Evelyn melangkah ke ruang pertemuan lantai 21. Hujan turun perlahan, membasahi jendela kaca besar yang menghadap ke arah kota. Di dalam ruangan, aroma kayu manis dari diffuser menyatu dengan udara dingin AC, menciptakan suasana yang tenang namun tak sepenuhnya nyaman.
Evelyn membuka pintu, dan langkahnya terhenti saat dia melihat siapa yang ada di dalam ruangan.
Marcus Miller.
Dia sudah duduk di sana.
Sendirian.
Membolak-balik dokumen dengan tenang, mengenakan setelan hitam gelap dan kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian kerah. Rambutnya masih basah oleh gerimis, dan jam tangan kulitnya tampak kontras dengan kulit tangannya yang putih.
Evelyn berdiri di ambang pintu, sejenak tak tahu harus berkata apa.
Marcus menoleh. “Kamu datang tepat waktu,” ucapnya, suaranya rendah, seperti nada piano yang ditekan pelan.
Evelyn masuk, menutup pintu di belakangnya dengan pelan. “Aku tidak tahu kamu yang akan datang sendiri untuk membahas kontrak kerjasama perusahaan.”
Marcus tersenyum tipis. “Aku juga tidak tahu kamu yang mewakili perusahaanmu sendiri.”
Mereka duduk berhadapan. Di antara mereka, meja kaca bening dan dua cangkir kopi yang belum disentuh menjadi.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Marcus, sekilas menatap matanya.
“Baik. Sibuk seperti biasa.”
Marcus menatap ke luar jendela. “Kota ini juga selalu sibuk. Tapi kadang... yang lebih sibuk bukan kotanya, melainkan hati kita.”
Evelyn tersenyum samar. “Kamu masih suka bicara dengan cara seperti itu.”
“Dan kamu masih mengerti maksudnya,” balas Marcus.
Hening sejenak. Hujan mengetuk kaca seperti ingin ikut bicara.
“Aku dengar kamu mau ke Inggris,” ucap Marcus akhirnya.
Evelyn menatapnya. “Kabar cepat sekali menyebar, ya. Pasti ayahku yang memberitahumu."
"Ya. Tadi kami sempat bertemu dan mengobrol sebentar. Beliau sedikit cerita tentangmu," ujarnya.
"Dia selalu suka menceritakan apa pun tentangku padamu, mungkin dia pikir kamu masih tertarik padaku. Padahal perjodohan kita sudah batal."
"Bagaimana kalau aku bilang, mungkin aku masih tertarik padamu walau perjodohan kita sudah batal," cakap Marcus.
Evelyn menatap Marcus lekat, mencoba mencari aura bercanda di wajah pria itu, tapi nihil, Marcus menatapnya dengan serius. Evelyn lantas menunduk, lalu berkata pelan, “Aku tidak ingin membahas itu.”
Marcus menatapnya lama, kemudian berkata, “Aku hanya berharap kamu tidak salah memilih jalan hidupmu, Eve.”
Evelyn terdiam. Kata-kata itu menyentuh singkat tapi terasa penuh makna.
Marcus lantas berdiri, mengambil map dari tas kulitnya. “Ini proposal revisi dari pihak kami. Tidak banyak yang berubah, tapi aku ingin kamu yang lihat langsung.”
Evelyn menerimanya, dan tanpa sengaja dia menyentuh ujung jari Marcus. Marcus menarik tangannya cepat, tapi tidak sepenuhnya menjauh, dia hanya tidak ingin membuat Evelyn merasa tidak nyaman.
“Kalau kamu jadi ke London,” ucap Marcus, suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku punya apartemen kecil di Notting Hill. Dekat taman. Kalau kamu butuh tempat untuk sendirian... atau mencari inspirasi... atau mungkin sekadar menatap langit, kuncinya akan selalu ada di pot bunga paling besar.”
Evelyn menatapnya, pandangannya melembut. “Kamu menyimpan kunci untuk orang yang pernah menolakmu?”
Marcus tersenyum hangat, senyum tulus yang mampu menyentuh hati Evelyn. “Aku tidak menyimpan dendam atas penolakanmu. Karena aku masih berharap ada kemungkinan.”
