Evelyn menyusuri lorong rumah keluarga Celeste, itu terasa seperti mimpi yang berjalan di atas kenyataan. Dinding-dinding yang dulu menyimpan gema tangisnya kini berdiri utuh, bersih, belum ternoda oleh pengkhianatan. Aroma roti panggang dan kopi hitam menguar dari ruang makan, membawa kenangan masa kecil yang hangat.
Dia berhenti, pandangannya terpaku pada sosok yang dia cari.
Di sana, duduk di kursi kayu berlapis kulit, Andrew Celeste—pria paruh baya dengan rambut perak di pelipis, kemeja putih yang digulung di lengan, dan jam tangan tua yang selalu ia kenakan. Dia sedang membaca koran pagi, ditemani secangkir kopi yang mengepul di sisi kanan, dan piring sarapan yang hampir kosong di sisi kiri.
Evelyn membeku.
Matanya berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat. Dia ingin bicara, tapi suaranya tertahan oleh gelombang rindu yang terlalu besar.
Andrew menoleh, menyadari kehadiran putrinya. “Evelyn? Kamu sudah bangun,” katanya sambil tersenyum.
Evelyn melangkah pelan, lalu berlari kecil, dan tanpa berkata apa-apa, ia memeluk ayahnya dari belakang. Tangannya melingkar di d**a Andrew, wajahnya tenggelam di bahu pria itu.
Andrew terkejut. “Sayang, ada apa?”
Evelyn tidak menjawab. Air matanya jatuh, membasahi bahu kemeja ayahnya. Dia memeluk lebih erat, seolah ingin menghentikan waktu, seolah ingin menahan dunia agar tidak bergerak maju.
“Ayah...,” bisiknya pelan. “Aku kangen.”
Andrew menepuk tangan Evelyn yang masih memeluknya. “Kamu baru bangun dan sudah melankolis begini. Ada apa?”
“Aku cuma... ingin peluk Ayah. Itu saja.”
Andrew berbalik, menatap wajah putrinya yang basah oleh air mata. “Kamu mimpi buruk?” tanyanya.
Evelyn menatap mata ayahnya. Mata itu pernah tertutup rapat dan tidak akan terbuka untuk selamanya. Tapi kini, Evelyn bisa menatap mata itu kembali, mata yang penuh kehangatan dan kasih sayang yang tulus.
“Bukan mimpi, Ayah,” katanya pelan. “Tapi aku bersyukur bisa bangun.”
Andrew mengernyit, bingung. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengusap kepala Evelyn dengan lembut.
“Ayah harus ke kantor pagi ini. Mau berangkat bareng?”
“Aku akan menyusul nanti. Aku mau minum teh dulu di taman belakang.”
Andrew mencium kening putrinya. “Baiklah. Tapi jangan merenung sendirian. Kamu bukan pujangga.”
Evelyn tertawa kecil. “Mungkin aku memang bukan pujangga. Tapi aku sedang menulis ulang takdirku.”
Andrew Celeste terkekeh. “Kamu ada-ada saja, Eve.” Setelah itu Andrew melangkah pergi, meninggalkan Evelyn yang terlihat lega karena bisa bertemu ayahnya kembali.
***
Langit Jakarta pagi itu cerah, dan Celeste Tower berdiri megah seperti biasa, menjulang di antara gedung-gedung bisnis yang sibuk. Di lantai 28, tempat para eksekutif Celeste Corporation berkantor, suasana seperti biasa: formal, sibuk, dan penuh ambisi.
Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang berubah. Aura yang dulu hangat kini terasa dingin, nyaris tak tersentuh.
Evelyn Celeste melangkah keluar dari lift dengan tenang. Rambutnya digerai lembut, dia mengenakan blazer putih gading, dan sepatu hak tinggi yang tampak cocok untuknya.
Langkah Evelyn tak lagi memantulkan keceriaan seperti biasanya. Sepatu haknya tetap berdenting di lantai marmer, tapi kini terdengar seperti dentang jam yang siap memasuki perang.
“Selamat siang, Nona Evelyn,” sapa salah satu staf.
Evelyn hanya mengangguk kecil. “Selamat siang.”
Dia berjalan melewati lorong menuju ruangannya, lalu berhenti sejenak di depan kaca besar yang menghadap ke kota. Tangannya menyentuh permukaan dingin itu, dan dalam hatinya, ia mengulang satu kalimat: Jangan terburu-buru. Biarkan mereka menunjukkan wajah mereka sendiri.
*
Jam makan siang tiba. Evelyn baru saja keluar dari ruang rapat ketika suara yang familiar memanggilnya.
“Evelyn!”
Daniel.
Dia berdiri di dekat pantry, mengenakan kemeja biru langit yang digulung di lengan, dasinya longgar, senyum andalannya terpasang sempurna.
“Kamu belum makan, kan? Aku sudah pesan tempat di bawah. Mau makan bareng?” ajaknya.
