Aku mencoba menghampiri lima anak kecil itu tiba-tiba hilang satu persatu. Ketika aku menghapiri anak yang terakhir tersebut, tiba-tiba berhenti, membalikkan badannya dan tersenyum lebar menatapku. Lantas ia menyampaikan “apa benar aku ini anak baik menurutmu?” dan aku menjawab “ya, benar. Kamu memang anak yang sangat baik sekali” dengan sedikit takut. Tapi malah membalik. Yang tadinya bajunya putih berubah menjadi berlumuran darah di bagian pundak dan dadanya, raut mukanya berubah menjadi pucat, matanya menjadi merah menagis darah serta masih tersenyum. Lalu berteriak kencang “kalau menurutmu benar, kenapa kamu ingkar dengan janjimu sendiri? Mengapa kamu tidak patuh dengan ibumu sendiri? Mengapa kamu mendengarkan dan menuruti nasihat orang lain?” dan itu pun di ulang-ulang hingga suaranya bergema. Lantas aku bingung dan berteriak kencang mengalahkan suaranya anak kecil tersebut “AAA!!!...SUDAH!! CUKUP!! CUKUP!!” aku terjatuh menutup telingaku.
Tak kuasa aku mendengarnya, aku hendak mengambil ancang-ancang aperkat kepada anak itu, ternyata anak kecil tersebut hilang tanpa jejak. Rasanya sedikit lega, aku coba memelihat handphoneku, ternyata baterainya tersisa 20%. Aku pun memutuskan mencari alat yang bisa menerangi jalan. Ku cari alat tersebut memutari seisi desa, ternyata ada sebuah lentera dan korek api di depan rumahku sendiri, entah siapa yang menaruh benda seperti ini. Aku pun langsung mengambil korek tersebut lalu digesek ujung korek api dan memasukkan apinya kedalam lentera tersebut.
Setelah menghidupkan lentera, aku bergegas mencari seseorang di desa. “kemana sih semua orang-orang di sini?, huh! Melelahkan, mampir ke masjid dulu ahh” bergumam hatiku. Sesampai di masjid, aku berhenti sejenak karena lelah serta aku mengambil handponeku di saku celana, aku lihat dilayar waktu menunjukan pukul 23.45 hampir tengah malam. Aku mencoba melihat sekeliling masjid, tiba-tiba di teras masjid ada beberapa orang menggunakan rukuh sholat terdiri dari tujuh orang dengan formasi melingkar dan di tengah-tengahnya terdapat sebuah keranda tua. Gerakan orang-orang tersebut seperti rumput yang bergoyang-goyang serta terlihat sangat khusyuk. Tapi anehnya semua orang ini mukanya pucat serta matanya sangat hitam. Tak sadar, aku menginjak ranting pohon membuatku ketakutan, orang-orang tersebut berhenti berdzikir dan mereka semua nenoleh ke arahku serta mata mereka yang tadinya hitam berubah menjadi merah menyala. Tiba-tiba keranda tua tersebut terbuka dan di dalamnya terdapat sosok hitam-hitam. Sosok ini hampir persis dengan mimpiku semalam, tubuhnya tinggi, besar, dan matanya merah menyala. Tak salah lagi, sosok ini adalah Dedemit. Dedemit itu menoleh ke arahku, seketika Dedemit itu mengambang di udara dan hendak mengejarku. Aku pun mengambil seribu langkah.
-080-
Masih disekitar desa, aku masih berlari-lari demi menghindari Dedemit tersebut. Lari demi lari, semakin was-was, dan ketakutan aku nekat lewat jalan yang menuju desa tetangga yaitu jalan satu-satunya. Hingga di tengah jalan, kabut yang sangat tebal menyelimuti jalan serta sekelilingnya sehingga jarak pandang terganggu dan juga kabutnya menempel di kacamataku menjadi pengelihatku terhalang. Aku hanya pasrah hingga jatuh terduduk serta menangis “YA ALLAH!! SALAH APA HAMBAMU INI YA ALLAH!!!”teriakku sangat kencang.
Tiba-tiba sosok Dedemit itu sudah ada di depanku—persis seperti di dalam mimpiku--Dedemit itu menatapku dengan tajam serta matanya merah bercahaya. Lantas aku hanya bisa duduk pasrah kepada Allah, menagis, dan diam tanpa bicara. Tak sadar aku pun pingsan, ……
-080-
“hi…,si kacamata” ejek orang pertama, “matamu rusak pakai dong kacamata jeleknya” ejek orang yang kedua, “masak sih dia pakai kacamata model gitu, hih…, terrasa aneh bagiku” ejek orang ketiga. kemudian ketiga orang itu pergi meninggalkan ku sendirian di dalam kegelapan, aku hanya bisa menangis-nangis. Lalu muncul sebuah televisi tabung ukuran kecil di depanku menampilkan video masa laluku. Video bagian pertama menampilkan ketika aku tidur di ranjangku, disampingku terdapat jam wekerku yang dulu menunjukan pukul 02.00 dini hari. Tiba-tiba bapakku menyeret selimutku dan begini “HEY!!! BANGUN!!!! Udah dibilangin kemarin-kemarin masih sulit diatur!!”teriak bapakku, bapakku membawa sebuah rotan panjang lalu memukulnya dengan keras. CEPLAK!! CEPLAK!! CEPLAK!!. Beliau memukulku seluruh badanku hingga badan, tangan serta kakiku sampai merah-merah bengkak. “SUDAH PAK!! SUDAH!! CUKUP PAK!! CUKUP!!!” jeritanku serta menangis kesakitan. Beberapa tetangga pun terbangun karena tergangu dengan suara teriakku dan bapakku. Ternyata beliau membawa botol berisi minuman keras sejenis vodka di tangan kirinya lalu beliau meminum dengan cepat. GLEK! GLEK! GLEK!. Lalu keluar kamarku, jalannya oleng sempoyongan.
