Kantin kantor Celeste Corporation siang itu tidak terlalu ramai. Beberapa karyawan duduk berkelompok, menikmati makan siang sambil bercengkerama ringan.
Di sudut dekat jendela, Daniel duduk sendirian, menatap layar ponselnya sambil sesekali menyeruput kopi, dia meluangkan waktu sejenak untuk istirahat dari kesibukannya, tapi juga tak bisa benar-benar lepas dari pekerjaan yang menumpuk.
“Boleh duduk di sini?” suara lembut menyapa, membuat fokus Daniel pecah.
Daniel menoleh dan tersenyum saat melihat siapa yang datang. “Emma. Tentu, duduk saja.”
Emma menarik kursi dan duduk di seberangnya, meletakkan nampan berisi salad dan jus semangka. “Kamu nggak makan?”
Daniel mengangkat bahu. “Nggak terlalu lapar. Tadi pagi sarapan cukup banyak, jadi aku masih kenyang.”
"Kamu kelihatan capek," ucap Emma, menatap penuh perhatian.
"Banyak laporan yang harus aku tinjau ulang sebelum aku serahkan ke Pak Andrew. Kepalaku sampai penuh rasanya."
"Kasihan kamu, bekerja terlalu keras untuk mereka, untuk Celeste. Semoga kamu mendapatkan balasan yang setimpal ya. Kamu enggak boleh rugi." Emma terkekeh kecil, bersikap seolah itu candaan, padahal di balik kata-katanya barusan tersimpan makna tersembunyi.
Daniel hanya tersenyum menanggapinya, dia kembali fokus pada laptop.
Emma mulai menyendok saladnya, memakannya perlahan sambil menatap Daniel yang sedang sibuk dengan pekerjaan.
“Tadi pagi aku sarapan bareng Evelyn dan Ayah," ujar Emma.
“Oh ya?” Daniel mendongak, tertarik dengan obrolan itu. “Gimana suasananya?”
Emma tersenyum, namun ada sesuatu di balik senyumnya itu. “Seperti biasa, ngobrol, makan, dan sedikit bercanda," bohongnya. "Tapi... Evelyn bilang sesuatu yang cukup mengejutkan.”
Daniel mengernyit. “Apa?”
Emma menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah dia sedang ragu untuk mengungkapkannya, sampai kemudian dia berkata pelan, “Dia bilang dia mau lanjut S2 di Inggris. Dua tahun.”
Daniel terdiam. Matanya menatap Emma, seolah ingin memastikan dia tidak salah dengar. “Apa?”
“Evelyn mau lanjut S2 di London. Dia bilang baru mulai mempertimbangkannya lagi.”
Daniel menyandarkan tubuhnya ke kursi, napasnya tertahan. “Tapi... dia bilang ke aku, dia akan berangkat setelah kami menikah. Itu rencananya. Maksudku, setelah semuanya stabil, kami sudah menikah, sudah bulan madu, baru setelah itu dia pergi untuk S2-nya. Apa mungkin kamu salah dengar atau salah menangkap informasi dari dia?”
Emma menggelengkan kepalanya. "Aku enggak salah dengar atau apa pun itu. Kalau kamu enggak percaya tanya sendiri sama Eve.
"Tapi kenapa tiba-tiba sekali?" Daniel kelihatan bingung. Padahal rencana pernikahan mereka hanya tinggal satu bulan lagi.
Emma menunduk, pura-pura mengaduk saladnya. “Mungkin dia berubah pikiran.”
Daniel menggeleng pelan. “Dia nggak bilang apa-apa ke aku tentang berubah pikiran dan rencana lainnya. Padahal semalam kami masih ngobrol bareng, bahas soal rencana presentasi bareng minggu depan.”
Emma menatapnya, matanya memandang dengan lembut. “Mungkin dia nggak tahu harus mulai cerita dari mana. Atau... mungkin dia sedang butuh waktu untuk bicara sama kamu.”
Daniel terdiam. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang mulai dingin.
Emma melanjutkan, suaranya sedikit pelan. “Kamu tahu, Niel. Kadang... orang bisa berubah tanpa kita sadar. Dan mungkin itu karena sesuatu hal.” Kalimat itu terdengar seperti sebuah sumbu kompor yang diberi api, mulai membakar pikiran Daniel.
Daniel menatap Emma lekat, matanya masih menunjukkan kebingungan. “Tapi kenapa tiba-tiba sekali? Kenapa tanpa bicara dulu sama aku?”
Emma mengangkat bahu. “Mungkin dia ingin kamu fokus ke perusahaan. Entahlah, aku juga tidak mengerti jalan pikiran Evelyn. Aku merasa akhir-akhir ini dia berubah.”
Daniel menatap keluar jendela, pikirannya berputar. Ia merasa seperti ditinggalkan di tengah jalan, tanpa peta, tanpa arah.
Emma menatapnya diam-diam. Dia tahu, benih keraguan sudah tertanam. Itulah yang dia harapkan.
Dan itu cukup untuk sekarang.
