Senyum Emma membeku sesaat setelah Evelyn mengucapkan terima kasih. Hanya sesaat, terlalu singkat untuk disebut perubahan ekspresi, tetapi cukup lama untuk membuat Evelyn yakin bahwa kalimatnya telah mengenai sasaran.
'Kamu berterima kasih karena aku memberi tahu Daniel?' tanya Emma, berusaha mempertahankan nada ringan.
Evelyn membuka kembali pintu ruangannya, lalu berhenti di ambangnya. 'Iya. Daniel akhirnya bertanya langsung, jadi kami bisa membicarakannya. Kalau dia mendengar kabar itu dari orang lain, mungkin salah pahamnya lebih besar.'
'Aku tidak bermaksud ikut campur urusan kalian,' kata Emma. 'Aku hanya tidak ingin kalian bertengkar karena aku menyimpan informasi.'
'Tentu.' Evelyn tersenyum tipis. 'Kamu selalu memikirkan kami.'
Emma menatapnya, mencoba menangkap sesuatu di balik suara tenang itu. 'Kamu tidak marah?'
'Untuk apa? Rencana London itu memang belum rahasia. Aku hanya belum memutuskan kapan dan bagaimana membicarakannya dengan Daniel.'
'Jadi kamu tetap akan pergi?'
'Aku belum tahu. Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan.' Evelyn menggeser map di tangannya. 'Kuliah, perusahaan, keluarga. Semuanya tidak bisa diputuskan hanya karena satu percakapan.'
Emma mengangguk perlahan. Ia mengira Evelyn akan tersinggung karena campur tangannya, atau setidaknya menunjukkan rasa tidak nyaman. Namun Evelyn justru menerima penjelasan itu dengan mudah. Sikap tersebut membuat Emma lebih gelisah daripada kemarahan.
'Kalau begitu, aku kembali ke mejaku,' ujar Emma. 'Laporannya harus selesai sebelum besok.'
'Silakan. Jangan lupa rapikan bagian anggaran. Kennedi akan memperhatikan angka-angkanya.'
Emma tertawa kecil. 'Aku tahu. Dia selalu melihat kekurangan lebih dulu.'
'Itu pekerjaannya sebagai ketua dewan.' Evelyn mundur setapak, memberi jalan. 'Besok tunjukkan hasil persiapanmu.'
Emma berjalan menuju lift. Ketika pintunya menutup, Evelyn mengembuskan napas pelan. Ia tidak sedang memuji Emma. Ia sedang mengingatkan perempuan itu bahwa setiap gerakannya diperhatikan.
Ia kembali ke ruangannya dan menatap jadwal kerja yang menempel di papan. Besok ada peninjauan internal persiapan CSR. Pembaruan jadwal telah memajukan pemaparan yang sempat disebut akan berlangsung bulan depan ke pekan berikutnya. Besok hanya persiapan untuk itu; Kennedi ingin memeriksa kesiapan anggaran lebih dahulu. Evelyn yang dulu akan memastikan semua bahan Emma selesai, lalu menyebutnya sebagai kerja sama. Kini ia sengaja membiarkan Emma menghadapi pertanyaan dewan sendiri. Ia tidak ingin menjebak Emma, tetapi juga tidak akan lagi menjadi pelindung yang menghapus setiap kesalahan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Emma masuk: 'Kamu benar-benar tidak marah soal Daniel?'
Evelyn membaca pesan itu, lalu mengetik, 'Tidak. Aku hanya ingin kita jujur tentang apa yang kita lakukan.' Ia berhenti sebelum mengirim. Kalimat itu terdengar seperti peringatan, dan Emma mungkin akan bertanya lebih jauh. Setelah menghapusnya, ia mengganti dengan, 'Tidak. Kita bicarakan pekerjaan besok. Semoga persiapanmu lancar.'
Balasan Emma datang cepat. 'Terima kasih, Eve. Aku akan berusaha.'
Evelyn meletakkan ponsel. Ia ingin percaya bahwa masih ada bagian Emma yang bisa memilih jalan berbeda. Namun keputusan untuk mempercayai seseorang tidak sama dengan menyerahkan seluruh kewaspadaan. Ia membuka kalender, memeriksa ulang jadwal rapat, dan memberi tanda pada waktu presentasi. Besok, ia akan duduk sebagai penanggung jawab pemeriksaan keuangan yang menilai persiapan Emma, bukan sebagai kakak yang menyelamatkannya.
***
Malam itu, Daniel menelepon ketika Evelyn baru saja duduk di ruang keluarga. Andrew sudah naik ke lantai atas, sementara Bu Rini merapikan cangkir teh di meja. Nama Daniel menyala di layar ponsel. Evelyn menunggu dua dering sebelum menjawab.