Evelyn diam, menatap Daniel sejenak. Dalam pikirannya, Evelyn mengingat sifat asli Daniel di kehidupan sebelumnya, dialah yang mendorongnya hingga tubuhnya menghantam pot porselen, dialah yang melemparkan tubuhnya ke lautan yang dingin. Evelyn tidak akan pernah melupakan setiap detailnya, itu terlalu jelas, seperti baru terjadi kemarin, sampai sulit untuk dilupakan.
“Boleh.” Evelyn akhirnya bersuara, menanggapi ajakan Daniel. “Aku juga butuh makan untuk mengisi energiku sebelum mulai berperang,” ujar Evelyn.
Daniel terkekeh, mengira kalau Evelyn sedang bercanda.
“Ayo.”
Mereka berjalan berdampingan menuju restoran di lantai dasar. Daniel berbicara seperti biasa—tentang proyek baru, tentang rencana ekspansi, tentang betapa sibuknya minggu ini. Dan Evelyn, dia hanya mendengarkan, sesekali menanggapi dengan senyum kecil atau anggukan.
“Ngomong-ngomong,” kata Daniel sambil menyeruput es kopinya, “Emma cerita kalau dia mulai bantu-bantu di divisi CSR. Kamu yang minta?”
Evelyn mengangkat alis. “Aku hanya menyarankan ke Ayah. Kupikir dia butuh pengalaman. Lagi pula, dia tinggal di rumah keluarga Celeste. Akan memalukan jika dia hanya menganggur. Jadi aku pikir lebih baik kalau dia punya kegiatan.”
Daniel mengangguk. “Dia bilang kamu selalu bersikap baik. Sepertinya dia kagum sama kamu.”
“Dia masih muda. Wajar kalau dia mencari panutan.”
Daniel tertawa. “Dan kamu memang panutan yang sempurna.”
Evelyn menatapnya. “Tidak ada yang sempurna, Dan. Kita semua punya sisi gelap. Tinggal bagaimana kita menyembunyikannya.”
Daniel mengernyit, sesaat dia tampak sedikit bingung. Tapi tak lama kemudian dia tertawa kecil. “Kamu lagi belajar filosofis, ya?”
Evelyn hanya mengangkat bahu. “Mungkin.” Menanggapi seadanya.
Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor. Di lorong menuju ruang kerja, mereka berpapasan dengan Emma. Gadis itu mengenakan blus pastel dan rok pensil berwarna hitam, rambutnya diikat rapi. Saat melihat Daniel dan Evelyn berjalan bersama, senyum Emma sedikit menegang, tapi ia cepat menyembunyikannya.
“Daniel, Evelyn,” sapa Emma, tampak ceria. “Habis makan siang bareng, ya?”
Daniel membalas senyumannya. “Iya. Kamu sendiri sudah makan?”
“Baru aja selesai makan siang bareng tim CSR.”
Evelyn menatap Emma, lalu berpura-pura tersenyum hangat. “Syukurlah kalau kamu sudah bisa beradaptasi dengan suasana di kantor.”
“Aku masih belajar. Tapi semua orang baik padaku. Mungkin karena mereka tahu kalau aku bagian dari keluarga Celeste,” ujar Emma.
Evelyn tersenyum, senyum yang menyembunyikan segalanya. “Kalau ada yang kamu butuhkan, bilang saja ke Daniel,” kata Evelyn, suaranya ringan. “Dia pasti senang bisa bantu kamu.”
Daniel menoleh, sedikit terkejut. “Aku?”
“Iya, kamu enggak keberatan kan?”
“Oh, enggak kok. Tentu aku siap bantu kapan pun,” cakap Daniel.
Emma tersenyum, tapi matanya melirik Evelyn, seolah mencoba membaca maksud di balik kata-kata itu.
Evelyn hanya tersenyum. “Aku ke ruanganku dulu, ya,” tuturnya.
Dia lantas melangkah pergi, meninggalkan dua orang itu berdiri di lorong. Dia tidak menoleh ke belakang, tapi ia tahu—mata Emma masih menatap punggungnya. Dan Daniel, seperti biasa, tidak menyadari bahwa ia sedang digiring ke arah yang Evelyn inginkan.
Di dalam ruangannya, Evelyn duduk di kursi kerja, membuka catatan kecil di tablet miliknya.
Hari ini: Emma mulai mendekat. Daniel belum sadar.
Aku akan membiarkan mereka saling mendekat seperti di kehidupan sebelumnya.
Aku tidak perlu memaksa mereka untuk berselingkuh. Cukup membuka jalan.
Evelyn menghela napas, lalu menutup catatan itu, kemudian menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Kali ini, dia tidak akan menjadi korban.
Dia akan menjadi sutradara dari kisah yang dulu menelannya hidup-hidup.
Dan tirai pertama baru saja terbuka.