Ruang rapat Celeste Corporation dipenuhi cahaya pagi yang jatuh dari dinding kaca. Di ujung meja, Kennedi Johnson memeriksa susunan materi presentasi tanpa menunjukkan ekspresi. Emma duduk di seberang Evelyn, merapikan lembar-lembar anggaran CSR untuk terakhir kali.
'Kamu sudah siap?' tanya Evelyn.
Emma menutup mapnya. 'Sudah. Aku hanya berharap tidak ada angka yang terlewat.'
'Kalau ada pertanyaan, jawab berdasarkan data. Jangan mencoba mengarang jawaban hanya supaya terlihat yakin.'
Emma tersenyum kecil. 'Kamu terdengar seperti sedang memberi nasihat kepada adikmu.'
'Anggap saja begitu. Tapi di ruang ini, kamu sedang mewakili proyek. Jadi semua orang akan menilai pekerjaanmu, bukan hubungan kita.'
Kennedi mengangkat pandangan dari dokumen. 'Kita mulai. Emma, silakan jelaskan tujuan program, anggaran, dan cara perusahaan mengukur hasilnya.'
Emma berdiri. Ia menghubungkan laptop ke layar, lalu memulai dengan suara yang awalnya sedikit tertahan. Program CSR itu mencakup dukungan pendidikan dan kegiatan masyarakat yang sudah berjalan. Ia menjelaskan besaran anggaran, jadwal pelaksanaan, serta laporan yang akan diserahkan setiap bulan.
Evelyn memperhatikan tangan Emma yang menggenggam alat penunjuk. Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu sering menutup kekurangan Emma dengan pujian. Kali ini ia menunggu, tidak menyela dan tidak menolong sebelum diminta.
'Anggaran administrasi naik delapan persen,' kata Kennedi setelah Emma menyelesaikan bagian pertama. 'Apa dasar kenaikannya?'
Emma melihat catatannya. 'Ada tambahan biaya pencatatan kegiatan dan distribusi laporan ke beberapa lokasi.'
'Lokasi mana saja? Saya tidak melihat daftarnya di lampiran.'
Emma terdiam sejenak. 'Saya belum memasukkan rinciannya di halaman ini. Saya bisa mengirimkan daftar lengkap setelah rapat.'
'Sebelum rapat berikutnya,' ujar Kennedi dingin. 'Dewan tidak bisa menyetujui angka yang tidak memiliki dasar tertulis.'
'Baik, Pak Kennedi. Saya akan lengkapi hari ini.'
Kennedi menatap Evelyn. 'Kamu yang menugaskan Emma?'
'Saya ikut menyusun pembagian kerja, tetapi Emma yang menyiapkan dan akan mengelola laporan proyek ini,' jawab Evelyn. 'Saya akan memastikan prosedurnya dipatuhi.'
'Pastikan saja penilaian tetap berdasarkan hasil. Hubungan keluarga tidak mengubah standar dewan.'
'Saya setuju.'
Emma melanjutkan presentasi. Kali ini ia lebih berhati-hati, menyebut bagian yang masih perlu dilengkapi dan menjanjikan lampiran sebelum sore. Ia tidak mencoba menyembunyikan kekurangan itu. Saat selesai, Kennedi menutup mapnya.
'Saya belum menyetujui seluruh anggaran,' katanya. 'Kirimkan rincian biaya dan jadwal sebelum pukul empat. Setelah itu, kami akan meninjau ulang.'
Emma mengangguk. 'Saya akan mengirimkannya, Pak.'
'Rapat selesai.'
***
Setelah Kennedi keluar untuk menerima panggilan di ruang tunggu, Emma merapikan kertas dengan gerakan cepat. Evelyn menunggu sampai pintu tertutup sebelum bicara.
'Kamu menangani pertanyaannya dengan baik.'
Emma menatapnya heran. 'Padahal aku tidak bisa menjawab soal rincian biaya.'
'Kamu mengakui apa yang belum siap dan berjanji melengkapinya. Itu lebih baik daripada memberi angka tanpa dasar. Pastikan janji itu benar-benar kamu penuhi.'
'Kamu tidak kecewa?'
'Aku akan kecewa kalau kamu menutupi kesalahan atau mengubah laporan. Kekurangan yang bisa diperbaiki bukan alasan untuk menjatuhkanmu.'
Emma memandang Evelyn beberapa saat, seperti sedang mencari maksud tersembunyi. 'Kamu benar-benar berubah, Eve. Dulu kamu mungkin akan membantuku menjawab semuanya.'
