Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Bayu satriani
Kejutan Gelap Gulita(Penulis: Bayu Satriani)(Part 1)“AAA!! TOLONG!!”Stak! Stak! Stak! Stak! (suara hentakan kaki)Suara jeritan diriku yang berada di jalan berbatu nan gelap tanpa penerangan jalan yang di kelilingi ratusan pohon bambu di kanan dan kiri berlarian merintih ketakutan yang sangat. Stak! Stak! Stak! DUK!! BRUK!!Tersandung batu yang agak besar terlontar jauh dan kesakitan di bagian tangan dan pundak kiri-ku. Tiba-tiba sosok yang menyeramkan hitam-hitam itu sudah ada didepanku, ia mulai membungkuk. Sekujur tubuhku merinding, jantung memompa dua kali lebih cepat, raut muka ke-takutan sekali. Sosok itu menatap mukaku dan diam sekejap. Sosok ini lalu berteriak“WOY!!! BANGUN!!”Seketika aku bangun dari ranjangku, ternyata kakakku ini membangunkanku dengan ken-cang dan nyaring. “Dek! Bangun! Dah jam empat pagi. Ayo sholat subuh, entar digebukin Bapak sama ibu lagi lo”paksa kakakku yang mempontang-pantingkan tangan kananku. “iya,iya. Hoaaah …Hhmm” jawabanku sambil ngulet lalu mengambil kacamata berbentuk kotak sedang minus 2,38 kanan dan 3,25 kiri dengan silinder kanan-kirinya sama yaitu 1,50. “Huh! Ternyata hanya mimpi” hatiku berkata. Aku pun tidak lama-lama langsung melipat selimut dan menata ranjangku lalu beranjak ke pancuran air di belakang rumahku untuk mengambil air wudlu-080-Usai menunaikan sholat subuh dibarengi dengan wirid dan doa di masjid dekat rumahku. Aku mendengar suara ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar membeli bumbu dapur.”Eh Mbak, akhir-akhir ini desa kita kok sering mati listrik, kenapa ya?” Tanya ibu yang satu “ Ya, denger-denger dari desa tetangga kita banyak yang yang pedot kabel listriknya. Ya karena ditumpangin pohon-pohon bambu yang sangat buanyak, panjang-panjang, dan berat pula” jawab ibu yang satu itu.”Oh…pantes wae. Tiap sebulan sekali petugas listrik selalu mengecek dan mengganti kabelnya. Mending suruh warga desa kita sama desa tetangga motongin pohon-pohon bambu itu biar gak pedot lagi “ komentar ibu yang satunya lagi. Sambil keluar Masjid, akupun masih menyimak obrolan ibu-ibu itu. “Eh! Jangan!” protes ibu yang satu itu “Denger-denger kata orang tua kita dulu di situ ada penunggunya, hiii…, ngeri deh!”sambungnya. Desas-desus obrolan ini membuat mentalku menjadi layu ketakutan. Memang desaku dengan desa tetangga jauh, berada di lereng bukit. Apalagi kalau di alun-alun Kabupaten, bisa di bilang sangat-sangat jauh. Diantara desaku dan desa tetangga bener-bener ngeri-ngeri sedep. Siang-siang aja gelap tertutup riuh dedaunan bambu , apalagi kalau malam-malam begini tidak ada penerangan jalan , jalannya masih berbatu susun, gelap gulita, ditambah bau-bau kemenyan, semua orang pasti tidak segan-segan untuk lewat pas malam hari. Paling-paling pagi sampai sore orang-orang berani melewati jalan ini dan ini jalan satu-satunya jalan yang menghubungkan dari desa ke desa lain.-080- Pagi-pagi awal aku mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat sekolah, dimulai dari buku-buku sekolah, dan tak lupa sarapan kesukaanku yaitu sayur buntil buatan ibuku sendiri. Tiba-tiba suara dari luar rumah “Nur! Ayo berangkat!. Aku tunggu lama banget sih!” yah, memang menjadi kebiasaan orang yang satu ini. Yaitu Ragil Wibowo yang sering dipanggil Agil ini orangnya selalu ceria dan pemberani di segala keadaan. “Ya! Bentar! Lagi makan!” ujarku Tak perlu lama-lama lagi aku cepat-cepat makan, memakai sepatu, serta tas, dan menghampiri Agil.”Maaf ya,soalnya aku menikmati masakan ibuku yang special” jawabku dengan ceria “Nggak papa, yang penting kita cepat-cepat, udah jam 06.40” jawab Agil dengan santai. Sekolah kami tak jauh, hanya 100 meter dari rumahku. Kami berangkat sekolah ditempuh dengan jalan kaki, dan kami tiba di SD Suko Rukun, yaitu sekolah kami.Bersambung…ic_default
Karena kamu suka Sekolah, mungkin kamu suka ini juga:
Sekolah