Evelyn tidak menjawab.
Pertemuan itu selesai dalam waktu tiga puluh menit. Tapi bagi Evelyn, rasanya seperti membuka kembali halaman yang pernah ia lipat dan sembunyikan di dasar laci hatinya.
Saat Marcus melangkah keluar, ia menoleh sejenak. “Jaga dirimu, Eve. Dunia ini... tidak selalu memberi kita kesempatan kedua. Jadi pilihlah jalan yang membuatmu bahagia, bukan kebahagiaan semu, tapi kebahagiaan yang sesungguhnya.”
Evelyn menatap punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa... ada yang mengerti situasinya.
Bukan sebagai pewaris Celeste.
Bukan sebagai tunangan Daniel.
Tapi sebagai Evelyn.
Dan itu, entah kenapa, terasa seperti awal dari sesuatu yang belum ia mengerti.
***
Langit masih muram ketika Evelyn melangkah keluar dari ruang pertemuan. Hujan belum reda, tapi kini hanya menyisakan gerimis yang menari di atas kaca. Langkahnya pelan, tapi pasti. Ada sesuatu yang mengendap di dadanya—bukan luka, bukan juga harapan. Hanya kesadaran bahwa waktu sedang bergerak, dan ia tak bisa lagi berdiam diri.
Di lorong menuju ruangannya, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Emma.
“Oh, hai Eve,” sapa Emma, sedikit terkejut, tak menyangka berpapasan dengan wanita itu. “Kamu dari meeting?” tanyanya.
Evelyn mengangguk. “Baru selesai.”
Emma tersenyum seperti biasa. Tapi Evelyn menangkap sesuatu di balik senyum itu. Senyum yang menyembunyikan segalanya, senyum yang dulu dia anggap sebagai kepolosan seorang Emma.
“Dengan siapa?” tanya Emma, berpura-pura santai.
“Marcus,” jawab Evelyn, tanpa ragu.
“Oh,” ujar Emma, lalu tertawa kecil. “Kamu dan dia... sering sekali bertemu akhir-akhir ini.”
Evelyn menatapnya. “Kebetulan. Dunia bisnis memang sempit.”
Emma mengangguk, lalu berjalan ke samping Evelyn. “Ngomong-ngomong, kamu dan Daniel sempat ngobrol tadi?” tanyanya.
Evelyn menoleh. “Ya. Dia bilang kamu menyampaikan soal rencana S2-ku.”
Emma tersenyum, pura-pura malu. “Maaf ya. Aku kira dia sudah tahu. Aku cuma... kaget aja dengar kamu mau pergi. Jadi refleks cerita ke Daniel. Aku khawatir ada salah paham di antara kalian karena kurang komunikasi.”
“Tidak apa-apa. Aku memang belum sempat bicara langsung.”
Emma menatapnya, lalu berkata, “Tapi kamu serius, kan? Maksudku, soal ke Inggris.”
Evelyn membuka pintu ruangannya, lalu menoleh. “Aku serius mempertimbangkannya.”
Emma memandang dengan wajah sedih, lebih tepatnya berpura-pura sedih. “Kalau kamu pergi... aku pasti kangen kamu.”
Evelyn menatapnya, lalu tersenyum. “Kamu akan baik-baik saja tanpaku, Emma. Kamu punya ayah, dan kalau kamu butuh apa-apa di perusahaan ini, kamu bisa minta bantuan sama Daniel. Dia pasti senang membantumu.”
"Apa tidak masalah Danie membantuku?"
Evelyn menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata, "Tidak masalah. Lagi pula itu kamu, orang yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Tidak mungkin kan kamu akan menggodanya dan mengambilnya dariku.”
Emma terdiam. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
Evelyn menepuk pelan bahu Emma. "Aku masih ada pekerjaan, duluan ya." Dia melangkah masuk ke ruangannya. Tapi sebelum menutup pintu, ia menoleh dan berkata, “Oh ya. Terima kasih sudah memberitahu Daniel tentang kepergianku ke Inggris, berkatmu aku jadi tidak perlu menjelaskan banyak hal padanya.”