Video pertama itu digantikan yang kedua menampilkan aku sedang bermain sepak bola di lapangan desa bersama teman-temanku. Lagi asyik-asyiknya bermain bola, tiba-tiba bapakku menyeret bajuku dibelakang hingga tercekik “PAK! SUDAH PAK! JANGAN MARAHIN NUR TERUS!!” teriakku. Beliau menyeretku sampai jauh dai lapangan,kemudian beliau melepaskan ku dan menendang perutku dengan keras “kenapa kamu keluar rumah! KENAPA! HAHH!!!” bringas bapakku “maaf pak” “MAAF!! MAAF! Masih aja ada kata maaf, gak ada kata ‘MAAF’, NGERTI KAMU!! Hardik bapakku.
Aku pun menagis kencang tak kuat melihat video tersebut. Tiba-tiba sosok putih, bersih, dan ber-cahaya membawa tongkat baseball memukuli televisi tersebut hingga hancur tak menampilkan video. BRUK! BRUK! KREK! TYAR!. Kemudian sosok putih tersebut memelukku. Rasa pelukannya nyaman, hangat, dan tenang seketika. “tak usah perlu ingatkan kembali apa yang dahulu engkau alami. Lakukanlah sesuatu yang baik kepada mereka meskipun mereka menyakitiku” lantas aku pun bertanya “Bagaimana saya melakukan tersebut?” sosok ini berkata “tenanglah, Allah akan menuntun engkau ke jalan yang lurus serta pertolongan Allah pasti akan datang. Setelah ini akan ada kabar baik serta buruk untuk mu. Semoga Allah memberkahi rizki berlimpah kepadamu” sosok itu melepaskan pelukanku dan melepaskan pergelangan tanganku sedikit demi sedikit. Tiba-tiba sesuatu bersinar-sinar di belakangku “pergilah, wahai bocah. Disanalah semua orang-orang di luar sana menantimu. Pergilah, cepat” ucap sosok tesebut. Tak perlu lama, aku berlari menuju sinar-sinar tersebut, semakin terang, makin terang hingga seluruhnya putih terang.
-080-
Tiba-tiba aku terbangun serta bingung “lah, dimana aku ini?” hatiku bergumam. Pengelihatanku buram, lantas aku mencari kacamataku disekitar. Ternyata di sebelah kananku, lalu aku pakai kacamata tersebut. Ku lihat sekeliling, aku tersandar di teras masjid dekat bedug dan kentongan. Lalu seorang wanita berusia sekitar 40an itu menghampiriku “eh.. dek Nur. Alhamdulillah sudah sadar. Tunggu sebentar ya, tak ambilin teh hangat sama roti, ya” tawarnya. Sang wanita tersebut hendak meninggalkanku dari teras masjid, aku bertanya “sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya?”. Wanita tersebut berhenti serta sedikit mendesah, kemudian membalikan badannya “mohon maaf dek Nur. Jadi begini, saat mati listrik, bapakmu hendak membunuh ibumu dan kakakmu karena dia memaksa meminta uang yang banyak dari ibumu. Tapi ibumu menolak paksaan bapakmu, lalu dia membakar rumahmu. Beruntung ibumu dan kakakmu di selamatkan oleh temanmu sendiri, yaitu Agil. Dia yang menyelamatkan ibumu, kakakmu, serta surat-surat berharga saat api mulai merambat seluruh rumah” aku masih bertanya lagi “lalu, bapak saya kemana” “kini bapakmu telah di tangkap polisi karena bapakmu terkena pidana pembunuhan berencana. Yang melaporkan kejadian ini dari temanmu tetangga desa, yaitu Abdul. Dia melihat bapakmu mengendap-ngendap di kebunya Abdul serta membawa pisau yang berlumur darah, lalu menelpon polisi setempat agar bapakmu ditangkap dan sekarang ibumu dan kakakmu dibawa ke rumah sakit karena terdapat luka tusuk dan luka bakar yang cukup parah. Rumahmu kini telah dipadamkan oleh warga sekitar” jelasnya.
Sedikit mengembuskan nafas, “terima kasih, ibu telah memberitahu kepada saya, jadi lega sekarang” syukurku “ya, sama-sama. Kami hanya membantu serta menolong sesama warga desa” jawabnya. Dia pun pergi, aku berusaha mencoba berdiri, tapi aku pusing. Hendak terjatuh, tiba-tiba Agil memegangku “kamu tidak apa-apa kan” ucapannya yang sangat santai “taka pa-apa kok, hanya lelah saja” jawabku dengan tersenyum. Lalu Agil memberikan sesuatu bungkusan itu kepadaku “ini apa?” tanyaku penuh heran “coba buka”. Baunya seperti sayur buatat ibuku, aku menebak. Aku buka bungkusan tersebut dan isi tersebut berisi nasi seta sayur buntil kesukaanku “wah.. te.. terimakasih Agil” “ya sama-sama. Ini yang buatin sayur ini tuh ibuku sendiri” katanya. Lalu kami makan bersama-sama di teras masjid
-Tamat-