Cahaya matahari pagi menyusup lembut ke ruang makan keluarga Celeste. Aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi udara. Andrew Celeste duduk di ujung meja, mengenakan kemeja putih dan celana kain abu-abu. Di hadapannya, koran pagi terbuka, dan secangkir kopi mengepul di udara.
Langkah ringan terdengar dari arah tangga.
“Selamat pagi, Ayah,” sapa Emma ceria, masuk dengan senyum lebar dan rambut yang dikuncir rapi. Ia mengenakan blus putih dan celana panjang krem, tampak segar dan siap menghadapi hari.
Andrew menoleh sekilas. “Pagi,” ucapnya.
Emma duduk di kursi seberang, langsung menuang jus jeruk ke gelasnya, meminumnya sedikit, lalu menatap Andrew lagi. “Tadi malam aku dapat email dari Daniel. Katanya laporan CSR-ku bagus. Dia bahkan bilang aku bisa bantu presentasi di hadapan dewan minggu depan,” ungkapnya, penuh semangat.
Andrew mengangguk pelan. “Bagus.” Dia menanggapi tanpa menoleh, matanya masih terus fokus pada koran yang dibacanya.
Emma menunggu sejenak, berharap ada pujian lebih. Tapi Andrew terus menunduk ke korannya, menyeruput kopi tanpa menambahkan kalimat apa-apa.
“Dan... aku juga diminta bantu koordinasi dengan tim marketing untuk kampanye sosial bulan depan,” lanjut Emma, mencoba lagi. “Mereka bilang aku cepat belajar.”
Andrew hanya mengangguk sekali lagi. “Ya, teruskan saja kalau kamu merasa itu baik.”
Emma terdiam. Jika yang berbicara Evelyn, Andrew pasti akan tersenyum, menepuk tangannya, bahkan memuji kerja kerasnya. Tapi pada Emma, tidak ada itu semua. Hanya tanggapan datar dan tatapan yang tidak benar-benar bangga.
“Ayah,” panggil Emma, mencoba terdengar lembut. “Ayah kelihatan lelah. Semalam tidur larut, ya?” tanyanya, seolah peduli.
Andrew melipat korannya, akhirnya dia menatap Emma. “Sedikit.”
“Semalam Evelyn sempat ke ruang kerja?” tanya Emma, mencoba mencari topik pembicaraan.
Andrew menatapnya sejenak, lalu menjawab, “Iya. Dia hanya mengantar teh.”
Emma mengangguk pelan, lalu tersenyum. “Dia kelihatan agak... berbeda akhir-akhir ini.”
Andrew tidak menjawab. Ia hanya menyesap kopinya lagi, lalu berdiri.
“Kalau kamu butuh sesuatu, bilang ke Bu Rini. Aku harus ke kantor lebih pagi hari ini.”
“Ayah... aku cuma ingin bilang, aku senang bisa bantu di perusahaan. Aku akan berusaha sebaik mungkin.”
Andrew menatapnya, dan untuk sesaat, ada sesuatu di matanya—bukan kemarahan, bukan juga kasih sayang. Lebih seperti... keraguan.
“Lakukan yang terbaik, Emma,” ucapnya. “Itu sudah cukup untukku, tidak perlu membuktikan lebih dari itu.”
Emma ingin kembali bicara, tapi langkah kaki terdengar dari arah tangga. Evelyn muncul, mengenakan blus biru muda dan celana panjang hitam. Rambutnya digerai rapi, wajahnya segar tapi tenang.
“Pagi, Ayah,” sapa Evelyn, lalu menoleh ke Emma. “Pagi, Emma.”
Andrew tersenyum kecil. “Pagi, Eve. Mau sarapan?”
Evelyn mengangguk, kemudian duduk di kursi, di samping Ayahnya. “Aku sempat dengar kalian bicara soal proyek CSR.”
Emma tersenyum, tapi senyumnya tidak setenang biasanya. “Iya. Daniel bilang aku bisa bantu presentasi minggu depan.”
Evelyn mengambil roti panggang, mengoleskan selai kacang dengan gerakan pelan. “Bagus. Semoga kamu bisa menyampaikan materi dengan baik.”
Emma menatap Evelyn, mencoba membaca nada di balik kalimat itu. Tapi Evelyn tidak menatap balik. Ia hanya fokus pada sarapannya.
Andrew mengambil jasnya dari sandaran kursi, lalu berkata, “Ayah berangkat dulu.” Dia hanya menatap Evelyn.
Ya. Hanya Evelyn yang dia tatap. Seolah Emma tidak ada di sana.
Evelyn balik menatap Ayahnya, senyumnya terukir hangat. “Hati-hati di jalan.”
Andrew mengangguk, lalu melangkah pergi, tanpa menoleh pada Emma.
“Hati-hati di jalan, Ayah,” ucap Emma saat Andrew baru saja ingin melangkah.
“Ya. Tentu.” Andrew menanggapi.
Setelah itu, Andrew melangkah pergi, Emma tersenyum, senang karena pria paruh baya itu menanggapinya.
“Kamu tidak sarapan?” tanya Evelyn.
Emma menarik kursinya lebih dekat ke meja, mengambil sepotong croissant dan meletakkannya di piring. “Aku senang akhirnya bisa dipercaya Daniel. Aku pikir dia cuma kasih tugas-tugas kecil, tapi ternyata dia benar-benar memperhatikan usahaku.”
Evelyn mengangguk pelan, menyuapkan potongan roti ke mulutnya. “Kamu memang cepat belajar.”
Emma tersenyum lebar. “Kamu juga pasti bangga, kan?”
Evelyn menoleh, menatapnya sejenak. “Tentu. Aku senang kamu bisa berkembang.”
Ada jeda. Emma menyesap jusnya, lalu berkata, “Kamu sendiri gimana? Kelihatan sibuk banget akhir-akhir ini. Banyak proyek baru?”
Evelyn mengangguk. “Lumayan. Tapi aku juga sedang mempertimbangkan sesuatu.”
Emma mengangkat alisnya. “Apa?”
“Aku mungkin akan lanjut S2.”
Emma membelalak. “Serius? Di mana?”
“Di Inggris. London, tepatnya. Dua tahun.”
Emma terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Wow. Itu... mendadak banget. Kamu nggak pernah cerita sebelumnya.”
Evelyn tersenyum. “Aku baru mulai mempertimbangkannya lagi. Dulu sempat terpikir, tapi aku tunda karena banyak hal. Sekarang... mungkin ini waktu yang tepat.”
Emma menatapnya, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. “Tapi... gimana dengan Daniel? Maksudku, kalian kan....”
Evelyn memotongnya dengan lembut. “Kami belum menikah, Emma. Dan kalau memang hubungan kami kuat, dua tahun bukan waktu yang lama.”
“Kamu yakin? Maksudku, kamu bakal jauh dari semuanya. Dari Ayah, dari perusahaan, dan... dari Daniel.”
Evelyn menoleh, menatap Emma dengan senyum samar. “Ini demi perusahaan.”
Emma duduk terpaku di kursinya. Tangannya menggenggam gelas jus yang sudah tak dingin lagi.
S2 di Inggris.
Dua tahun.
Itu berarti Evelyn akan pergi. Meninggalkan Daniel. Meninggalkan rumah ini.
Dan jika itu terjadi... maka semua akan lebih mudah. Pikir Emma.