'Eve, kamu sudah di rumah?' tanya Daniel.
'Sudah. Ada apa?'
'Aku ingin meluruskan soal London. Emma bilang kamu belum memutuskan, tapi aku tidak mau kita membiarkan hal ini menggantung.'
Evelyn melirik cangkir yang ditinggalkan Bu Rini. 'Aku memang belum memutuskan. London baru pertimbangan. Aku tidak sedang membeli tiket besok pagi.'
Daniel terdiam di ujung sana. 'Tapi kalau kamu pergi, bagaimana dengan pernikahan kita?'
'Kita masih punya waktu untuk membicarakannya. Rencana itu belum berubah hari ini.'
'Kedengarannya kamu menghindar.'
'Aku sedang menjawab pertanyaanmu dengan jujur, Dan. Aku belum mengambil keputusan. Aku juga tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum kupastikan.'
'Kamu bisa saja bilang kamu tidak akan pergi.'
'Aku bisa mengatakan apa pun supaya kamu tenang, tapi itu bukan jawaban yang jujur.' Evelyn menjaga suaranya tetap datar. 'Aku ingin kamu percaya bahwa kita bisa membahas ini tanpa saling menekan.'
Daniel menghela napas. 'Aku cuma merasa belakangan ini kamu menjauh.'
'Aku sedang sibuk dengan pekerjaan dan banyak pikiran. Itu tidak otomatis berarti aku menjauh darimu.'
'Baiklah. Besok kita bicara lagi?'
'Kalau ada hal yang perlu dibicarakan, tentu. Sekarang aku perlu menyelesaikan beberapa berkas. Selamat malam, Dan.'
Setelah telepon berakhir, Evelyn tidak langsung meletakkan ponselnya. Jawaban samar itu cukup untuk menunda pertengkaran, tetapi tidak cukup untuk membuat Daniel merasa aman. Memang itu yang ia inginkan: Daniel tetap dekat, tetap mengira pernikahan mereka berjalan sesuai rencana, dan tidak tahu bahwa Evelyn sedang mengamati setiap langkahnya.
Ia membuka kontak Edwin. Sebelum menekan tombol panggil, ia sempat membaca ulang pesan terakhir pria itu tentang jadwal kerja besok.
'Pak Edwin, maaf menghubungi malam-malam,' ucapnya ketika panggilan tersambung. 'Aku perlu meminta bantuan.'
'Tentu, Nona Evelyn. Ada apa?'
'Tolong periksa akses ke dokumen saham dan tanda tangan digital di sistem perusahaan. Jangan mengubah apa pun dan jangan menarik perhatian siapa pun. Aku hanya ingin tahu siapa saja yang bisa membuka berkas itu dan kapan terakhir kali aksesnya digunakan.'
Edwin tidak langsung menjawab. 'Apakah ada masalah dengan dokumen saham?'
'Belum ada bukti. Karena itu aku meminta Bapak memeriksanya diam-diam. Kalau semua normal, kita tidak perlu melakukan apa-apa.'
'Baik. Saya akan mencatat akses yang tersedia terlebih dahulu dan memastikan cara pemeriksaannya tidak mengubah jejak digital.'
'Terima kasih. Sebelum memeriksa catatan terbatas, minta mandat Ayah dan bagian yang berwenang. Kita tidak perlu menuduh seseorang untuk mengajukan pemeriksaan, tetapi kita harus memiliki izin yang benar.'
'Saya mengerti. Besok saya mulai dari daftar hak akses.'
Evelyn mengakhiri panggilan. Di luar jendela, lampu taman memantul pada kaca yang gelap. Ia telah memberi Daniel jawaban yang cukup menenangkan, memberi Emma pujian yang cukup untuk membuatnya lengah, dan memberi Edwin tugas yang cukup hati-hati untuk membuka jejak pertama.
Pagi nanti, semua orang akan bertingkah seolah tak ada yang berubah. Evelyn justru menunggu siapa yang pertama kali membuat kesalahan.
Edwin menelepon kembali setelah berbicara dengan Andrew. Peninjauan kebijakan akses disetujui sebagai pekerjaan perusahaan, dengan hasil hanya untuk pihak yang berwenang. Evelyn menyimpan nomor permohonan yang dikirimkan kepadanya. Ia tidak memperoleh hak membuka seluruh akun karyawan; ia hanya akan menerima catatan yang berkaitan dengan dokumen miliknya melalui pemeriksaan resmi. Batas itu penting, meskipun ia sudah tahu siapa yang pernah mengkhianatinya dalam hidup yang lain.