'Dulu aku sering terlalu cepat mengambil alih pekerjaan orang lain.' Evelyn merapikan berkas miliknya. 'Sekarang aku ingin semua orang bertanggung jawab atas hasilnya sendiri.'
'Termasuk aku?'
'Terutama kamu. Kalau kamu ingin dipercaya, tunjukkan bahwa kamu sanggup mengerjakan tugas yang diberikan.'
Emma menarik napas, lalu tersenyum tipis. 'Aku akan menyelesaikan rinciannya.'
'Bagus.'
Daniel masuk beberapa menit kemudian dengan tablet di tangan. Ia melihat Emma lebih dulu. 'Bagaimana presentasinya?'
'Kennedi meminta rincian tambahan. Aku harus mengirimkannya sebelum pukul empat,' jawab Emma.
'Kalau begitu, aku bisa membantumu mengecek angka-angkanya.'
Evelyn menutup mapnya dan berdiri. 'Bantuan boleh, tapi laporan tetap harus disusun Emma. Jangan mengubah angka tanpa catatan pendukung.'
Daniel menoleh kepadanya. 'Aku tahu cara mengerjakan laporan, Eve.'
'Aku tidak meragukan itu. Aku hanya mengulang standar yang tadi disampaikan Kennedi.'
Emma menyela sebelum Daniel membalas. 'Aku bisa mengerjakannya sendiri. Kalau ada angka yang membingungkan, baru aku tanya.'
Evelyn tersenyum. 'Itu keputusan yang tepat.'
Daniel menatap mereka bergantian. 'Kalian terdengar kompak sekali pagi ini.'
'Kami membicarakan pekerjaan,' kata Evelyn. 'Memang seharusnya begitu di kantor.'
Daniel menurunkan tablet. 'Kamu ada waktu makan siang?'
'Aku ada rapat dengan bagian keuangan.'
'Kamu selalu punya rapat belakangan ini.'
'Karena pekerjaanku memang menumpuk.' Evelyn meraih tasnya. 'Aku akan melihat lampiran Emma setelah dikirim. Bukan untuk mengerjakannya, hanya memastikan semua syarat dewan terpenuhi.'
Ia melangkah ke pintu. Dari sudut matanya, ia melihat Daniel mendekat ke meja Emma dan berbicara lebih pelan. Emma mencondongkan tubuh untuk mendengar. Tidak ada sentuhan, tidak ada kata yang bisa dijadikan bukti. Hanya kedekatan yang terlalu akrab untuk dua rekan kerja.
Evelyn tidak berhenti. Ia sudah tahu bahwa kecemburuan tidak akan membongkar apa pun. Yang ia perlukan adalah waktu, catatan, dan bukti yang tidak bisa mereka bantah.
Dalam perjalanan menuju lift, ia mendengar pintu ruang rapat dibuka. Kennedi berdiri dekat ruang tunggu sambil berbicara melalui telepon, suaranya tegas membahas batas anggaran. Evelyn menunggu di samping meja resepsionis sampai Kennedi menutup panggilan.
'Pak Kennedi, boleh saya menanyakan satu hal tentang penilaian Emma?' ujar Evelyn.
Kennedi menyimpan ponselnya. 'Kalau tentang presentasinya, saya sudah menyampaikan penilaian saya.'
'Saya hanya ingin memastikan ia diberi kesempatan melengkapi kekurangan, bukan langsung dianggap tidak mampu.'
'Saya tidak menilai orang dari satu presentasi. Tapi saya juga tidak akan memberi kelonggaran karena ia saudara Anda.'
'Saya tidak meminta kelonggaran. Saya ingin aturan yang sama diterapkan pada semua orang.'
Kennedi menatap Evelyn. 'Bagus. Pastikan dia tahu Anda tidak akan menutupi kekurangannya.'
'Dia tahu.'
'Kalau begitu, biarkan hasilnya berbicara.'
Evelyn mengangguk. 'Itu yang akan saya lakukan.'
Percakapan singkat itu menegaskan batas yang ingin ia jaga. Ia tidak bisa meminta dewan percaya kepada Emma hanya karena mereka tumbuh serumah. Emma harus membangun kepercayaan itu sendiri. Saat Evelyn masuk lift, ia melihat Daniel keluar dari ruang rapat, disusul Emma yang membawa laptopnya. Pria itu berhenti sejenak ketika melihatnya, lalu mengangkat tangan seolah hendak menyapa. Evelyn membalas dengan anggukan singkat. Tidak ada alasan untuk memancing pertengkaran sebelum ia memahami apa yang sedang disembunyikan.