Sore itu, kantor Celeste Corporation mulai lengang. Beberapa staf sudah pulang, sementara yang lain masih sibuk menyelesaikan laporan mingguan. Di lantai eksekutif, suasana lebih tenang. Evelyn duduk di ruangannya, menatap layar laptop, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Ia baru saja menerima email dari bagian HR: Emma Thompson resmi ditugaskan sebagai asisten proyek CSR, bekerja langsung di bawah pengawasan Daniel Lewis.
Evelyn tersenyum tipis. Bagus. Semuanya mulai berjalan sesuai rencana.
Tak lama kemudian, suara ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk,” ucap Evelyn.
Pintu terbuka, dan Emma muncul dengan map di tangan. “Maaf mengganggu waktumu, Eve. Aku diminta menyerahkan laporan kegiatan CSR minggu ini.”
Evelyn mengangguk. “Letakkan saja di meja.”
Emma melangkah mendekati meja Evelyn, lalu meletakkan map dengan hati-hati.
“Daniel bilang aku bisa belajar banyak dari proyek ini. Katanya... kalau aku berusaha dengan serius, mungkin aku bisa ikut presentasi di hadapan para dewan bulan depan.”
Evelyn menatap Emma, lalu tersenyum tipis. “Itu bagus. Mungkin ayah akan bangga padamu kalau kamu berhasil ikut presentasi,” komentarnya.
“Aku akan berusaha.”
Evelyn berdiri, dia berjalan ke arah jendela. “Kamu betah kerja di sini?”
“Ya... lumayan betah. Lingkungannya profesional. Semua orang ramah. Yang paling penting, aku bisa ketemu kamu sama Daniel setiap hari.”
Evelyn menoleh, matanya menatap dengan tenang. “Baguslah. Aku berharap kamu tulus mendedikasikan diri kamu untuk perusahaan ini.”
Emma tersenyum, senyumnya tampak cerah, tapi terlihat jelas di matanya ada kilatan ambisi yang tidak bisa disembunyikan. Kali ini Evelyn melihatnya. Dia mengenali sorot itu—sorot yang di kehidupan sebelumnya dia abaikan.
Setelah Emma keluar, Evelyn kembali duduk di kursinya, dia menghela napas panjang. Sejujurnya sulit baginya berpura-pura baik pada wanita licik itu. Tapi, dia tidak akan gegabah, karena setiap detik waktu yang dia lewati adalah titik penentu.
Satu jam kemudian, Evelyn keluar dari ruangannya, dia berjalan menuju pantry. Di sana, dia mendapati Daniel sedang berdiri, menuang kopi sambil membaca laporan di tablet.
“Masih kerja?” tanya Evelyn.
Daniel menoleh, tersenyum saat menyadari Evelyn datang mendekat. “Ya, seperti yang kamu lihat.”
“Lembur?” Evelyn kembali bertanya, dia melihat Daniel sekilas, lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral yang dia ambil dari kulkas.
“Enggak. Aku lagi baca laporan Emma. Emma baru aja kirim laporan CSR. Lumayan detail. Aku baru baca sebagian, dan itu sudah cukup membuatku takjub, dia lumayan kompeten.”
“Menurutmu begitu?”
Daniel mengangguk. “Aku pikir dia punya potensi. Mungkin dia bisa jadi bagian dari tim inti kalau dia terus seperti ini.”
Evelyn menatap Daniel, lalu berkata pelan, “Kamu selalu pandai melihat potensi orang.”
Daniel tertawa. “Kamu juga pernah bilang kalau Emma punya potensi, makanya kamu minta ayahmu untuk kasih dia pekerjaan di perusahaan ini. Padahal dia baru mau wisuda S1.”
Evelyn tersenyum. “Itu karena aku terlalu percaya.”
Daniel mengernyit. “Maksudmu?”
“Tidak. Bukan apa-apa. Aku Cuma bicara pada diriku sendiri.” Evelyn meletakkan gelasnya ke wastafel. “Aku masih punya banyak pekerjaan, aku balik ke ruanganku ya,” pamitnya.
Daniel mengangguk. “Oke, sayang.”
Evelyn tersenyum, pahit. Daniel kembali sibuk membaca laporan CSR yang dikirimkan oleh Emma.
‘Bodohnya aku, dulu aku terlalu percaya pada kalian. Karena kebodohanku itu, akhirnya aku mati di tangan kalian. Tapi sekarang, aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi,’ ucap Evelyn dalam hati.
Evelyn kemudian keluar dari pantry, dia mengembuskan napas berat. Sejenak, dia berdiri di depan jendela, memandangi lalu lintas kota yang tidak pernah sepi. Di balik kaca itu, dunia terus bergerak. Tapi di dalam dirinya, waktu terasa melambat. Evelyn tahu, langkah-langkah kecil yang dia ambil hari ini akan menentukan segalanya.
Dia tidak akan mencegah Emma mendekati Daniel.
Dia akan membiarkan mereka berselingkuh seperti di kehidupan sebelumnya.
