersih, catatan itu justru melindungi kalian.'
Emma tampak ingin bertanya lagi, tetapi akhirnya hanya mengangguk. 'Aku mengerti.'
***
Siang itu Evelyn bertemu Daniel di ruang kecil dekat bagian keuangan. Ia membawa dua berkas yang harus ditandatangani, sementara Daniel sudah berada di sana dengan kopi di tangan.
'Aku dengar presentasi Emma berjalan cukup baik,' kata Daniel.
'Dia memperbaiki lampirannya. Kennedi belum menyetujui anggaran, tapi sekarang datanya lengkap.'
Daniel tersenyum. 'Kamu selalu tahu cara membuat orang merasa dihargai.'
'Aku hanya mengatakan apa yang memang dikerjakan dengan baik.'
'Kamu juga memujiku tadi, meski sambil memberi peringatan.'
Evelyn menaruh dokumen di meja. 'Kamu membantu memeriksa rumus. Itu pantas disebut. Peringatanku soal perubahan angka berlaku untuk semua orang.'
Daniel mengambil berkas pertama. 'Kamu jadi sulit ditebak akhir-akhir ini. Satu saat kamu bersikap hangat, berikutnya kamu bicara seperti sedang menginterogasi.'
'Aku tidak sedang menginterogasi siapa pun. Aku sedang memastikan dokumen perusahaan benar.'
'Kamu tahu maksudku.'
'Kalau kamu punya pertanyaan tentang London atau pernikahan, tanyakan langsung. Jangan menebak-nebak dari cara bicaraku di kantor.'
Daniel menatapnya lama. 'Apa kamu ingin tetap menikah denganku?'
Evelyn tidak menjawab cepat. Di kehidupan sebelumnya, ia akan terburu-buru menenangkan Daniel, meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta dapat memperbaiki apa pun. Kini ia memilih kata yang tidak membuat janji palsu.
'Aku belum membatalkan rencana itu,' katanya. 'Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa semua pertanyaanku sudah terjawab.'
Wajah Daniel mengeras. 'Pertanyaan apa?'
'Tentang banyak hal. Kita bisa membicarakannya saat tidak sedang mengurus dokumen kantor.'
'Kamu bicara seolah aku melakukan sesuatu yang salah.'
'Aku tidak menuduhmu. Aku bilang ada hal yang perlu dibicarakan.'
Daniel mengalihkan pandangannya ke berkas. 'Baik. Nanti kita bicara.'
Ia menandatangani halaman yang ditunjuk Evelyn, lalu mengembalikan pena. Evelyn memeriksa tanda tangan dan tanggalnya. Gerak-gerik Daniel tampak biasa, tetapi ketika ia membalik halaman, Evelyn melihat jarinya berhenti sejenak pada bagian kepemilikan saham.
'Halaman berikutnya tidak perlu tanda tanganmu,' kata Evelyn. 'Itu hanya lampiran administrasi.'
Daniel segera menutup berkas. 'Aku tahu. Aku hanya melihat urutannya.'
Evelyn menerima dokumen itu tanpa menunjukkan kecurigaan. 'Terima kasih sudah memeriksa.'
'Kamu juga.'
Ketika Daniel pergi, Evelyn membuka kembali berkas pada halaman yang tadi ia lihat. Tidak ada perubahan. Namun ia mengingat jeda itu dengan jelas. Daniel memperhatikan bagian saham, bahkan ketika tak ada alasan untuk melakukannya.
Sebelum melanjutkan pekerjaan sore, Evelyn menyimpan salinan laporan CSR di folder bersama yang hanya bisa diakses oleh bagian terkait. Ia menambahkan catatan waktu pengiriman dan daftar penerima. Kebiasaan sederhana itu membuatnya teringat pada dokumen lama yang dulu muncul tanpa pernah ia ketahui siapa yang mengubahnya.
Ia mengangkat telepon dan meminta bagian administrasi mengirimkan kebijakan tertulis tentang penyimpanan berkas dewan.
'Apakah ada format tertentu yang Anda perlukan, Nona Evelyn?' tanya staf administrasi.
'Salinan kebijakan terakhir, daftar pihak yang berwenang, dan tanggal pembaruannya. Jangan kirim dokumen yang memuat data pribadi.'
'Baik. Saya kirim melalui folder resmi.'
Evelyn menutup telepon. Ia tidak hendak memakai laporan Emma untuk menyelidiki Daniel. Setiap dokumen memiliki jalurnya sendiri, dan mencampuradukkan urusan hanya akan memudahkan orang lain menuduhnya bertindak karena cemburu.
Saat ia melewati meja Emma, perempuan itu sedang merapikan berkas ke dalam map transparan. 'Kamu akan melanjutkan pekerjaan?' tanya Emma.
'Ya, setelah menyerahkan dua berkas. Kamu?'
'Aku ingin memastikan lampiran yang dikirim Kennedi tidak tertukar.'
'Simpan satu salinan di folder bersama. Jangan hanya di laptopmu.'
Emma mengangguk. 'Aku akan melakukannya.'
Evelyn berjalan pergi tanpa menawarkan bantuan. Ada jarak baru di antara mereka, tetapi jarak itu memberi Emma ruang untuk menunjukkan pilihan-pilihannya sendiri.