Saat berjalan menuju sekolah, perasaanku mulai tidak enak. Aku melihat sekeliling rumah-rumah yang tadinya bagus-bagus berubah menjadi beberapa rumah-rumah kayu jati yang sangat lapuk dimakan waktu serta pemandangan berubah menjadi mengerikan dan sepi sekali. Tiba-tiba Agil menepuk pundakku, lantas aku terkejut “Nur! Kamu kenapa? Kok agak ketakutan gitu” heran Agil “Ah… gak papa kok, hanya ngelamun doang” jawabku sambil mencairkan suasana.
Kami pun memasuki gerbang sekolah bersamaan dengan temanku dari desa tetangga, yaitu Abdul karim yang sering dipanggil Abdul kerap menjadi orang yang ditakuti warga sekolah, bahkan para guru-guru pun sedikit ketakutan. Masalahnya dia orang ini memiliki indera ke enam alias indigo. Kerap dia tertawa sendiri kadang berbicara tidak jelas seperti bicara bahasa alien. Tapi dia ini orang sangat pandai di sekolah, saking pandai nya di sekolah, ia masuk peringkat 5 besar rangking tertinggi di sekolah.
“hei Dul, bagaimana kabarnya?” sapaku dengan ramah “Alhamdulillah, baik-baik saja” balas ia dengan ramah pula “eh, tumben jalan kaki. Biasanya pakai sepeda ontel” Tanya Agil dengan heran “ ah, sekali-kali aku coba jalan kaki. Meskipun ini melelahkan, tetapi dengan jalan kaki, badan jadi sehat bugar” jawab Abdul dengan ceria. Kami pun berbicang-bincang sambil berjalan hingga masuk kelas.
-080-
KRIIING!! KRIIING!! KRIIING!!
Suara bel menandakan waktu pulang sekolah. Seluruh siswa-siswi di sekolah bergegas menentengkan tas mereka masing-masing dan serentak menuju rumah masing-masing. “Eh Nur, Agil. Abis pulang sekolah mampir kerumahku yuk, kebetulan ibuku abis beli bolu pandan dua dus. Kalian mau kan!” tawaran Abdul dengan penuh ceria “gimana ya? Masalahnya aku takut lewat jalan itu. Gelap,seram pula” jawabku sedikit takut dan sedikit menolak “Halah. Gak usah takut, aku malah terbiasa lewat sana, dan rasanya biasa-biasa aja, gak ada yang ganjal tuh” jawab Abdul meyakinkan hatiku “oke kalau begitu, kalian pulang dulu, aku tak tunggu dulu di depan rumahku Nur” kata Abdul.
Tak lama kemudian, kami telah berkumpul di depan rumahku. Sebelumnya kami telah meminta izin dari orang tua kami masing-masing.Aku boncengin Abdul, sementara Agil sendirian.
Awal perjalanan menuju desa tetangga jantungku terasa dag-dig-dug takut. Yah, mau bagaimana lagi, berusaha melawan trauma mimpiku, tapi malah tambah mengkerut keriput mentalku ini. Di tengah-tengah jalan, kami masih tetap mengayuhkan sepeda dan aku lihat beberapa petugas listrik dan sebuah truk besar mengangkut tiang listrik baru serta kabel listrik. Karena kabel listriknya putus, demikian pula penyangganya, tak kuat menahan beban dari timbunan banyaknya pohon bambu, sehingga tiang listrik tersebut patah.
Sedikit lagi hampir sampai di ujung gapura desa tetangga terlihat sangat jelas kalau aku pakai kaca mata. Sesuatu selalu mengganjal dan merinding. Pasalnya Abdul berulang kali memberikan salam, tetapi tak ada orang sepanjang jalan tersebut kecuali petugas listrik tadi.
-080-
“Alhamdulillah, sampai” syukurku.
TOK! TOK! TOK! (suara ketukan pintu kayu)
“Assalamu’alaikum. Buk!” seru Abdul, tak lama ibunya Abdul membuka daun pintu. “Eh, anak ibu sudah pulang sekolah, ini Nur sama Agil kan?” Tanya ibunya Abdul “iya bu, saya Nur dan dia Agil” jawabku dengan sopan penuh senyuman “mari, silahkan masuk, ibu sudah siapin bolu pandan, oleh-oleh dari alun-alun kabupaten, mari masuk” ajak ibunya Abdul. Kami mengangguk-anggukkan kepala lalu masuk. Rumah Abdul bisa dibilang sederhana, hanya berdinding anyaman bambu dan lantainya dari acian semen dicetak hampir menyerupai aslinya. Setelah kami masuk, kami melihat sekeliling ruangan. Ruangan ini terkesan jadul. Bifetnya terisi gelas-gelas keramik hingga gelas kaca tersusun rapi, kursinya serta meja tamu terbuat dari kayu diukir berbentuk flora.