Tapi kali ini, Evelyn akan mempercepat waktunya, dia akan membuat Emma dan Daniel melakukan perselingkuhan lebih awal.
Pintu lift terbuka dengan bunyi lembut. Evelyn melangkah keluar, masih dengan pikiran yang sibuk. Langkahnya tiba-tiba terhenti begitu matanya menangkap sosok pria yang berdiri di depan lift, hendak masuk.
Marcus.
Setelan abu-abu gelap membingkai tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya rapi, seperti biasa, dan matanya—mata yang dulu menatapnya dengan sabar saat ia menolak perjodohan itu—kini menatapnya lagi. Langsung. Tanpa jeda.
Evelyn membeku.
Marcus tersenyum kecil. “Hai, Evelyn. Lama tidak bertemu.”
Suara itu. Tenang, dalam, dan tak berubah sedikit pun.
Evelyn mengangguk pelan. “Marcus. Kamu di sini?”
“Aku baru selesai meeting dengan Ayahmu dan tim legal,” jawabnya.
“Kupikir kamu masih di Singapura.” Seingat Evelyn, di kehidupan sebelumnya, Marcus berada di Singapura cukup lama. Bahkan di hari pernikahannya dengan Daniel yang akan terjadi satu bulan lagi, Marcus dikabarkan masih berada di Singapura. Saat itu Evelyn hanya menerima buket bunga dan kartu ucapan selamat yang dikirimkan oleh sekretarisnya.
“Aku baru kembali tadi pagi. Dan... aku tidak menyangka bertemu kamu di sini.”
Evelyn tersenyum tipis.“Aku juga tidak menyangka.”
Hening sejenak. Lorong itu sepi. Yang terdengar hnya suara AC dan langkah kaki jauh di ujung koridor.
Marcus menatapnya lama. “Kamu kelihatan... berbeda.”
“Mungkin hanya perasaanmu saja.”
Marcus mengangguk. “Tapi kamu masih Evelyn yang dulu. Aku bisa lihat itu.”
Evelyn menatapnya, dan untuk sesaat, ia ingin berkata: Andai kemarin aku dihidupkan kembali ke satu bulan sebelum ini, aku pasti akan memilihmu, Marcus Miller. Aku akan bilang ya untuk perjodohan kita. Aku akan lari dari Daniel, dari mereka, dan memilihmu.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, “Maaf soal waktu itu.”
Marcus mengangkat alis. “Waktu itu? Apa?”
“Waktu aku menolak perjodohan itu,” jawab Evelyn pelan. “Kalau aku bisa ulang semuanya... mungkin aku akan membuat pilihan yang berbeda.”
Marcus menatapnya, lama. “Maksudnya.”
“Tidak. Sudah, jangan bahas itu,” ujar Evelyn. “Oh ya, ngomong-ngomong selamat yang atas penghargaan yang kamu terima, aku sudah baca beritanya di koran. CEO termuda berprestasi.”
Marcus terkekeh. “Itu hanya keisengan para awak media.”
“Tapi itu fakta,” ucap Evelyn. “Pokoknya selamat ya. Semoga Celeste Corporation bisa terus bekerja sama dengan Mile Corporation.”
“Tentu.”
Hening. Tak ada lagi obrolan, yang tersisa hanya rasa canggung.
Marcus berdehem pelan.
“Kalau kamu ada waktu luang, kita bisa mengobrol di lain waktu. Mungkin... sambil makan siang bersama atau makan malam,” tawar Marcus.” Dia menatap Evelyn lekat, mewanti-wanti respons apa yang Evelyn berikan.
Evelyn tersenyum, kemudian dia mengangguk tanpa paksaan. “Tentu. Aku akan mengabarimu jika ada waktu luang.”
Marcus terdiam, membeku di tempat. Tidak percaya dengan respons yang diberikan oleh Evelyn. Wanita itu tidak menolak ajakannya, justru menerimanya dengan tangan terbuka.
Evelyn menepuk bahu Marcus pelan. “Aku ada rapat dengan staf keuangan. Sampai nanti ya,” pamitnya.
Dia lantas masuk ke dalam lift. Sebelum pintu tertutup, Marcus tiba-tiba memanggilnya lagi.
“Evelyn.”
Evelyn menekan tombol lift agar pintu tidak tertutup. Dia menatap Marcus yang seperti ingin bicara sesuatu.
“Hati-hati. Dunia ini tidak selalu memberi kesempatan kedua.”
Kali ini Evelyn yang terdiam, membeku. Dan tanpa sengaja dia melepaskan tombol lift.
Pintu pun tertutup.
Evelyn berdiri di dalam lift dengan tatapan kosong, napasnya pelan, dadanya sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
“Kesempatan kedua...,” lirih Evelyn.
Benar. Ini adalah anugerah dari Tuhan, dia diberi kesempatan kedua, kesempatan untuk mengulang kembali segalanya, agar dia tidak salah langkah lagi seperti sebelumnya.
Evelyn akan lebih berhati-hati, dia akan menyusun tiap detik hidupnya dengan penuh perhitungan.
“Tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini,” gumam Evelyn.