***
Langit sore mulai kelabu di atas gedung Celeste Corporation. Angin berembus pelan, membawa aroma hujan yang belum jatuh. Di lantai eksekutif, suasana kantor mulai lenggang. Lampu-lampu mulai dinyalakan satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang perlahan surut.
Evelyn baru saja keluar dari ruang rapat saat langkah cepat Daniel menghampirinya.
“Eve,” panggilnya, suaranya tenang tapi terdengar lebih dalam dari biasanya.
Evelyn menoleh. “Dan. Ada apa?”
“Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya, matanya menatapnya serius.
Evelyn mengernyit, dia diam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. “Tentu. Bagaimana kalau kita bicara di ruanganku?”
Daniel setuju. Mereka berjalan menuju ruangan itu, yang jaraknya tidak jauh.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di ruangan yang bernuansa serba putih dan hitam, ruangan itu tampak elegan, dengan sofa putih gading yang membeku di tengah ruangan. Aroma parfum mahal Evelyn mendominasi di setiap sudutnya, seolah memberitahu semua orang siapa pemilik ruangan tersebut.
Mereka duduk berhadapan. Di luar jendela, langit mulai menggelap, tapi di dalam ruangan itu, ketegangan menggantung seperti kabut yang tak mau pergi.
Daniel membuka percakapan. “Emma bilang kamu mau lanjut S2 ke Inggris dalam waktu dekat ini," ujarnya tanpa basa-basi.
Evelyn menatapnya, lalu mengangguk tanpa ragu. “Ya. Aku sedang mempertimbangkannya.”
Daniel menghela napas. “Tapi kamu bilang ke aku, kamu akan berangkat setelah kita menikah. Itu rencana kita, kan?”
Evelyn menautkan jemarinya di atas meja. “Rencana bisa berubah, Dan.”
Daniel menatapnya, matanya mulai keruh. “Tapi kamu nggak bilang apa-apa ke aku, Eve. Aku justru dengar hal itu dari orang lain.”
Evelyn menunduk sejenak, lalu menatapnya lagi. “Mungkin aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara sama kamu.”
“Dan kapan waktu yang tepat itu?” tanya Daniel, suaranya mulai meninggi. “Setelah kamu pergi?”
Evelyn tetap tenang. “Aku belum membuat keputusan final. Aku masih butuh waktu untuk berpikir.”
Daniel berdiri, berjalan ke arah jendela. “Kamu tahu aku selalu dukung kamu kan. Selama ini kamu selalu cerita apa pun padaku. Tapi kali ini... ini terasa seperti kamu menjauh, Eve.”
Evelyn berdiri juga, melangkah mendekatinya. “Aku tidak menjauh.”
Daniel menatapnya. “Oke, anggap kamu tidak menjauh, tapi aku ada di mana dalam semua ini? Kamu ambil keputusan sendiri tanpa berdiskusi dulu denganku."
Evelyn terdiam. Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, “Kamu ada di tempat yang sama. Mungkin aku yang sedang berubah.”
Daniel mengernyit, sulit mencerna kalimat yang Evelyn katakan, dia menatapnya lama, kemudian berkata. “Kamu masih cinta kan sama aku?”
“Aku pernah mencintaimu dengan seluruh hidupku. Tapi sekarang... aku sedang belajar mencintai diriku sendiri.”
Daniel terdiam. Kata-kata Evelyn semakin terdengar ambigu baginya, seolah Evelyn ingin sendiri, seolah Evelyn sudah bosan dengan hubungan mereka.
"Apa maksudmu, Eve?"
Evelyn tersenyum. “Lupakan. Anggap saja aku sedang mengigau,” ujar Evelyn. "Aku minta maaf karena tidak membicarakan masalah ini denganmu. Seperti yang aku bilang tadi, aku butuh waktu untuk bicara denganmu. Tapi tidak kusangka Emma sudah mengadu duluan padamu," tuturnya.
"Jangan salahkan Emma dalam masalah kita," ucap Daniel.
Evelyn mengerutkan keningnya, menatap Daniel tanpa berkata apa-apa.
"A-aku tidak bermaksud membela Emma. Aku hanya berpikir kalau Emma mungkin tidak mau hubungan kita rusak karena kurangnya komunikasi di antara kita. Dan itu nyata, lihat sekarang, kita bertengkar," kata Daniel.
"Kamu tidak perlu gugup seperti itu saat membahas Emma. Aku sama sekali tidak masalah kalau kamu membelanya," tukas Evelyn. "Sudahlah, aku punya banyak pekerjaan yang harus segera diurus, nanti setelah pulang kerja, kita bicarakan lagi masalah kita. Aku ada pertemuan dengan investor sebentar lagi, aku permisi," pamitnya.
Daniel tidak menjawab. Dia hanya menatap Evelyn yang melangkah pergi. Tatapannya penuh tanda tanya, Daniel merasa Evelyn berubah, dia seperti orang yang berbeda. Wanita yang dulu dia anggap lembut, naif dan mudah ditebak, kini berdiri di hadapannya seperti teka-teki yang tak bisa ia pecahkan.
Dan di luar jendela, hujan akhirnya turun.
Diam-diam.
Tanpa aba-aba.
Seperti hati yang mulai retak.