“Silahkan, bolu pandannya sama minuman es sirup melonnya, ayo dimakan” tawar ibunya Abdul “ya bu, terimakasih” ucapku “ya, sama-sama” balas ibunya Abdul. Sambil makan bolu dan minum, aku masih melihat ruangan sekitar. Disitu terdapat beberapa pigura berisi foto-foto keluarga Abdul, ada foto masa kecil Abdul begitu lucu nan imut, foto pernikahan orangtuanya Abdul, dan foto hari raya keluarganya didepan rumahnya.
-080-
Selepas makan minum, mengerjakan tugas, bercanda bersama-sama. Aku dan Agil hendak pamit pulang “ Nur, Agil. Ingatlah pesanku nak. Hati-hati di jalan, dan jangan aneh-aneh ya. Cepatlah pulang, sudah mendung hampir mau hujan” pesan ibunyaAbdul “baik bu. Kami berdua pamit, Assalamu’alaikum” salamku dan Agil “Wa’alaikum salam, hati-hati!” jawab ibunya Abdul. Aku dan Agil bergegas mengayuhkan sepeda dengan cepat hingga keluar dari gapura desa tetangga. Di tengah-tengah jalan—sebelum melewati ratusan pohon bambu ---, tiba-tiba hujan mengguyur dengan sangat deras hingga seluruh jalan becek nan licin. Tiba-tiba Agil jatuh tersungkur karena tergelincir “Eh Agil! Kamu gak papa!” kaget aku dan seketika aku mengecek tubuhnya Agil, ternyata ada luka gores tumitnya Agil serta mengeluarkan darah yang cukup serius. “Gak papa kok, hanya luka kayak kecil gini” jawab Agil dengan santai menahan sakitnya luka di tumitnya “Ayo! Kita tuntun saja sepedanya. Hati-hati” prihatinku.
-080-
Hujan mereda setelah adzan ashar. Kami pun basah kuyup serta kacamataku penuh dengan titik-titik air menghalangi pengelihatanku. Kamipun sampai di desa. Sesaampai di depan rumah, ibuku menatapku dengan tajam, mukanya merah-merah serta mengerutkan alisnya ke bawah “tadi siang, ibu bilang apa? Hayo!” ucapannya yang lembut tapi kesan horror “eem… anu buu…, abis main di rumahnya Abdul, tapi…” “tapi apa!” bentak ibuku “di tengah perjalanan Nur sama Agil kehujanan, ditambah lagi Agil jatuh dari jalan. Ya sudah, terpaksa kehujanan basah kuyup gini” jelasku dengan sedikit resah. Kemudian ibu duduk di depanku memberi nasihat “Nur, sudah gak papa kok kalau kamu ingin main sama Agil, Abdul, atau yang lainnya. Asalkan ingat waktu. Kalau waktunya main ya main, waktunya sholat ya sholat, paham anak ibu!” “ ya bu, paham. Insya Allah, saya tidak akan mengulangi lagi” maafku “ya udah, sana mandi dulu!” perintah ibuku “oke, baik!” seru ku.
-080-
Waktu menunjukkan pukul 19.45 . Usai sholat isya’, aku langsung masuk ke kamarku dan mengambil handphoneku untuk main game offline. Di tengah main game offline, ibuku mengetuk pintu “Nur, sudah malam. Tidur!, entar telat lo sholat subuhnya” suruhnya “ya bu, entar Nur tidur sendiri” jawabku dengan malas. Setelah aku melihat-lihat celah pintu, aku pun melanjutkan main. Hingga pukul 21.00 pas, tiba-tiba listrik padam. Aku pun kaget dengan kejadian tersebut melihat kamarku gelap gulita. Lantas aku menghidupkan senter dari handphone tersebut. Keluar dari kamarku, aku mencoba mencari ibuku di kamarnya. Ku buka pintu kamarnya, ternyata ibu tidak ada di kamarnya. Kemudian aku mencari kakakku di kamarnya, dan ternyata dia tidak ada juga. Aku bingung serta ketakutan, lalu mencari seisi rumah dari belakang rumah sampai depan rumah tidak ada juga.
Aku sendirian dan ketakutan “duh! Ibu sama kakak dimana sih!, ditambah lagi bapak minggat entah kemana lagi. Huh!” kata hatiku. Aku mencoba keluar dari rumah dan melihat sekeliling, ternyata di luar terlihat sepi tak ada orang, bahkan tidak ada aktivitas sama sekali di sekitarku. Lantas aku bergumam “apa ini hukuman untukku atau hanya mimpi ya?”. Lalu aku berjalan melihat serta mencari seseorang didesa, ternyata tak ada seseorang pun didesa. Tiba-tiba segerombolan lima anak kecil kemungkinan berumur 4-5 tahun berpakaian serba putih berlarian kegirangan dijalan. Aku pun heran, lantas menghampiri kelima anak tersebut.
Bersambung…