Malam itu, rumah keluarga Celeste sunyi. Lampu-lampu taman menyala redup, dan angin berembus pelan dari arah selatan, membawa aroma melati dari kebun belakang. Evelyn melangkah pelan menyusuri lorong lantai dua, menuju ruang kerja ayahnya. Di tangannya, dia membawa secangkir teh hangat yang ia siapkan sendiri.
Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Di dalam sana, Andrew Celeste duduk di balik meja kayu tua, mengenakan kemeja santai dan kacamata baca. Ia sedang menandatangani beberapa dokumen, ditemani suara musik klasik yang mengalun pelan dari speaker kecil di sudut ruangan.
Evelyn mengetuk pelan. “Ayah?”
Andrew menoleh, lalu tersenyum. “Eve. Sudah malam, kamu belum tidur?”
Evelyn masuk, meletakkan teh di meja. “Aku buatkan teh untuk Ayah. Ayah belum istirahat?”
Andrew menghela napas. “Masih ada beberapa kontrak yang harus aku tinjau. Tapi aku senang kamu datang. Sudah lama kita tidak bicara seperti ini.”
Evelyn duduk di kursi di seberang meja. “Aku juga senang bisa bicara dengan Ayah. Rasanya... seperti sudah lama kita tidak mengobrol santai berdua.”
Andrew tersenyum, lalu menyeruput teh hangat yang dibawakan putrinya. “Kamu kelihatan tenang akhir-akhir ini. Apa pekerjaanmu berjalan lancar semua?”
Evelyn menatap ayahnya.“Ya, begitulah, semua baik-baik saja untuk saat ini. Tapi aku tetap belajar dalam banyak hal.”
Andrew mengangguk. “Itu bagus. Dunia bisnis tidak pernah berpihak pada orang yang gegabah.”
Hening sejenak. Evelyn menatap rak buku di belakang ayahnya, lalu kembali menatap wajah pria yang dulu ia tangisi karena kepergiannya yang mendadak.
“Ayah,”ucap Evelyn pelan. “Boleh aku tanya sesuatu?”
Andrew meletakkan cangkirnya. “Tentu. Tanyakan apa pun yang ingin kamu tanyakan.”
Evelyn menarik napas. “Aku ingin bertanya tentang Emma.”
Andrew terdiam. Matanya menatap Evelyn, lalu perlahan menegang. “Emma?”
“Aku tahu dia tinggal bersama kita sejak lama. Tapi aku sadar... aku tidak pernah tahu siapa dia sebenarnya.”
Andrew mengernyit. “Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?”
Evelyn menatap ayahnya, matanya tenang, tapi menyimpan harapan besar, dia ingin ayahnya berkata jujur. “Karena aku ingin tahu. Aku merasa... mungkin sudah waktunya aku tahu.”
Andrew menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit-langit sejenak. “Emma... adalah anak yang Ayah temui lewat yayasan. Dia butuh tempat tinggal. Ayah pikir... kita bisa memberinya masa depan.”
Evelyn terdiam. Andrew Celeste ternyata tidak bicara jujur. Sedikit rasa kecewa menyelimuti hati Evelyn saat mendengar jawaban ayahnya barusan.
“Tapi kenapa begitu cepat setelah Mama meninggal?” tanya Evelyn.
“Itu... hanya kebetulan.”
Evelyn menatapnya lekat. “Ayah yakin itu hanya kebetulan?”
Andrew menunduk, tangannya menggenggam cangkir teh. “Evelyn, kamu tidak pernah bertanya soal ini sebelumnya. Kenapa sekarang kamu tiba-tiba penasaran dengan latar belakang Emma? Apa ada masalah? Apa kamu bertengkar dengannya?”
“Tidak ada masalah. Untuk saat ini begitu. Aku hanya merasa penasaran saja. Dulu mungkin aku tidak bertanya karena aku terlalu percaya,” jawab Evelyn. “Tapi sekarang, aku ingin mendengar langsung dari Ayah. Siapa Emma sebenarnya?”
Andrew menghela napas panjang. “Dia... hanya anak yang Ayah ingin bantu. Tidak lebih.”
Evelyn kembali dibuat kecewa. Itu bukan jawaban yang jujur. Itu bukan jawaban yang dia inginkan. Dia tahu semuanya dari kehidupan sebelumnya, bahwa Emma bukan sekadar anak dari yayasan. Dia tahu ada darah Celeste yang mengalir di tubuh Emma yang seharusnya tidak ada dalam keluarga ini.
Tapi untuk saat ini Evelyn tidak akan memaksa ayahnya untuk bicara jujur.
Evelyn berdiri, lalu berkata pelan, “Kalau suatu hari nanti Ayah siap bicara jujur, aku akan mendengarkan.”
Andrew menatap putrinya, matanya berkaca. “Eve....”
Evelyn tersenyum. “Maaf mengganggu waktumu, Ayah. Selamat malam.” Dia melangkah keluar, meninggalkan ruang kerja yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Di lorong, Evelyn berhenti sejenak, menatap salah satu foto yang tergantung di dinding.
Emma berdiri di sana, tersenyum di sampingnya.
Dan Evelyn tahu, senyum itu menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang akan ia bongkar.
Pelan-pelan.
Dengan caranya sendiri.
Lorong lantai dua rumah keluarga Celeste sunyi, hanya diterangi lampu dinding yang temaram. Evelyn melangkah pelan menuju kamarnya, pikirannya masih bergema dengan percakapannya barusan bersama sang Ayah.
“Eve,” sapa Emma. “Kamu belum tidur?”
Evelyn menoleh, dia menatap Emma yang sepertinya baru pulang, kemudian tersenyum tipis. “Baru mau masuk kamar,” jawabnya.
Emma mendekat, matanya berbinar. “Aku habis dari tempat makan baru di pusat kota. Enak banget. Harusnya kamu ikut.”
Evelyn mengangguk pelan. “Lain kali.”
Emma mengernyit, sedikit bingung dengan respons singkat itu. “Kamu kelihatan capek. Ada yang mengganggu?”
Evelyn menggeleng. “Tidak. Cuma mengantuk.”
“Biasanya kamu masih semangat jam segini. Kita ngobrol sampai larut, cerita soal Daniel, soal kerjaan, soal... semuanya.”
Evelyn menatap Emma, lalu berkata pelan, “Malam ini aku ingin istirahat lebih awal.”
Emma terdiam. Ada jeda yang tidak biasa. Biasanya Evelyn akan mengajaknya duduk di sofa, menyeduh teh, dan berbicara panjang lebar tentang betapa ia mencintai Daniel, tentang rencana pernikahan, tentang harapan-harapannya. Tapi malam ini, Evelyn terlihat enggan berada di dekatnya.
“Baiklah,” kata Emma. “Selamat istirahat, Eve.”
Evelyn mengangguk. “Kamu juga.” Dia lantas melangkah menuju kamarnya, membuka pintu, dan masuk tanpa menoleh lagi.
Di lorong itu, Emma berdiri sendiri. Ia menggigit bibirnya, matanya menatap pintu kamar Evelyn yang kini tertutup rapat.
“Ada yang berubah,” gumamnya. “Dia... bukan Evelyn yang biasanya.”
Emma melangkah pelan ke kamarnya, tapi pikirannya tidak tenang. Ia merasa Evelyn menjauh. Bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa ia baca.
Dan itu membuat Emma gelisah.
Karena jika Evelyn yang baik hati dan naif telah lenyap dari sisinya, maka semua rencana yang telah dia susun akan gagal semuanya.